KARMA

KARMA
Pergi dari sini!!


__ADS_3

"Ada apa di luar?? Kenapa berisik sekali??" Gumam Mesya yang bangun kesiangan karena dia baru bisa memejamkan matanya setelah sholat subuh. Entah mengapa dia semalam merasa cemas tanpa tau sebabnya. Sementara dia ragu untuk menghubungi Bisma karena Mesya tau pria itu sudah sangat kelelahan sejak pulang dari rumahnya.


Mesya beranjak dari tempat tidurnya karena rasa penasarannya. Untuk itu dia memilih mencuci mukanya terlebih dahulu. Lalu berjalan sambil memakai kardigan miliknya untuk menutupi dasternya yang tak berlengan.


Mesya tercengang karena begitu ia membuka pintu, sudah banyak warga yang berkerumun di depan rumahnya.


Mesya masih menatap mereka yang sedang berbisik-bisik dan menatapnya dengan aneh. Mesya dengan pelan menggerakkan kakinya maju untuk mencari tau apa maksud mereka berkumpul di depan rumah Mesya.


"Iya, nggak nyangka ya?? Kelihatannya aja kalem tapi ternyata!!"


"Betul Bu, serem ya?? Saya jadi takut"


"Kalau tau dari awal. Saya udah nggak mau tetanggaan sama dia. Bisa-bisa saya jadi korbannya"


Suara bisik-bisik itu semakin jelas terdengar saat Mesya semakin mendekat ke arah warga itu.


Mesya masih merasakan tatapan aneh dari mereka. Tatapan mengintimidasi, tatapan takut, jijik dan juga mencemooh. Setidaknya itu yang Mesya tangkap dari mata dan ekspresi mereka saat ini.


"Ada apa ya Pak Bu?? Kenapa kalian semua sudah berkumpul di sini pagi-pagi begini??" Tanya Mesya dengan meremas kedua tangannya sendiri karena merasa gugup di tatap seperti itu.


Tak ada yang menjawab pertanyaan Mesya, mereka justru semakin berbisik dengan kata-kata yang terdengar sadis di telinga Mesya.


"Sok suci ya Bu?? Sok alim"


"Jadi laki-laki yang datang ke sini waktu itu bukan suaminya ternyata"


"Gila Bu, harusnya dia benar-benar di penjara. Kenapa dia bisa bebas berkeliaran seperti ini"


"Seperti tidak punya rasa bersalah sama sekali ya Bu??"


Mesya semakin bingung dengan apa yang mereka katakan. Hingga Mesya melihat salah satu dari mereka menunjuk-nunjuk ke arah belakang Mesya.


Mata Mesya langsung membulat sempurna saat berbalik ke belakang.


Banyak kertas yang tertempel memenuhi dinding rumah Mesya.


PEMBUNUH!!


WANITA JAHAT!!


PEREBUT CALON SUAMI ORANG!!


J*LANG!!


HAMIL DI LUAR NIKAH!!


HARUSNYA KAMU DI PENJARA MESYA!!


WANITA TAK TAU DIRI!!


Masih banyak lagi kata-kata umpatan yang di tulis menggunakan tinta merah itu.


Mesya tidak tau ulah siapa itu. Yang jelas kertas-kertas itu begitu banyak menempel di dinding depan rumahnya hingga menarik perhatian tetangganya.


Dengan cepat Mesya menarik kertas-kertas itu lalu montoknya sebelum meremas lalu membuangnya.


"Percuma saja kamu kamu merobeknya Mesya!! Semua orang sudah tau kelakuan kamu yang sebenarnya"

__ADS_1


Mesya menghentikan aksinya karena suara asing yang tidak di kenalnya itu.


"O-om??" Mesya tergagap karena mendapati pria paruh baya yang pernah di carinya itu.


"Apa kabar kamu Mesya?? Tampaknya kamu baik-baik saja??"


Mesya melirik ke arah tetangganya yang masih berkumpul di sana. Mereka jelas memperhatikan Mesya dan Kusworo.


"Aku baik Om" Jawab Mesya. Pikiran buruk mulai menjalar ke seluruh otaknya. Jika semua yang terjadi pagi ini adalah ulah Kusworo.


"Tentu saja kamu baik Mesya. Karena kamu adalah wanita tak punya hati. Kamu bisa hidup setenang ini setelah menghilangkan nyawa anak saya!!" Mesya langsung menoleh pada orang-orang di sekitarnya.


"Huuuu dasar pembu nuh!!


"Penjahat!!"


"Tak punya hati!!"


"Lebih baik kamu yang m*ti!!"


Mesya semakin ketakutan dengan aksi Kusworo yang dengan sengaja menaikkan suaranya agar orang-orang mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Om, untuk yang terjadi pada Alya. Saya minta maaf Om. Saya mengaku salah, saya siap di hukum apa saja, tapi saya mohon. Jangan buat keributan di sini" Ucap Mesya dengan suara yang pelan tak ingin di dengar orang lain.


"Hahahaha...." Kusworo tertawa dengan keras.


"Anggap saya sudah gila kalau menuruti permintaan mu itu!!" Lanjut Kusworo setelah menghentikan tawanya itu.


"IBU-IBU, BAPAK-BAPAK!!"


"Minggir!!" Mesya hampir tersungkur karena Kusworo mendorongnya dengan keras.


