
"Hah..hah..hah..hah..." Suara seseorang yang sedang mengatur nafasnya membuat Mesya membalikkan badannya.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan tubuhnya yang proposional telah berdiri di ambang pintu. Waktu yang cukup lama tampa pertemuan di antara mereka tak lantas membuat mereka bertegur sapa atau semacamnya selayaknya orang yang saling mengenal satu sama lain.
Sudah lebih dari sepuluh detik mereka masih di posisi yang sama. Saling terdiam dengan tatapan mata saling mencurahkan kerinduan yang begitu dalam.
Hingga pria itu mulai melangkahkan kakinya mendekati Mesya. Jarak yang semakin terkikis membuat Mesya bisa melihat mata pria itu telah basah oleh air mata.
DEG..
DEG.
DEG..
Ingin rasanya Mesya berlari ke pelukan pria yang amat dirindukannya itu. Menghirup aroma menenangkan dari tubuh pria itu. Tapi Mesya sadar jika status Bisma saat ini sudah berbeda. Dia bukan lagi pria lajang yang bebas memeluk wanita manapun.
Dari penglihatan Mesya, Bisma kini berubah semakin terlhat matang dengan rahangnya yang semakin tegas. Membuat karisma pria itu semakin memikat wanita manapun.
GREPPP....
Hamparan Mesya terkabul juga saat dirinya kini sudah berada dalam dekapan Bisma.
"Kenapa kamu baru datang sekarang Sya??" Suara berat milik Bisma yang terdengar bergetar membuat hati Mesya tak nyaman.
"Tidak taukah kamu kalau aku begitu tersiksa menunggumu di sini"
Mesya masih membeku meski dia merasakan Bisma semakin erat memeluknya.
"Aku sangat merindukan mu sayang"
"Hiks..hiks.." Hanya suara tangisan itu yang keluar dari bibir Mesya.
Saat ini Mesya seperti kehilangan kemampuan bicaranya. Antara dirinya ingin membalas ucapan kerinduannya untuk Bisma atau ingin memberontak melepaskan pelukan Bisma, semuanya tidak bisa ia lakukan.
"Kenapa kamu setega ini sama aku Sya?? Apa salah jika aku ingin memilihmu??" Mereka berdua masih hanyut dalam pelukan penuh air mata itu.
__ADS_1
Kerinduan yang selama ini mereka pendam kini seolah dihempaskan oleh pertemuan mereka saat ini.
"Jangan menangis lagi. Dadaku sesak saat melihat air mata ini jatuh karena ku" Bisma mengurai pelukannya. Mengusap pipi Mesya dengan begitu lembut.
"Sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi tentang mimpi kita kan sayang??"
Mesya terhenyak karena baru sadar jika Bisma sudah dua kali memanggilnya seperti itu.
"Maaf Kak, tidak seharusnya kita seperti ini, dan jangan memanggilku seperti itu. Panggilan itu harusnya milik istri kamu seorang" Mesya berusaha menjaga jaraknya dengan pria yang membahayakan jantungnya itu.
"Jawab dulu Mesya!!" Bisma meraih tangan Mesya.
"Kalau aku jujur, semua itu sudah tidak ada artinya lagi Kak. Jadi biarlah mimpi itu berlalu seperti hidup yang kita jalani saat ini" Mesya tak mau menatap mata Bisma.
"Tidak!! Aku sama sekali tidak pernah rela jika mimpi itu terlupakan begitu saja. Aku yakin kamu pun begitu, karena kamu juga masih ingat rumah ini!! Jangan coba membohongi perasaan mu lagi Sya!!" Tegas Bisma.
Bisma sudah sangat lelah dengan sikap Mesya yang selalu membohongi perasaanya sendiri. Wanita di depannya itu begitu keras kepala.
"Aku datang kesini hanya ka..."
Mesya mengambil kesempatan saat genggaman Bisma mengendur pada tangannya. Mesya memilih menjauh menghadap ke jendela dengan membiarkan punggungnya menatap Bisma.
"Darimana kamu tau aku ada di sini Kak??" Bisma tersenyum kecut karena Mesya berusaha menghindari pertanyaannya lagi.
"Apa dari Bu Wati?? Apa kamu orang yang membeli rumah ini??" Sambung Mesya.
