
"Oke thanks" Bisma mengembalikan ponselnya pada Ferry.
"Gitu doang?? Lo nggak mau berbuat apa gitu kek buat kasih pelajaran wanita jahat itu??" Protes Ferry tak terima.
"Itu urusan gue!!"
"Gue heran, kenapa lo tiba-tiba menyelidiki tentang Mesya?? Apa yang sebenarnya terjadi??" Ferry menatap curiga pada Bisma.
"Gue belum bisa cerita sama lo. Lagian kalau gue cerita, lo belum tentu percaya sama cerita gue. Jadi lebih baik lo diam dan lakukan aja apa yang gue minta kedepannya"
Ferry justru semakin curiga dengan jawaban Bisma itu. Apalagi dari dulu Bisma tidak pernah peduli dengan Mesya walau wanita itu terus menunjukkan ketertarikannya kepada Bisma.
"Ya udah terserah. Tapi jangan lupa lo ganti uang gue buat nyogok orang-orang itu buka mulut tentang kelakuan Mesya" Ucap Ferry.
"Dasar mata duitan!! Gue ganti tiga kali lipat"
"Nah gitu dong" Ferry menunjukkan senyuman aneh karena berhasil memeras bosnya itu.
Acara sudah di mulai dari tadi tapi Bisma sama sekali belum menemukan wanita yang dari tadi siang terus berada di dalam pikirannya. Berkali-kali Bisma mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan besar itu. Namun Bisma tak kunjung menemukan Mesya.
"Bos, Ayo!! Semuanya udah siap. Sekarang giliran lo" Ferry menarik Bisma untuk ke atas panggung untuk melakukan rencana yang telah ia susun bersama teman-temannya.
Di sana Bisma melihat Ridho teman seangkatannya yang menjadi pengisi acara itu memberikan tempat bagi Bisma. Dia juga salah satu orang yang di minta Bisma untuk membantunya melamar Alya.
"Bro, sukses ya!!" Ridho menepuk pundak Bisma untuk memberikan semangat pada temannya itu.
"Thanks Bro"
Bisma sebenarnya merasa ragu sejak tadi sebelum Ferry menariknya ke depan.
Tapi kini rencana yang telah ia susun bersama Ferry dan Ridho sejak beberapa hari yang lalu sudah di depan mata.
Suasana di dalam sana hening seketika setelah ruangan menjadi gelap sepenuhnya. Hingga sorot lampu hanya menerangi Bisma dan Alya saja. Sejak itu suasana kembali terdengar riuh karena mereka pasti sudah menebak apa yang akan di lakukan Bisma.
Bisma mendekati Alya yang menutup mulutnya karena rasa haru. Bisma kini benar-benar merasakan dejavu karena pernah melakukan hal ini sebelumnya meski hanya di dalam mimpi.
"Alya, terimakasih karena selama bertahun-tahun sudah bertahan di sisiku. Menjadi wanita satu-satunya yang mengerti diriku. Menjadi wanita yang begitu aku cintai" Alya tak kuasa menahan air matanya saat ini.
"Alya, aku berdiri di hadapan kamu saat ini. Di tengah-tengah teman kita saat sekolah dulu. Hanya karena ingin mereka menjadi saksi. Bahwa malam ini, aku Bisma Dirgantara ingin melamar kamu Alya Salsabila untuk menjadi istriku, pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku. Aku ingin kita menjaga cinta ini hingga kita menua bersama-sama"
Bisma mengambil kotak beludru di dalam saku jasnya. Lalu bersimpuh dengan menekuk satu kakinya. Bisma menyodorkan sebuah cincin berlian dengan batu kecil yang sederhana namun terlihat sangat cantik sesuai dengan keinginan Alya dari dulu.
__ADS_1
Suasana kembali terdengar ramai karena sorakan dan tepuk tangan dari semua teman mereka.
"Alya, maukah kamu menerima aku sebagai calon suamimu. Maukah kamu melanjutkan cinta kita ke dalam sebuah ikatan pernikahan??"
"TERIMA!!"
"TERIMA!!
"TERIMA!!"
Alya di buat semakin gugup karena kini dia benar-benar menjadi pusat perhatian di dalam sana.
"Aku mau Mas. Aku mau" Terima Alya dengan tangis harunya.
Setelah jawaban Alya itu, tepuk tangan, sorakan serta siulan menggema di dalam ballroom mewah itu.
Bisma memasangkan cincin itu ke jari manis Alya. Bisma tersenyum tipis karena cincin itu benar-benar sangat cantik di jari Alya.
"Terimakasih Alya" Bisma menarik Alaya ke dalam pelukannya.
"Sama-sama Mas. Aku nggak nyangka kalau kamu sudah persiapkan semua ini" Pasalnya, mengingat tabiat Bisma yang sangat dingin itu, Alya sempat tidak percaya Bisma bisa melamarnya di acara itu.
Setelah acara lamaran yang mengagetkan seluruh alumni sekolah elit itu, kini suasana sudah kembali seperti semula.
