KARMA

KARMA
Ekstra part 2 terbangun dari mimpi


__ADS_3

Mesya menyeret kakinya yang terkilir hingga sampai ke mobilnya, namun dia baru sadar jika kakinya tidak akan bisa ia gunakan untuk mengendarai mobilnya pulang ke rumah.


Alhasil Mesya hanya bisa duduk di samping mobilnya sambil memijat pelan kakinya yang mulai terlihat bengkak itu.


"Aku harus meminta bantuan kepada siapa lagi??" Mesya hanya menatap kesal ponselnya yang kehabisan daya. Dia tidak bisa mengendarai mobil dengan kaki seperti itu. Meminta tolong juga sudah tidak ada orang di sana. Ingin berjalan keluar mencari taksi juga kakinya sudah tidak bisa lagi untuk berjalan.


"Sial!! Sial!! Sial banget malam ini!!" Mesya mengumpat namum pipinya kembali basah karena air mata.


Dia yang harus kembali patah hati malam ini, di tambah lagi dengan kakinya yang sakit dan tak bisa pulang membuatnya sangat frustasi.


Mesya menutup wajahnya yang basah itu dengan kedua tangannya. Menutup isakkan kecil dari bibirnya agar tidak menggema di malam hari seperti itu.


"Mendapatkan cinta mu itu memang mustahil Kak. Selamanya cinta mu itu memang untuk Alya. Tapi kenapa aku harus bermimpi seperti itu?? Rasanya malah semakin sakit saat ini"


Baru saja Mesya merasakan mimpi yang begitu indah bersama pria pujaannya. Tapi di kehidupan nyata, Mesya harus menerima kenyataan jika pria yang sama telah memilih wanita lain menjadi istrinya.


"Kenapa tidak pulang dan malah menangis di sini?? Dasar bodoh!!"


Mesya mendongak menatap pria berubah tinggi yang tiba-tiba sudah berada di depannya. Betapa terkejutnya dia karena Bisma sudah dua kali menghampirinya.


Bisma langsung berjongkok dan menarik kaki Masya yang mulai membengkak itu.


"Kak" Mesya terkejut dengan tindakan Bisma itu. Dengan cepat Mesya menyingkirkan sisa air mata dari pipinya.


"Diam!!" Suara rendah itu terdengar sangat mengintimidasi. Mesya hanya mampu mengunci bibirnya tak berani bersuara lagi.


Memang benar jika Bisma di dalam mimpi dengan Bisma di hadapannya adalah orang yang berbeda. Yang sedang memijat kaki Mesya saat ini hanyalah Bisma yang acuh dan tak peduli kepadanya.


"Sebaiknya ke Rumah sakit dulu. Kakimu sudah bengkak seperti ini" Mesya masih terus memandangi wajah Bisma yang sedang menunduk memeriksa kakinya. Dari posisi seperti itu, Mesya bisa melihat hidung Bisma yang mancung dan bertulang lurus itu. Ingin sekali tangannya menyentuh wajah itu dengan lembut. Tapi hati Mesya dengan keras melarangnya.


"Kau tidak dengar??" Mesya tersadar dengan pertanyaan Bisma.


"De-dengar. Kalau begitu, boleh aku pinjam ponsel kamu sebentar Kak. Ponselku mati jadi aku tidak bisa memesan taksi dari tadi" Mesya menunjukkan ponselnya.


Bisma tersenyum kecut kepada Mesya. Sungguh Mesya didepannya saat ini sungguh berbeda dari Mesya yang dulu. Dulu saja Mesya sering kali mencari alasan agar bisa nebeng di mobil Bisma. Tapi ketika kesempatan di depan mata seperti ini, Mesya justru tidak memanfaatkannya.


"Kak Bisma, apa yang kamu lakukan!!"

__ADS_1


Mesya memekik karena tanpa aba-aba, Bisma langsung mengangkat Mesya ke dalam gendongannya.


Wangi dari parfum Bisma yang begitu Mesya sukai langsung memanjakan penciuman Mesya. Wangi yang begitu Mesya rindukan, namun Mesya hanya bisa menikmati itu selama beberapa detik saja karena Bisma sudah membawa Mesya masuk ke dalam mobilnya.


Mesya masih belum tau alasan Bisma saat ini menemaninya ke rumah sakit. Bahkan Bisma masih menunggunya hingga dia selesai di periksa oleh Dokter.


Bukan hanya itu, tanpa Mesya minta, Bisma juga mengantarkannya ke rumah. Meski saat perjalanan ke rumah tak ada perbincangan sama sekali tapi Mesya sangat bahagia karena rasa rindunya kepada Bisma nisa sedikit terobati.


"Kak Bisma mau masuk dulu??"


"Tidak, kau masuklah. Aku pergi sekarang" Ucap Bisma langsung memutar tubuhnya untuk pergi dari Rumah Mesya. Pria itu berjalan menjauh dari rumah itu tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.


Sementara itu, Mesya masih terus memandangi punggung yang tegap itu menjauh. Ada sesuatu yang tersirat dari tatapan Mesya itu. Begitu dalam dan menyimpan banyak luka.


Ingin sekali Masya berteriak untuk meminta Bisma kembali. Namun sesuatu yang berat menahan dari dalam lubuk hatinya.


