
“HIDUP ibu sekarang ini adalah BONUS! Tuhan memberikan BONUS berupa KEHIDUPAN kepada ibu. SELAMAT ya, Ibu harus banyak banyak BERSYUKUR”
Wajah dan suara dokter yang pertama dikenalinya ketika Luna membuka mata. Pelan pelan Luna tersadar dimana dia berada.
Terbaring Luna memandang wajah dokter lurus di atas wajahnya, menembus langit langit rumah sakit, langsung menuju langit diatas langit berlapis lapis melewati langit ke tujuh.
Luna mendengar seseorang bicara kalau detak jantungnya sempat menghilang dari EKG - Electrocardiogram, lalu tiba tiba getarannya muncul kembali sesaat ketika dia hampir dinyatakan mati.
Beritanya kehabisan darah, Luna melihat tangan dan jari jarinya menggelembung seperti balon, sangat segar sehabis diinfus berbagai macam cairan. Hanya ada dua pilihan, kehilangan nyawa atau kehilangan rahimnya.
Akhirnya Luna harus kehilangan bagian yang penting dari seorang wanita, alat reproduksinya.
Luna merasa kata kata dokter itu sepertinya hanya untuk menghiburnya saja.
Dia telah melewati masa kritisnya.
🌾🌾🌾
Ah, dia ingat sekarang. Ibu tengah menyuapinya diranjang rumah sakit sesaat setelah melahirkan putrinya. Semuanya berjalan lancar dan baik baik saja ketika seorang perawat mendapati lantai di bawah tempat tidur bersimbah darah.
Dibukalah selimutnya. Ternyata kasur dan sprei yang ditiduri sudah berwarna merah semua, darah dimana mana, namun Luna tidak merasakan apa apa.
Seketika terjadi kepanikan dan kegaduhan didalam ruangan kamar rumah sakit. Tindakan pun segera dilakukan oleh dokter dan perawat diruang itu juga. Kulit *********** di jahit, ditusuk dengan sebuah jarum melengkung, tanpa anestesi. Tanpa bius lokal maupun total. Sakitnya jangan ditanya.
Luna berteriak. Luna berontak! Tak ada yang menghiraukan. Peluhnya bercucuran. Sekujur tubuhnya tegang. Luna menangis tak karuan. Untuk ketiga kalinya jarum melengkung itu dirasakan menembus kulitnya, sekuat tenaga dia berteriak ..IBUUUUUUUU!!!!!!!
Lalu pingsan!
🌾🌾🌾
Luna siuman lagi ketika merasakan beberapa orang mendorong ranjang tidurnya setengah berlari melalui koridor rumah sakit menuju ruang operasi.
Koridor yang panjang dan berliku, bahkan dengan langkah terburu buru pun rasanya lama sekali perjalanan itu, sampai sampai dia tak sadarkan diri lagi.
Tau tau sudah berada di ruang operasi, dokter dan perawat menyiapkan alat alat operasi, tabung oksigen, tabung nitrogen, ah dia tak yakin apakah itu nitrogen atau gas lainnya, semuanya serba terburu buru, sempat didengar dokter memarahi sang perawat karena hampir saja salah memasukan salah satu selang itu kedalam hidung dan mulutnya.
Luna tau apa yang terjadi di ruang operasi tapi dia tak dapat berbuat apa. Kesadarannya masih ada tapi tubuhnya tak berdaya.
Dokter membuka kelopak mata Luna dan menyorotkan lampu senter kedalam matanya. Dan Luna merasakan cahaya lampu senter jauh dan samar samar. “Masih ada” katanya.
Iya aku masih hidup dok, batin Luna tak berdaya.
Kemudian mereka memasukan selang selang ke mulutnya, tenggorokan dan membuat air ludah menggenangi rongga mulut. Sekuat tenaga Luna menyemburkannya lagi keluar, ternyata dia sudah tak punya daya ketika dirasakan air dari mulutnya hanya tumpah mengalir keluar ke pipinya di dagu ke leher, basah semua. Dokter memarahinya “Ibu.. Ibu jangan melawan kita sedang menolong ibu!.”
Bermacam macam cairan masuk ketubuhnya dan Luna merasakan waktu berjalan lama sekali, Luna semakin lemas dan hanya mendengar dokter memarahi lagi “Ibu.. Ibu jangan tidur. Kita sedang menolong ibu. Ibu jangan tidur!” Dokter menepuk nepuk berkali kali pipinya.
Tapi Luna sangat cape dan mengantuk. Ngantuk yang teramat sangat ketika kurasakan dokter menampar pipi lagi. Luna mengantuk dan ingin nyatidur sebentarr saja ....sebentarrrr saja
“Ibu jangan tidur!!!”
