
Setelah lebih dari sepuluh jam perjalanan, Mesya akhirnya menginjakkan kakinya di salah satu negara pusat mode Dunia. Senyumnya mengembang ketika menghirup udara yang berbeda jauh dengan Indonesia.
Kaki jenjangnya melangkah menarik dua koper besar di kedua sisi tangannya. Jika di lihat dari besarnya koper itu, sudah dapat di pastikan jika Mesya pasti akan lama berada di negara itu.
Mesya mencari selembar kertas kecil yang terselip di saku mantelnya. Sebuah alamat yang menjadi tujuannya saat ini tertulis di sana.
Tanpa tagu Mesya memberikan alamat itu kepada sopir taksi yang akan membawanya ke tempat yang bisa menenangkan pikirannya. Mungkin dengan berada di tempat itu untuk beberapa saat, semua akan kembali seperti dulu menurut Mesya.
Mesya mengagumi setiap bangunan-bangunan kuno yang di lewatinya. Tak di sangka jika pergi ke negara itu membuat Masya sedikit melupakan pria itu. Yaa, meski hanya sedikit dan tidak sepenuhnya tapi Mesya sangat bersyukur.
"Jalan yang aku ambil ini sudah benar. Sudah cukup aku menjadi wanita yang serakah karena merebut kebahagiaan orang lain. Aku tidak mau lagi menerima karma ku sepeti di dalam mimpi. Sudah waktunya aku membenahi diriku. Aku yakin masih terbuka pintu taubat untukku jika aku benar-benar berubah" Mesya mencoba menyakinkan dirinya dengan keputusan yang ia ambil itu.
"Samapi jumpa lagi Kak Bisma. Semoga saat aku kembali nanti, kamu sudah bahagia dengan cintamu yang sesungguhnya"
"Disini aku akan mencoba melupakan mu, meski aku tidak yakin kalau aku bisa tapi setidaknya aku tidak akan tersiksa berada di dekatmu namun tak bisa memilikimu"
Mesya melepas nomor ponsel yang ia pakai sekarang. Dengan begitu ia berharap jika Bisma tidak akan pernah bisa menemukannya sampai Mesya siap menghadapinya sendiri.
Taksi yang membawa Mesya tiba di sebuah butik kecil di pinggiran kota paris. Bangunan yang terlihat tua dengan susuan batu-batuan yang rapi membuat nuansa rustik sangat kental di sana.
"MESYAAAA!!!" Seorang wanita berambut pirang keluar dari butik kecil itu.
"Helena"
Wanita yang di sebut Helena oleh Masya itu berlari menyambut Mesya dengan sebuah pelukan.
"Akhirnya kau tiba juga Mesya. Aku sudah menunggumu sejak tadi. Saat kau mengatakan ingin datang kemari membuatku tak sabar untuk bertemu denganmu"
__ADS_1
"Aku terharu karena kau menyambut ku seperti ini Helena"
Mereka mengurai pelukannya, melepas kerinduan hanya dengan sebuah pelukan rasanya tak akan impas.
"Ayo masuk ke dalam saja karena aku tidak tau harus mulai dari mana berbicara denganmu. Sudah tiga tahun lebih kita tidak bertemu jadi banyak yang ingin aku ceritakan kepadamu" Helena menarik satu koper milik Mesya ke dalam butik mu.
"Wowww Helena, ini sungguh karya buatan mu??" Bibir Mesya sampai terbuka karena begitu mengagumi karya-karya Helena yang di pajang di alam butiknya.
"Memangnya siapa lagi yang mau menyumbangkan karyanya ke butik kecil ini kalau bukan aku sendiri" Jawab Helena memamerkan karyanya.
"Kau benar-benar menakjubkan Helena. Kenapa kau tidak berkarya di negaraku saja?? Aku yakin kau akan menjadi desainer terkenal di sana"
"Ayolah Mesya, kau tau sendiri kan kalau aku tidak ingin meninggalkan kampung halamanku ini.Kalau aku ingin, pasti sudah dari saat itu aku bertahan di sana"
"Benar juga. Berkat acara itu, aku bertemu dengan mu dan sekarang bisa tinggal di paris secara gratis seperti ini" Mesya memperlihatkan giginya yang rapih pada Helena.