"Jadi kapan nih kalian mau meresmikan hubungan kalian??" Tanya Ridho pada Bisma dan Alya.
"Kalau aku terserah Mas Bisma aja, kapan dia mau bertemu ke dua orang tuaku dan memintaku secara langsung kepada mereka"
Mendadak Bisma menjadi bimbang. Dia tidak tau kenapa rasa tidak nyaman menyerang dirinya saat ini. Dia merasakan sesuatu yang menggebu-gebu di dalam hatinya tapi dia sendiri tidak tau apa sebabnya.
"Wah, ditantang lo Bos" Sambung Ferry.
"Kita pikirkan itu nanti Al. Yang penting aku sudah menunjukkan keseriusanku tentang hubungan kita" Ucap Bisma lalu pria itu meneguk minuman yang sedari tadi ada di tangannya.
Tapi tanpa sengaja matanya menangkap sosok wanita yang sejak tadi dicarinya. Wanita yang tidak terlihat oleh Bisma sejak tadi ia datang ke acara itu.
Bisma melihat Mesya berdiri menyendiri di kejauhan bahkan terlihat sengaja menyembunyikan dirinya di balik kerumunan orang-orang.
Bisma terus menatap wanita yang terlihat cantik dengan balutan long dress berwarna hitam itu hingga mata mereka berdua bertemu untuk pertama kalinya.
Tak sampai lima detik, Mesya lebih dulu memutus kontak mata itu lalu pergi menjauh dari sana.
__ADS_1
"Al, aku ke toilet sebentar. Jangan pergi kemanapun dan tetap disini bersama Ferry oke??" Belum sempat Alya menjawab, Bisma sudah melesat pergi ke arah perginya Alya.
Bisma berlari mengejar Alya ke arah pintu keluar. Entah kenapa Bisma merasa Mesya sengaja pergi menghindarinya. Apalagi setelah memutus kontak mata mereka terlebih dahulu. Jelas itu bukanlah Mesya yang biasanya.
Sementara Mesya terus berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Dia sudah tidak tahan berada di tempat itu. Melihat bagaimana pria yang dicintainya itu melamar wanita lain.
Mesya memukul-mukul dadanya, dia berharap jika itu bisa mengurangi rasa sakit di dalam sana.
"Mesya!!"
Deg...
Tubuh Mesya menegang seketika. Mesya tentu sudah sangat hafal dengan suara bariton itu.
Bukannya berhenti, Mesya justru semakin mempercepat langkahnya menghindari Bisma. Dia tidak ingin Bisma melihatnya yang sedang hancur seperti itu.
"Berhenti Mesya!!"
Bisma mengejar Mesya dengan langkah panjangnya.
"Awwww!!!" Krena langkahnya yang cepat dan sepatu hak tinggi yang di pakainya, membuat kaki Mesya itu terkilir hingga hampir tersungkur ke tanah jika saja tangan Mesya tidak di tahan oleh Bisma.
Mesya meringis merasakan ngilu pada pergelangan kakinya. Tapi yang lebih membuatnya terkejut adalah, Bisma yang berjongkok membantu melepas sepatu Mesya yang telah rusak.
"A-aku bisa sendiri Mas. Kamu berdiri saja" Mesya menarik kakinya menjauh dari tangan Bisma.
Bisma sempat membeku sejenak karena mendengar apa yang Masya ucapkan itu. Lalu Bisma berdiri di hadapan Mesya dengan tatapan yang siap menghujam ke dalam jantung Mesya.
"Kamu bilang apa tadi??" Mesya terkesiap karena bibirnya yang meloloskan kata tanpa kontrol dari dirinya.
"M-maaf, aku hanya salah bicara. Aku pergi dulu K-kak..Bisma"
Niat Mesya untuk pergi itu sayangnya terhenti karena Bisma yang mencekal pergelangan tangannya.
"Kamu memanggilku apa tadi??"Tanya Bisma sekali lagi yang membuat Mesya mendadak menjadi gagu. Bisma mengunci mata Mesya agar wanita di depannya itu tidak bisa menghindari pertanyaannya itu.
"Maaf aku harus pergi" Mesya menghentakkan tangannya hingga genggaman tangan Bisma itu terlepas dari tangannya. Mesya kemudian memilih berjalan tanpa alas kaki dan menenteng sepatunya yang rusak itu.
Dengan menyeret kakinya yang pincang karena terkilir itu Mesya berusaha secepat mungkin untuk pergi dari sana. Dia sama sekali tidak menghiraukan kakinya yang akan menjadi bengkak karena di paksa berjalan dengan cara seperti itu. Yang penting dia segera pergi dari sana menghindari Bisma.
Sementara itu, Bisma masih membeku menatap kepergian Mesya di tempat yang sama.
__ADS_1
"Apa kamu juga bermimpi yang sama denganku Sya?? Tapi kenapa kamu menghindari ku seperti ini??"