KARMA

KARMA
Aku tidak mau orang lain


__ADS_3

Setelah mendapatkan apa ia mau dari Mesya, Ferry kembali ke kantor menjelang sore hari. Dia ingin melihat keadaan Bisma saat ini. Setelah meninggalkan Bisma dalam keadaan kacau seperti tadi, membuat Ferry merasa khawatir.


Tanpa mengetuk pintu ruangan CEO itu, Ferry langsung masuk begitu saja. Netranya langsung menangkap sosok pria yang belum merubah posisinya sejak tadi siang. Masih diam di kursinya dengan kondisinya yang berantakan.


"Gue bawain makan siang Bos" Ferry meletakkan bungkusan makanan di belakang Bisma. Karena pria itu duduk menghadap ke jendela.


"Gue nggak lapar" Jawab Bisma dengan pelan.


"Terserah kalau lo mau menyiksa diri lo sendiri" Ferry memilih duduk di tempat ternyaman yang ada di ruangan itu.


Setelah bertemu Mesya, dan mengetahui kebenaran jika mereka berdua memang mengalami mimpi yang sama kini Ferry jadi berpikir, sebenarnya takdir apa yang sedang mempermainkan mereka.


"Sebenarnya perasaan lo sama Mesya saat ini kaya apa Bos??" Bisma terhenyak karena Ferry tiba-tiba menanyakan tentang perasaannya itu.


"Gue nggak tau Fer, tapi saat beberapa hari nggak lihat dia gue nggak bisa tenang. Hati gue sakit saat menerima penolakan dari dia. Apalagi saat dia terang-terangan menghindari gue, dada gue rasanya sesak Fer. Gue nggak bisa menjabarkan perasaan gue ini, yang jelas gue jadi manusia nggak karu-karuan kaya gini" Bisma mengacak rambutnya dengan kasar hingga rambut yang rapi itu menjadi berantakan.


"Lo jatuh cinta sama Mesya??"


Deg...


Bisma menyentuh dadanya yang terasa bergetar karena detak jantungnya yang begitu cepat.


"Tapi gimana kalau ini cuma cinta sesaat??"


"Lah kok tanya gue, kan lo sendiri yang udah kaya orang g*la ngamuk-ngamuk gara-gara wanita itu"


"Tapi gue tersiksa jauh darinya Fer. Gue marah saat dia bilang ingin melupakan gue.Gue nggak suka lihat dia tersenyum tapi matanya berair seperti waktu itu. Dan gue nggak tau itu perasaan apa"


"Kalau Alya??"


Bisma kembali menyentuh dadanya. Tak ada lagi getaran di dalam sana seperti saat Ferry menyebut nama Alya.


"Apa mungkin perasaan yang sudah tumbuh selama sepuluh tahun lebih bisa hilang dalam sekejap mata Fer??"


Ferry sudah paham bagaimana perasaan Bisma saat ini setelah mendengar jawaban tentang perasaannya kepada kedua wanita itu.

__ADS_1


"Bisa aja, semua tidak terlihat mustahil karena Tuhan yang telah mengubahnya. Buktinya, lo bisa jatuh cinta sama Mesya hanya karena mimpi itu kan?"


"Cinta??" Tanya Bisma.


"Apa benar kata Ferry jika ini cinta?? Aku lebih mencintai Mesya bukan Alya??"


"Tapi gimana pernikahan lo sama Alya yang udah di depan mata Bos?? Kalau lo nggak yakin dari awal, kenapa lo harus melangkah sejauh ini?? Lo nggak mikirin perasaan Alya??"


Bisma membenarkan ucapan Ferry itu. Dia tidak berpikir panjang waktu itu, kalau keputusannya akan menyakiti Alya.


"Gue akui kalau gue salah. Waktu itu gue gegabah ngambil keputusan ini. Niatnya gue cuma mau memancing pengakuan Mesya dengan menikahi Alya. Tapi nyatanya Mesya masih tetap bungkam sampai sekarang"


Ferry sempat terperangah karena pengakuan Bisma itu.


"Jadi ini alasan lo menemui orang tua Alya secara mendadak?? Gue benar-benar nggak habis pikir sama lo Bos"


Ferry tak menyangka jika Bisma bertindak sejauh itu hanya karena marah dengan Mesya yang tak mau jujur kepadanya.


"Sekarang mau lo gimana Bos?? Lo mencintai Mesya tapi lo mau menikahi Alya. Nggak mungkin kan kalau lo mau batalin pernikahan lo??"


Bisma langsung menatap Ferry dengan tajam. Seperti tak setuju dengan ucapan sekretarisnya itu.


"Emangnya lo udah tau gimana caranya bilang sama Alya?? Emang lo bisa bilang sama Alya kalau lo udah nggak cinta lagi sama dia??"


