KARMA

KARMA
Aku juga mencintaimu


__ADS_3

Bisma menggendong Mesya sampai ke kamarnya. Tubuh Mesya yang basah itu benar-benar lemas sehingga Bisma pun tak tega membiarkan Mesya berjalan sendiri dari bawah sampai ke apartemennya.


"Kamu ganti baju sendiri Bisa??" Bisma meletakkan bajunya di samping Mesya yang terduduk di ranjangnya.


Mesya hanya mengangguk menjawab pertanyaan Bisma itu.


"Kalau gitu aku keluar dulu, mau pesan makan buat kita" Sebelum keluar dari kamarnya, Bisma sempat mengusap kepala Mesya dengan lembut.


Mesya meraih baju yang di berikan Bisma. Sudah Mesya tebak jika itu adalah baju milik pria itu. Ukurannya yang besar sudah menjawab semuanya.


Mesya berjalan lemas ke kamar mandi untuk membersihkan rubuhnya yang lengket itu. Bahkan dia belum mandi sedari pagi.


Entah keputusan yang ia ambil untuk ikut dengan Bisma itu benar atau salah. Tapi mendengar Bisma berteriak frustasi seperti tadi membuat hati Mesya luluh lagi. Memang sepertinya di dalam kamusnya tidak akan pernah ada kata benci pada Bisma.


Mesya kembali keluar setelah berganti dengan kemeja Bisma yang menutupi tubuhnya hingga sebatas paha itu. Meski perut Mesya besar, namun kemeja itu masih terlihat besar di pakai Mesya.


"Sudah selesai??" Mesya terperanjat karena Bisma sudah kembali ke kamarnya.


"Sudah" Jawab Mesya dengan suaranya yang kecil.


Bisma mendekat menuntun Mesya yang berjalan mencari pegangan di sekitarnya.


"Kita makan sekalian ya?? Makanannya sudah datang" Lagi-lagi Mesya hanya mengangguk.


"Kak!!" Mesya tersentak karena tubuhnya tiba-tiba melayang karena Bisma yang menggendongnya.


"Aku bisa jalan sendiri Kak"


"Tidak papa, tubuhmu masih lemah, jadi menurut saja"


Bisma menurunkan Mesya setelah tiba di meja makan. Di sana susah tersedia banyak makanan yang di pesan oleh Bisma.


"Ayo makan" Bisma menyendokkan nasi ke piring Mesya.


Mereka berdua makan dalam keheningan meski Bisma terus melirik Mesya yang sejak tadi jarang sekali mengeluarkan suaranya.


"Biar aku saja, ayo aku antar ke kamar" Bisma mencegah Mesya yang ingin mencuci piring kotornya.


"Tapi aku jalan sediri saja" Ucap Mesya sebelum Bisma menggendongnya lagi.


Bisma akhirnya mengalah, dia hanya merangkul pinggang Mesya kembali ke kamarnya.


"Istirahat dulu ya, aku keluar sebentar" Bisma merapihkan selimut yang menutupi tubuh pucat Mesya.


Niat Bisma itu harus terhenti karena Mesya menahan tangan Bisma.


"Mau kemana Kak?? Bisa temani aku sebentar??" Bisma akhirnya kembali melihat mata Mesya yang berkaca-kaca.


"Hey kenapa?? Jangan menangis, aku tidak akan kemana-mana" Bisma berjongkok di sisi Mesya yang terbaring di ranjang.


"Kak, apa aku sungguh tidak bisa di maafkan??" Berlahan air mata yang menggenang itu mulai mengalir.


"Aku sudah menanggung hukuman atas perbuatan ku. Aku juga sudah memohon maaf kepasa Ayah Alya, tapi sepertinya tidak ada kata maaf untukku" lanjut Mesya dnegan suara bergetar.

__ADS_1


"Mesya, Om Kusworo masih di selimuti rasa duka yang mendalam hingga berbuat seperti ini. Mungkin dengan berjalannya waktu, Om Kusworo bisa memaafkan kamu" Bisma mencoba menenangkan Mesya, meski dia sendiri tak yakin dengan ucapannya.


