
"Sayang?? Kamu masih marah ya??" Sedari tadi Bisma terus saja membujuk Mesya agar tak mendiamkannya lagi.
"Sayang??" Bisma memeluk Mesya dari belakang karena istrinya itu sejak tadi tak mau menghadap ke arahnya.
Yaa, Bisma memang sungguh-sungguh dengan ucapannya kemarin. Tadi malam dia bersama kedua orang tuanya benar-benar datang ke rumah Mesya untuk melamar wanita pujaannya itu. Dan keesokan harinya pernikahan mereka benar-benar di laksanakan sesuai perjanjian Bisma dengan Papanya jika pernikahan itu akan di laksanakan secara sederhana terlebih dahulu. Maka dari itu, tak butuh persiapan yang lama untuk sekedar mengundang penghulu juga saksi untuk menikahkan mereka.
Mesya yang belum mempersiapkannya apapun tentu saja kesal dengan aksi nekat Bisma itu. Menolak pun dia tak bisa karena Bisma langsung membawa kedua orang tuanya terlebih lagi Papanya yang langsung menerima lamaran itu tanpa pikir panjang.
FLASHBACK ON
"Mesya, kenapa kamu nggak bilang Papa dulu kalau Papa akan kedatangan tamu terhormat seperti ini??" Tanya Papanya di hadapan Bisma dan kedua orangtuanya.
"Anu Pa, Itu emm Mesya..."
"Kalau begitu kan Papa bisa mempersiapkan semuanya untuk menyambut Tuan Dirgantara sekeluarga. Kalau seperti ini Papa seperti tidak menghormati tamu agung ini"
"Tidak Papa Pak Prabu. Kedatangan kami ke sini memang tidak di rencanakan sama sekali. Kami hanya menuruti anak Kami yang sudah tidak sabar untuk mempersunting putri Bapak" Papa Bisma menjelaskan apa maksud kedatangan mereka ke kediaman Prabu.
Sementara itu Mesya sejak tadi terus saja memberikan tatapan tajamnya kepada Bisma. Dia tidak menyangka jika pria itu serius dengan ucapannya tadi siang.
"Apa Tuan?? Jadi Nak Bisma ingin menjadikan putri saya sebagai istrinya begitu??" Papa Mesya begitu terkejut karena ternyata putrinya bisa menjalin hubungan dengan pria dari keluarga konglomerat seperti Bisma. Meski Prabu sendiri termasuk kaya raya namun mereka masih di level yang berbeda.
"Benar Om. Saya ingin menjadikan Mesya sebagai istri saya" Jawab Bisma dengan tegas sambil membalas tatapan tajam Mesya dengan senyum menggodanya.
"Bagaimana Pak Prabu?? Apa niat baik kami ini di terima dengan baik atau masih ada yang perlu di bicarakan lagi antara Bisma dan Mesya??" Tanya Papa Bisma.
"Mesya rasa ka..."
"Tentu saja kami menerima niat baik Tuan dan keluarga ini. Niat baik tentu saja harus di terima dengan baik. Bukan begitu Nyonya??" Prabu meminta pendapat Mamanya Bisma yang sejak tadi tampak mesam-mesem saja.
"Benar Pak Prabu. Saya juga sudah tidak sabar kepingin punya cucu. Iya kan Jeng??" Kini Mama Bisma meminta pendapat dari Luna.
"Tentu saja Nyonya. Mereka sudah sama-sama dewasa. Tentu saja harus segera melepas masa lajangnya" Ke empat orang tua itu lantas tertawa bersamaan.
__ADS_1
Berbeda dengan Mesya yang memperlihatkan wajah masamnya kepada Bisa. Dia kesal kepada dua pria yang ada di sana. Bisma dan Papanya, Bisa yang semaunya sendiri dan Papanya yang tak membiarkan dia bersuara.
"Kalau begitu, sesuai dengan perjanjian saya dan Papa saya. Kita akan melakukan ijab terlebih dahulu, baru memikirkan pesta yang meriah di waktu yang akan datang. Maaf kalau ini akan membuat Om terkejut, tapi saya ingin Om menikahkan saya dan Mesya besok pagi"
"Apa??" Meski sudah di beritahu Bisma untuk tidak terkejut tapi Prabu tetap saja terkejut.
Jangan tanyakan Mesya, tentu saja bola matanya hampir keluar saat ini.
"Bagaimana Om??"
Prabu menatap Papa Bisma yang hanya mengulas senyum tipisnya. Itu artinya memang mereka benar-benar merencanakan semua itu.
"Pa, ak.."
"Tentu saja saya menyerahkan semuanya kepada Nak Bisma. Tugas saya hanya menikahkan kalian saja" Mesya langsung lemas mendengar persetujuan Papanya itu.
