
Setelah tiba di kantor, Bisma tak benar-benar melanjutkan pekerjaannya. Dia justru terdiam di kursinya sambil melihat kesibukan kota Jakarta dari gedung pencakar langit miliknya.
Bukan karena kesalahannya kepada Alya yang ia pikirkan saat ini, tapi justru penyebab kesalahannya itu yang sedang ia pikirkan saat ini.
Di saat dia di dekat Alya tadi perasaanya tiba-tiba hambar. Perasaan cinta yang ia pupuk selama lebih dari sepuluh tahun seakan sirna dalam satu malam. Bisma masih bertanya-tanya kemana hilangnya semua rasa itu.
Kalian ingin tau apa yang tersisa di dalam hati Bisma saat ini untuk Alya?? Hanya rasa bersalah yang mendalam. Bisma mengaku jika dirinya salah. Mengambil keputusan untuk menikahi Alya meski hatinya telah pergi bersama pemilik yang baru.
Kini Bisma bingung. Bagaimana cara mengakhiri semuanya. Tentu saja keputusannya itu akan menyakiti banyak orang terutama Alya. Bisma tidak tega menghancurkan hati Alya. Bisma tau wanita itu sangat mencintainya. Mengingat betapa sabarnya Alya tadi menghadapi Bisma. Tapi bagaimana mungkin Bisma melanjutkan rencana pernikahan mereka jika hati mereka berdua bukan lagi satu tujuan.
"AAAKKKKHHHH....!!!" Bisma melempar map berisi dokumen perusahaannya ke sembarang arah sebagai luapan atas kegundahan hatinya.
"Bos!!" Tepat saat itu juga ternyata Ferry masuk ke dalam ruangan Bisma. Pria tanggung itu langsung memungut kembali berkas yang telah di buang Bisma.
"Kenapa gue jadi kaya gini Fer?? Rasanya gue udah mulai gila" Ucapan Bisma mmebuat Ferry mendongak karena posisinya saat ini masih berjongkok.
"Maksud lo Bos??" Tidak biasanya Bisma melihat Bisma sampai meluapkan kekesalannya dengan membuang barang-barang di sekitarnya seperti itu.
"Lo tau sendiri kan Fer?? Gue udah mencoba mengikuti saran dari lo. Gue udah menyibukkan diri dengan tumpukan berkas ini untuk melupakan mimpi itu. Gue udah menghindari Mesya untuk melupakan bayang-bayang wanita itu. Gue juga udah mengambil langkah besar dengan rencana pernikahan gue sama Alya demi meyakinkan hati gue. Tapi kenapa rasanya begitu sesak Fer?? Gue bisa gila kalau kaya gini terus. Gue nggak sanggup Fer"
Bisma menundukkan wajahnya di atas meja kerjanya. Bisa Ferry lihat jika pundak yang tegap dsn berotot itu mulai bergetar hebat. Baru kali ini Ferry melihat Bisma begitu hancur karena perempuan. Akhir-akhir ini juga Bisma begitu terbuka dengan Ferry tentang perasaannya.
Berlahan hati Ferry mulai gamang. Dia mulai mempercayai jika mimpi itu benar-benar nyata karena melihat Bisma yang seperti ini.
"Bos, gue nggak tau lagi harus ngomong apa. Sekarang lebih baik lo tenangkan diri lo dulu. Kita bicara lagi kalau perasaan lo udah tenang. Gue bakalan cancel meeting kita sore ini. Gue nggak akan ganggu lo dulu. Gue keluar sekarang" Dengan tatapan iba, Ferry melangkah keluar meninggalkan Bisma sendirian di ruangannya.
"Batalkan meeting sore ini dan jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruangan Pak Bisma tanpa terkecuali. Saya ada urusan keluar sebentar, tapi kalau ada apa-apa hubungi saya saja. Jangan hubungi Pak Bisma" Perintah Ferry kepada salah satu bawahannya.
"Baik Pak"
Lantas Ferry keluar dari gedung perkantoran elit itu. Memacu mobilnya menuju ke suatu tempat untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya.
*
*
*
Tok..tok..tok..
__ADS_1
"Ya??" Jawab seseorang dari dalam sebuah ruangan.
"Bu Mesya, ada tamu yang ingin bertemu dengan Bu Mesya"
"Siapa??" Tanya Mesya lagi.
"Gue" Jawab Ferry terlebih dahulu sambil membuka pintu ruangan Mesya.
"Ferry??" Mesya tampak terkejut dengan kedatangan pria itu.
"Hay, udah lama ya nggak ketemu??" Ferry melihat-lihat ruangan Mesya yang penuh dengan mahakaryanya itu.
"Ada perlu apa ya Fer?? Aku rasa sudah tidak ada maslah pekerjaan yang belum aku selesaikan. Masalah pengunduran diriku dari tema desain kuga sudah clear kan??" Tanya Mesya ingin tau tujuan Ferry datang ke sana.
"Santai aja lagi Sya. Gue datang ke sini cuma mampir doang kok. Kebetulan gue lewat jadi nggak ada salahnya dong kalau gue mampir ke tempat temen gue" Ferry masih melihat-lihat karya Mesya yang menurutnya memang pantas menjadi desainer yang di pilih perusahaan Bisma waktu itu.
"Ya nggak ada salahnya sih, cuma tumben aja. Btw kamu mau minum apa??"
Ferry baru sadar kalau sejak tadi Mesya tidak menjawabnya dengan bahasa yang sering mereka gunakan dari dulu. Benar kata Bisma jika Mesya memang berubah menjadi lebih lembut.