Bisma langsung terdiam dengan pertanyaan Ferry itu. Dia juga belum tau bagaimana caranya mengatakan semuanya kepada Alya.


"Sekarang lo harus ambil keputusan sebelum pernikahan kalian semakin dekat. Kalau lo cinta sama Mesya, kejar dia, ungkapkan perasaan lo sama dia. Dan masalah Alya, lo harusnya tau apa yang harus lo lakukan"


Omongan Ferry tadi akhirnya membawa Bisma sampai ke butik milik Mesya. Hanya di sanalah tempat yang Bisma tebak selalu menjadi tempat bersembunyi Mesya.


Bisma tak lagi menyapa karyawan untuk menunjukkan ruangan Mesya atau menanyakan di mana wanita itu. Bisma langsung saja melenggang masuk ke dalam ruangan tertutup itu.


"Sudah aku katakan kalau aku sibuk Sus, jadi bilang saja aku tidak ada kalau ada orang mencari ku" Ucap Mesya tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.


"Sesibuk itukah sampai kau harus berbohong??"

__ADS_1


Mesya terkesiap mendengar suara itu. Tubuhnya yang sedang terduduk dengan tenang langsung berdiri dengan begitu gugup.


Bisma berjalan mendekat sambil melepas jas yang membalut tubuh proposional miliknya. Mesya yang masih terkejut akan kedatangan Bisma yang tiba-tiba masib belum bersuara terlebih lagi melihat Bisma yang melepas jasnya seperti itu. Pikiran Mesya justru kemabli melayang ke beberapa hari yang lalu saat Bisma menciumnya dengan paksa.


Tapi Mesya langsung tersadar saat Bisma melempar jas mahalnya ke sofa yang susah beberapa kali Bisma duduki itu.


Saat jarak antara mereka berdua hanya tinggal beberapa langkah saja, Bisma merentangkan kedua tangannya, membuat otot-otot dadanya menonjol di balik kemeja slimfit yang di kenakan Bisma.


Tentu saja Mesya tak tau apa maksud dari Bisma itu, terlebih Bisma hanya diam dan menatapnya dengan tatapan yang tidak Bisa Mesya artikan.


Setelah beberapa detik mereka saling terdiam, dengan posisi Bisma yang masih merentangkan tangannya, akhirnya Bisma mengeluarkan suaranya.


"Apa kau sudah benar-benar hafal dengan ukuran lingkar dada ku sampai kau tak mengundangku untuk mengukur baju pernikahanku??"


Deg...


Mesya ingin sekali menertawakan dirinya sendiri karena sempat mengira jika Bisma ingin memeluknya.


"Maaf Kak, akhir-akhir ini aku sibuk kadi aku lupa mengabari mu. Kalau begitu biar aku panggilan Susi untuk mengukur mu sekarang"


"Aku tidak mau orang lain menyentuh tubuhku selain dirimu!!"


Lagi-lagi Mesya di buat kesulitan bernafas oleh Bisma. Akhirnya dengan menahan rasa gugupnya Mesya mendekati Bisma.


"Baiklah, aku yang akan mengukurnya sendiri" Mesya meraih meteran yang menggantung di mesin jahitnya.


"Maaf ya Kak"


Mesya mulai menempelkan meteran yang telah ia bawa ke sebelah leher Bisma, lalu menariknya hingga ujung jempol kanan milik pria itu. Di sini jantung Mesya sudah mukai tak karu-karuan. Di tambah lagi hatinya yang terus memberontak menolak semua yang ia lakukan saat ini.


Mesya beralih ke dapan Bisma. Kini hanya tersisa jarak beberapa senti saja di antara mereka. Mesya memberanikan dirinya menyelipkan tangan gemetarnya ke bawah ketiak Bisma untuk mengukur lingkar dada Bisma, lalu tangan yang satunya menyambut meterannya dari sisi yang berlawanan hingga membuat wajah Mesya tak sengaja menempel pada dada bidang milik Bisma. Diposisi saat ini, harum dari tubuh Bisma begitu memabukkan bagi Mesya.


"Maaf aku nggak sengaja Kak" Mesya dengan cepat menarik dirinya menjauh dadu Bisma namun gerakan tangan Bisma lebih cepat dari Mesya.


GREPPP...

__ADS_1


Kini kepala Mesya benar-benar menempel di dada Bisma. Tak bisa menjauh lagi karena Bisma benar-benar menahannya dengan erat di sana. Bukan hanya itu, satu tangan Bisma juga melingkar hangat di pinggang Mesya.


"Tidak bisakah kamu mendengarkan detak jantungku yang tidak beraturan seperti ini saat dekat dengan mu Sya?? Bisakah kamu mejelaskan kepada ku apa artinya ini?? Aku sudah tidak sanggup menahan getaran ini seorang diri"


__ADS_2