
Lalu kak Maria menoleh ku dan kemudian menyeruput teh hijau nya.
"Menurut beberapa kepercayaan orang, bahwa rumah hasil dari lelang itu kurang rezekinya.
Apakah itu mitos atau kenyataan dan tidak ada yang pasti.
Apa salahnya jika kita menurutinya, dan kakak mencari informasi pemilik ruko yang di tawarkan itu.
Dapat lah ni pemiliknya, kemudian ngobrol dan dapat jalan keluarnya.
Kakak membeli ruko itu dari pemiliknya secara langsung.
Berikan panjar kepada pemilik dan tentunya dengan perjanjian jual-beli sebagai pengikat, agar bisa menebus kredit macet itu di bank.
Semuanya berjalan dengan lancar, hingga akhirnya ruko milik kakak dan inilah ruko nya.
Akan tetapi semua uang kakak sudah ludes, untuk membeli ruko ini dan juga biaya pajak-pajak nya.
Kakak masih kerja di salon kecantikan itu, dan kemudian mendapatkan pinjaman lagi dari koperasi.
Suatu hari kakak di panggil oleh bos, dan rupanya hendak mengajak kakak untuk bekerjasama.
Bos kakak itu akan menyuplai segala jenis produk kecantikan dengan cara bagi hasil, sebelum kakak bisa membeli sendiri produk kecantikan.
Kan butuh renovasi tuh, kakak menggadaikan sertifikat ruko tersebut untuk modal, dan nyata masih tersisa uang nya dan kakak tambahkan ke produk lainnya.
Tiga puluh juta untuk aksesoris cewek-cewek dan dua puluh juta rupiah lagi untuk tambahan produk kecantikan.
Puja Tuhan atas segala berkat nya, berkembang pesat dan kakak bisa membeli ruko disebelahnya lagi sehingga luas seperti ini.
Ruko di samping kiri ini juga sudah kakak beli dan dalam tahap renovasi, rencananya mau buat salon sekaligus klinik kecantikan.
Semua itu dari bos kakak yang dulu, dia akan memodali perlengkapan salon sampai dengan kliniknya serta merekrut dokter spesialis kulit nya.
Seperti usaha franchise, di awal akan bagi hasil dan jika kakak berhasil mengembalikan modalnya maka keseluruhan hasil pendapatan nya akan menjadi milik kakak."
"begitu ya kak, ngomong-ngomong kenapa bos kakak bersedia memodali kakak?
apa ada niat lain?"
Kak Maria mengganguk dan benar dugaan ku dari semua ceritanya.
"bos ku itu punya anak laki-laki seumuran kakak, dan saat ini masih mengambil spesialisasi bedah di Jerman.
Anaknya begitu tampan dan sebenarnya kakak menyukainya, demikian juga sebaliknya.
Tapi mamak menentang nya, karena calon kakak itu keturunan Tionghoa."
"emangnya apa yang salah kak? kan manusia juga."
__ADS_1
"entah dari mana mamak mendengar gosip miring tentang budaya keturunan Tionghoa, dimana katanya di pakai dulu dan setelah hamil baru di nikahi gitu.
Bos kakak itu Katolik juga dek, dan bersedia menikahi kakak adat batak dan tentunya setelah pemberkatan nikah di gereja katolik."
"terus kakak menyerah?"
"ngak dong sayang, bulan depan calon kakak akan pulang dan kami berencana untuk lanjut ke jenjang pernikahan.
Kakak ngak perduli jika mamak dan bapak tidak merestuinya.
Itulah sebabnya kakak menolak keras perjodohan dari mamak."
"waouuuuu........
jadi kakak di berikan modal oleh calon mertua kakak dan akan segera menjadi menantunya.
Kren juga ya kak."
"bisnis ya bisnis, keluarga ya keluarga. jika gagal menjadi menantu dan mertua, tidak ada sangkut pautnya dengan modal pemberian karena bersifat bisnis.
Menurut bos, kakak mu ini orangnya bisa dipercaya untuk menjalankan bisnis.
