KARMA

KARMA
Kebohongan


__ADS_3

"Mesya, aku tau kau mengalami mimpi yang sama denganku kan??"


Deg...


Jantungnya Mesya berdegup begitu kencang saat ini. Tatapan Bisma yang begitu menghujam jantung hingga tembus ke bagian punggung rasanya. Mesya begitu lemas saat ini.


"M-maksud Kak Bisma??" Mesya berusaha mengendalikan dirinya. Saat ini berhadapan dengan Bisma yang seperti itu membuat Mesya tak sanggup sebenarnya.


"Jangan pura-pura bodoh Mesya!! Kau pikir aku anak kecil yang mudah dibohongi??" Bisma masih saja mendesak Mesya dengan keyakinannya.


"Sebenarnya apa maksud Kak Bisma?? Kamu datang kesini membicarakan tentang mimpi, lalu mengatakan aku bodoh dan membodohi. Tolong katakan dengan jelas sebenarnya apa yang telah aku lakukan sampai Kak Bisma seperti ini??"


Bisma tertawa dengan sumbang mendengar pertanyaan Mesya itu. Dia muak dengan sikap Mesya. Wanita di depannya itu masih bersikap seolah-olah tak tau apa-apa bahkan terus mengumbar senyum bodoh menurut Bisma.


"Sekarang aku tanya kepadamu. Kenapa kau memutus kontrak kerja secara mendadak tanpa alasan yang masuk akal seperti itu??" Bisma semakin mendekati Mesya yang berada di belakang meja panjang penuh kain yang sedang potongnya itu.


"Kalau masalah itu, aku memang merasa tidak sanggup melanjutkannya. Aku rasa akhir-akhir ini keadaanku kurang baik jadi daripada aku lanjutkan dan membuat perusahaan mu hancur karena ulahku, lebih baik aku mundur. Kamu bisa mencari desainer yang lebih baik lagi. Aku rasa masih sangat banyak di luar sana" Jelas Mesya tanpa mau menatap Bisma.


"Cek...." Bisma berdecak kesal.


"Dengan denda sebanyak itu??" Tanya Bisma lagi. Gaji yang Mesya dapat setelah bergabung dengan perusahaannya selama satu tahun ini bahkan tak bisa menutup jumlah denda yang di bayarkan Mesya.


"Uang bukan masalah bagiku Kak. Daripada aku merugikan orang lain, lebih baik aku mundur saja" Mesya menunduk menyembunyikan wajahnya yang sendu.


"Hahaha..." Tawa keras itu tentu saja berasal dari Bisma yang begitu kesal dengan Mesya.


"Iya, memang uang bukan masalah bagimu. Dari dulu sampai sekarang kau emang seperti itu!! Mesya tetaplah Mesya yang angkuh, mustahil akan berubah meski itu hanya di dalam mimpi!!" Bisma mendesis di depan Mesya. Ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri saat ini. Dia marah, dia kecewa dengan Mesya.

__ADS_1


Mesya menarik nafasnya dengan dalam untuk menahan rasa nyeri dalam dadanya karena cemoohan dari Bisma.


"Dan apa kau bilang tadi?? Orang lain?? Iya memang!! Kau dan aku memang selamanya akan menjadi orang lain!! Jika aku bisa mencintaimu itu pun hanya di dalam mimpimu saja!!"


Kata-kata yang keluar akibat kemarahan Bisma itu tanpa sadar telah melukai hati Mesya. Bisma tak tau saja jika saat ini Mesya tak bisa menahan rasa perih di hatinya hingga dia sengaja menggigit bibirnya agar tidak menangis.


"Sekarang aku tanya sekali lagi kepadamu??" Mesya mengangkat wajahnya menatap Bisma meski sangat berat.


Bisma semaki mendekat hingga hanya berjarak meja di antara mereka saja. Apalagi Bisma sengaja mendekatkan wajahnya agar bisa melihat kejujuran di mata Mesya.


"Kenapa kau memblokir nomorku??"


Deg..deg..deg..deg..


Jantung Mesya rasanya ingin melompat dari tempatnya. Dia tidak tau jawaban apa yang harus dia berikan untuk Bisma.


"I-itu karena aku mengganti nomorku saja. Jadi aku memblokir semua nomor yang ada di ponselku, supaya tidak ada lagi yang menghubungiku ke sana" Jawab Mesya dengan yakin.