"Lalu apa yang dikatakan Ayah Alya itu benar Kak?? Kamu hanya menginginkan anak kita, lalu saat dia lahir, kamu akan mengambilnya dariku?? Apa kata cinta itu benar-benar untukku, atau sekedar kata-kata bualan untuk membuatku percaya kepadaku??" Mesya mengeluarkan pertanyaan yang sudah ia simpan sejak tadi.


"Mesya" Tangan Bisma begitu lembut mengusap kepala Mesya.


"Lihat aku, lihat mataku dalam-dalam!! Apa kamu menemukan kebohongan di sana?" Mesya menggeleng.


"Aku tulus mencintai kamu Sya. Perasaan benci itu entah kemana perginya hingga tadi saat aku kehilanganmu rasanya duniaku runtuh" Terang Bisma tentang perasaannya.


"Hiks..hiks.. Aku takut Kak"


Bisma merah tangan Mesya ke dalam genggamannya.


"Tadi saat aku kembali ke jalanan tanpa uang sepeser pun yang aku bawa, aku begitu takut Kak. Aku tidak tau lagi harus bagaimana, aku tidak punya tujuan sama sekali aku tidak punya siapa-siapa lagi. Sementara aku juga takut untuk menemui kamu karena membayangkan omongan Ayah Alya itu benar adanya. Aku ketakutan Kak"


Bisma membawa tangan Mesya ke pipinya. Menciuminya denhan lembut telapak tangan Mesya.


"Jangan takut lagi sekarang, aku di sini untuk kamu, untuk anak kita" Tangan kanan Bisma membelai perut Mesya dari balik selimut.


"Jangan ragukan aku Sya, karena sekarang aku pun tak ragu lagi dengan perasaanku kepadamu"


Mata mereka berdua saling membius, untuk beberapa detik bahkan tak teralihkan sedikitpun.


"Kak, seandainya saja ini semua hanya mimpi. Bolehkah aku tak bangun lagi??" Tiba-tiba saja Mesya bertanya seperti itu kepada Bisma.


"Kenapa memangnya??" Tanya Bisma lembut.


"Aku merasa sifat jahat ku kembali muncul karena berharap aku tidak akan bangun lagi" Lanjut Mesya.


Memang baginya semua ini mustahil. Bisma bisa datang ke sisinya dan bersikap lembut seperti diperlakukan Alya dulu. Juga kata cinta yang keluar dari bibir pria itu, semua rasanya fana.


"Kalau ini memang mimpi, apa yang akan kamu lakukan saat bangun nanti??"


Rasanya Mesya tak mampu menjawab pertanyaan Bisma itu. Karena itulah hal yang ia takutkan saat ini.


"Mungkin aku akan pergi jauh darimu, dan menjauh darimu. Aku tidak akan mengganggu hubungan kamu dan Alya lagi. Aku tidak akan menggunakan cara licik lagi untuk menarik perhatian kamu. Mau bagaimana pun caranya, kalau kamu memang bukan untuk ku, maka semua usahaku itu akan sia-sia. Lebih baik aku belajar melupakan kamu. Melihat kamu bahagia rasanya lebih berarti bagiku daripada membuatmu hancur seperti saat kamu kehilangan Alya"


"Tapi semua itu bukan mimpi Sya, aku sekarang milikmu. Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi jauh dariku"


Jawaban sari Bisma yang mampu membuat Mesya tersadar akan kenyataan itu.


"Aku cinta sama kamu Kak, dari dulu sampai sekarang. Baik dalam kenyataan atau dalam mimpi sekalipun rasa itu tidak pernah berubah sedikitpun untuk kamu" Balasan untuk ungkapan cinta dari Bisma baru keluar saat ini dari Mesya.


