KARMA

KARMA
Selamat tinggal


__ADS_3

Hari demi hari berlalu Bisma juga semakin menunjukkan rasa cintanya kepada Mesya. Sekarang hati Bisma benar-benar yakin telah berlabuh pada wanita itu. Apalagi sifat Mesya yang kini berubah begitu lembut dan penuh kasih sayang membuat Bisma semakin jatuh cinta kepadanya.


"Ngapain senyum-senyum kaya gitu Bos?? Sakit lu??" Ferry sampai terheran-heran melihat perubahan Bos dinginnya itu.


"Berisik lo!!" Jempol Bisma masih terus mengetik di papan tipis persegi panjang itu.


"Ya elah dasar bucin akut!!" Cibir Ferry.


"Nggak usah banyak b*cot. Gimana kabar tua bangka mata duitan itu??" Bisma mengutus Ferry untuk terus mengawasi pergerakan Kusworo. Bisma khawatir kalau dia tidak menepati janjinya.


"Nah kebetulan nih, gue mau laporan" Ferry menyodorkan dokumen ke hadapan Bisma.


"Ini laporan pencairan uang dari bank kemarin pagi. Dia sudah mencairkan semuanya hingga batas limit. Terus tadi pagi dia cabut, balik ke kampungnya" Ferry juga menyerahkan foto-foto Kusworo saat berada di bandara tadi pagi.


"Bagus, sekarang gue pergi dulu. Mau jalan sama calon istri gue" Ucap Bisma sembari beranjak pergi dari ruangannya.


"Loh, loh Bos!! Terus meeting habis ini gimana??" Panik Ferry.


"Itu urusan lo!!"


"Mampus, padahal gue belum baca materinya"


*


*


*


Mesya tiba di lobby apartemen sudah menemukan Bisma yang menunggu di sana. Hari ini Mesya terlihat begitu cantik dengan dress putih lengan panjangnya. Senyum cantik juga tak pernah lepas dari dirinya akhir-akhir ini.


Bagaimana tidak, Mesya merasa begitu di cintai saat ini. Bisma melindunginya, menjaganya, mencurahkan semua cinta dan kasih sayangnya kepada Mesya. Itu terkadang membuat Mesya sering lupa jika dia pernah berbuat salah kepada Bisma.


"Kamu cantik sekali Sya" Bisma menyelipkan anak rambut Mesya ke belakang telinganya.


Mesya tersipu dengan pujian kecil itu. Memang Bisma paling ahli untuk membuat Mesya meleleh tak berdaya.


"Mas Bisma juga ganteng" Balas Mesya menahan malu.


"Kalau itu jangan di tanya lagi. Kamu aja sampai cinta mati kan??" Jawaban Bisma yang narsis itu membuat Mesya berdecih geli.


Bisma membukakan pintu mobilnya untuk Mesya. Dia benar-benar meratukan Mesya saat ini. Sekarang Mesya adalah hidupnya, dan anak mereka adalah segalanya bagi Bisma.


Hari ini Bisma ingin mengajak Mesya untuk membeli perlengkapan bayi mereka yang sebentar lagi akan lahir. Bisma pernah teringat saat Mesya menatap sedih sepasang suami istri yang sedang berbelanja bersama. Dia rasa, saat ini bisa mengobati rasa sedih yang Mesya rasakan itu. Meski mereka belum sah sebagai suami istri. Namun tak ada salahnya Bisma membahagiakan Mesya dengan hal-hal kecil yang sering dilakukan pasangan suami istri.


Bisma membawa ke salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Tujuan mereka tentu saja langsung ke toko yang menjual berbagai macam keperluan bayi.


"Mas, aku boleh pilih sepuasnya kan??" Mata Mesya sudah berbinar menatap barang-barang kecil yang lucu-lucu itu.


"Tentu saja, uangku tidak akan habis bahkan untuk membeli seluruh toko ini sekalipun" Sombong Bisma. Padahal dai baru saja kehilangan begitu banyak uang yang di ambil Kusworo.