Bos kakak ngomong seperti ini ' loh juga harus berkarya dan bisa menghasilkan uang, jangan hanya meminta sama suami, nanti loh di rendahkan suami dan keluarganya jika hanya bisa meminta uang saja.
Uang istri milik istri, dan uang suami milik suami.
Hanya untuk membeli lipstik harus menunggu suami gajian, itu hidup yang payah loh.
Perempuan juga harus mandiri, jangan hanya bermodalkan cantik saja, karena kecantikan itu bisa cepat pudar karena perawatan.'
Gitu katanya dek."
hahahaha haha haha haha haha haha haha haha hahahaha hahahaha haha hahahaha
"lucu juga calon mertua kakak ya, tapi yang di ucapkan nya benar dan tepat sekali.
kakak kren banget dan menjadi inspirasi Ku, bisa berdiri di kaki sendiri dan kakak memang luar biasa."
"kamu juga luar biasa Aruna, kamu hanya perlu berjuang dan bekerja keras agar hidup mu layak nantinya.
tidak kenikmatan di masa tua, jika masa muda mu dipenuhi dengan kemalasan.
Sejak sekolah dasar sampai SMA, kamu selalu unggulan dan itulah sebabnya kakak tidak menghalangi mu, meminjam uang pada rentenir itu.
karena kakak yakin, adik kakak yang Aruna ini bisa dan sanggup menepati perjanjian itu."
"terimakasih kakak ku sayang."
"bukan hanya kakak kok yang yakin dan percaya sama mu, tapi anak emas nan kesayangan rentenir itu juga sangat mempercayai.
__ADS_1
Kemarin itu Sahala datang kemari, untuk membeli hadiah untuk Mu.
katanya agar kamu semangat kuliahnya dan pantang menyerah.
Tapi anak kesayangan rentenir itu sangat mengesalkan, kan banyak tuh. masa mintak diskon lima persen.
kira-kira dong, belanjaan sekitar dua juta lebih, untuk mu dan juga untuk mama nya.
Diskon lima puluh persen dan dia hanya membayar satu juta rupiah.
Tapi karena Sahala membawa teman-teman perempuan belanja kemari, makanya kakak kasih dia diskon lima puluh persen.
Kakak hanya mau kamu bekerja keras dan jangan kecewakan kami berdua yang mempercayai mu."
"siap kak.....
Aruna akan berusaha sekuat tenaga dan terus bekerja keras dan belajar keras."
"iya adikku sayang, tapi jaga kesehatan ya. tiga kali seminggu ikut kakak lari pagi ya.
kita ada komunitas kok, nantinya akan ramai dan tidak akan terasa lelah."
Nasihat kak Maria dan juga pengalaman hidupnya akan menjadi motivasi ku kelak, dan juga sebagai modal hidup untuk berjuang.
Berhubung karena aku adalah pembantu mamak, dan sudah harusnya pulang ke rumah untuk menyiapkan makanan dan juga menyelesaikan pekerjaan rumah.
Akhirnya kak Maria memintaku untuk pulang ke rumah, dengan menggunakan ojek pangkalan langganan kak Maria untuk mengantarkan barang-barang ke pelanggan yang mintak diantar.
Sesampainya di rumah dan mata mamak langsung melotot ke arahku, karena kosmetik yang aku pegang.
"hebat kau ya Arun, sekarang belanja-belanja alat kecantikan."
"dari kak Maria loh mak, kalau ngak percaya telpon aja kak Maria."
"uhmmmm......
buatkan mamak bandrek lah, seperti yang kau buat kemarin."
"bapak juga....."
"Abang juga ya...."
Semuanya ngikut dan itu tidak jadi masalah, karena semua bahannya sudah ada.
Bahan-bahan aku cuci terlebih dahulu dan kemudian merebusnya dengan api kecil.
Lalu aku masak kamar untuk mandi lalu memakai pakaian dan siap untuk bekerja.
Bapak dan mamak serta bang Sahala, begitu menikmati bandrek buatan Ku, kami berempat bersama-sama minum bandrek di sore hari yang mendung ini.
__ADS_1