
Malam itu, setelah mendapatkan pesan menyakitkan dari Bisma rasanya Mesya ingin lenyap dari muka bumi ini secepatnya.
Dia mengutuk dirinya sendiri karena terlanjur menerima tantangan Bisma itu. Tapi kini keraguan muncul di hati Mesya.
"Apa aku sanggup??" Gumam Mesya menatap sketsa yang telah di buat Mesya.
"Apa seharusnya aku mengatakan yang sesungguhnya kepada Kak Bisma?? Tapi apa yang akan aku dapat??" Mesya lagi-lagi memegang teguh keputusannya untuk menyembunyikan fakta bahwa dia mempunyai mimpi yang sama dengan Bisma.
"Apa setelah aku jujur Kak Bisma akan mencintaiku seperti di dalam mimpi?? Apa Kak Bisma akan meninggalkan Alya dan lebih memilihku begitu??" Hati dan pikiran Mesya terus berperang sejak Bisma mendesaknya untuk mengakui mimpi itu.
"Kalau Kak Bisma memang memilihku, seharusnya malam itu Kak Bisma tidak melamar Alya. Tapi langkah yang dia ambil saat itu sudah menunjukkan bahwa aku bukanlah siapa-siapa, walau kita baru saja memiliki mimpi yang sama"
"Lalu kenapa Kak Bisma terus meminta kejujuran ku?? Untuk apa semua itu, karena tidak akan ada yang berubah sama sekali mau aku jujur atau tidak" Mesya menutup buku yang telah ia coret-coret dengan tangannya yang piawai itu.
"Lagipula, aku tidak mau di sebut tokoh antagonis di antara mereka lagi. Kehadiranku cukup jadi pemeran figuran saja saat ini. Mau aku ada atupun tidak, keberadaan ku tidak akan merugikan siapapun. Aku tidak mau menuruti ambisi untuk mendapatkan Kak Bisma. Alya wanita yan baik dan mencintai Kak Bisma. Jadi aku yakin kalau Kak Bisma bisa bahagia bersama Alya"
Meyakinkan hatinya seperti itu tentu saja tidaklah mudah bagi Alya. Terkadang bibir dan juga hatinya tak sejalan. Seperti saat Bisma datang menemuinya waktu itu. Bibir Mesya mengatakan jika dia akan belajar melupakan Bisma, namun nyatanya hatinya menjerit menolak keinginan Mesya itu.
Pria itu sungguh seperti racun bagi Mesya. Bukan cuma masuk ke dalam hati dan merusaknya namun ke seputih tubuh sampai ke syaraf-syarafnya hingga susah sekali di hilangkan.
"Bagaimana cara ku melupakannya?? Apa aku harus pergi jauh dari sini agar semua bayang-bayang tentang pria itu hilang sepenuhnya??"
Mesya berpikir jika Bisma masih berada di sekitarnya, tentu saja melupakan adalah hal yang mustahil. Mungkin dengan pergi sejauh mungkin, perasaan itu lambat laun akan hilang dengan sendirinya.
Mesya menatap langit biru melalui jendela di dalam ruangannya. Lagi-lagi hanya wajah Bisma yang tergambar jelas di atas sana.
"Meski kita memandang langit yang sama, tapi hati kita tidak akan pernah sama Kak. Wanita sepertiku tidak akan pernah bisa masuk ke dalam hatimu"
*
*
__ADS_1
*
Masih di hari yang sama, namun berada di tempat yang lain. Seorang wanita dengan pria yang tadi menjadi pusat pikiran Mesya kini telah berada di salah satu kantor WO paling terkenal di seantero nusantara.
Mereka berdua adalah Alya dan Bisma. Mengingat pernikahan mereka yang akan di adakan kurang dari satu bulan itu, Alya mengajak Bisma untuk mulai memilih konsep pernikahan mereka.
"Mas??" Panggil Mesya dengan lembut.
"Mas Bisma!!" Mesya sampai menyentuh lengan Bisma karena pria itu tampak melamun tak mendengarkan apa yang sedang di jelaskan oleh pihak WO.
"I-iya kenapa??" Saat Bisma tersadar dari lamunannya dia susah mendapat tatapan bingung dari Alya dan wanita di depannya.
"Jadi kamu mau pilih yang mana??" Tanya Alya.
Bisma melihat ke atas meja yang memperlihatkan banyak sekali konsep pernikahan mewah yang di layani oleh WO tersebut.
"Terserah kamu saja. Aku setuju apapun yang kamu pilih" Jawaban Bisma itu tentu saja sedikit menggores hati Alya.
"Jadi mau pilih yang mana Kak??" Tanya wanita di depan mereka itu.
"Kalau yang ini aja gimana menurut kamu. Nanti konsep warnanya pastel gitu, terus aku mau semua bunganya pakai yang asli ya Mas??" Mesya sebenarnya ingin pernikahan yang sederhana dengan konsep outdoor, tapi mengingat rekan bisnis Bisma dan juga calon Papa mertuanya tidak main-main, maka Mesya pilihan Mesya pernikahannya di selenggarakan di dalam Ballroom hotel milik keluarga Bisma.