"Aku tau sangat sulit membedakan antara cinta dan obsesi. Meski aku dan orang di sekitar kita memandang cintamu itu hanya obsesi belaka, tapi nyatanya tersimpan cinta yang teramat besar untukku. Terimakasih untuk cinta yang besar itu Mesya. Aku juga mencintaimu"


Senyum tipis pipi merona tercetak jelas di wajah Mesya. Dia tersipu dengan ucapan manis Bisma itu.


"Kak, bolehkah aku meminta satu hal darimu??" Suara Mesya masih terdengar parau dan kadang-kadang menghilang.


"Apa itu, katakan saja"


"Bolehkah aku memanggilmu Mas??"

__ADS_1


"Kenapa??" Permintaan yang sangat mudah sebenarnya bagi Bisma. Namun Bisma ingin tau apa alasan Mesya merubah panggilannya kepada Bisma.


"Jujur, dari dulu aku iri mendengar Alya yang memanggilmu dengan panggilan itu. Rasanya hangat sekali memanggilmu Mas Bisma. Sedangkan Kak Bisma yang sering ku sebut hanyalah sebatas panggilan adik kelas untuk Kakak tingkatnya di sekolah" Jelas Mesya dengan sedih.


"Mesya, kamu tidak perlu iri dengan Alya. Kamu cukup menjadi dirimu sendiri" Ucap Bisma yang kini sudah duduk di lantai untuk menemani Mesya di sebelahnya.


"Jadi nggak boleh??" Bisma melihat sorot kecewa di mata Mesya.


"Te-tentu saja boleh, mulai sekarang kamu mau panggil aku apa saja boleh, panggil sayang juga boleh" Bisma sengaja mencolek dagu Mesya untuk menggodanya.


Mesya jadi teringat tadi saat Bisma menemukannya. Bisma sempat memanggilnya dengan sebutan "Sayang". Tentu saja itu membuat jantung Mesya berdebar-debar. Dia hanya berharap Bisma tidak mendengar suara jantung Mesya yang seperti genderang perang saat ini.


"Aku punya sesuatu buat kamu" Bisma berdiri menuju meja kerjanya. Mengambil sesuatu dari laci di sana.


"Apa itu Kak??"


Bisma kembali duduk bersimpuh di sisi Mesya seperti tadi.


"Ini"


Mesya terbelalak melihat sebuah kalung yang menjuntai di tangan Bisma.


"I-ini kalung yang.."


"Iya, ini kalung yang kamu gadaikan di tempat barang antik itu"


Mesya masih bertanya-tanya bagaimana Bisma mendapatkan kalung itu. Dia bahkan sudah tidak berharap lagi mendapatkan kalung itu kembali karena sudah tak punya uang lagi untuk menebusnya.


"Tapi bagaimana caranya Kak Bisma mendapatkan kalung ini??"


"Waktu itu aku dan Ferry mengikuti kamu sampai ke toko itu. Dan setelah kamu keluar dari sana, Ferry langsung masuk untuk menebusnya"


Mesya menyentuh kalung hadiah dari Mamanya itu dengan penuh haru.


"Bangun dulu, aku pasangkan ya??"


Bisma memasangkan kalung indah itu di leher Mesya. Akhirnya kalung itu kembali ke tempat yang seharusnya.


"Terimakasih Kak"


"Sama-sama, sekarang istirahatlah, aku tidur di luar. Kalau butuh apa-apa panggil saja ya??"


"Iya, Mas Bisma" Mesya memalingkan wajahnya yang memerah setelah memanggil Bisma seperti itu.


Bisma terkekeh karena tingkah Mesya yang begitu menggemaskan itu.


"Selamat tidur sayang" Ucapan manis dari Bisma sebagai penghantar tidur justru membuat dada Mesya semakin terbakar.


CUP...


Bisma mengecup kening Masya sekilas. Bisma benar-benar sudah membuat Mesya tak bisa menggerakkan badannya sama sekali karena di buat membeku oleh kata-kata dan perlakuan Bisma.


"Kamu demam Sya??" Bisma bisa merasakan panas dari kening Mesya di bibinya.

__ADS_1


__ADS_2