KARMA

KARMA
Maafkan Papa


__ADS_3

"Kak, ini sudah malam" Ucap Mesya dengan lembut, dia takut Bisma akan salah paham karena Mesya mengusirnya secara tidak langsung.


"Tidak perlu takut, jika ada yang datang kemari tinggal bilang saja kalau aku suamimu" Jawab Bisma dengan acuh, dengan tangannya yang masih asik mengupas jeruk untuk Mesya.


Mesya teringat suatu hal yang masih mengganggu pikirannya sampai sekarang.


"Apa Kak Bisma yang datang menemui Pak Rt waktu itu??"


Bisma tak bersuara, dia hanya menganggukkan kepalanya dengan tenang.


"Kenapa?? Maksud ku, kenapa Kak Bisma memalsukan KTP ku??"


Bisma menyodorkan satu ruas jeruk yang telah ia kupas ke depan bibir Mesya.


"Cepat tanganku bisa kesemutan!!" Akhirnya mau tak mau Mesya membuka mulutnya untuk menerima suapan dadi Bisma.


"Aku melakukan itu karena tidak ingin kamu di usir dari sini" Jelas Bisma setelah melihat Mesya yang masih menginginkan jawaban darinya.


"Kenapa Kak Bisma tidak memberikannya langsung kepadaku??"


"Karena saat itu ak..."


"Kamu masih membenciku begitu??" Kali ini Mesya dengan berani memotong omongan Bisma.


Pertanyaan Mesya itu tidak bisa di sanggah oleh Bisma, karena memang saat itu Bisma masih terlalu ragu dengan perasaannya. Sebenarnya tak jauh berbeda dengan sekarang, karena Bisma juga masih sedikit ragu dengan perasaannya. Namun setidaknya kali ini Bisma lebih berani untuk berhadapan dengan Mesya.


"Kalaupun Kak Bisma mengaku sebagai suamiku, tetap saja Kak Bisma tidak bisa tidur di sini" Melihat Bisma yang terdiam seperti itu membuat Mesya kembali ke niat awalnya untuk menyuruh Bisma pulang.


"Memangnya kenapa??" Bisma terlihat kecewa karena Mesya tidak mengijinkannya menginap di sana.


"Di sini cuma ada satu kamar Kak. Itu pun tanpa alas yang empuk seperti di rumah atau di apartemen kamu. Tidak juga ada sofa, hanya ada kursi bambu ini. Bahkan ini tidak akan bisa menampung tinggi badanmu itu" Penjelasan yang masuk akal dari Mesya.


Bisma tampak terdiam tapi entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


"Baiklah, aku pulang. Tapi besok dan seterusnya akan datang lagi ke sini!!"


Mesya hanya bisa mengangguk karena dia tau kalau dia sama sekali tidak bisa menahan pria itu untuk berbuat sesuka hatinya.

__ADS_1


"Ingat, besok jangan pergi kerja lagi!! Cukup di rumah rumah dan jaga kesehatan kamu. Ngerti kan??"


"Iya Kak Bisma" Jawab Mesya pasrah.


"Pinter" Tangan Bisma begitu nakalnya mengacak rambut Mesya dengan lembut.


"Ya Allah, tolong berikan kesehatan bagi jantungku ini karena harus menghadapi Kak Bisma yang terus bertindak sesuka hatinya" Ucap Mesya dalam hati karena tak kuat menahan jantungnya yang terus bergetar sedari tadi.


"Tapi Sya"


"Iya??"


Bisma kembali mendekati Mesya, berjongkok didepannya seperti tadi saat mencium tangan Mesya.


"Sebelum pulang, bolehkan aku menyapanya??" Mata Bisma terus tertuju pada perut Mesya yang menyimpan darah dagingnya itu.


"Bo-boleh Kak"


Tangan Bisma yang belum sampai menyentuh perutnya saja Mesya sudah merasakan getaran aneh di seluruh tubuhnya.


"Su-dah Kak. Apalagi kalau di ajak bicara. Dia seperti bisa mendengarkan apa yang kita bicarakan"


Mesya juga bingung kenapa dirinya menjadi gagap akhir-akhir ini ketika berbicara dengan Bisma.


"Benarkah??" Bisma tampak sangat bahagia bisa menyentuh perut Mesya yang membesar itu.


