KARMA

KARMA
Bumi dan langit


__ADS_3

"Menurut kamu, bagaimana perasaan Alya di atas sana kalau aku mencintai wanita lain"


Deg...


Hati Mesya seperti di hantam batu yang sangat besar. Rasanya sakit dan begitu nyeri di dalam sana.


"Kenapa Kak Bisma harus menanyakan hal itu sama aku??" Mesya menahan perasaannya yang ingin meledak saat ini. Di sisi lain dia juga ingin tau siapa wanita yang dicintai Bisma saat ini.


Begitu mudahnya pria itu bertanya seperti itu kepada wanita yang jelas-jelas mencintainya. Sementara Bisma saja kemarin baru saja mengajak Mesya untuk hidup bersama.


"Jawab saja!!"


"Mungkin Alya juga akan bahagia karena Kak Bisma akhirnya menemukan kebahagiaan Kak Bisma lagi" Jawab Mesya yang terselip rasa kecewa di dalam hatinya.


"Juga?? Memangnya siapa yang juga ikut bahagia kalau aku menemukan cinta lagi??" Bisma mencondongkan wajahnya ke depan hingga berjarak beberapa senti dari wajah Mesya. Bisma benar-benar mengunci Mesya agar tidak berpaling darinya.


"i-itu..."


"Apa itu kamu?? Kamu juga akan bahagia kalau aku menemukan cintaku??" Bisma terus mendesak Mesya. Seakan-akan Bisma ingin menguji seberapa kuat hati Mesya menerima kenyataan jika Bisma bertemu wanita lain.


Bisma kesal karena Mesya tak kunjung terus terang menerima tawarannya untuk hidup bersama-sama membesarkan anak mereka. Namun semua juga salah Bisma karena tak juga mengungkapkan perasaannya kepada Mesya.


"Aku..." Mesya bingung harus menjawab apa.


Bisma terkekeh melihat reaksi Mesya saat ini. Pipinya yang putih mendadak menjadi memerah.


"Sudahlah, ayo sarapan dulu. Aku sudah bawakan sarapan" Bisma sudah bisa menebak perasaan Mesya hanya dengan melihat betapa gugupnya wanita itu. Kali ini Bisma tak menampik perasaan bahagia di dalam dirinya.


*


*


Hari semakin siang, namun Bisma belum juga pergi dari rumah Mesya. Aneh rasanya bagi Mesya jika terus-terusan berduaan dengan Bisma seperti itu. Bukan masalah risih atau tidak suka. Tapi Media merasa canggung, apalagi Bisma yang hanya duduk diam sambil memainkan laptopnya.


"Kamu kalau capek istirahat aja. Kamarnya udah rapi kan??"


"Sudah rapi, bahkan terlalu rapi sampai aku sungkan menidurinya" Batin Mesya.

__ADS_1


Ferry dan orang suruhan Bisma tadi memang benar-benar merubah seluruh isi rumah Mesya. Kini tidak ada lagi ranjang reot tanpa alas lagi, semuanya sudah di ganti baru dan nyaman.


"Sudah Kak, tapi Kak Bisma..."


"Sya, sebenarnya nanti sore aku mau ajak kamu ke Dokter kandungan. Jadi lebih baik sekarang kamu isyarat dulu. Aku tidak papa di sini sendiri, masih aja pekerjaan yang harus aku selesaikan juga"


Mesya tak menyangka jika Bisma benar-benar ingin mengajaknya ke Dokter. Bisma sungguh-sungguh ingin melihat keadaan bayinya.


"Kalau gitu, aku masuk ke dalam dulu. Kak Bisma beneran nggak papa di sini sendiri??"


"Kamu tenang aja, kau nggak akan nangis cari kamu kalau aku takut" Candaan Bisma itu mampu membuat Mesya tersenyum sebelum melesat ke kamar meninggalkan Bisma ke kamar.


"Aku bisa gila hanya melihat dia tersenyum seperti itu" Gumam Bisma merutuki dirinya sendiri.


Tangan Mesya terasa kebas karena dia merasa sudah terlalu mama berbaring. Dia bahkan sampai melupakan Bisma yang sendirian di luar.


Mesya meregangkan badannya. Sudah lama dia tidak merasakan tidur senyaman itu.


"Sudah ashar, lebih baik aku sholat dulu"


Mesya beranjak dari tempat tidurnya. Menjalankan kewajibannya yang dulu pernah ia tinggalkan sebagai umat beragama.


Yang pertama Mesya lihat adalah televisi di ruang tamunya menyala. Televisi itu juga Bisma yang membawanya tadi pagi.


Kemudian perhatian Mesya tertuju pada seseorang yang berbaring di sofanya yang kini sangat nyaman dan empuk itu.


Mesya berdiri di samping Bisma yang terlelap dengan lengan yang dia gunakan untuk menutupi matanya itu.


