KARMA

KARMA
BUKAN TAHAP IBU


__ADS_3

“Bu.. saya beli sepatu” Datang datang Si Mbak pameran mengeluarkan bungkusan tas plasik yang dibawanya dari rumah.


“Mana coba liat.. ?” Tanyaku sambil meneliti sepatu sandal berwarna merah maroon yang katanya baru dibelinya. “Ihhh bagussss... berapaan?” Lanjutku


“150 ribu”


“Mau dong mba .. Nitip. Belinya dimana?” Tanyaku lagi.


“Ahh ibu suka gitu. Sepatu kaya gini mah BUKAN TAHAP IBU.”


Ups. hampir saja Aku tertawa kalau ngga liat wajah polos mba sedang serius memandanginya. Aku tahu maksudnya adalah ‘bukan Level ibu’.


“Sama aja mba... kalau bagus ya bagus. Kalau jelek ya jelak. Ngga pakai Tahap”


Sekarang malah Si Mbak yang tertawa. Mungkin dia merasa kata katanya kurang tepat.


Mba Tina ini tinggalnya dikampung atas. Setiap pagi dia datang membantu membereskan rumah, menyapu, ngepel, setrika, membersihkan kamar mandi, dan kemudian pulang setelah selesai. Banyak penduduk asli di perkampungan itu yang bekerja membantu kaum urban di Perumahan baru Green Valley yang letaknya di bawah kampung itu.


Siang itu mba Tina sedang menyetrika dan Aku menemaninya sambil membuat salad buah menghabiskan dressing yang sudah cukup lama disimpan dalam kulkas.


Kalau ketahuan Bright saus ini belum dibuang bakalan kena komplain “Mama itu mayonesnya apa masih halal?” Maksudnya ‘halal’ adalah ‘‘belum expired" Aku jadi tersenyum lagi teringat kata ‘tahap’ nya si mba Tina.


“Sudah banyak laku bu.. yg jualan anak kontrakan atas..” katanya mba Tina lagi sambil memulai menyeterika.


“O mba Tina rumahnya deket kontrakan situ ya.. yang banyak pintunya itu? Itu kontrakan punya siapa mba?”


“Kalo ngga salah namanya bu Irma. Dia punya banyak kontrakan bu. Yang disitu aja 70 pintu. Belum yang disebelah sananya lagi ada kali 30 pintu.”


Aku membayangkan lokasi di daerah situ, “Ohh. . yang disebelah jalan alternative itu punya bu Irma juga?” tanyanya lagi


“Iyaa..”


Hmmm. Dari dulu Aku selalu penasaran kalau lewat situ, salah satu usaha yang kuinginkan bila sudah tidak bekerja adalah memiliki rumah sewa seperti itu.


Namun apa daya aku berhenti bekerja sebelum waktunya dan belum sempat menyiapkan segala sesuatunya.


Karena sudah terbiasa bekerja walaupun dirumah atau dimana saja pikiranku tetep kerja. Akibatnya semua pekerjaan kulakukan.


Membayangkan rumah kontrakan Ibu Irma di kampung atas aku penasaran sekali pada si empunya. Di pinggir jalan tembus dari kampung ke Perumahan itu berderat toko kecil, ada salon kecantikan, warung makan ‘barokah’, padang, toko barang kelontong alat perkakas rumah tangga, bengkel, toko helm, toko pernik pernik asessories dan kado, toko baju dan kaos pakaian dalam, semuanya lengkap. Dan dibelakangnya toko toko kecil itu berjejer pintu pintu kamar yang disewa sewakan sekitar 70 pintu.


Cluster cluster di Perumahan ini memang terletak di tengah tengah kawasan Industri hingga banyak karyawan karyawan atau buruh pabrik yang kebanyakan para pendatang yang menyewa tempat untuk tinggal.


Seberapa banyak rumah sewa yang tersedia selalu penuh, Dan punya bu Irma ada 100 pintu semuanya fully book. Sekarang Aku jadi penasaran sama bu Irma, seperti apa sih orangnya...


🌾🌾🌾


“SEKAR?”


Aku terkejut.


Baru saja Aku memikirkannya, tau tau dia sudah ada di teras rumah. Sekar adalah teman sekolah Bright. Tumben sekali dia main kesini. Banyak teman sekolah Bright yang suka main di rumah ini hanya Sekarlah yang baru pernah datang kemari.


