KARMA

KARMA
Hikmah dan Didikan.


__ADS_3

Sering kali aku mendengar ucapan tetangga yang tidak mengenakan hati dan terkesan menyumpahi keluarga kami.


Mamak adalah seorang rentenir yang termasuk kategori kejam, dan bapak beserta dua anggota yang merupakan juru pukul atau istilahnya bodyguard.


Jika seandainya menginjam uang ke mamak sebesar Rp.1.000.000,-


Potong biaya administrasi sebesar tiga puluh ribu rupiah, sudah termasuk materai untuk perjanjian hutang piutang.


Bunga berjalan sebesar lima persen dan berlaku denda bunga satu persen dari pokok pinjaman.


Jika pinjaman diatas lima ratus ribu rupiah, makan harus ada jaminan. seperti emas, sepeda motor atau mobil bahkan sertifikat rumah sekalipun.


Jika terlambat maka denda akan berjalan, dan jika waktu keterlambatan sudah habis. maka jaminan akan disita.


Sama seperti motor matic yang aku pakai ini, motor matic adalah hasil penyitaan barang jaminan.


'itu tuh kereta si Mak Ijah tuh, di ambil paksa sama mamaknya, aku jamin itu ngak akan berkah.


Mati bentar lagi itu, ketabrak sama dosa-dosa kedua orangtuanya yang hobi makan uang haram .'


Kereta yang di maksud ibu-ibu rempong itu adalah sepeda motor matic yang aku pakai, karena penduduk sumatera Utara, khususnya Medan sekitar menyebut sepeda motor dengan kereta.


Langsung aku menghampiri dua ibu-ibu rempong yang menyumpahi Ku barusan.


"ibu.....


Mamak dan bapakku memang rentenir, dan tidak paksaan untuk menginjam uang.


Mereka yang butuh dan harus ada imbalannya ibu-ibu, karena di dunia ini ngak ada yang gratis."


"masalahnya kedua orang tua kau itu lintah darat."


"gampang loh bu untuk menghindarinya, ngak pinjam uangnya, sesuaikan isi kantong dengan gaya hidup.


Kalau ngak pinjam uang aja ke bank, kali bisa tanpa bunga."


Ibu-ibu yang paling aktif itu langsung terdiam, dan aku segera meninggalkannya.


Prak.....


"kamu apa-apaan sih Dipo? kenapa ngak hati-hati naik sepeda Nya."


Seorang anak kecil yang terjatuh dari sepeda dan ternyata anak dari si ibu-ibu yang aktif tadi, dan karena berdarah yang cukup banyak sehingga malaikat dalam diriku keluar seketika.


Belok dan lalu turun dari motor, kemudian menghampiri bocah laki-laki tadi dan mengeluarkan alat-alat medis Ku.


Karena hari ini di kampus ada pelatihan p3k, dan wajib membawa perlengkapan medis.


"tenang ya dek, biar kakak obatin ya."

__ADS_1


"emangnya kakak dokter ya?"


"belum, tapi kalau luka seperti ini kakak dah belajar."


Anak itu hanya mengganguk dan membiarkan ku untuk mengobati lukanya.


Hanya sedikit koyak diatas lututnya, setelah membersihkan luka nya, lalu aku memberikan obat pengering luka.


Lalu membalutnya dengan perban, kemudian bocah itu sudah tenang karena luka sudah aku obati.


"terimakasih ya kak Aruna."


"sama-sama dek, kok tau nama kakak?"


"Tau dong kak, kan kak Aruna calon dokter paling cantik di daerah kita ini."


Sedikit tersipu bocah itu memang benar, karena cuman aku perempuan yang kuliah di fakultas kedokteran di dari kampung ini.


"Nanti sore tolong ibu bersihkan luka nya ya, jika belum kering segera ibu bawa ke dokter.