"Dih sombong deh" Cibir Mesya.


"Sombong juga kamu suka" Balas Bisma yang membuat Mesya melengos dan langsung pergi mencari baju-baju yang dia inginkan.


"Mas lihatlah!! Lucu ya Mas?? Bagusan yang mana menurut kamu??" Mesya mengambil dua buah sepatu bayi yang menurutnya sangat kecil dan menggemaskan.


"Kamu ambil semua aja, dua-duanya lucu kok" Jawab Bisma dengan jujur.

__ADS_1


"Yah nggak asik deh, kan aku minta pendapat kamu" Mesya justru kesal dan mengembalikan kedua sepatu itu ke tempatnya.


"Loh kok nggak jadi yank??"


"Nggak ah, habis kamunya nggak jelas" Mesya meninggalkan Bisma untuk memilih yang lainnya.


"Astaga, kalau udah sah udah aku habisi di kamar kamu Sya" Gumam Bisma sambil melihat Mesya yang kini asik dengan baju-baju di tangannya.


Bisma sekarang ini hanya seperti bodyguard yang sedang mengawal nyonya besarnya. Dia terus mengekor Mesya sejak tadi. Berdiri di belakang wanita itu dengan sabar tanpa mengeluh sekalipun.


"Mau pilih yang mana??" Tanya Bisma yang kembali di belakang Mesya.


"Menurut kamu bagusan yang mana Mas??" Mesya mengangkat dua buah baju dengan model yang sama namun dengan warna yang berbeda.


"Kali ini nggak boleh salah jawabnya" Batin Bisma sebelum menjawab pertanyaan Mesya.


"Yang biru aja Sya. Kan anak kita laki-laki masa mau warna pink"


"Benar juga kata kamu Mas"


"Huffftt selamat" Bisma mengusap dadanya setelah Mesya memasukkan baju yang di pilih Bisma itu ke dalam kantung belanjanya.


Hampir tiga jam pasangan itu berada di dalam toko pakaian bayi itu. Kaki Mesya juga sudah pegal meski tidak bengkak sama sekali.


"Kita makan dulu ya Mas?? Kamu pasti lapar kan?? Maaf ya, dari tadi aku terlalu senang memilih baju jadi lupa kalah kamu belum makan siang" Ucap Mesya dengan sesal.


Perut Bisma memang terasa lapar. Namun melihat Mesya terus mengembangkan senyumnya membuatnya melupakan tentang mengisi perutnya.


"Kalau gitu, kamu mau makan apa??" Tanya Bisma.


"Sebenarnya aku pingin makan di resto yang ada di seberang Mall ini Mas. Kamu lihat kan tadi, yang ramai itu loh. Tapi aku juga masih mau cari boks bayi untuk anak kita" Mesya bingung harus memilih yang mana dulu.


"Kamu nggak papa kalau bolak-balik Mas??"


"Ya nggak papa dong, asal sama kamu apa aja aku mau" Mesya lagi-lagi di buat tersipu dengan kelakuan Bisma itu.


"Sejak kapan kamu pintar gombal kaya gini Mas??"


"Sejak aku sadar kalau aku sudah jatuh cinta sama kamu" Bisik Bisma di telinga Mesya.


Blusshh...


Pipi Mesya sudah tidak bisa lagi untuk menyembunyikan rona merahnya.


"Hahaha..." Bisma terbahak karena Mesya yang menutup wajahnya karena merasa malu.


"Ayo makan dulu. Jangan tersipu terus, itu nggak bikin kenyang"


Mesya mencubit pinggang Bisma karena kesal di goda oleh pria itu.


"Awww, sakit sayang"


"Biarin, habisnya ngeselin!!"


Bisma menggenggam tangan Mesya keluar dari pusat perbelanjaan itu. Mereka berdua menuju restoran di seberang jalan yang di maksud Mesya.


Tangan Bisma semaki mengeratkan genggamannya saat mereka mulai menyeberang jalan yang terlihat ramai itu.

