KARMA

KARMA
CERITA LAMA


__ADS_3

Aku baru saja menjemput Bright pulang berenang, ketika kulihat banyak orang berkerumun di teras rumah, sekilas terdengar seorang ibu yang histeris memaki maki pria didepannya sambil berteriak, “Jatuh tempo!! Jatuh tempo!!!”.


Yang membuat aku kaget Pria itu kembali meneriaki ibu itu tak kalah kerasnya sambil mengacung acungkan tangan ke wajah ibu itu.


Lalu terlihat ada Pak RT datang melerai. Bebarapa orang tetangga berdatangan lagi.


Aku tak jadi memarkir mobil, melainkan melewati rumah pelan pelan. Aku tak ingin Bright dan teman temannya melihat pemandangan itu.


Aku memutar keliling komplek beberapa kali sampai kulihat kerumunan bubar.


Aku hanya bisa diam. Tak ingin tahu apa lagi persoalannya. Atau mungkin juga sudah terlalu paham. Aku hanya kasihan pada ibu itu, tapi aku sudah tak punya daya.


Malunya jangan ditanya. Aku bisa membayangkan bagaimana seluruh komplek akan membicarakannya setelah kejadian itu. Mungkin sebagian ada yang menghakimi, sebagai istri yang banyak menuntut hingga menjerumuskan suami dalam hutang piutang. Aku seperti dilemparkan kedalam jurang yang paling dalam. Luluh lantak.


       Speechless


Tapi dirumah nanti, Aku tahu, semuanya akan berjalan seperti biasa saja. Seperti tak pernah terjadi apa apa.


Bintang tak akan bercerita apa apa. Dan aku pun tak akan menanyakan apa apa. Kejadian seperti tadi tidak pernah dibahas.


Malas.


Setiap kali selalu ada hal baru yang membuat kecewa. Kekecewaan yang tak pernah tersalurkan menjadi kemarahan.  Diam terpendam.


Bintang memang tidak pernah main fisik, tidak ada bukti kekerasan. Tidak kelihatan. Tapi efek dari energy negatifnya seperti racun telah menghancurkan seluruh sendi kehidupanku.


Pekerjaan pekerjaan yang kujalankan berantakan dan urusan urusan rasanya tak dapat terselesaikan. Adaa saja hambatan yang harus disingkirkan.

__ADS_1


Aku tahu kehidupanku jalan di tempat, maju selangkah mundur dua langkah, maju mundur, berputar putar karena masalah yang sama.


Hanya ada dua cara untuk memperbaiki keadaan, adalah merubah kebiasaan dan pola pikir. Namun sayangnya ada pihak tidak merasa ada yang harus dirubah, ada pihak yang merasa tidak ada yang salah. Seseorang tidak akan berubah kalau dia tidak menyadari apa yang harus dirubah.


Mungkin aku yang salah, aku yang memilih bertahan. Rasanya aku sudah cukup jadi korban. KORBAN DARI KETIDAK SADARAN.


🌾🌾🌾


Aku terkejut bukan main melihat ibuku yang membukakan pintu sepulang dari kantor. Kemudian Ayahku menyusul dibelakangnya seperti tak sabar ingin melihatku.  Mereka berdua berhamburan memeluku.


Rasanya ingin menangis aku melihat wajah keduanya yang nampak begitu tua, letih, dan sunyi. Kerut-kerut diwajahnya membuat aku merasa aneh dan asing.


Sulit untuk membayangkan bertahun-tahun orang inilah yang telah membesarkanku, dengan penuh kasih sayang, dengan penuh cinta, sepenuhnya penuhnya tak ada kurang kurangnya.


Segumpal batu serasa menyesak didada memandang rambut-rambut mereka yang memutih seperti lama tak menyentuh sisir.


Seorang gadis cantik dan seorang pria tampan yang saling jatuh cinta, kemudian menikah, sembilan bulan  melahirkan. Itu adalah saat saat yang paling membahagiakan dan dinanti nantikannya, mendapatkan anugerah seorang bayi mungil yang kemudian dinamakannya Bulan Purnama karena bayi itu memang lahir pada saat bulan purnama begitu sempurnanya menerangi malam. Akulah bayi itu, buah hati mereka, pelita hati mereka.