Dan Luna terbangun lagi.
Untuk kesekian kalinya Luna merasa hilang ketika terdengar olehnya suara anak kecil memanggil manggilnya
Mama! Mama! Mama! Seirama alat pacu jantung yang dipasang ditubuhnya.
Detak suara alat pemacu jantung itu sudah berganti dengan suara anak kecil yang memanggil mama dengan nada pendek dan menghentak berkali kali. Terdengar bergaung di seluruh ruangan.
Mama. Mama. Mama.
🌾🌾🌾
__ADS_1
“Ibuuuu... Ibu”
“Ibuuuu... Ibu”
Luna memanggil ibunya dengan pelan dan lembut. Tapi tak ada yang menyahut.
“Ibuuuu...Ibu.” Dia mendengar gema suaranya lirih.
Luna mencari cari di sekeliling ruangan yang serba putih sambil terus memanggil Ibu. Walaupun lirih tapi dia memastikan kalau suaranya terdengar karena ruangan itu begitu sepi..
“Ibuuu... “ Ah itu dia. Luna melihat kerudung merah ibunya, sedang menunduk seperti tengah berdoa.
Luna mendekat.. dan shockkeddd!!
Tak percaya Luna pemandangan didepannya.
Luna melihat tubuhnya terbaring diatas tempat tidur dengan sprei berwarna putih.
Baru Luna menyadari kalau dia melayang. Luna mendekat ke ibunya dan memanggil sekali lagi “Ibu.......”
Ibu diam tak bergeming. Begitu khusu dia berdoa sendiri di samping tempat tidurnya. Luna mulai menangis. “Ibuu... “
Luna melihat tubuhnya terbaring dengan mata terpejam disampingnya sang ibu tertunduk khusyu berdoa. Luna melihat keduanya. Begitu sepi.
Dan Luna menangis.
Tapi tak ada air mata.
🌾🌾🌾
Itu adalah ingatan terakhirnya.
Entah berapa lama Luna koma, sadar sadar ketika Luna membuka mata dan mendengar dokter mengatakan kalau dia mendapat BONUS.
Luna melihat wajah ibunya sudah lebih tenang, tidak ada kecemasan lagi di matanya.
Ayahnya sedang bercakap dengan suami yang baru datang dari Jakarta.
Luna memang melahirkan di kampung halaman. Di rumah sakit dimana ayahnya bekerja. Luna baru diperbolekan pulang keesokan harinya.
🌾🌾🌾
Ayah menggendong Bayinya. Ibu duduk di sampingnya. Bintang, Suaminya membawa mobil, perlahan keluar dari halaman rumah sakit.
Luna merasakan matahari begitu hangat. Bersinar cerah. Secerah cerahnya. Awan awan putih bergumpal gumpal di angkasa. Langit biru pekat. Sinar matahari menerobos celah celah awan membentuk garis lurus jatuh ke bumi bak menyangga awan. Pilar pilar cahaya yang turun dari angkasa, indah sekali. Dan Langit pun mengirimkan nama untuk putrinya tercinta
BRIGHT.
Rumah sakit ini adalah rumah sakit baru, begitu luas dengan bangunan yang kokoh dan tinggi. Halamannya yang lapang dengan rumput hijau di sepanjang mata memandang.
Walaupun baru pertama kali Luna kesini tapi sepertinya Luna tak merasa asing dengan tempat ini. Terlebih lebih lagi ketika kami keluar dari pintu gerbangnya yang lebar... dan meluncur menuju jalan raya. Ada angin segar berhembus dari jendela depan. Luna memandang ke belakang, ke pintu gerbang..
Ahhhhh
Tubuhnya menggigil.
Luna sudah pernah mengalami ini. Luna yakin. Luna kenal pintu gerbang itu. Lebar dan tinggi hampir menutupi seluruh bangunan Rumah sakit di dalamnya. Ya, Luna sudah pernah kesini sebelumnya. Tapi dimana...
Luna tidak lupa pintu gerbang itu. Ingat matahari itu, cahayanya, awannya, pilar pilarnya yang berpendar pendar, jalan lebar dan menurun yang kami lewati, suasananya semuanya persis seperti ini. Persis.
Luna mencoba mengingat ingat....
__ADS_1
🌾🌾🌾
Tadinya dia mengira kalau itu hanyalah sebatang pohon tua yang sudah mati walaupun masih tegak berdiri.
Tapi dugaannya ternyata salah, karena perlahan pohon itu bergerak, bagian atasnya keluar cabang cabangnya. Ujung dari cabang cabang itu bergerak kesana kemari seolah memiliki kepala.. dan OMG ternyata itu kepala ular!
