
Sebuah foto, dengan dua orang di dalamnya yang tampak sangat bahagia dengan senyum yang terukir di kedua bibir mereka langsung menyambut mata Mesya saat itu juga.
"Maaf Kak, aku nggak sengaja" Mesya langsung melepaskan ponsel itu ke tangan Bisma. Mesya membuang wajahnya ke samping karena dia tidak tau harus berekspresi seperti apa di depan Bisma saat ini.
Meski hanya sekilas melihatnya, namun Mesya bisa tau kalau foto yang di jadikan wallpaper itu adalah Bisma dan Alya.
"Mengapa sesakit ini hanya melihat foto mereka berdua?? Bukankah kamu sudah tau Sya, kalau pria di sampingmu ini memang tidak akan pernah menjadi milikmu!!" Mesya ingin memaki dirinya sendiri karena masih berharap kepada Bisma.
Bisma memejamkan matanya karena menyesali kebodohannya itu. Kenapa dia sampai lupa mengganti wallpaper pada ponselnya itu. Melihat kekecewaan di wajah Mesya itu membuat Bisma ketakutan saat ini.
"Sya, maafkan aku. Aku lupa menggantinya"
"Kenapa Kak Bisma minta maaf?? Aku tidak papa kok. Aku tau kalau tidak akan mudah melupakan orang yang sudah bertahun-tahun kita cintai. Meski orang itu sudah pergi atau sudah menyakiti kita begitu dalam" Ucap Mesya tanpa mau menatap wajah tampan Bisma.
"Sepeti halnya aku. Meskipun kamu sudah membuatku sehancur ini, aku tidak pernah membenci atau melupakan mu sampai detik ini" Sambung Mesya dalam hatinya.
"Sya, aku memang belum sepenuhnya melupakan Alya. Tapi aku akan berusaha untuk menggantikan namanya dengan nama mu di hatiku, dan aku juga sungguh-sungguh tentang perkataan ku untuk bertanggungjawab dan menikahi mu setelah anak kita lahir"
Bisma tidak tau kenapa dia menjadi ketakutan ketika menghadapi Mesya dalam situasi saat ini.
"Kak, aku akan melahirkan kurang lebih dua bulan lagi, dan aku yakin kalau dalam waktu secepat itu tidak akan bisa merubah perasaan mu kepadaku. Aku juga sudah berpikir kalau bertanggungjawab tidak harus menikah. Kita bisa membesarkan anak kita bersama-sama namun tanpa adanya ikatan di antara kita" Sungguh berat rasanya Mesya mengatakan itu semua. Siapa yang tidak mau menikah dengan pria yang kita cintai. Namun jika pria itu tidak pernah menginginkan kita di hidupnya, lebih baik Mesya mengalah.
"Tidak, apapun yang terjadi aku tetap akan menikahi kamu. Saat ini memang aku tidak bisa mengucapkan kata cinta itu kepadamu, tapi aku akan membuktikan kesungguhan ku ini Sya!! Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Aku mohon, percaya padaku. Beri aku waktu"
Bisma tak rela kehilangan Mesya, dia tidak mau kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya untuk ke dua kalinya.
Tapi jika Bisma menganggap Mesya begitu berarti di dalam hidupnya, kenapa kata cinta itu sulit keluar dari bibirnya.
"Sudahlah Kak, aku memang sudah bilang dari awal untuk mengikuti arusnya saja. Lebih baik sekarang kita pergi. Bukankah kamu ingin melihat anak kita??" Mesya memaksakan senyum tipis di bibirnya untuk Bisma meski pria itu masih terus memandangnya dengan tatapan yang susah di artikan.
*
*
*
"Sudah Kak" Ucap Mesya ketika keluar dari ruang ganti.
Sebelum ke Dokter, Bisma benar-benar mengajak Mesya untuk membeli baju ke sebuah butik yang cukup terkenal.
Namun jika di bandingkan dengan butik Mesya yang dulu, brand milik Mesya masih lebih di kenal. Meskipun begitu, untuk memasuki butik itu saja Mesya tidak mampu jika tidak bersama Bisma.
__ADS_1
"Mana baju-baju yang kamu coba tadi??" Tanya Bisma.
"Aku yang ini saja Kak"
"Saya bayar semua baju yang tadi di coba istri saya!!" Ucap Bisma kepada karyawan butik yang melayani Mesya. Bisma sama sekali tidak menghiraukan ucapan Mesya.
"Istri?? Sudah dua kali Kak Bisma menyebutku sebagai istrinya??" Batin Mesya.
"Tapi itu kan hanya status palsu" Mesya tersenyum miris setelah itu.
"Baik Pak" Ucap karyawan itu membawa kartu kredit yang di berikan Bisma.
