
Semenjak peristiwa di warung Bi Inah, Bu Rasti menjadi agak segan padaku. Bahkan, ia tidak mau berdekatan denganku. Karena kini aku telah berubah menjadi orang yang berani. Tidak lagi seperti Vanya yang dulu, lemah. Bisanya hanya menangis di kamar jika ada orang yang menghinanya.
Sekarang tidak lagi, semenjak kenal mas Ilham. Dia atasanku dimana aku bekerja. Kami telah menjalin hubungan selama dua tahun. Mas Ilham tipe orang yang baik, sabar, penyayang, dan tidak arogan meski kekayaan orangtuanya begitu melimpah.
Meskipun orangtuanya memiliki banyak perusahaan, ia bersikukuh untuk mencari pekerjaan sendiri. Ia hanya ingin mandiri. Ingin mencari ilmu di luar dahulu sebelum nantinya melanjutkan usaha yang di kelola oleh orangtuanya.
Dan rencananya, hari ini dia akan berkunjung ke rumahku untuk mengenal keluargaku lebih dekat.
Sebelumnya, Mas Ilham sering minta izin untuk berkunjung ke rumahku. Namun aku belum siap. Takut jadi gunjingan tetangga. Apalagi jika tidak sampai ke jenjang pernikahan. Yang ada, aku bakal jadi sasaran empuk bagi para pengghibah. Terutama Bu Rasti.
"Sudah sering main ke rumah, tapi gak jadi nikah," begitu nyinyirnya.
Namun kali ini, Mas Ilham meminta dengan sangat ingin bertandang ke rumahku. Setelah itu, ia akan segera membawa keluarganya untuk segera melamarku.
Baiklah, tak baik juga menolak niat baik seseorang. Semoga dia memang jodoh yang tepat untukku. Tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil dari luar membuyarkan lamunanku. Itu pasti Mas Ilham, pikirku. Aku pun bergegas menemuinya.
Namun begitu aku membuka pintu, aku melihat Mas Ilham keluar dari mobil bersama seorang wanita paruh baya. Sepertinya wanita itu tidak asing lagi bagiku. Melihat dari dandanannya tak perlu untukku berpikir lama. Wanita paling nyinyir di kampungku. Siapa lagi kalau bukan Bu Rasti. Tapi kok, bisa sama Mas Ilham. Apa Mas Ilham saudaranya Bu Rasti ? Kok Mas Ilham gak pernah cerita kalau punya saudara sekampung denganku ?
"Nah, ini dia rumah calon istriku, Tante," seru Mas Ilham seraya tersenyum padaku.
"Gak salah, kamu, Ham ? Sudah, Tante mau pulang," ujar Bu Rasti seraya pergi.
"Lho, kok pulang, Tante ? Kita, kan belum masuk ?"
"Kamu aja, sana. Tante gak sudi. Cuiih !"ujar Bu Rasti sembari meludah dan menginjak-injak bekas ludahnya.
Ayah dan Bunda yang mendengar keributan di luar, segera menghampiri.
"Ada apa, Van ?" Tanya Bunda penasaran.
Aku hanya menunjuk Mas Ilham tanpa berkata apapun.
"Oalah, sudah datang, tho. Mari masuk, nak Ilham," seru Bunda.
Mas Ilham pun masuk ke rumah dan tak mempedulikan Bu Rasti.
__ADS_1
"Mari, masuk, nak," sambung Ayah.
"Silakan duduk, nak. Biar tak buatkan minuman," ujar Bunda seraya pergi ke dapur.
"Terimakasih, Bu !"
Begitu minuman beserta kue ringan di suguhkan, Mas Ilham pun mengutarakan maksud kedatangannya pada kedua orangtuaku.
"Sebelumnya saya mohon maaf, Pak, Bu, kedatangan saya kesini untuk meminta restu Ibu dan Bapak untuk melamar Vanya, anak Ibu dan Bapak."
"Kami, sih terserah Vanya saja, nak. Siapapun pilihan Vanya, Kami akan selalu mendukung. Yang penting baik, bertanggung jawab dan berbudi luhur," jelas Bapak.