Setiap hari bapak dan ibu muda bergantian menimangku, menggantikan popok, menyiapkan makananku, memandikanku, dengan penuh cinta dan kegembiraan.


Kebahagiaan mereka saat melihat buah hatinya sudah bisa duduk sendiri, seperti mendengar nyanyian surga saat kata 'mama' diucapkan, kemudian melihat buah hatinya bisa duduk, merangkak, berdiri sendiri, dan dengn penuh kesabaran mereka menggenggam tangan tangan mungil itu menuntunnya berjalan.. titahh. Titah..titahhh... setapak demi setapak kaki kaki mungil itu melangkah, hingga akhrinya bisa berjalan sendiri, bermain, berlari, tertidur didepan tivi,


Masih terasa Bapak yang mengangkat tubuhku menidurkanku kembali diranjangku dan menyelimutiku. Memeriksa apakah ada nyamuk yang nakal. Sesekali terdengar tangannya bertepuk.. menangkap nyamuk yang tak sengaja lewat didepannya.


Bahkan seekor nyamukpun tak dia biarkan selamat bila menyentuh kulit putri tercintanya.


Setiap kali aku sakit, walaupun hanya flu biasa tangan ayahku selalu dengan mudahnya memijit mijit pundak, leher, juga punggungku.

__ADS_1


Ibuku yang begitu memuliakan aku, selalu yang terbaik untukku walaupun untuk itu dia harus prihatin yang teramat sangat.


Mereka telah mendidikku dengan baik semampu mereka, sepengetahuan mereka.


Mereka kerahkan segala daya upaya untuk dapat selalu bisa memenuhi kebutuhan anaknya. Dan semua itu dilakukan dengan penuh cinta.


Dan Bapak dan ibu muda itu tiba-tiba memudar menjelma menjadi sesosok wajah tua, penuh kerut dan penuh dengan uban dikepalanya. Mereka seperti ingin menolongku tapi tak berdaya. Mereka ingin menolongku tapi tak tahu harus bagaimana...


Apapun akan dia lakukan demi melihat anaknya bahagia. Tak ada yang lebih membahagiakannya selain melihat anaknya bahagia


Aku seakan tak dapat menerimanya. Tak kuasa aku menahan air mata. Apalah jadinya bila mereka melihatku hancur... pasti mereka yang lebuh dulu hancur. Hatinya jiwanya.. aku sakit mereka lebih sakit.. apa yang aku rasakan saat ini mereka akan berkali kali lipat merasakannya. Dan aku menangis sejadi jadinya.


Tak tega aku membuat mereka sedemikian rupa. Tak sampai hati aku membuat mereka tenggelam dalam kebingungan dan kesedihan yang berkepanjangan. Aku tahu mereka pasti merasakan walaupun aku tak pernah menceritakan.


🌾🌾🌾


Aku terbangun dan kudapati air mataku bercucuran. Tak kujumpai ayah ibuku didekatku. Ternyata aku bermimpi kedatangan orang tuaku. Mereka hadir dalam mimpiku dan aku menangis sungguhan. .


Aku tak pernah menangisi Bintang. Namun memimpikan ayah ibu ku dengan sosok wajah tua mampu membuat membuat air mataku bercucuran. Aku belum mampu membahagiakan mereka. Yang aku takutkan, aku kehilangan kesempatan untuk bisa sedikit saja mengukirkan senyum dibibirnya..


Aku tidak pernah menangisi Bintang, bahkan ketika dia pulang malam dan tertidur sembarangan, aku dihadapkan pada kenyataan, rupanya dia baru menghabiskan malam bersama seorang wanita di sebuah apartment yang disewanya dengan harga 300 ribu semalam, disaat uang sekolah Bright 500 ribu belum terbayarkan.


Aku tidak membicarakan, tidak menanyakan, tidak memperdulikan,


hanya melayangkan gugatan.


Adzan subuh berkumandang....

__ADS_1


__ADS_2