Pohon itu ternyata monster ular besar mirip Medusa, dewi ular dengan rambut ular persis seperti gambaran dalam komik yang pernah dia baca saat sekolah dasar dulu.
Tak pikir panjang Luna pun berlari. Berlari dan berlari. Sepanjang lorong jalan Luna berlari melewati labirin dengan banyak ruang dan lorong yang tak ada ujungnya.
Di belakangnya pohon tua yang ternyata ular dengan kepala bercabang cabang itu mengejarnya. Masing masing kepalanya seolah olah ingin melepaskan diri berlomba lomba siapa yang lebih dulu melilitnya, masing masing kepala itu begitu bernafsu ingin menghisap darahnya.
Luna terjatuh!
Mereka mendekat.
Dengan sekuat tenaga Luna bangun dan berlari lagi. Terjatuh lagi, dan Luna bangun dan berlari lagi, dengan nafas terengah engah keringat bercucuran tak terasa.
Setiap kali terjatuh, dia mampu berkelit dan berhasil melepaskan diri dari kejaran ular itu. Hingga akhirnya Luna menemukan cahaya.
Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah pintu. Dengan sekuat tenaga Luna berhasil meraih pintu itu, namun ternyata dari sana masih jauh menuju pintu gerbang untuk keluar dari gedung itu.
Dengan sisa tenaga gadis itu terus berlari memburu pintu gerbang yang pelan pelan mulai menutup sendiri. Ular ular itu pun terus saja memburunya, peluh membanjiri sekujur tubuhnya namun Luna tak menyerah Luna berusaha mencapai pintu gerbang itu.
Detik terakhir, ketika jarak tinggal sejengkal, Luna mengerahkan nafas penghabissn dengan langkah panjang hingga ia berhasil menerobos pintu, keluar dari tempat itu.. tepat pada saat yang sama gerbang itu tertutup mengeluarkan suara berdentum keras..
BUMMM!!!!!!
Dan ular terkurung di dalamnya, belalai belalai kepalanya menggapai gapai tak dapat mengejarnya lagi.
Luna terjatuh tersungkur di luar pintu gerbang. Dilihat kepala ular masih berusaha berkeliaran dari sela sela pagar sementara tubuhnya tertahan di balik pintu gerbang.
Nafasnya terengah engah tak beraturan, tak ada lagi rasanya tenaga yang tersisa untuk berlalu dari neraka itu. Namun anehnya dari situ dia merasakan badannya terasa ringan Luna meluncur keluar seperti terbang.........
Saat Luna memandang ke belakang, dia melihat pintu gerbang itu begitu lebar tinggi dan kokoh hampir menutupi bangunan rumah sakit itu seperti mengucap selamat jalan padanya ...
Dan Luna terbangun dari mimpi yang mengerikan itu.
Dan dia mendapati peluh benar benar membasahi bajunya.
🌾🌾🌾
Ya! Luna ingat, Luna tak bisa melupakan bentuk pintu gerbang yang ada dalam mimpinya itu, sebuah pintu gerbang yang lebar, tinggi dan kokoh hampir menutupi bangunan rumah sakit itu, memang sama dengan pintu gerbang rumah sakit tempat Luna melahirkan putrinya itu.
Di dalam perjalanan pulang setelah persalinan Luna merenung, berfikir, dan Luna tertegun seorang diri ketika Luna menyadari dan menyimpulkan arti mimpinya...
Rupanya pohon mati yang tegak berdiri adalah tabung oksigen panjang yang mengiringinya di sepanjang koridor dan berhenti di ruang operasi,
Ular ular dengan kepala bercabang itu adalah selang selang dari segala macam cairan yang terpasang di tubuh dan mulutnya saat operasi.
Labirin labirin dimana ular itu mengejar adalah kamar kamar dan lorong dalam rumah sakit yang harus ditemukan jalan keluarnya ..
Didalam mobil, Luna mendengar ibu bapak suaminya semua bahagia bercengkrama dengan putrinya.
Luna menggigil sendirian dalam diam.
***
Lama Luna menyadari kalau BONUS berupa kehidupan, adalah agar dia bisa berbagi. Bagaimana dia bisa melihat energy adalah Gift yang diberikan Tuhan kepadanya. Dengan gift nya dia bisa menyimpulkan sebuah kisah sederhana, bagaimana energy pengaruhnya dalam kehidupan seseorang . Tentang sesuatu yang bisa dia lihat dan rasakan yang orang lain rak mampu menangkapnya.
Agar menjadi pelajaran baginya dan bagi orang lain. Agar menjadikan hidup lebih indah dan setiap tantangannya menjadi anugerah.
__ADS_1
Ini adalah wujud partisipasinya dalam kehidupannya dan rasa syukurnya kepada Sang Kuasa.
🌾🌾🌾