Oh iya kalau dah kering, ibu bersihkan aja pakai alkohol murni ini, dan ini kapas nya. kemudian ini pembalut nya anti air, agar si adek bisa mandi dan kena air.


lalu besok pagi, ibu tinggal buka dengan pelan dan bersihkan, ngak usah pembalut lagi ya."


Ibu itu hanya mengangguk dan kemudian berterimakasih, lalu aku pergi meninggalkannya.**


Rutinitas kampus dan setumpuk, lalu mengerjakan semua pekerjaan rumah alias membabu.


"ngak misa muda-mudi kau Aruna?"


Misa adalah atau peribadatan, khusus untuk muda-mudi gereja katolik dan untungnya mamak mengingat Ku.


Segera memakai pakaian yang layak dan sopan tentunya dan langsung keluar rumah.


"mau kemana kau?"


"gereja bang."


Ekspresi bang Sahala yang tidak yakin kalau aku mau ke gereja, dirinya yang baru pulang entah dari mana dan terus melihat ku seperti orang yang telah mencuri sesuatu darinya.


"yok biar abang antar aja."


Aku ngak tau kenapa bang Sahala bisa-bisanya mengantarkan ke gereja dan dengan senang hati dong menerima ajakannya.


Sesampainya di parkiran gereja khusus motor dan bang Sahala langsung memegang tanganku.


"Abang ikut ke dalam, karena di dalam gereja itu banyak buaya-buaya yang siap menerkam cewek centil seperti kau."


"ngak masalah tapi Aruna lupa bawa uang persembahan bang, mintalah uang mu bang. dua puluh ribu aja.

__ADS_1


Tapi dua uang sepuluh ribu ya, karena nanti dua kali persembahan."


Dari saku belakangan dan mengambil dompet, terlihat isi dompet itu sangat tebal dan hanya meraih uang pecahan nominal lima ribu empat lembar.


"kan sama aja Aruna, jumlahnya sama seperti yang kau mintak."


"iyahh...


Pelit kali lah, kasih lima puluh ribu kenapa? rencananya pulang misa ini mau makan bakso di ujung sana."


"itu nanti dan abang yang traktir kau nanti."


Segera ku raih tangan lagi dan kami berdua masuk ke dalam gereja dan langsung di sambut suster yang begitu lembut.


Suster atau biarawati yang masih muda dan khusus bertugas misa muda-mudi.


"puji Tuhan anakku, Aruna berhasil mengajak abang mu untuk misa malam ini, semoga saja hari-hari berikutnya bisa seperti ini ya."


"aminnnnn.....


Semoga ya suster, dan Aruna juga berharap seperti itu."


Jawab ku kepadanya dan kami berdua langsung di tuntun untuk duduk di paling depan.


siut....


siut....


Baru saja duduk sudah buaya yang bersiul ke arahku dan hendak duduk didekat Ku dan langsung di cegah oleh bang Sahala.


"mau ngapain setan? ku congkel nanti biji mata kau itu."


Karena berisik akhirnya suster memisahkan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan, tapi mata buaya itu yang terus menatapku dan akhirnya.....


prak......


Bang Sahala melemparkan Alkitab yang tersedia dan tepat mengenai jidat buaya itu, alhasil kami di datangi Romo dan suster Ivana.


"apa yang kamu lakukan bang Sahala?"


Tanya suster Ivana dengan lembut dan bang Sahala sudah menurunkan pandangannya.


"maafkan Sahala suster, tadi aku sudah memperingatkan bajingan itu, untuk berhenti melihat adikku dengan nafsunya.


Aruna adikku adalah perempuan terhormat, calon dokter di keluarga kami."


Romo dan suster Ivana memberikan arahan kepada pemuda itu, pemuda yang di lempar bang Sahala dengan Alkitab.


Bang Sahala melakukan karena menyayangi Ku dan tidak mau di lecehkan anak SMA yang tidak tau sopan santun itu.

__ADS_1


Akhirnya misa bisa di mulai dengan damai dan berakhir dengan tenang dan penuh hikmah dan didikan.


__ADS_2