"Iya, yang penting kamu suka" Lagi-lagi hanya jawaban seperti itu yang di berikan Bisma. Alya sampai merasa canggung di hadapan orang WO itu.
"Ya udah Mbak, saya pilih yang ini saja. Sesuai dengan yang saya katakan tadi. Saya mau semua bunganya asli ya" Akhirnya Alya harus memutuskan pilihannya sendiri. Waktu persiapan pernikahan mereka terhitung mepet. Tidak ada waktu lagi bagi Alya untuk menunda keputusannya itu.
"Baik Kak, ini sudah fix ya?? Saya catat dulu. Kalau begitu sekarang Kakak bisa pilih hidangan apa saja yang akan di sediakan. Kebetulan kami juga ada testernya juga. Mari ikut saya" Bisma dan Alya di bawa ke tempat dimana berbagai macam makanan di sediakan di sana sebagai contoh untuk calon pengantin yang akan menggunakan jasa mereka.
"Kamu mau yang mana Mas??" Alya mencoba meminta pendapat Bisma yang sejak tadi tak banyak bicara.
"Aku terserah kamu saja" Alya menatap Bisma dengan kesal. Kalau Bisma terus bersikap seperti itu, Alya merasa pernikahan itu hanyalah pernikahan Alya, bukan Alya dan Bisma.
__ADS_1
"Mbak, kalau untuk masalah ini menyusul saja ya. Saya rasa saya perlu bicara dengan ibu mertua saya dulu" Ucap Alya menahan rasa gemuruh di dalam dadanya.
"Tidak masalah Kak. Tapi saya minta secepatnya ya Kak. Karena ini termasuk mepet jadi banyak yang harus kita siapkan sebelumnya"
"Baiklah saya mengerti. Saya permisi dulu" Alya mengapit lengan Bisma untuk mengajak pria itu keluar dari tempat itu.
Alya membawa bisma duduk di teman yang berada di dekat kantor WO tadi.
"Minum dulu Mas" Alya menyodorkan sebotol air mineral untuk Bisma.
"Terimakasih" Bisma meneguk minuman itu hampir habis separuhnya.
"Kamu lagi ada masalah ya Mas??" Tanya Alya dengan penuh pengertian.
"Tidak" Jawaban yang begitu singkat itu membuat Alya tersenyum getir.
"Tapi kenapa aku merasa kalau kamu tidak ada antusias sama sekali mengenai persiapan pernikahan kita" Alya begitu sedih saat ini. Pernikahan impiannya sudah di depan mata. Dia akan menikah dengan pria yang amat dia cintai, tapi semakin mendekati hari itu justru semakin timbul keraguan di hati Alya.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu Alya??"
"Beberapa hari ini kamu sulit sekali di hubungi. Aku begitu senang tadi pagi karena kamu bersedia ikut denganku menemui pihak WO yang akan mengurus pernikahan kita. Tapi sejak di dalam tadi, pikiran kamu entah ke mana. Kamu tidak fokus di dalam sana. Kamu juga menyerahkan semua pilihan kepadaku" Alya mulai berkaca-kaca. Perasaannya begitu sensitif akhir-akhir ini.
"Ini pernikahan kita berdua Mas. Bukan hanya aku yang akan menjadi mempelainya. Jadi pendapat kamu sangat aku butuhkan" Alya menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan air matanya.
Bisma mulai menyadari kesalahannya. Sejak di dalam tadi dia memang tidan bisa fokus mendengarkan penjelasan dari mereka. Entah pikirannya saat itu pergi kemana tapi benar kata Alya, tidak ada antusias sama sekali dalam dirinya.
"Alya, maafkan aku. Aku pikiranku memang sedang kacau karena urusan kantor. Kalau gitu, ayo kita masuk lagi. Aku janji aku akan berikan pendapatku tentang semuanya. Aku salah karena telah membuatmu sedih seperti ini. Sekali lagi maafkan aku"
"Tidak usah Kak. Lebih baik kamu selesaikan dulu pekerjaan kamu. Biar masalah ini aku dan Mama kamu saja yang urus. Aku tau pikiran dan tenaga kamu sudah terkuras habis untuk perusahaan kamu. Aku paham, aku juga salah karena terlalu sensitif kalau menyangkut pernikahan kita" Begitu besarnya hati Alya yang memahami kondisi Bima saat ini. Namun Alya tak tau jika Bisma saat ini sedang di landa kebimbangan di antara dua pilihan.
"Kalau begitu, aku antar kamu kembali ke butik dulu ya" Bisma mengusap air mata yang telah membasahi pipi Alya.
__ADS_1
"Iya, kamu juga jangan terlalu lelah. Kamu bukan robot, kamu juga butuh istirahat" Bisma tersenyum kecil lalu menggenggam tangan Alya menuju mobilnya.