Mesya sadar jika pria itu bukanlah pria yang bisa ia ambil begitu saja. Pria itu sudah menentukan pilihannya. Kini tinggal Mesya yang memutuskan bagaiman jalan hidup dan juga hatinya.


"Kita masuk sekarang Non??" Kata Mang Udin.


"Mesya kamu kenapa??"


Suara Papa Mesya menghentikan kursi rodanya yang sedang di dorong oleh Mang Udin. Pria yang


Bekerja sebagai satpam itu lalu undur diri dari sana.


"Papa" Lirih Mesya. Betapa bahagianya Mesya kembali melihat orang tua satu-satunya itu. Setelah di dalam mimpi Papanya itu pergi untuk selama-lamanya.


"Kaki kamu kenapa??" Papa Mesya mendekati putri semata wayangnya itu.


Mesya langsung memeluk Papanya saat itu juga. Mesya menangis sesenggukan yang membuat Papanya bertanya-tanya apa penyebab putrinya cedera seperti itu.


"Maafkan Mesya Pa" Ucap Mesya sambil menangis.


"Mesya, katakan ada apa?? Siapa yang mencelakai mu sampai seperti ini?? Dan kenapa juga kamu harus minta maaf??" Papa Mesya terlihat sangat khawatir.


"Mesya minta maaf karena selama ini menjadi anak durhaka sama Papa. Mesya susah di atur, pembangkang, dan tidak berbakti kepada Papa, jadi maafkan Mesya Pa"

__ADS_1


"Papa sudah memaafkan kamu Sya. Kamu putri Papa satu-satunya, kadi semua yang kamu lakukan itu juga tidak lepas dari Papa yang kurang memperhatikan kamu" Papa Mesya ikut menangis menangis memeluk anaknya.


"Tidak Pa, semuanya memang Mesya yang salah. Mesya tidak pernah bersyukur dengan kasih sayang yang di berikan Papa, dan.." Mesya menoleh kepada seseorang yang sejak tadi berdiri diam menyaksikan drama Ayah dan anak itu.


"Tante Luna??" Luna terhenyak karena Mesya ikut menyebutnya.


"Aku juga minta maaf kepadamu. Sejak dulu aku tidak pernah menerima kehadiran mu di hidup ku maupun di rumah kami. Tapi sekarang, aku percaya kalau cinta yang kamu berikan untuk Papa itu tulus. Jadi sekarang, aku merestui kalian, asalkan Tante Luna berjanji untuk tidak meninggalkan Papa dalam keadaan apapun"


Luna mengulas senyumnya mendengar pernyataan Mesya itu. Akhirnya perjuangannya untuk membuktikan cintanya pada anak sambungnya itu membuahkan hasil juga meski butuh waktu yang lama.


"Terimakasih Mesya. Tante janji, tante tetap akan berada di sisi Papa kamu dalam keadaan apapun. Tante mencintai Papa kamu dengan tulus"


"Aku percaya Tante. Maafkan aku karena selama ini aku terlalu kekanakan dan selau bersikap tidak mengenakkan kepada mu"


Papa Mesya tersenyum haru melihat perubahan putrinya. Dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi sehingga putrinya berubah secepat itu, tapi yang jelas dia begitu bahagia saat ini.


"Yang lalu biarlah berlalu Mesya. Sekarang kita jalani masa depan kita bersama-sama ya??" Ucap Luna yang diangguki oleh Mesya.


"Oh ya, kamu belum menjawab pertanyaan Papa kamu. Ada apa dengan kaki mu itu??" Luna ikut mendekat melihat kaki Mesya yang tampak berbalut perban itu.


"Ini cuma terkilir Pa, tadi Mesya nggak hati-hati saat pakai heels. Tapi ini nggak papa kok, kata Dokter satu minggu lagi sudah bisa di lepas" Jelas Mesya tak ingin membuat Papanya khawatir.


"Kamu ini ada-ada aja. Ayo Papa bantu ke kamar, kamu harus istirahat!!" Mesya hanya menuruti perintah Papanya itu. Baginya, keluarganya saat ini sangatlah penting, terlebih saat di dalam mimpi Mesya sudah merasakan tak punya siapapun di dunia ini.


Mesya kini sudah berbaring di ranjang empuknya lagi. Namun matanya tak kunjung tertutup Karena masih terpaut pada mimpi tak masuk akal itu.


"Semua yang terjadi dalam mimpi itu masih bisa ku ingat sampai detail-detailnya. Perasaannya dan segala emosi masih bisa ku rasakan saat ini" Gumam Mesya sambil menatap langit-langit kamarnya,


"Sadar Mesya!! Jangan sampai semua karma itu menimpamu di dunia nyata!!"


"Bisma bukanlah untuk mu!! Dia milik Alya dan selamanya akan seperti itu. Jadi mulai sekarang cobalah untuk melupakannya!!"


Mesya terus memberondong dirinya dengan kenyataan yang ada di depannya saat ini.


"Luapan mimpi itu dan lupakan Bisma!!"


"Mungkin memang sebaiknya aku menutup rapat-rapat tentang mimpi itu. Biarlah aku dan Tuhan yang tau" Tekad Mesya sebelum dirinya tau kalau ternyata Bisma juga mengalami mimpi yang sama. Sebelum Mesya juga tau kalau mimpi itu yang akan mengantarkannya kepada cinta sejatinya.

__ADS_1


__ADS_2