
Bisma tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Mesya sejak keluar dari ruang periksa tadi. Bahkan Bisma juga tidak bisa menghilangkan senyuman yang terus terukir di bibirnya.
Mesya yang berasa di samping Bisma, justru menikmati wajah tampan itu dengan puas. Dulu hanya punggung tegap milik Bisma yang bisa ia lihat. Namun sekarang dia bisa berada di samping Bisma, berjalan sejajar dengannya dengan tangan yang saling menggenggam. Menempati posisi Alya yang dulu yang membuat Mesya iri.
Namun hati Mesya langsung tersadar jika memang dirinya hanyalah seorang pengganti Alya.
"Bukan, seorang pengganti lebih pantas daripada posisiku sekarang?? Jika pengganti berarti dia bisa menggeser posisi Alya di hati Kak Bisma. Tapi aku tidak, aku hanyalah seseorang yang di terima Kak Bisma karena terpaksa oleh keadaan"
"Mau makan dimana??" Pertanyaan Bisma membuyarkan lamunan Mesya.
Mesya tampak berpikir sebentar. Sebenarnya makanan apapun bisa masuk ke dalam perutnya.
"Makan nasi goreng yang ada petainya" Jawab Mesya sedikit malu.
"Hah?? Kamu yakin?? Kamu duka petai??" Jawab Bisma karena dia sendiri belum pernah mencoba makanan itu.
"Nggak tau, belum pernah coba tapi pingin banget dari kemarin" Mesya tidak tau itu ngidam atau bukan yang pasti makan nasi goreng dengan campuran petai berwarna hijau membuatnya menelan ludah.
"Kamu ngidam??" Bisma lagi-lagi memperlihatkan senyumnya yang memikat.
"Nggak paham juga aku Kak"
"Ya udah, ayo cari nasi goreng petai sesuai request dari anak kita"
Bisma benar-benar melakukan physical touch yang berlebihan menutut Mesya. Ralat, bukan Bisma yang berlebihan, tapi jantung Mesya yang sudah turun ke usus karena kini Bisma merangkul pundak Mesya untuk berjalan menuju mobilnya.
"Di mana tempatnya Sya?? Kamu tau nggak??" Bisma terus mengendarai mobilnya dengan pelan sambil mencari tempat yang menyediakan makanan yang di inginkan Mesya itu.
"Di dekat taman kota ada Kak. Aku pernah lewat sana saat jualan"
Bisma mulai mengarahkan mobilnya ke tempat yang di tunjukan oleh Mesya.
"Parkir di sini aja Kak, terus kita nyebrang. Di sana nggak ada tempat parkir luas" Ucap Mesya.
Bisma yang tak begitu paham daerah itu hanya menuruti apa kata Mesya.
"Ayo!!" Bisma langsung meraih tangan Mesya begitu wanita hamil itu keluar dari mobilnya.
Mesya sepertinya memang harus belajar terbiasa dengan sentuhan-sentuhan sederhana seperti yang dilakukan Bisma saat ini.
__ADS_1
Mesya tak bisa menolak genggaman tangan yang hangat itu. Dia hanya mengikuti langkah Bisma yang akan membawanya ke seberang sana.
"Aku pesan dulu ya, nggak usah pedas-pedas ya??"
"Iya Kak"
Mesya terus menatap punggung Bisma yang berlahan menjauh untuk memesan makanan.
Pikiran Mesya kembali teringat tentang foto Alya yang masih terpasang di ponsel Bisma. Sejak tadi Mesya memang terlihat biasa saja dan seolah-olah melupakan kejadian tadi. Namun di dalam hatinya sebenarnya Mesya terus merasakan sesuatu yang membuat hatinya tiba-tiba terasa nyeri.
Tadi Mesya begitu kecewa, tapi hanya dengan perlakuan lembut Bisma kepadanya, Mesya kembali terbuai oleh keadaan. Jika seperti itu terus, Mesya tidak yakin dengan hubungan tak jelas yang sedang mereka jalani.
Mesya mengandung anak dari pria yang tidak mencintainya, sementara Mesya cinta mati dengan pria itu, lalu pria itu ingin bertanggungjawab meski masih belajar melupakan kekasihnya, kemudian Mesya tidak mau jika hidup bersama tanpa adanya cinta.
"Huuffftttt..." Mesya menghembuskan nafasnya kasar. Sungguh rumit masalah hidup dan percintaannya sekarang ini.
"Kenapa?? Kamu capek??" Kedatangan Bisma membuat Mesya membuang semua pikirannya yang seperti benang kusut itu.
"Sedikit" Jawab Mesya sambil mengatupkan ibu jari dan jari telunjuknya yang berhasil membuat Bisma tersenyum.
Tak lama setelah itu, pesanan mereka berdua datang. Nasi goreng petai yang sesuai dengan bayangan Mesya.
"Nggak Sya, aku ini aja. Agak ngeri lihatnya, apalagi cium baunya" Bisma meringis menatap makanan yang belum pernah ia coba itu.
