
Sungguh aku merasakan kasih sayang dari seorang saudara laki-laki yang nyata, yaitu bang Sahala.
Bang Sahala yang selalu membela ku di hadapan mamak dan juga pria-pria yang mata jelalatan.
Pernah suatu saat menguping pembicaraan bang Sahala dengan mamak dan bertanya kenapa begitu memperdulikan Ku.
Ternyata karena aku berbeda dari kakak-kakak perempuan yang lain, yang selalu membangkang tanpa daya.
Tapi bang Sahala hanya salut dan menghargai kak Maria, kakak perempuan yang membangkang tapi sanggup mandiri.
Perempuan terhormat dan akhirnya punya keluarga dari keluarga terhormat dan suaminya begitu menyayangi kak Maria.
Bang Sahala berkata, kalau aku tidak membangkang dan berusaha menjadi gadis yang mandiri.
Bang Sahala menaruh harapan besar terhadap ku, kelak menjadi dokter yang hebat dan satu-satunya dokter di keluarga ini.
Bahkan bang Sahala meminta kepada mamak, agar jangan terlalu kasar kepada Ku, karena bang Sahala melihat ku dan menilai ku sebagai gadis berhati lembut.
Memang bang Sahala yang terbaik saat ini, jika kekurangan uang biasanya aku meminta kepada kak Maria, tapi setelah kakak ku yang cantik menikah dan aku segan mintak uang.
Sekarang sudah beralih pada bang Sahala, karena dirinya adalah kesayangan mamak dan selalu punya uang pegangan yang banyak.
Terakhir pada bapak dan harus sembunyi-sembunyi untuk memintak uang padanya agar tidak di ketahui oleh mamak.
Sebenarnya aku ke simpang ini untuk membeli buku dan itu membuat uang jajan ku habis.
"itu bapak."
Melihat sasaran yang empuk yaitu bapak yang sedang nongkrong di kedai kopi bersama bapak-bapak lainnya, dan langsung belok kanan dan menuju kedai kopi itu.
"bapak ini benar-benar kelewatan, dah tau sakit maag tapi masih kopi aja.
apa bapak ngak memikirkan Aruna? ntar bapak ngak bisa mendampingi Aruna saat wisuda."
Bapak langsung memasukkan uang lima puluh ribu rupiah ke kantong belanjaan ku, dan hal ini yang aku harapkan.
"bapak janganlah kayak gitu, Aruna ngak mau bapak sakit."
Nada suara ku sudah pelan dan dua puluh ribu lagi masuk ke kantong belanjaan ini, kemudian kuberikan botol air minum Ku kepada bapak.
"bapak minum air ya, agar bisa menetralisir kafein dalam tubuh bapak.
Sebelum ke sini, bapak dah makan belum?"
__ADS_1
Bapak hanya mengangguk seraya menaruh uang dua puluh ribu dan uang sepuluh ke kantong belanjaan ku.
"nanti bapak jangan-jangan lama pulangnya ya, tadi mamak sudah beli daging babi, katanya mau buat babi panggang."
Terakhir bapak memberiku uang dua puluh ribu lagi.
"Aruna....
nanti bapak pulang ya, karena masih ada urusan bapak disini."
"iya pak, dan jangan minum kopi lagi."
Lalu aku pergi dari kedai itu, dan seketika itu juga bapak-bapak yang di sana tertawa. begitu juga dengan ibu-ibu penjaga kedai itu.
Akhirnya sampai juga di rumah dan rentenir itu sudah menungguku di depan pintu masuk.
"kau dari mana?"
"beli buku bekas di simpang sana mak."
"masuk kau, masak yang enak ya."
Aku hanya mengangguk lalu beranjak masuk ke kamarku, sebenarnya ini dulu gudang yang di buat bapak menjadi kamar Ku.
Beginilah setiap hari aktivitas ku. kampus, perpustakaan, rumah sakit, klinik dan rumah dan terakhir gereja.