Pada saat itu, Helena datang dari Paris seorang diri. Dengan pengetahuan minim tentang negara Indonesia Helena nekat datang seorang diri. Hingga dia tak sengaja bertemu dengan Mesya di acara itu.
Sifat Mesya yang dulu tak terlalu suka dengan hadirnya orang baru membuat Helena seperti melihat dirinya sendiri. Mesya yang selalu menunjukkan wajahnya yang angkuh benar-benar membuat Helena seperti bercermin. Karena hal itu lah Helena memberanikan diri untuk mengenal Mesya terlebih dahulu.
Awal pertemuan mereka memang unik, meski keduanya sama-sama angkuh pada waktu itu, tapi sampai kini nyatanya mereka benar-benar bisa berteman dekat.
"Tidak ada yang gratis di Dunia ini Nona. Tentu saja kau harus membantuku memenuhi butik ini dengan karya-karya mu juga!!" Helena mendorong bahu Mesya dengan pelan.
"Itu bukan hal yang sulit sepertinya" Jawaban Mesya di sambut gelak tawa mereka berdua.
Mesya memutuskan untuk mengasingkan dirinya dulu dari radar Bisma. Dia memilih tempat Helena sebagai persembunyiannya. Meski tak yakin jika tempat itu aman dari pencarian Bisma. Mesya takut jika pria itu benar-benar berbuat g*la dan mencari keberadaannya.
__ADS_1
"Tapi sepertinya tidak mungkin. Bukankah dia sudah menyerah??" Mesya membuang kasar nafasnya lalu menyusul Helena masuk ke dalam rumahnya. Mulai hari ini, rumah Helena itu akan menjadi tempat Mesya menyembunyikan dirinya untuk sementara waktu.
Sementara di tempat lain, Bisma baru saja turun dari pesawat. Tanpa membawa apapun hanya berbekal ponsel dan dompetnya saja, Bisma nekat pergi ke negara orang itu.
"Halo Fer?? Di mana dia sekarang??" Bisma terus meminta Ferry untuk memantau keberadaan Mesya dari Indonesia.
"Gue kehilangan jejaknya Bos. Sepertinya Mesya sengaja membuang nomor ponselnya"
"S*al!!" Umpat Bisma.
"Lo terus cari Mesya dari sana. Gue akan coba cari petunjuk dari sini" Bisma yang sudah terlampau kesal itu langsung mematikan teleponnya begitu saja.
Sejak mengalami mimpi aneh itu memang Bisma selalu bertindak gegabah. Kali ini pun Bisma mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Dia meninggalkan Alya di butik Mesya sendirian, di tambah lagi pergi sejauh ini tanpa memikirkan perasaan Alya.
Bisma melihat banyaknya panggilan dari Alya yang telah ia abaikan. Tentu rasa bersalah itu kembali muncul, tapi hanya rasa itu saja, tak ada yang lain.
Dengan ragu Bisma menghubungi Alya untuk sekedar menjelaskan maksud ia meninggalkan Alya tadi.
"Halo Mas, akhirnya kamu menghubungi aku juga. Sejak kemarin aku benar-benar mengkhawatirkan kamu karena tak ada kabar sedikitpun dari kamu" Suara lembut di seberang sana langsung menghujani Bisma saat telpon mereka berhasil tersambung.
"Maafkan aku karena kemarin meninggalkan begitu saja Alya"
"Memangnya kamu kemarin kemana Mas?? Kenapa kamu terlihat panik seperti itu saat mendengar kepergian Mesya??" Akhirnya Bisma mendengar pertanyaan itu dari Alya. Pertanyaan yang Bisma sendiri belum tau ingin menjawab apa.
"Besok kalau aku sudah pulang, akan aku jelaskan" Bisma rasa dia tidak bisa terus seperti ini. Nantinya ia akan lebih dalam lagi menyakiti Alya jika Bisma terus menyembunyikan perasaannya itu.
"Pulang?? Memangnya sekarang kamu di mana Mas??"
__ADS_1
"A-aku ada di Paris"