
Semakin malam justru panas pada badan Mesya semakin tinggi. Sementara Mesya tetap menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Bisma yang kebingungan karena tidak tau apa yang harus ia lakukan, alhasil hanya bisa menghubungi Ferry untuk menjemput Dokter secepatnya.
"Gue antar Dokternya balik dulu ya Bos"
"Makasih Fer, gue bingung kalau nggak ada lo saat ini" Ferry memang sahabat yang bisa diandalkannya.
"Santai Bos, ini udah tugas gue sebagai sahabat lo. Tapi ngomong-ngomong gimana sama Ayahnya Alya?? Gimana kalau dia nekat lagi Bos??" Menurut Ferry alasan Masya yang tak mau di bawa ke Rumah sakit adalah karena takut bertemu lagi dengan Ayahnya Alya.
"Kita bahas itu besok saja, cepat Dokternya sudah nungguin di luar!!" Bisma mendorong Ferry untuk keluar dari apartemennya"
"S*alan lo Bos!! Udah di bantuin sekarang malah ngusir!!" Gerutu Ferry melirik tajam pada Bosnya yang tampak tak peduli sama sekali itu.
Bisma kembali ke kamar untuk melihat keadaan Mesya. Wajah yang tadi begitu pucat sekarang terlihat memerah karena demamnya.
Dengan telaten Bisma mengganti handuk basah yang digunakannya untuk mengompres Mesya yang saat ini sedang terlelap. Kata Dokter tadi, Mesya sengaja di berikan obat yang bisa membuat Masya tertidur agar bisa beristirahat.
Bisma yang tak tega meninggalkan Mesya sendirian di kamar akhirnya memilih tidur di samping Mesya. Dia sadar betul jika tidur satu ranjang dengan wanita secantik Mesya bisa membuat dirinya kesusahan sendiri. Apalagi melihat wajahnya yang merah dengan bibir merah alami seperti itu membuat sesuatu dalam diri Bisma memberontak. Namum mau bagaimana lagi, akhirnya Bisma hanya bisa menahan gejolak dalam tubuhnya dengan mati-matian.
"Sabar Bisma dia sedang sakit. Lagipula sebentar lagi dia akan menjadi milikmu seutuhnya. Jangan sampai tindakan gila mu terulang lagi untuk ke dua kalinya" Bisma mencoba menasehati dirinya sendiri.
Bisma akhirnya mampu terlelap dengan menggenggam tangan Mesya setelah melawan dirinya sendiri.
Pagi harinya, Mesya yang lebih dulu membuka matanya. Dia mengambil handuk yang menempel di atas keningnya. Tapi Mesya baru sadar jika tangan kirinya tak bisa di gerakkan karena sesuatu.
Berlahan Mesya menoleh ke sisi kirinya. Wajah yang tampan dan terlihat sangat tenang membuat Mesya beruntung karena disuguhkan pemandangan yang indah pagi ini. Pemandangan yang menjadi salah satu khayalannya ketika menjadi istri Bisma.
"Mas Bisma menjagaku semalaman??" Tanya Mesya pada dirinya sendiri.
Mesya menggerakkan tangannya yang terus di genggam Bisma. Tapi gerakan itu telah membangunkan seseorang yang matanya masih begitu berat untuk terbuka.
"Kamu sudah bangun??" Suara Bisma saat bangun tidur itu terdengar sangat seksi di telinga Mesya.
"Su-sudah Mas"
Meski matanya masih tertutup, tapi Bisma menipiskan bibirnya karena mendengar Mesya memanggilnya seperti itu lagi.
"Masih demam??" Tangan Bisma terulur menempelkan tangannya ke kening dan pipi Mesya.
"Sudah tidak panas, cuma masih sedikit pusing" Jawab Mesya.
__ADS_1
"Kalau gitu aku buat sarapan dulu, kamu harus segera minum obat" Bisma langsung terbangun sambil merenggangkan ototnya yang indah itu.
"Nanti saja Kak, ini masih terlalu pagi. Kak Bisma juga masih ngantuk kan?? Tidur lagi saja, aku juga belum lapar"
Bisma melihat ke jendela kamarnya yang ternyata masih sedikit gelap. Dia juga melirik jam yang berada di atas nakasnya yang menunjukkan pukul lima pagi.