"Benarkah?? Kau sengaja memutus kerjasama kita lalu memblokir nomorku. Kemudian tadi kau berpura-pura tidak mengenalku saat berada di butik Alya. Bukankah itu terlihat jelas jika kau ingin menghindari ku??" Bisma masih mengunci Mesya agar tak bisa lagi mengelak lagi darinya.


"Mana ada aku menghindari mu Kak. Itu hanya pikiranmu saja" Mesya lagi-lagi tersenyum dengan hambar.


"Oh ya??" Bisma tersenyum miring saat ini. Sedangkan Mesya tak tau apa arti dari senyuman Bisma itu.


Bisma tiba-tiba melangkah mundur memberikan jarak di antara mereka. Tangannya mengotak-atik ponsel namun matanya masih tertuju pada Mesya yang tampak gugup.


Drett..dret..dret..dret...

__ADS_1


Ponsel Mesya di atas meja bergetar, menunjukkan panggilan dari nomor yang tidak di kenalnya. Tapi sebelum Mesya mengangkatnya, panggilan itu sidah mati. Sedetik kemudian nomor itu kembali menghubunginya, namun lagi-lagi mati sebelum Mesya mengangkatnya.


Mesya mendengar Bisma tertawa sinis di depannya yang membuat Mesya sadar akan sesuatu karena Bisma juga menunjukkan layar ponselnya kepada Mesya. Di mana saat Bisma menelan ikon berwarna hijau pada ponselnya, maka ponsel Mesya akan bergetar.


Kini Mesya semakin berkeringat dingin karena ternyata Bisma yang telah mempermainkannya. Rasanya Mesya ingin menghilang dari muka bumi saat ini.


"Kalau mau membohongi ku, tolong berakting lebih baik lagi. Jangan terlalu bodoh!!" Setelah mengatakan kalimat menyayat hati itu, Bisma melangkah meninggalkan ruangan Mesya.


Tes..


Setetes air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga di susul dengan isakan kecil yang keluar dari bibir merahnya itu.


Mesya luruh ke bawah karena lututnya yang sudah sangat lemas sejak kedatangan Bisma tadi. Semua perasaan yang sejak tadi ingin keluar kini tumpah dengan tangisnya yang pilu. Mesya mengigit tangannya untuk menahan tangisnya.


"Sebenarnya pertanda apa ini?? Apa mimpi yang kamu maksud itu mimpi yang sama Kak??" Lirih Mesya di tengah tangisannya.


"Tapi kenapa kamu harus menanyakan itu?? Tidak bisakah kamu melupakannya saja?? Aku sudah berusaha menjauh dari mu agar hatiku tidak semakin sakit. Memangnya apa yang akan kamu lakukan kalau aku mengatakan yang sesungguhnya??" Mesya menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.


Mesya memang memutuskan menyembunyikan kenyataan itu. Mesya tidak mau Bisma tau jika dia juga mengalami mimpi yang sama. Menurut Mesya itu hanyalah mimpi, mimpi yang paling indah seumur hidupnya.


Lagipula apa yang akan di dapat Mesya jika dia jujur kepada Bisma. Alya masih hidup di dunia ini, Bisma juga sudah melamar Alya untuk menjadi istrinya. Mesya sudah tidak ingin lagi menjadi manusia yang serakah. Sudah cukup dia menderita di dalam mimpinya itu. Dia tidak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama di dunia nyata.


Mesya ingin semua berjalan seperti semestinya. Bisma akan menikah dengan Alya dan hidup bahagia selama-lamanya. Sementara Mesya, sampai akhir cerita, dia tidak akan pernah masuk ke dalam kehidupan Bisma.


Tapi setelah mengalami mimpi yang begitu panjang itu, kini Mesya sudah ikhlas. Dia rela melepaskan perasaannya itu meski saat ini begitu berat. Mesya sudah bertekad untuk mengubur dalam-dalam perasaannya.


"Langkah yang aku ambil sudah benar. Aku harap dengan menjauh darimu seperti ini akan membuat perasaanku kepadamu semakin pudar. Aku rela menahan sakit ku ini asalkan kamu bahagia bersama wanita yang kamu cintai"

__ADS_1


"Memang benar apa katamu, kalau kamu dan aku selamanya akan tetap menjadi orang lain. Tapi aku sudah sangat senang meski aku hanya dicintai olehmu di dalam mimpi"


__ADS_2