FLASHBACK OFF
"Jangan marah lagi dong yank. Ini kan malam pertama kita. Masa mau ngambek terus kaya gini?? Jangan-jangan kamu sebenarnya nggak mau jadi istri ku ya??" Tanya Bisma dengan sedih.
"Bukan nggak mau. Tapi aku nggak suka sama cara kamu itu. Aku belum mempersiapkan apa-apa untuk pernikahan ini. Jangan samakan pria dan wanita Mas. Karena kita perlu banyak persiapan untuk menikah!!" Keluar sudah kekesalan Mesya sejak tadi malam.
"Memangnya apa yang perlu kamu persiapkan Sya?? Semuanya sudah aku siapkan dengan cepat dan rapi. Pernikahan kita tadi juga lancar-lancar aja"
Mesya semakin kesal karena Bisma sama sekali tidak pahan maksudnya.
"Bukan persiapan yang itu Mas. Wanita itu perlu ke salon, mempercantik diri sebe.." Mesya langsung menutup rapat bibirnya ketika menyadari sesuatu yabg seharusnya tidak di ucapkan di depan pria yang sudah menjadi suaminya saat ini.
"Sebelum apa sayang??" Benar saja, Bisma langsung menunjukkan senyum jahilnya di depan Mesya. Bisma paham betul dengan apa yang Mesya katakan kali ini.
"E-enggak papa, aku cuma salah ngomong aja!!" Mesya kembali berbalik membelakangi Bisma. Kali ini menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu. Dia menyalahkan bibirnya yang tak bisa di kontrol itu.
Tapi Bisma adalah seorang pria normal, dimana dia sudah berhadapan dengan seorang wanita yang telah menjadi istrinya. Tentu saja insting memangsanya sudah sangat kuat saat ini. Sudah menganggur selama tiga puluh satu tahun tentu saja membuat Bisma ingin cepat merasakan kenikmatan surga dunia yang sudah di depan mata.
__ADS_1
"Sayang" Bisma sengaja mendekatkan bibirnya pada tengkuk Mesya. Sehingga membuat wanita itu meremang seketika saat nafas Bisma menerpa kulitnya.
"Kamu tidak perlu mempersiapkan diri seperti itu untuk malam pengantin kita. Bagiku, kamu tetaplah wanita tercantik di dunia ini. Apapun yang ada pada dirimu aku suka"
Mesya memejamkan matanya tak kuat karena Bisma terus saja berbisik di belakang tubuhnya.
"Jadilah milikku seutuhnya malam ini sayang"
Cup..
Tubuh Mesya menegang karena Bisma mendaratkan kecupan pada tengkuknya yang tak tertutup baju tidurnya.
Tangan Bisma kemudian terulur ke depan, mendekap pinggang ramping itu dari belakang untuk mengikis jarak di antara mereka.
Bisma memulai aksinya dengan memainkan bibirnya di pundak Mesya. Memberikan sentuhan lembut di sana. Apa yang mereka lakukan itu adalah pengalaman pertama bagi mereka jadi Mesya yang tak tau apa-apa hanya bisa diam menerima segala sentuhan dadi suaminya itu.
Kecupan Bisma terus naik hingga leher Mesya namun aksi Bisma itu harus terhenti karena ponselnya yang tiba-tiba berbunyi.
"Aisshhh s*al!!" Bisma mengumpat setelah melihat siapa yang mengganggu malam pertamanya itu.
"Angkat dulu Mas, siapa tau penting" Ucap Mesya.
"Ck.. lihat saja besok gajinya akan aku potong karena berani mengganggu ku malam ini!!"
Mesya tertawa karena melihat Bisma yang menggerutu dengan wajah kesalnya.
"Ada apa!!"
"S*alan lo Bos!! Lo kasih kerjaan gue di luar kota taunya lo malah kawin!!" Ferry tak kalah kesal dengan Bisma. Bisa-bisanya Bisma menyerahkan proyek penting di luar kota agar Bisma tak berangkat sendiri ke sana. Tapi ternyata alasannya karena ingin menikah dengan Mesya.
Ferry sendiri tidak tau tentang kembalinya Mesya, tapi tiba-tiba dia sudah menjadi istri Bisma.
"Nggak usah ngegas gitu!! Besok gue kasih bonus gede. Udah tutup dulu, jangan ganggu malam pertama gue. Bentar lagi gue kasih lo keponakan yang lucu" Mesya malu sendiri mendengar ucapan Bisma kepada Ferry itu.
__ADS_1
"Bodo amat!!" Ferry langsung menutup teleponnya dan membuat Bisma tertawa cekikikan sendiri.
Mesya melihat Bisma menonaktifkan ponselnya. Otaknya langsung bisa menebak apa maksud dari Bisma itu. Jantungnya kembali berdegup kencang saat ini. Dia seperti belum siap melepas kesuciannya yang sudah ia jaga selama ini meski semua itu memang ia siapkan untuk Bisma.