"Ya sudah" Mesya mulai mencicipi nasi gorengnya. Suapan pertama yang membuat Mesya merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dari makanan apapun. Sedikit aneh menurutnya karena memang ini pertama kalinya, tapi Mesya menyukainya.
"Kak Bisma pernah makan di pinggir jalan kaya gini??" Tanya Mesya karena melihat Bisma yang tidak risih sekalipun.
"Dulu sering sama Alya. Dia lebih memilih tempat makan dipinggir jalan daripada di restoran mahal. Itu juga yang membuatku semakin menyukainya. Dia begitu berbeda dengan wanita-wanita di luaran sana. Kesederhanaan Alya menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Menurutku di jaman sekarang ini, pasti akan sulit menemukan wanita seperti Alya" Bisma tanpa sadar membicarakan semua dari sisi Alya yang ia sukai di hadapan Mesya.
Bisma tak sadar jika pujiannya kepada Alya telah menyakiti hati yang lain.
"Kenapa dengan ku?? Bukannya aku sudah bersiap tentang ini. Bukannya aku sudah tau kalau memang Kak Bisma hanya mencintai Alya?? Lalu kenapa hatiku tak terima mendengarnya memuji Alya di depanku seperti ini?? Memangnya siapa aku??" Mesya memprotes dirinya sendiri.
"Benar kata mu Kak. Memang akan sulit mencari wanita seperti Alya. Di dunia ini, walaupun ada wajah yang serupa, tapi untuk sikap dan wataknya pasti tidak akan pernah sama. Tapi aku yakin kalau semua wanita pasti punya daya tariknya masing-masing. Semua itu tergantung dari sisi mana melihatnya" Jawab Mesya dengan tenang, meski sebenarnya hatinya bergemuruh saat ini.
"Sya, aku...." Lagi-lagi Bisma baru tersadar dengan ucapannya.
"Aku sudah selesai Kak. Porsinya terlalu banyak, jadi aku tidak habis. Aku akan meminta ini di bungkus saja. Kak Bisma habiskan dulu makanannya" Bukan hanya memotong ucapan Bisma, tapi kini Mesya beranjak membawa piring nasi goreng yang baru berkurang beberapa sendok saja.
__ADS_1
Bisma tak bersuara, dia menyadari kesalahan yang ia buat. Meski Mesya tak menunjukkan kemarahan sama sekali, tapi Bisma tau kalau Mesya pasti sakit hati dan mencoba menghindarinya.
"Bodoh!! Kenapa aku tidak bisa mengontrol mulutku sendiri!!" Bisma mengumpat dirinya sendiri.
*
*
*
Ketika sampai di rumah, Mesya masih tetap diam seperti tadi saat di perjalanan pulang. Tadi Mesya lebih memilih memejamkan matanya meski ia tak tidur sedetikpun. Ia rasa, itu hal yang tepat untuk mengurangi kecanggungan mereka berdua.
"Mesya!!" Bisma meraih pergelangan tangan Mesya saat wanita itu masuk ke dalam rumah.
"Aku tau kamu mencoba menghindari ku kan??" Bisma merasa gusar karena Mesya mendiamkannya sejak tadi.
"Tidak Kak, aku hanya lelah"
"Hatiku yang lelah Kak" Lanjut Mesya dalam hatinya.
"Bohong!! Aku tau kamu sakit hati dengan kata-kata ku tadi kan?? Makanya kamu diam sejak tadi" Bisma masih mendesak Mesya untuk mengakui perasaannya.
"Kak!!"
"Kamu marah kan sama aku??"
"Lepas Kak!!" Mesya mencoba melepaskan tangan Bisma yang semakin erat mencengkeramnya.
"Jawab Sya, jangan menghindar seperti anak kecil seperti ini!!" Suara Bisma agak meninggi.
"IYA AKU MARAH!!" Bentak Mesya. Bisma sempat terperangah karena belum pernah melihat Mesya semarah itu sejak berbulan-bulan yang lalu.
"Aku marah aku kesal sama kamu!! Aku sudah bilang kalau hubungan kita nggak akan berakhir baik kalau hati kamu saja tidak pernah terbuka untukku. Aku juga sudah bilang kalau bentuk tanggungjawab yang bisa kamu berikan tidak harus menikah!! Tapi kamu sendiri yang selalu meyakinkan aku untuk hidup bersama. Kamu yang meminta aku untuk melihat keseriusan kamu. Tapi apa?? Kamu tanpa sadar sering kali menghancurkan kepercayaan ku kalau kamu benar-benar serius Kak. Aku tau aku tidak berhak seperti ini karena memang di dalam hatimu tidak pernah ada ak..."
GREPPP.....
"Maaf" Lirih Bisma saat Mesya sudah berada di dalam dekapannya.
"Kamu berhak marah karena kamu sudah menjadi pemilik hatiku Sya"
__ADS_1