"Nggak usah, gue cuma mampir bentar kok"
Ferry mendekat ke arah mesin jahit yang berada di belakang Mesya saat ini. Ada satu hal yang menarik perhatian Ferry di atas mesin jahit itu. Satu buah baju bayi berwarna biru yang berukuran sangat kecil serta sepasang sepatu bayi yang berwarna senada terletak di sana. Sepertinya Mesya baru saja menjahitnya karena ujung benangnya belum di putus oleh Mesya.
Namun Ferry pura-pura tak melihatnya lalu dia benar-benar duduk di sofa sesuai perintah Mesya.
"Tapi ngomong-ngomong kenapa lo tiba-tiba memutus kontrak itu??" Ferry melihat Masya menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong kain.
"Semua sudah aku jelaskan di surat pengunduran diri waktu itu Fer. Aku yakin kamu juga sudah baca" Jawab Mesya setelah memberi jeda beberapa detik.
"Udah sih, tapi aneh aja kan mengingat betapa gigihnya lo waktu itu. Apalagi ini kan kesempatan lo buat dekat sama Bisma. Pria yang lo cintai dari jaman baheula" Ferry sengaja memancing Mesya untuk memastikan kecurigaannya setelah melihat baju bayi tadi.
"Justru karena sudah jaman baheula itu makanya susah waktunya untuk melupakannya" Jawab Mesya tanpa mau melihat Ferry.
"Cih.. Yakin lo?? Mengingat sifat lo yang ambisius dengan ego setinggi langit, nggak yakin gue" Cibir Ferry.
"Semua orang bisa berubah Fer, apalagi hati. Lagi pula Kak Bisma sebentar lagi menikah kan?? Lalu untuk apa lagi aku memperjuangan cinta yang tidak pernah ada untukku. Lagipula melihat Kak Bisma bahagia aku juga bahagia" Kali ini Mesya menunjukkan senyumnya pada Ferry.
"Buls*it tau nggak?? Omong kosong!!"
__ADS_1
"Apa maksud kamu sebenarnya Fer??" Mesya tidak tau tujuan Ferry datang menemuinya dan bersikap seperti itu di depannya.
"Kenapa lo nggak buat rencana untuk membuat Alya hancur dan pergi menjauh dengan sendirinya dari kehidupan Bisma"
Deg....
Ucapan dan tatapan Mega Ferry kepada Mesya membuat aliran darah pada tubuhnya seakan berhenti. Telapak tangannya mulai dingin dan berkeringat.
"A-apa maksud mu??" Mesya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kegugupan lo itu udah memberikan jawaban kalau lo memiliki mimpi yang sama dengan Bisma. Tapi yang gue tanyakan, kenapa lo nggak mau mengakuinya di depan Bisma. Padahal dia selalu mendesak untuk mengakui semuanya"
"Jangan coba-coba mengelak di depan gue karena gue udah lihat baju bayi uang baru lo jahit itu. Bisma sudah cerita semua yang terjadi pada kalian di dalam mimpi. Jadi gue tau baju itu untuk siapa" Ferry yang begitu menekan Mesya membuat wanita itu tak bisa berbuat apa-apa.
"Kenapa Mesya?? Bukankah ini kesempatan lo untuk mendapatkan hati Bisma. Pria yang selama ini lo harapkan. Dengan mimpi itu sepertinya pungguk bisa mendapatkan bulan"
Mesya menarik nafasnya begitu dalam. Meski rasanya tersendat karena tenggorokannya yang tercekat.
"Lalu apa yang akan aku dapatkan kalau aku mengakui semuanya Fer?? Apa Kak Bisma akan meninggalkan Alya dan memilihku begitu??" Mesya menatap Ferry dengan linangan air mata.
"Kak Bisma sudah melamar Alya dan sebentar lagi mereka akan menikah. Apa aku tega menghancurkan hubungan mereka demi mimpi yang menurut orang lain sangat aneh ini??"
Kini Ferry hanya bisa terdiam mendengarkan suara hati Mesya.
"Apa kamu mau melihat aku yang kejam seperti dulu atau aku yang seperti di dalam mimpi itu. Aku yang dengan teganya menghancurkan Alya?? Ini dunia nyata Fer, wanita yang Kak Bisma cintai itu Alya bukan aku. Jadi biarlah semuanya berjalan seperti yang seharusnya. Biarkan mereka bahagia dengan cinta mereka" Mesya mengusap air matanya dengan kasar.
"Terus lo gimana?? Lo mau melihat mereka bahagia tapi hati lo hancur??" Ferry kini percaya jika mimpi yang mereka alami telah merubah hati dan pikiran mereka.
"Asalkan pria yang aku cintai bahagia. Aku juga merasa bahagia"
Ferry tertawa sinis mendengar jawaban Mesya. Dia tidak percaya dengan istilah seperti itu.
"Lo nggak tau kan kalau Bisma sama hancurnya kaya lo saat ini?? Dia berada di antara dua pilihan yang sangat berat"
Mesya tidak tau jika Bisma juga sama hancurnya dengan dirinya.
"Tapi itu pilihan yang dia ambil sendiri Fer"
"Dasar keras kepala!! Dengan keegoisan kalian ini tanpa sadar kalian susah menyakiti perasaan banyak orang tau nggak??" Kemarahan Ferry hampir meledak saat ini juga.
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah tau tentang aku Fer. Aku harap kamu tidak mengatakan apapun kepada Kak Bisma. Aku tidak mau menjadi wanita jahat yang terus menyakiti Alya. Sudah banyak salahku padanya, jadi biarkan dia bahagia bersama Kak Bisma"