Meski sebagian wajah Bisma tertutup lengan tangannya, namun Mesya masih bisa melihat hidung mancung juga bibir penuh berwarna merah muda milik Bisma. Sungguh pahatan yang sempurna menurut Mesya. Seumur hidupnya, hanya Bisma pria ciptaan Tuhan yang sangat ia kagumi.


Bukan hanya karena wajahnya yang tampan dan putra seorang konglomerat saja. Namun Mesya menyukai Bisma karena sia pria yang tidak mudah tergoda dengan makhluk yang bernama wanita.


Bisma yang acuh dan dingin menjadi daya tarik tersendiri bagi Mesya. Hingga mulai tumbuh rasa penasaran di harinya untuk mendapatkan Bisma, namun lama-kelamaan rasa penasaran itu berubah menjadi cinta. Berbagai cara ia lakukan untuk menarik perhatian Bisma, meski Bisma tak pernah meliriknya sekalipun. Hati Mesya hancur saat itu ketika mendapati Bisma yang menaruh perhatian pada Alya. Hingga benih-benih kebencian itu muncul di hati Mesya untuk Alya.


Mesya kembali mendapatkan kesadarannya setelah mengingat bagaimana dulu dia bisa jatuh cinta kepada Bisma.


"Sudah puas mengaguminya Nona??"

__ADS_1


Mesya tersentak hingga terhuyung ke belakang dan hampir saja terjatuh jika Bisma tidak cepat menahan tangan Mesya.


"Hati-hati!!" Ucap Bisma menekan namun terlihat sangat khawatir.


"Maaf membangunkan mu" Mesya langsung menyingkir dadi sisi Bisma. Dia tidak ingin pergi ke Dokter jantung setelah ini.


"Tidak papa, lagipula setelah ini kita harus pergi ke Dokter. Aku mandi sebentar ya, nanti sekalian kita makan di luar"


Bisma meraih paper bag di bawah meja yang tadi belum ada di sana seingat Mesya. Atau mungkin Bisma mengambilnya saat Mesya tertidur juga tidak tau. Mesya hanya menebak jika itu adalah baju ganti milik Bisma.


Sambil menunggu Bisma selesai mandi, Mesya memilih untuk bersiap-siap. Mesya membongkar lemari yang isinya hanya beberapa potong baju itu. Itupun sebagian besar dia dapat dari Bisma waktu itu.


Mesya bingung seperti seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk kencan pertama kalinya. Tapi memang benar, meski dulunya Mesya sering terlibat hubungan kerja dengan Bisma, namun baru pertama kali ini Bisma mengajak Mesya keluar hanya berdua.


"Kamu sudah siap??" Bisma keluar dari kamar mandi sudah berganti dengan baju kasualnya. T-shirt yang melekat pas di tubuh Bisma serta kakinya yang panjang di balut dengan celana jeans membuat Mesya kesusahan bernafas melihatnya.


"Sudah Kak" Mesya membandingkan dirinya saat ini dengan Bisma. Sungguh bak bumi dan langit. Mesya yang hanya memakai sandal jepit murahan, serta daster yang menurutnya masih bagus meski warnanya sudah sedikit kusam.


Bisma menyadari perubahan wajah Mesya saat ini. Bisma pun tau apa yang sedang di pikirkan wanita itu.karena sedari tadi Mesya terus memperhatikan baju dan sandal yang di pakainya sendiri.


"Jangan sedih, kita beli baju dulu setelah itu baru ke Dokter ya??" Bisma mengusap belakang kepala Mesya dengan lembut.


Mesya hanya mengangguk meski hatinya juga senang karena sja tidak akan malu lagi jika berjalan di sebelah Bisma.


"Kak Bisma tunggu di luar saja dulu. Biar aku yang kunci pintunya" Ucap Mesya yang langsung di turuti oleh Mesya.


Sebelum Mesya keluar, dia memeriksa kembali jendela rumahnya. Jiak dulu dia tak begitu peduli karena rumahnya tan ada sisinya sama sekali. Maka berbeda dengan sekarang, karena sejak tadi pagi rumahnya itu sudah di isi penuh oleh Bisma.


"Kok bisa ponselnya nggak di bawa sih!!" Mesya melihat ponsel berwarna hitam yang masih satu tipe dengan milik Mesya tergeletak di meja.


"Mungkin kelupaan, aku bawakan saja" Mesya meraih ponsel itu dan membawanya keluar menemui pemiliknya.


"Ponselnya ketinggalan Kak" Mesya menyerahkan ponsel milik Bisma itu ketika dia sudah masuk ke dalam mobil mewah itu.


"Makasih ya Sya"


Namun tangan Mesya yang masih memegang ponsel itu tak sengaja menekan tombol power pada ponsel Bisma.

__ADS_1


Sebuah foto, dengan dua orang di dalamnya yang tampak sangat bahagia dengan senyum yang terukir di kedua bibir mereka langsung menyambut mata Mesya saat itu juga.


__ADS_2