
Tiga bulan telah berlalu, tiba saatnya dimana Ilham dan Vanya menikah. Dan semenjak keributan di acara tunangan mereka, Bu Rasti tak sudi lagi menganggap Ilham dan kedua orangtuanya sebagai bagian dari keluarganya.
Ia kesal sekali karena Ilham memilih Vanya untuk dijadikan istri. Dan parahnya, kedua orangtuanya malah mendukungnya.
"Ayolah, Bu. Tidak sopan rasanya jika kita tidak menghadiri hari bahagia keponakan kita," bujuk Pak Afif.
"Ora sudi, aku. Bapak aja, sana !" ketus Bu Rasti.
"Ayolah, Bu. Apa kata tetangga nanti kalau kita tidak hadir di sana ?" bujuknya lagi.
"Ora sudi, Pak. Ora sudi, aku. Aku iki sakit hati sama Mas Fandy. Bisa-bisanya dia lebih memilih mereka daripada aku, adik kandungnya sendiri," kesalnya.
"Ayolah, Bu. Sebentar saja. Kalau akad pernikahannya sudah beres, Ibu boleh pulang," bujuknya lagi tak mau menyerah.
"Kalau Ibu bilang ndak, ya ndak. Jangan maksa, Pak. Udah sana, Bapak aja yang pergi !" tegas Bu Rasti.
Kalau sudah begitu, mau bagaimana lagi. Pak Afif tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena ia tahu watak istrinya itu, keras kepala dan susah diatur.
"Ayolah, Bu. Kita berangkat sama-sama. Ndak malu, apa, sama tetangga kalau kita ndak hadir ?" kini Reina yang ikut membujuk Ibunya.
Ia berdiri diambang pintu kamar Ibu dan Bapaknya. Ia begitu cantik menggunakan balutan kebaya warna coklat muda yang pas di badannya.
__ADS_1
"Kamu aja, sana yang pergi sama Bapak," jawabnya tetap keukeuh dengan pendiriannya.
"Ya sudahlah, kalau Ibu tak mau pergi. Mari nak, kita berangkat sekarang !" ajak Pak Afif pada anaknya.
Maka berangkatlah keduanya untuk menghadiri pesta pernikahan Ilham dan Vanya. Rumahnya tidak terlalu jauh, hanya terpisah oleh enam rumah.
Sedang Shanty dan Aira, mereka lebih memilih pergi ke acaranya masing-masing, meskipun ini adalah hari Minggu. Mereka pun enggan menghadiri pesta pernikahan Ilham dan Vanya. Seperti Ibunya.
"Mbak, besok ikut ke acara nikahannya Mas Ilham sama Mbak Vanya, kan ?" tanya Reina waktu malam.
"Ndak," jawab Shanty jutek.
"Ogah, aku menghadiri pernikahan mereka. Lagian, si Vanya kecentilan banget jadi cewek. Bisa-bisanya dia dapetin Mas Ilham. Pasti dia pake pelet, tuh. Makanya, Mas Ilham jadi kepincut sama dia," sinisnya.
Shanty mengalihkan pandangannya dari majalah yang tengah dibacanya.
"Padahal, kecantikannya ndak ada apa-apanya dibandingkan aku. Palingan juga, dia mau naik status sosial dari kasta bawah jadi turunan ningrat kayak kita. Ngimpi !!! Sekalinya miskin, tetap saja miskin !" lanjutnya lagi seakan mengeluarkan semua kekesalannya.
"Hush ! Ndak boleh ngomong gitu, Kak. Semua manusia sama di hadapan Allah. Kita jangan sombong. Lagipula, Mbak Vanya baik, kok orangnya. Gak suka macem-macem," bela Reina.
"Halah, itu kan yang kamu lihat luarnya aja. Sok suci, dia ! Lagian, kenapa juga kamu belain dia ? Wong, dia bukan siapa-siapa kamu ini," sungutnya berapi-api.
__ADS_1
"Aku bukan belain Mbak Vanya. Tapi emang kenyataannya gitu, kok. Yo wis lah, kalau Mbak ndak mau ikut. Biar aku sama Bapak Ibu juga Aira saja," ujarnya mengakhiri percakapan dengan Kakaknya karena ia tidak ingin ribut.
Namun, begitu namanya disebut, Aira menoleh dan menghampiri keduanya.
"Aira juga ogah. Ngapain juga hadir di pesta pernikahan Mbak Vanya ? Aira kurang suka sama Mbak Aira. Sok jagoan. Waktu itu kata Ibu, dia berani nampar Ibu di warung Bi Inah. Gak sopan !" ketusnya seraya tangannya terlipat di dada.
"Yo wis, kalau ndak mau ikut. Aku ndak bakalan maksa."
Lantas, Reina pun berlalu dari hadapan keduanya. Ia enggan jika harus ribut hanya gara-gara hal sepele.
Pernikahan Ilham dan Vanya berjalan dengan lancar dan khidmat. Resmi sudah keduanya menjadi sepasang suami istri. Semoga keduanya menjadi pasangan yang sakinah, mawadah warahmah. Amin
Melihat Pak Afif hanya datang dengan Reina saja, Pak Fandy mengerti bahwa watak adiknya keras. Ia mengerti, mungkin adiknya, masih marah perihal keributan di acara pertunangan anaknya. Biarlah, nanti pun akan baik dengan sendirinya, pikirnya. Jadi, ia tak terlalu memikirkan adiknya yang tidak datang ke pesta hari ini.
Setelah menikah, Ilham dan Vanya memutuskan untuk tinggal sementara di rumah orangtua Vanya. Vanya meminta waktu satu bulan untuk tinggal bersama orangtuanya sebelum Ilham membawanya pindah ke rumah barunya.
Ilham tak mempermasalahkan itu. Apapun yang Vanya inginkan, akan ia turuti semampunya.
Namun, teror mulut pedas Bu Rasti makin merajalela. Banyak fitnah keji yang di lontarkan pada keluarga Vanya. Ini semua akibat rasa tidak sukanya Bu Rasti karena Vanya telah resmi jadi istri dari keponakannya. Yang menurutnya masih ada darah biru yang mengalir di tubuh keluarganya.
Ia merasa terhina, bisa-bisanya Kakaknya menerima menantu dari golongan kasta bawah. Ia murka sekali. Bahkan tak pernah mau menyapa Ilham dan keluarganya jika berkunjung.
__ADS_1