Aku selalu berada di tempat-tempat tersebut dalam waktu tertentu, dan hampir tidak ada waktu untuk bergaul dengan teman-teman sebayaku.***
Tanpa terasa waktu terus bergulir, dan sudah menyelesaikan tahap pra klinis dua kali dan saatnya menyusun skripsi.
Sederet ujian telah aku lalui, dan sejauh ini hasilnya selalu memuaskan dan itu artinya beasiswa masih aman.
Akhirnya proposal skripsi di terima, dan hanya tinggal menunggu anggota kelompok.
Kami akan membedah jenazah mister x, yaitu jenazah tanpa identitas dan tanpa keluarga untuk kami pelajari secara berkelompok sesuai dengan judul skripsi kami.
Satu persatu anggota kelompok berhasil di ACC dan akhirnya bisa lanjut lagi.
Akhirnya semua berjalan lancar, dan bab ini semua anggota kelompok lulus.
Anggota kelompok berjumlah enam orang, dan nantinya kami satu kelompok untuk melanjut ke tahap Koas.
Rumah sakit, klinik, puskesmas dan perpustakaan. tempat ini menjadi prioritas utama kami untuk menyusun skripsi.
__ADS_1
Jujur dalam tahap ini, aku mengalami rambut rontok dan beruntung nya aku punya bang Sahala yang memberi ku obat herbal.
Katanya sekaligus vitamin dan itu benar-benar mujarab dan ampuh, sehingga aku fokus kembali ke skripsi.
Tahap seminar hasil sudah selesai dan mendapatkan tandatangan dosen pembimbing, lanjut minggu untuk sidang skripsi.
Sungguh luar biasa sekali akan pencapaian target yang aku lalui dan jujur aku akui bahwa berat badan turun hingga sepuluh kilogram.
Hari-hari yang ku tunggu membuat deg-degan karena inilah hasil akhir, dan inilah penentuan untuk tahap selanjutnya.
Segala puji syukur kehadirat Tuhan Ku, dan segala kemurahan akan rejeki kepadaKu dan aku dinyatakan lulus dan telah mendapatkan gelar sarjana kedokteran, S.Ked.
Menangis karena bahagia, karena aku bisa menempuhnya dalam kurang waktu tiga tahun enam bulan.
Selanjutnya adalah profesi dokter, atau dokter muda yang biasanya disebut sebagai Koas.
Dalam tahap ini benar-benar membuat ku terkejut, sebab kasta Koas dalam rumah sakit adalah kasta terendah.
Bahkan office boy, memberikan perintah kepada kami.
Rumah sakit pemerintah dan para perawat yang banyak berstatus pegawai negeri, makian dan tekanan lainnya benar-benar nyata disini.
Tiga bulan masa Koas, dan ujian tertulis. lalu persentase analisis penyakit dan pengobatannya.
Tahap ini benar-benar menjadi ku pribadi yang kuat dan bertambah kuat, dan adanya stigma bahwa perempuan kurang mempuni dalam bidang kedokteran karena terlalu menggunakan perasaan dan mengabaikan logika.
Itu hanya stigma yang dibangun kaum pria, untuk menindas kaum perempuan.
Sama seperti budaya batak kuno yang perlahan-lahan di tinggalkan, karena sudah tidak cocok dengan jaman sekarang.
Perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, karena jatuhnya di dapur, sumur dan ranjang.
Dapur dan sumur bisa dikerjakan oleh pria juga, dan urusan ranjang itu urusan berdua karena kebutuhan.
Stigma yang merendahkan itu tidak berlaku bagiku dan walaupun aku gagal di tahap awal ini dan masih bangkit.
Ternyata bukan hanya kaum perempuan yang menangis di tahap ini, kelompok ku yang terdiri dari enam orang dan kami hanya dua orang perempuan, sisanya laki-laki.
Mereka juga nangis karena gagal di tahap awal ini, laki-laki kok nangis.
Katanya ras yang paling kuat, kok cengeng ya?
Tapi satu pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini, kegagalan bukan milik kaum perempuan tapi juga milik dari semua orang yang sedang apes.
__ADS_1