Mas Ilham manggut-manggut mendengar penjelasan Ayah.
"Soal harta, itu bisa dicari, nak. Kami serahkan semuanya pada Vanya. Karena Vanya yang akan menjalaninya," pungkas Ayah.
"Baiklah kalau begitu, Pak. Saya akan bermusyawarah dulu bersama keluarga. Saya akan usahakan untuk membawa keluarga saya untuk melamar anak Bapak. Takut di sambar orang," candanya.
"Ah, Nak Ilham bisa saja bercandanya," seloroh Ayah.
"Disambar ? Memangnya aku ayam, Mas ?" Celetukku.
Lantas, ia pun segera pamit untuk segera pulang. Namun, tiba-tiba saja handphonenya berdering.
"Siapa ?" Tanyaku.
"Tante Rasti. Sebentar, aku angkat dulu teleponnya."
Lalu ia berjalan ke samping rumahku untuk menerima telepon dari Bu Rasti.
Setelah itu, Mas Ilham pamit untuk pulang padaku, namun ia akan mampir dulu ke rumah Bu Rasti.
"Bu Rasti itu, Tante Mas Ilham, ya ?"
"Iya, beliau adik Papi."
__ADS_1
'Kok, Mas Ilham gak pernah cerita, sih kalau punya Tante sekampung sama aku ?"
"Maaf, Mas lupa. Ini juga disuruh Mami waktu mau berangkat buat mampir ke rumah Tante Rasti," jawabnya sambil nyengir kuda.
Aku hanya cemberut. Tak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti jika aku benar-benar menikah dengan Mas Ilham.
"Ya udah, Mas pulang dulu, ya. Nanti Mas kabari lagi kapan keluarga Mas mau kesini," pamitnya.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Salam buat Mami dan Papi Mas, ya."
"Iya."
Ia pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya perlahan. Begitu tiba di rumah Bu Rasti, Ilham di hadiahi wajah cemberut Tantenya.
"Tante kenapa, sih ?" Tanya Ilham heran.
Ia pun duduk di sofa ruang tamu. Bu Rasti pun menyusul duduk menemani keponakannya.
"Ham, kalau mau cari istri tuh yang bener, kenapa ? Masih banyak, kok gadis baik disini. Mau Tante carikan ?"
"Emangnya Vanya kenapa gitu, Tante ? Dia baik, kok. Sopan dan cantik juga."
"Sopan dari Hongkong ! Tahu gak, Ham, kemarin dia ribut sama Tante. Berani nampar Tante di muka umum, ngata-ngatain Tante pula. Gak waras tuh, orang. Wong gendheng. Gak pantes buat di jadikan istri. Dia juga gak pantes masuk ke dalam keluarga kita yang masih keturunan darah biru," cerocos Bu Rasti.
"Masak, sih, Tante ? Aku gak percaya. Setahuku Vanya orangnya baik dan sopan. Ah, pasti Tante ngarang, deh," bela Ilham.
"Tante pikir, wanita yang kamu puji-puji itu siapa. Nyesel, deh tadi Tante ikut. Kirain anaknya Pak Haji Somad, juragan beras. Tahunya, malah si Vanya. Bapaknya cuma tukang nasi goreng sama Ibunya jualan sembako juga sombongnya selangit. Mana gak sopan. Amit-amit dah," lanjutnya lagi.
"Tante ini kalau ngomong suka gak kira-kira, deh. Vanya baik banget, kok. Gak suka macem-macem juga," bela Ilham lagi.
"Dibilangin malah gak percaya. Terserahlah," dengus Bu Rasti kesal sembari memonyongkan bibirnya.
"Ya sudah, Ilham pamit dulu ya, Tante. Assalamu'alaikum !"
Ilham pun mencium tangan dan bergegas pergi meninggalkan rumah Bu Rasti.
__ADS_1
"Di bilangin, malah ngeyel. Tak bilangin sama Ibunya biar di nasehatin. Enak banget si Vanya mau jadi anggota keluarga kami yang terhormat ini," kesal Bu Rasti.
Ia pun segera mengambil handphonenya untuk menghubungi kakak iparnya, Ibunya Ilham.