
“Mba, Selamat ulang tahun ya”
Seperti tersambar petir rasanya Luna menerima ucapan selamat ulang tahun dari Bintang, setelah bertahun tahun mereka menikah!
“Aku punya kejutan.” Katanya kemudian.
Luna terdiam.
“Nonton yuk!” Lanjutnya.
Sepi.
Tak ada respon seperti yang diharapkan.
Dingin...
Sudah Basi barangkali.
Luna mengambil sebuah amplop coklat dari dalam tasnya lalu diserahkannya ke Bintang.
Bintang menerima dan meneliti kop suratnya.
“Apaa ini mba...” tanyanya tak bergairah.
lalu bukanya amplop berisikan kertas tebal dan dibacanya...
*Kepada
Yth, Ketua Pengadilan Agama
Perihal Gugat Cerai
Assalamu alaikum Wr Wb,
__ADS_1
Dengan segala hormat, perkenankanlah saya *yang bertanda tangan dibawah ini :
Bulan Purnama binti...
Dengan ini mengajukan gugatan Cerai terhadap suami saya yang bernama :
Bintang Gemilang bin* ...
“Kamu main main ini mba?” Tanya Bintang
Luna tak menjawab.
Buat Luna, prestasi selama masa pernikahan adalah saat ini. Saat dia bisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Saat dia berdiri untuk memenangkan suara jiwanya sendiri. Jiwa yang selama ini terbelenggu, terpenjara karena perasaan kasihan dan berbagai macam pertimbangan, kini telah dibebaskan.
Buatnya ini adalah perpisahan dari hubungan yang tidak menyehatkan, tidak saling mendukung dan membangun, perpisahan dari situasi yang tidak menentramkan, kehidupan yang tidak membahagiakan, perpisahan dari sebuah ikatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Luna membebaskan Bintang dari segala kewajiban. Dia tak menuntut apa apa darinya. Tidak ada kebencian. Tidak ada permusuhan. Bahkan dia tak memasukan pasal perselingkuhan didalam gugatan. Luna tak mau energynya tercurah, terbuang sia sia untuk membahas hal hal yang menyakitkan.
Luna sudah memaafkan dirinya, memaafkan masa lalunya, memaafkan Bintang. memaafkan semuanya. Dia bertanggung jawab penuh akan hidupnya, kebahagiaannya.
Your time is limited, don’t waste it living someone else’ life.
-Steve Jobs-
🌾🌾🌾
Malam itu, tidak seperti biasanya Bintang pulang cepat ke rumahnya. Tak punya keinginan apa apa, dia duduk di teras sendiri. Hatinya kosong, tak pernah dia merasakan perasaan seperti ini.
Sepeti burung dengan sebelah sayap.. lumpuh.
Sejak Luna resign dari kantornya dulu, yang bahkan sampai sekarang pun Bintang tak pernah tahu alasannya, pria itu tak pernah melihat istrinya memakai pakaian seperti itu lagi, hem putih dan celana panjang gelap, sepatu high heel, tas tangan dipundak tangan kirinya sementara tangan kanannya mendorong lugagenya menuju Bandara sore tadi. Luna terlihat cantik sekali.
Dan kini dia terbang untuk pekerjaan barunya, Luna telah kembali ke dunianya, menjalani kehidupannya untuk menemukan sesuatu yang dapat melepaskan dahaganya jiwanya.
__ADS_1
Ini adalah ujian bagi cinta mereka yang sesungguhnya... saat ikatan sudah dilepaskan... akan kah kembali bersama...
Hanya waktu yang bisa menjawabnya...
*Tak pernah terbayang
Akan jadi seperti ini pada akhirnya
Semua waktu yang pernah kita lewati
Bersama nyata hilang dan sirna
*Hitam putih berlalu
Janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara kita lewati
Tuk dapatkan semua jawaban ini
...
Tetap dalam jiwa -Isyana
🌾🌾🌾
“Mama.. mama masih menulis?” Tanya Bright ketika Luna menengoknya di Boarding school sesaat sebelum kepergiannya untuk interview pekerjaan barunya ke Singapore.
“Masihlah.
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian..
__ADS_1
Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jau, jauh dikemudian hari.. “ Luna mengutip Pramoedya Ananta Toer
“Ih mama lebay”