"Benar!! Akulah orangnya. Aku membelinya karena aku yakin kalau sewaktu-waktu kamu akan kembali ke rumah ini. Hanya ini yang bisa aku lalukan. Terus menunggumu meski tak tau kapan kamu akan kembali" Aku Bisma.
Semenjak kepergian Mesya, dia mencari rumah itu seperti yang tadi Mesya lakukan. Dia berharap jika rumah yang ada dalam mimpinya itu benar-benar nyata. Karena potongan-potongan dari mimpi itu juga begitu nyata di hadapan Bisma.
Tak disangka jika Bisma benar-benar menemukan rumah itu. Bisma membelinya dengan harga yang cukup malah kepada Bu Wati. Dengan syarat Bu Wati akan membantunya jika ada wanita bernama Mesya datang ke rumah itu.
Bertahun-tahun Bisma menunggu, hari yang di tunggunya datang juga. Tadi saat Bisma baru saja menyelesaikan meetingnya, Bu Wati memberikan kabar jika seorang wanita bernama Mesya datang ke rumahnya. Betapa bahagianya Bisma, penantiannya tak sia-sia. Tanpa berpikir panjang Bisma langsung berlari keluar dari kantornya untuk menjemput wanitanya.
"Kenapa kamu harus melakukan ini Kak?? Kamu sudah bukan pria lajang lagi. Kamu sudah berkeluarga. Harusnya kamu menjaga perasaan istri kamu. Bukannya seperti ini!!" Ucap Mesya tak kalah tegasnya dengan Bisma.
__ADS_1
Mesya tidak menyangka Bisma menjadi pria br****k seperti itu. Dulu Mesya menganggap Bisma pria yang bertanggung jawab dan setia. Tapi saat ini Bisma telah berbuat hal g*la di belakang Alya.
"Semua yang aku lakukan tidak ada hubungannya dengan Alya atau siapapun!! Aku mencintaimu, jadi aku bebas melalukan apapun yang aku mau!!"
Mesya memejamkan matanya, mengurai rasa kesal di hatinya karena sikap Bisma itu.
"Kak!! Aku mohon sadarlah!!" Mesya berbalik menatap Bisma dengan tatapan memelasnya.
"Apa yang kamu lakukan ini salah. Tolong jangan buat kepergian ku selama ini sia-sia. Aku hanya ingin terbebas dari rasa bersalahku kepada Alya. Aku tidak mau menjadi perusak hubungan kalian. Aku mohon Kak??" Mata Mesya kembali berkaca-kaca.
"Apa yang salah Mesya?? Aku bebas mencintai siapa saja termasuk kamu!!"
Mesya ingin berteriak di depan wajah Bisma saat ini. Mungkin dengan begitu Bisma bisa kembali berpikir normal seperti dulu.
"Aku tidak tau lagi harus bagaimana dengan mu Kak. Aku lelah" Mesya berbalik membelakangi Bisma lagi.
Sementara Mesya tak bisa melihat senyuman misterius dari bibir Bisma.
"Kak!!" Mesya tersentak karena tangan Bisma melingkar di pinggangnya dari belakang.
Mesya memberontak ingin lolos dari pelukan Bisma.
"Jangan khawatirkan tentang wanita lain sayang, karena aku hanyalah milikmu. Tidak ada wanita lain yang mengikatku sampai tak bisa mencintaimu. Sebelum kepergian mu sampai sekarang aku tetaplah milikmu" Bisma berbisik di telinga Mesya. Penuturan Bisma itu membuat otak Mesya berpikir dengan keras.
"M-maksud kamu Kak??"
Bisma tersenyum tipis di belakang Mesya. Dari tadi Bisma mengira kalau Mesya belum tau tentang apa yang terjadi pada dirinya dan juga Alya setelah kepergiannya.
Pastilah Mesya menutup semua akses komunikasinya jadi tidak mengetahui apapun tentang Bisma.
"Aku masih pria lajang yang menunggu kepulangan wanitanya"
JEDERRR.....
"Apa?? K-kamu tidak menikah dengan Alya??" Betapa terkejutnya Mesya setelah mengetahui satu kebenaran itu.
__ADS_1