"ASAL KALIAN TAU, WANITA YANG ADA DI DEPAN KALIAN INI, TAK LEBIH DARI SEORANG PEMBU NUH!!" Teriak Kusworo di depan semua orang.


"Gara-gara wanita ini, saya kehilangan anak perempuan saya delapan bulan yang lalu. Wanita ini dengan sangat keji, membayar empat orang preman untuk menodai anak saya!!"


"Astagfirullah"


"Kok tega ya??"


"Benar-benar tidak punya hati"


Masya hanya bisa menangis mendengar gunjingan orang-orang itu.


"Sampai anak saya akhirnya di nyatakan depresi berat karena hamil anak preman-preman itu. Anak saya putus asa, dia merasa menjadi wanita kotor hingga memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap Rumah sakit. Sebelum kejadian mengenaskan itu, wanita ini juga yang datang menemui anak saya di rumah sakit. Entah apa yang mereka bicarakan sampai akhirnya anak saya memilih jalan seperti itu" Kusworo menyampaikan semuanya dengan menahan kemarahan di dalam dadanya, hingga matanya memerah dan mengkilap.


"Astaga"


"Kasihan sekali wanita itu"


"Harusnya dia dipenjara!!"


"Kenapa dia masih ada di sini!!"


Mesya memeluk perutnya sendiri. Seakan meminta kekuatan kepada anak di dalam perutnya.


"Dan perlu kalian tau lagi. Anak yang ada di dalam kandungannya saat ini adalah anak dari calon suami anak saya. Wanita ini dengan segala tipu muslihatnya menjebak calon menantu saya hingga dia bisa hamil seperti ini"

__ADS_1


"Bohong!! Itu tidak benar!!" Sergah Mesya. Jika tadi saat Kusworo menceritakan kematian Alya, Mesya hanya diam karena memang itu benar. Namun kali ini Mesya membantahnya karena itu tidak benar.


"Buktinya sampai saat ini dia belum menikah sama sekali. Dia hanya memalsukan identitasnya karena pria itu tidak ingin menikahinya sampai kapanpun juga"


"Om, saya mohon hentikan" Mesya bersujud depan Kusworo.


"Maafkan saya Om" Dengan air mata berlinang itu, Mesya mencoba memohon ampunan dari Ayah Alya itu.


"Apa kalian masih mau melihat wanita yang suka menjajakan tubuhnya ini tetap tinggal di sini??" Kusworo semakin memprovokasi warga yang ada di sana.


"Tidak!! Kami tidak mau sama sekali!!"


"Usir saja dia!!"


"Kami tidak mau kampung kami kotor oleh j*lang seperti dia!!"


"Ayo usir saja!!"


"Ayo!!"


Tubuh Mesya bergetar ketakutan. Tidak ada seorang pun di sana yang mau membantunya atau sekedar membelanya di depan semua orang.


"Kak Bisma tolong aku!! Kenapa di saat seperti ini kamu tidak muncul sama sekali??" Jerit hati Mesya.


"Asal kau tau Mesya. Bisma mendekatimu akhir-akhir ini hanya ingin mengambil anak yang ada di dalam kandungan mu itu. Jangan pernah percaya kata-kata manis darinya. Karena dia saja tidak peduli dengan apa yang terjadi kepadamu saat ini" Ucap Kusworo setengah membungkuk karena berbisik pada Mesya yang masih berlutut di depannya.


"Sekarang terserah kalian saja. Kalau masih mau mempertahankan dia di sini juga boleh. Tapi siap-siap saja nyawa kalian melayang tiba-tiba" Tambah Kusworo.


"Jaga bicara Om!!" Sentak Mesya. Namun Kusworo hanya tersenyum meremehkan Mesya.


"Ayo pergi dari sini!!"


"Bawa dia pergi!!"


"Seret saja dia!!"


Tangan Mesya tiba-tiba di tarik hingga dia berdiri dengan cepat.


"Mau apa kalian?? Lepaskan aku!!" Mesya mendelik tajam pada orang-orang yang semena-mena kepadanya itu.


"Tidak!! Kamu harus pergi dari sini!!" Mesya terus di tarik hingga ke pekarangan rumahnya.


"Aku akan pergi tapi setidaknya beri aku waktu untuk mengambil semua barang-barang ku!!"


Uang, ponsel, dan baju Mesya saja belum ada yang ia bawa. Tapi mereka sudah terlalu jauh menyeret Mesya keluar.


"Barang apa lagi yang kau maksud?? Ini semua??"


Kusworo menjatuhkan baju-baju Mesya, ponsel dan juga baju bayi yang kemarin di jahit olehnya.


"JANGAN OM!!" Teriak Mesya saat Kusworo melempar korek ke tumpukan bajunya.


Mesya menangis terganggu melihat barangnya di bakar oleh Kusworo. Apalagi melihat baju yang kecil mungil itu terbakar dengan api yang cukup besar itu membuat hati Mesya kembali hancur.


"Cepat pergi dari dini!!" Mesya di dorong menjauh dari sana.


Mesya yang sudah tidak bisa kembali lagi ke dalam karena banyaknya orang yang menghalanginya hanya bisa menangis dan beranjak pergi dari sana. Tanpa uang, tanpa satupun barang yang di bawanya. Mesya kembali lagi menjadi gelandangan sama seperti saat dia kehilangan segalanya hari itu.

__ADS_1


__ADS_2