Dari 10 orang teman perempuan Bright di sekolah, tinggal Sekar yang belum ketauan akan melanjutkan kemana setelah lulus SD ini.


Tidak seperti di daerah, sekolah Negeri di pinggiran kota Jakarta ini sangat kurang kualitasnya, dan minim fasilitas. Sekolah swasta banyak tumbuh subur tersebar dimana mana, namun mudah ditebak. Mahalnya selangit.


Sangat sulit menemukan sekolah yang bagus qualitasnya namun dengan biaya bersahabat. Tidak ada istilahnya subsidi silang. Kalau mau ya silahkan kalau tidak sanggup silahkan cari sekolah lain.


Bright sendiri sebetulnya ingin bersekolah bersama salah satu BFF nya. Namun setelah Aku berusaha mati matian selama tiga bulan terakhir ini berjualan asuransi, jangankan mencapai target, komisi penjualannya tetap tidak menutup hanya untuk biaya pendaftarannya saja. Aku lantas pikir, apakah motivasi ini kurang menusuk?


Dan Aku berusaha mencari sekolah dengan biaya sekolah yang lebih ‘miring’. bertukar pikiran dengan para orang tua teman teman Bright, hanya tinggal bunda Sekarlah yang aku belum dapat contactnya.


Dan siang ini tiba tiba Sekar nongol di teras..


🌾🌾🌾


Ini lagi. Giliran lagi perlu, ngga ada orangnya. Punya usaha sehari buka sehari tutup. Sehari buka sehari tutup. Niat usaha apa engga si? Orang yang mau punya usaha pusingnya setengah mati, mikirin usaha apa, sewa tempatnya, gaji karyawan, operasional, macam macam. Ini udah punya usaha bagus bagus kok jalaninnya setengah setengah. Manusia manusia... Batinku


Butik ini sangat cocok menempati Ruko ini. Baju baju muslim lengkap dengan hijabnya, dan ada penjahitnya juga di sana. Pertama kali melihat koleksinya aku langsung jatuh hati, sebagaimana baju kelas butik semuanya koleksinya hanya tersedia satu satu, tidak ada yang kembaran atau sama. Dan yang lebih membuat betah harganya pun cukup ramah ..


Karena lebih sering tutupnya daripada bukanya lama lama aku pun melupakannya, hampir sebulan aku tak lewat situ. Dan ketika aku sedang butuh sesuatu, aku kembali mencari butik itu, ternyata butik itu benar benar telah tutup. Sekarang berganti menjadi tempat Pijat Refleksi keluarga.


Hhh... Ada apa dengan Pemilik Butik. Pikirku iseng.


🌾🌾🌾

__ADS_1


Dari Sekar aku mendapatkan nomor Bundanya. Selama ini kami hanya ketemu kalau ada undangan meeting pertemuan wali murid di Sekolah.


Sekarang aku jadi tahu rumahnya. Sebuah rumah yang sederhana, rumah standard dengan dua lantai namun karena letaknya di hook jadi terlihat sedikit lebih lega dari rumah rumah lainnya.


Kelebihan tanah di hook itu dibuatnya menjadi taman bermain anak anak, ada ayunan, perosotan, jungkit2, rumah rumahan..


“Maa.. ada yang lagi cari rumah ngga?” Tanya Bunda Sekar pada suatu kesempatan silaturahmi, setelah mereka selesai bincang bincang mengenai sekolah. “Saya ada rumah kosong, kemaren baru di sewa expatriate satu tahun, tapi baru enam bulan ditempati dia keluar, pulang ke Australia”


“Rumah siapa bund? Mau disewain apa dijual?” Aku balik bertanya. Seketika langsung teringat Monic temanku yang kepala cabang bank ternama itu. Dia minta aku mencarikan beberapa properti yang bagus untuk investasi dan aku memang sedang melisting data untuknya, Monic dan Heru beberapa kali berencana mau kesini tapi selalu gagal karena kesibukan mereka. Jadi dia minta data properti di beberapa lokasi sekalian agar kalau pas kesini bisa langsung memilih mana yang cocok untuk mereka, bisa lebih menghemat waktu.