"Ayo tunggu di mobil saja, biar mereka yang membawakannya keluar" Bisma meraih tangan Mesya untuk mengajaknya keluar. Tangan Bisma rasanya begitu hangat menyentuh permukaan kulit Mesya, tidak sedingin orangnya.
"Mau ke Dokter dulu atau makan dulu. Kamu sudah lapar belum??" Bagaimana hati Mesya mau berpaling, kalau Bisma saja sekarang memperlakukannya begitu lembut seperti itu.
"Nanti saja, sekalian pulang"
"Baiklah, aku menuruti keinginan ibu dari anakku" Lagi-lagi Mesya hanya bisa membeku di tempatnya. Bisma terlalu jauh mempermainkan hatinya. Kadang bisa membuatnya Malalayang seperti itu, kadang juga bisa membuat hatinya terhempas bak layang-layang tanpa terikat tali.
*
*
*
"Kenapa Kak??" Mesya melihat wajah Bisma seperti tak tenang memikirkan sesuatu.
Bisma mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan selembar foto hitam putih dari dalamnya.
"Aku meminta hasil pemeriksaan ku waktu itu" Mesya melihat hasil foto USG itu sama dengan yang ia punya.
"Aku hanya bisa melihatnya dari foto itu. Dan sekarang aku gugup karena tidak sabar melihatnya saat bergerak didalam perutmu"
Mesya tak menyangka jika Bisma benar-benar menyayangi anaknya. Dia bahkan sampai menyimpan foto itu di dalam dompetnya.
"Memangnya kamu mau anak laki-laki atau perempuan??" Tanya Mesya.
"Laki-laki" Jawab Bisma tanpa berpikir.
"Ke-kenapa??" Mesya takut jika anaknya terlahir perempuan maka Bisma tidak akan menerimanya.
__ADS_1
"Karena kalau perempuan, maka aku akan menyesal seumur hidupku karena tidak bisa menjadi wali saat menikahkannya nanti"
Jlebbb...
Hati Mesya ikut tertusuk mendengar pengakuan Bisma itu.
"Kalau lahir perempuan pun aku tak masalah. Tapi ketika melihat wajahnya, pasti aku akan merasa sangat bersalah. Aku menyesal karena tidak pernah berpikir panjang saat melakukannya denganmu.Tapi aku juga bersyukur karena hadirnya dia membuat aku sadar akan kesalahanku" Mesya tak nyaman melihat kejujuran di mata Bisma. Dia takut meyakini jika kelak Bisma bisa mencintainya.
"Ibu Mesya Clarisa!!" Panggilan itu membuat keduanya memutus kontak mata mereka.
"Saya Sus" Bisma mengikuti Mesya yang sudah leboh dulu masuk ke dalam ruangan Dokter.
"Silahkan berbaring Bu" Perintah Dokter kandungan itu.
Jantung Mesya berdetak lebih cepat karena perawat tadi menyibakkan dressnya. Meski bagian bawahnya sudah di tutup selimut tapi perut yang terlihat polos itu terpampang dengan bebas di depan Bisma.
Sementara Bisma hanya tersenyum tipis melihat wajah Mesya yang memerah karena malu.
"Silahkan Pak, bisa mendekat ke sebelah istrinya agar lebih jelas melihat keadaan janinnya" Bisma senang karena mendapat lampu hijau untuk bisa lebih dekat dengan Mesya.
"Usia kandungannya 31 minggu ya Bu. Bayinya sehat, berat badan janin cukup tapi kalau bisa di naikkan lagi. Lalu air ketuban bagus semuanya bagus. Lihat Pak, janinnya menggerakkan jarinya, mulutnya juga sedang menguap, lucu sekali " Ucap Dokter itu memperlihatkan keadaan di dalam perut Mesya.
Bisma merasakan kebahagiaan yang tiada terkira. Perasaannya benar-benar menengah sampai ingin menangis rasanya. Akhirnya dia bisa juga melihat anaknya yang masih begitu kecil itu.
"Anak saya sehat dan lengkap kan Dokter??" Tanya Bisma. Entah mengapa tangan Bisma bergerak menggenggam Mesya. Rasanya gugup mendengar jawaban dari Dokternya.
"Lengkap Pak, Alhamdulillah"
"Kalau jenis kelaminnya Dokter??" Kali ini Mesya yang sangat berharap jika apa yang di inginkan bisma terkabul. Mesya tidak ingin Bisma hidup dalam penyesalannya saat melihat wajah anaknya sendiri.
"Untuk jenis kelaminnya..." Dokter itu terus memutar-mutar alatnya di atas perut Meysa.
"Laki-laki, selamat ya Pak"
"Alhamdulillah" Sambut Mesya dan Biasa dengan penuh haru.
"Terimakasih Ya Allah. Terimakasih Sya"
Cup...
Tampa malu Bisma memberikan kecupan lembut pada dahi Mesya di dalam ruangan itu.
__ADS_1