__ADS_1


"Mas, kalung aku jatuh" Mesya menoleh ke belakang dimana ia merasakan kalungnya terjauh dan sempat mengenai kakinya.


"Tunggu di sini, biar aku yang ambil" Bisma melihat kalung Mesya yang terjatuh di tengah jalan.


"Hati-hati Mas!!"


Mesya seakan tak rela melepaskan tangan Bisma yang sejak tadi menggenggamnya.


Bisma berjalan ke tengah jalan kemudian berjongkok untuk mengambil kalung peninggalan Mama Mesya itu.


"MAS AWAAAASSSS!!!!" Teriak Mesya saat melihat mobil dengan laju tak terkendali dari sisi kiri Bisma.


Mesya segera berlari menghampiri Bisma yang masib belum sadar dengan hadirnya mobil itu.


"MASSSSS!!!"


BRAAKKK.......


Bisma terungkap di pinggir jalan karena di dorong oleh Mesya.


"MESYAAA!!!"


Teriak Bisma karena tubuh Mesya yang kini sudah terkapar bersimbah darah karena menyelamatkannya.


"Mesya!!" Bisma berlari menghampiri Mesya yang masih membuka matanya itu.


"Maaa- ***" Lirih Mesya.


"Sayang, ingat!! Jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan aku. Kamu pasti baik-baik saja. Pertolongan akan datang sebentar lagi" Bisma menangis melihat keadaan Mesya saat ini. Tubuh yang lemah dengan darah di mana-mana.


"Aku men cintai ka mu Mas Bisma" Ucap Mesya terputus-putus.


"Aku juga. Aku juga Mesya, aku mencintai kamu sayang" Bisma merengkuh Mesya ke dalam pelukannya.


"Mas, maafkan semua salahku. Se bentar la gi, aku akan berte mu dengan Alya. Aku akan meminta maaf sendiri kepadanya. Maafkan aku karena harus membawa pergi anak kita"


"Apa yang kamu bicarakan Mesya!! Aku tidak pernah mengijinkan mu bertemu dengan Alya sekalipun!! Jadi jangan asal bicara!! Kamu dan amak kita akan tetap disini bersamaku" Bisma ketakutan mendengar omongan Mesya yang semakin melantur itu.


"Ken apa dari dulu ka mu tidak pernah bisa mencintaiku Mas?? Aku sungguh mencintaimu. Cintaku tulus dan besar kepadamu. Bahkan aku berani mengadu besarnya cinta ku dengan cinta yang Alya miliki untuk kamu. Ta pi kenapa ka mu tidak pernah melihatku sekalipun??" Ungkap Mesya tentang perasaannya yang dulu di abaikan oleh Mesya.


"Maafkan aku tentang itu sayang. Sekarang aku percaya kalau cinta kamu begitu besar kepadaku. Hanya kamu, sekarang hanya ada kamu di hidupku. Sekali lagi maafkan aku karena membalas cinta mu setelah berulang kali menyakiti kamu" Bisma menciumi kening Mesya bertubi-tubi meski pelipis Mesya penuh dengan darah.


"Terimakasih karena sudah membalas cintaku Mas. Aku begitu bahagia meski hanya sesingkat ini. Hiduplah dengan bahagia Mas"


Mesya menarik nafas panjangnya dengan mulutnya.


"A-ku sangat men cintai mu...."


Beralasan mata Mesya mulai tertutup dengan tangan yang terkulai lemas ke bawah.


"Mesya, mesya buka mata kamu sya!!"


"Apa yang kamu lakukan Mesya!! Ini tidak lucu!!" Bisma mulai gusar dengan Mesya yang sudah tidak menunjukkan respon apapun.


"Tidak!! Kamu tidak boleh pergi Mesya!!" Bisma mencoba menolak kenyataan yang kini berada di depan matanya.


"MESYAAAA!!"

__ADS_1


"MESYAAAAAAAAA!!!!!!"


__ADS_2