“Sewa boleh jual boleh. Terserah. Sudah furnished. Ada 4 kamar, satu di bawah, tiga diatas. Masing masing kamar dilengkapi dengan kamar mandi dan bath tub.”


Mendengar nama komplek perumahan yang dimaksud aku langsung membayangkan sebuah lingkungan rumah mewah dengan jalan utama yang lebar lebar, taman yang begitu cantik dan di pintu gerbangnya, dijaga oleh security 24 jam dan setiap tamu yang masuk harus meninggalkan ID card, pilar pilar yang tinggi, bangunan bergaya Victorian dengan harga jual yang fantastis!


Lalu dia memperlihatkan foto foto dalam HP nya. Aku melihat lihat foto foto itu, sementara bunda Sekar menggendong putrinya yang menangis.


“Ini rumah bunda?” Tanya Aku sekali lagi.


“Ho oh” Jawabnya ringan


“Kenapa ngga ditempati sendiri aja?”


“Ngga betah Mmmaah... Sepi. Ngga punya tetangga. Kemaren sempat pindah, ngga sampai sebulan Sekar minta balik lagi kesini.” jelasnya.


“Oohhh... Aku hanya bisa ber Oohh... “Ada sertifikatnya ngga?”


“Ada”


“Boleh yaa nanti aku foto sertifikatnya, soalnya temenku ini orangnya sangat detail, dia ngga mau datang kalau surat suratnya ngga jelas.”


Kemudian dia masuk kedalam kamar sambil menggendong anaknya.


“Ada lagi ngga selain itu?” Tanyaku.


“Ada, di kondomium mau? Tapi yang disana sekarang masih ada yang sewa. Baru bulan depan selesai.”


“Kondominium mana?” Tanyaku balik.


Lalu ia menyebutkan salah satu nama kondominium yang ternama, penghuninya kebanyakan para expatriate, letaknya sangat strategis di tengah tengah kota. Disekelilingnya hotel hotel berderet dari hotel berbintang tiga sampai hotel berbintang lima.


“Iya.. kalau ownerkan bebas mau berenang kapan saja..”


“Oh... jadi bunda unit di kondominium itu?” Aku manggut manggut.


Bunda Sekar masih didalam kamar, tidak menjawab.


“Kalau kosan ibu punya infonya ngga?” Tanyaku kemudian. “Ada ponakan yang baru kerja lagi cari kosan deket deket sini”


“Kos kosan? Ada...” jawabnya lagi, enteng. “Mau yang isi apa yang kosong? Ada yang sudah ada penghuninya, ada yang lagi dibangun.”


“Ada sertifikatnya?” Kembali aku bertanya.


Kemudian dia keluar membawa sebuah clear folder. Buku map bening yang biasa untuk menyimpan dokumen dokumen penting. . “Ini cari sendiri” Katanya sambil meletakan clear folder itu di pangkuanku. Sementara dia terus menimang nimang baby-nya.


Aku membukanya pelan pelan


halaman satu,


halaman dua,


halaman tiga,


halaman empat, halaman lima sampai akhir halaman isinya sertifikat hak milik semua!!!!!!.


Ini Clear Folder mirip seperti punyaku yang dirumah, tebelll.


Bedanya yang punyaku isinya dokumen dokumen ijasah ijasah dan sertifikat kursus & penghargaan dari lomba lomba yang pernah kuikuti sejak jaman TK, Sedang yang ini tebell isinya sertifikat kepemilikan rumah dan tanah..!


Aku pun mengambil salah satu sertifikat rumah yang tadi ditawarkan. Lalu memfotonya lembar demi lembar.


Sebuah sertifikat lagi, dan sepertinya aku kenal alamatnya “Bun.. Ini kan Kos Kosan yang di kampung atas bukan?” Tanyaku.


“Iya...”


“Itu Kosan ibu?”

__ADS_1


“Iya.”


“Sebelah mananya Kosan bu Irma ya? Tanyaku sok tau.


Bunda Sekar terdiam sejenak. “Ya disitu.”


“Maksudnya?”


“Kan saya bu IRMA?’


“HAHHHH??” Masya Allah... Aku kaget tak menyangka “TERNYATA IBU YANG NAMANYA BU IRMA?”