"Ya sudah seperti ini saja. Lagipula aku juga tidak akan bisa tidur lagi" Bisma memilih berbaring di dekat perut Mesya.
"Anak papa sudah bangun belum?? Kamu baik-baik saja kan di dalam?? Maafkan papa yang nggak bisa jaga kalian ya?? Sampai Mama jadi sakit kaya gini"
Cup.. Cup..
Bisma menciumi perut Mesya dengan lembut. Tangannya juga terus bergerak lembut membelai anaknya.
"Hentikan Mas!!!!! Tidak taukah kamu, kalau yang kamu lakukan itu membuat jantungku mendesak ingin keluar!!" Umpat Mesya dalam hatinya.
Dug..
Bisma merasakan tangannya di tekan dari dalam perut Mesya.
"Lihatlah Sya, dia menendang" Bisma terlihat sangat bahagia karena baru kali ini gerakan anaknya.
"Sepertinya dia mendengarkan mu Mas"
"Sebentar lagi kita ketemu sayang. Papa udah nggak sabar lihat kamu" Bisma menggesekkan hidung mancungnya pada perut Mesya.
"Maass!! Udah ah, aku mau ke belakang dulu" Mesya mendadak menghentikan aksi Bisma itu.
"Loh Sya, aku kan lagi main sama anak kita" Protes Bisma.
"Emangnya mau aku ngompol di sini??" Jawab sambil berlalu ke kamar mandi. Sebenarnya itu hanya alasan Mesya saja karena dia merasakan sesuatu yang aneh mulai menggelayar dalam tubuhnya karena sentuhan Bisma tadi.
"Apa karena hormon ibu hamil yang naik ya??" Gumam Mesya setelah berada di kamar mandi.
*
*
*
__ADS_1
"Ayo sarapan dulu, aku sudah buatkan bubur untuk kamu" Mesya mencari keberadaan Bisma yang tenyata sudah ada di dapur dengan apron yang melindungi bajunya itu.
"Kenapa kamu repot-repot Mas?? Kau bisa makanan sendiri, kamu juga harus siap-siap ke kantor" Mesya merasakan badannya terasa lebih sekar daripada tadi malam.
"Kamu nggak bisa masak. Yang ada malah nggak jadi sarapan"
"Aku akan belajar!!" Jawab Mesya dengan cepat.
"Iya, aku tidak melarang mu. Tapi sekarang sarapan yang ada dulu" Mesya merasa tak pantas di sebut perempuan karena belum terbiasa dengan yang namanya masak memasak. Selama dia hidup sendiri saja hanya bisa menggoreng tempe dan telur.
Mesya menuruti apa kata Bisma. Dia telah duduk manis menunggu Bisma di meja makan.
"Setelah ini kamu mau berangkat ke kantor Mas??"
"Rencananya iya. Kenapa??" Bisma tampaknya tau ada yang ingin di sampaikan Mesya.
"Ti-tidak"
"Katakan ada apa!!" Desak Bisma.
"Sebenarnya ak.."
Ting.. Tong..
Ucapan Mesya harus terhenti karena ada yang menekan bel apartemen mewah milik Bisma itu.
"Kamu lanjutkan sarapannya, biar aku yang buka ya" Bisma segera pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang pagi-pagi ke rumahnya. Sementara Ferry saja tadi sudah mengabari kalau dia langsung berangkat ke kantor.
Ting.. Tong..
Ting.. Tong..
Mesya merasa heran karena bel terus berbunyi sementara Bisma saja sudah pergi dari tadi untuk membuka pintu.
Rasa penasaran Mesya akhirnya membawa Mesya menghampiri Bisma.
"Siapa Mas??" Tanya Mesya yang melihat Bisma masih terdiam menatap layar monitor yang menampilkan gambar di balik pintu itu.
Mesya semakin mendekat untuk melihat siapa tamu yang bisa membuat Bisma membeku seperti itu.
__ADS_1
"M-Mas.."
Mesya meraih lengan Bisma dan mencengkeramnya dengan kuat. Rasa ketakutan langsung menyerang Mesya saat ini.