"Apa kamu sudah tau, dia laki-laki atau perempuan??"


"Belum Kak, aku baru memeriksakannya satu kali ke Dokter kandungan" Jawab Mesya dengan sedih.


"Kalau begitu, besok aku cari Dokter yang bagus. Kita sama-sama lihat anak kita ya??"


Mesya mengangguk antusias. Mendengar Bisma yang baru berencana membawanya ke Dokter saja sudah membuat Mesya begitu terharu.


Bisma semakin mendekatkan wajahnya ke arah perut Mesya.


"Hay sayang, ini Papa. Maafkan Papa karena belum bisa menjadi Papa yang baik buat Kamu. Papa bisanya hanya menyakiti Mama kamu.Terimakasih karena kamu sudah menemani Mama berjuang sampai sekarang" Meski Bisma sedikit berbisik tapi Mesya bisa mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


"Tapi mulai sekarang, Papa janji. Papa akan selalu menjaga kalian. Papa akan menebus semua kesalahan Papa pada Mama. Jadi kamu tumbuh yang sehat di dalam sana ya?? Papa juga berharap, kelak saat kamu lahir tidak akan membenci Papa. Maafkan Papa, Papa menyayangi kamu"


Cup...


Bisma mendaratkan satu kecupan lembut di perut Mesya yang tertutup daster sederhana itu.


Mesya buru-buru menghapus air matanya sebelum Bisma melihatnya.


Namun Bisma bukanlah orang yang mudah di tipu di depan mata. Siapa yang tak akan menyadari jika Mesya habis menangis karena hidungnya yang memerah serta bulu matanya masih basah.


"Kenapa menangis?? Aku menyakitimu lagi" Meski pipi Mesya sudah kering dari air mata, tapi Bisma tetap mengusapnya dengan lembut.


"Tidak, aku hanya..." Ditanya seperti itu malah membuat Mesya kembali menangis. Bisma sering sekali menunjukkan dua sisi dari dirinya di hadapan Mesya. Terkadang pria itu begitu lembut, tapi juga bisa berubah acuh setiap saat seperti tadi.


"Sudah, aku tau. Aku memang sudah terlalu dalam menyakiti kamu. Jangan menangis lagi, aku tidak akan pulang kalau kamu masih seperti ini"


Bisma tau kalau perasaan Mesya saat ini benar-benar tak menentu, dia mudah menangis dan juga tersinggung akan hal kecil.


Setelah beberapa saat, Mesya kembali menguasai dirinya. Hilang sudah rasa malunya karena berkali-kali menangis di hadapan Bisma.


"Aku pulang ya?? Jangan keluar lagi, ini sudah malam. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku" Sebenarnya Bisma tak rela meninggalkan Mesya. Hatinya terasa berat dan ingin tetap tinggal di sana. Rumah kecil yang tak terawat sebelumnya itu menjadi tempat nyaman bagi Bisma saat ini karena adanya Mesya di dalam sana.


"Iya, Kak Bisma hati-hati"


Bukan hanya Bisma yang melawan pergolakan batin. Tapi juga Mesya, tangannya ingin sekali menahan Bisma agar tidak pergi dari sana. Namun, di mana Bisma akan tidur kalah rumah Mesya saja tidak layak untuk di tinggali oleh seorang Bisma.


"Kak!!"


"Ya??" Bisma menoleh dengan cepat berharap Mesya akan menahannya untuk tetap tinggal.


"Langsung istirahat kalau sampai di rumah" Mesya mengatakannya tanpa menatap mata Bisma.


"Iya, Mesya" Jawaban yang lembut namun sayangnya Mesya tak bisa melihat senyuman tipis dari bibir Bisma karena wanita itu melihat ke arah lain.


Saat Bisma sudah berada di dalam mobilnya, sudah menyalakan mesin kendaraannya juga. Hanya tinggal kakinya menginjak pedal gas, maka mobil akan berjalan. Namun semua itu harus tertunda karena sebuah pesan yang Bisma dari seseorang.


Entah apa isi dari pesan itu. Yang jelas, Bisma langsung mencengkeram ponselnya dengan kuat dan memandang sendu ke arah Mesya yang masih berdiri di teras untuk melihat kepergiannya.

__ADS_1


__ADS_2