Kenapa ngga pernah kepikiran sedikitpun? Selama ini saya taunya dan selalu memanggilnya dengan BUNDA SEKAR? OMG OMG OMG!!!.


ORANG YANG SELAMA INI ADA DALAM PIKIRAN BAWAH SADARKU TERNYATA SUDAH ADA DIHADAPANKU, bahkan aku sudah sering bertemu dengannya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya .


Kemudian aku mengambil satu sertifikat lagi. Dan yang ini pun sepertinya aku mengenal alamatnya”


“Ini kan yang RUKO yang dulu buat BUTIK kalo ngga salah?” Tanyaku


Dia mengangguk


“Jadi yang punya Butik itu juga BUNDA?”


Dia menangguk sambil terus menimang nimang anaknya.


“Haduhh... Bunda. Bikin orang stress aja!! Aku lagi penasaran sama pemiliknya, sudah pengen marah marah sama yang punya, soalnya kalau pas kesitu tutup lagi tutup lagi. Kenapa Tutup Bun?”


“Males mah, repot!” jawabnya ringan. Huh, gemas sekali rasanya.


“Terus sekarang kalau ngga salah jadi tempat Pijat Refleksi ya?”


“Iya, itu bapaknya yang iseng. Dulu kan pernah ada tempat pijat refleksi di sana, tapi tutup. Terus karyawan yang kebanyakan orang kampung atas pada nganggur. Mereka minta bapaknya buka pijat refleksi aja. Lalu dibuatlah tempat pijat refleksi buat mereka, orang cuma seminggu persiapannya. Langsung jalan. Kan karyawannya sudah ada. “ Ceritanya...


Rasanya aku hampir terengah engah mendengar daftar riwayat asetnya yang tak habis habis.. orang ini punya aset dimana mana tapi gaya hidupnya, penampilannya, sangaaattttt sederhana.


Tidak memperlihatkan sedikitpun kalau dia orang kaya. Tidak ada tanda tanda kalau dia kaya. Hidupnya sangat bersahaja. Dirumahnya sama sekali tidak terlihat barang berharga. Humble sehumble humblenya. Kalem sekalem kalemnya.


Suami istri sama saja. Baru pernah aku ketemu orang seperti ini. Suaminya memang seorang kontraktor. Project apapun yang dipegangnya seolah berubah menjadi emas.


Namun lebih dari itu aku melihat anak anak mereka lah asset yang paling istimewa. Dan hubungan kedua suami istri itu tampak begitu harmonis.. lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah, bermain bersama anak anak.


Aku menaruh clear folder kembali di meja. Dan duduk bersandar pada kursi. Apa ya yang menyebabkan rumah ini rasanya begitu damai..


Dan aku pun merasakan, bahwa kekayaan yang sebenarnya dari pasangan suami istri ini adalah mereka TIDAK BANYAK KEINGINANNYA.


“Bunda bunda.. Punya rumah dimana mana. Bagus bagus. Kenapa Bunda milih tinggal disini sih?” Tanyaku kemudian.


“Disini ENAK, DEKAT DENGAN MASDIJ!”


🌾🌾🌾


Akhirnya setelah memperoleh data seperlunya aku pun pamit pulang.


“O ya kemaren pulang kampung ngga? Kampungnya dimana sih? Tanyaku berhenti di teras.


“Malang”


“Aduhh.. udah lama banget saya kepengen ke Malang. Ke Musium Transportasi. Musium Organ Tubuh manusia... belum kesampaian kesampaian “


“Banyak tempat wisata disana.”


“Kapan ya.. nanti kabar kabarin dong kalau pas pulang, Aku pengen mampir ke rumah.”


“Mama aja yang kabarin kalau pas kesana, nanti nginep di tempatku”


“Di rumah mama?”


“Ada Guest House keluarga”


“OO YAAAA????” Belum selesai? Rasanya aku harus buru buru pulang, takut jantungan. Yaa Tuhann. Mengapa sedemikian noraknya diriku. Aku benar benar kehabisan kata kata.


Aku masuk ke mobil, menyalakan mesinnya sambil mendesis..


“Kapan ya aku DALAM TAHAP IBU... “

__ADS_1


🌾🌾🌾


__ADS_2