KARMA

KARMA
Wanita jahat


__ADS_3

Alya menatap jalanan di luar sana melalui kaca jendela di sampingnya. Suasana kota yang identik dengan kemacetan tak mengganggu lamunannya sama sekali.


Setelah ditinggalkan oleh Bisma seorang diri, Alya memilih kembali ke butiknya. Namun tentu saja ia tak sendiri. Dia di temani beberapa pertanyaan yang berkecamuk di dalam hatinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi di antara Mas Bisma dan Mesya??" Pertanyaan itu yang terus saja melintas di benak Alya.


"Kenapa Mas Bisma begitu panik saat mengetahui Mesya pergi sampai dia tega meninggalkan aku sendirian"


"apa mas bisma sering menemui mesya tanpa sepengetahuan ku?? termasuk kemarin??"


"Lalu tentang baju itu?? Apa ini juga ada hubungannya dengan wajah Mas Bisma yang tampak kacau karena kepergian Mesya??"


Lamunan Alya hanya berisi pertanyaan-pertanyaan seputar mereka berdua.


Alya mencoba menghubungi Bisma kali ini. Dia ingin menanyakan keberadaan Bisma saat ini ada dimana. Terselip rasa khawatir di hati Alya meski saat ini pikiran buruk tentang Bisma dan Mesya lebih mendominasi.


Alya menarik kembali ponsel dari telinganya. Panggilannya tersambung namun sepertinya pemilik ponselnya tak berniat mengangkat ya sama sekali.


"Dimana kamu sekarang Mas??" Lagi-lagi Mesya hanya hanya bisa bertanya di dalam hatinya.


Wanita mana yang tak curiga dengan calon suaminya jika sikap mereka seperti Bisma. Terlebih akhir-akhir ini, Alya seperti tak mengenal Bisma. Pria itu seperti orang lain yang tak sehangat dulu. Lebih sering mengabaikan Alya, jarang menemui Alya, mengirim pesan pun bisa di hitung dengan jari dalam sehari.


"Apa yang kamu sembunyikan dari aku Mas?? Apa perasaan mu kepadaku sebenarnya sudah berubah??"


Mesya kembali teringat saat mereka berdua menemui WO pernikahan mereka. Bisma yang tampak acuh tak acuh semakin memperkuat kecurigaan Alya.


"Tapi kenapa kamu mengambil keputusan untuk menikahi ku kalau kamu sendiri saja tidak yakin dengan perasaanmu??" Alya memejamkan matanya di dalam taksi yang masih melaju itu karena kepalanya yang mulai pening memikirkan tentang Bisma.


*


*


*


"Cari siapa ya??"


Seorang wanita yang masih terlihat muda keluar dari rumah Mesya. Tentu saja Bisma ingat siapa wanita itu karena dia pernah beberapa kali bertemu dengannya, termasuk di dalam mimpi.


"Saya mau bertemu Mesya Tante" Ucap Bisma.

__ADS_1


"Mesya??"


"Benar, apa dia masih ada di dalam??" Bisma sungguh tak sabar ingin melihat wanita itu.


"Mesya sudah pergi dari tadi pagi. Mungkin pesawatnya sudah lepas landas beberapa jam yang lalu" Jawab wanita di depannya.


"P-pergi kemana dia??"


Bisma tidak pernah menyangka jika akan berada di dalam kondisi seperti ini. Bisma kira Mesya hanya akan menghindari dirinya tanpa pergi jauh seperti ini.


"Tidak tau tepatnya kemana, katanya dia hanya akan pergi mencari inspirasi untuk karya-karyanya saja"


"Ckk.. Tante itu gimana!! Bukannya Tante itu orang tuanya?? Tapi anaknya pergi kemana saja tidak tau!!" Amarah Bisma keluar begitu saja di hadapan ibu tiri Mesya.


"Maaf Tuan, kenapa anda jadi marah-marah seperti ini?? Saya sebagai orang tua hanya memberikan ijin suntuk Mesya selama itu baik untuk dirinya. Saya juga tidak berhak bertanya lebih tentang urusan pribadinya. Jadi jangan sembarangan anda menyalahkan saya ya!!" Luna tak takut sama sekali dengan pria berkuasa di depannya itu.


"Anda yakin kalau anda tidak tau sama sekali tentang tujuan Mesya saat ini??"


Luna hanya menggeleng dengan tatapan tak suka kepada Bisma.


"S*al!!" Gumam Bisma lalu pergi dari rumah Mesya tanpa mengatakan apapun kepada Luna.


Bisma kembali memacu mobilnya menelusuri jalanan. Dia tidak tau kemana lagi harus mencari Mesya. Bisma tidak tau tempat-tempat yang mungkin saja di kunjungi Mesya. Dia hanya mengenal Mesya dengan dekat saat di mimpi saja. Di kehidupan ini Bisma sama sekali tak tau apa-apa tentang wanita yang dicintainya itu.


Bisma mencoba menghubungi Ferry. Hanya sahabatnya itu yang bisa membantunya saat ini.


"Fer!!"


"Eitss, santai Bos!! Kenapa ngegas gitu??"


"Gue mau lo cari Mesya sekarang juga!!" Titah Bisma.


"Mesya?? Ngapain Bos?? Palingan juga ada di butik kalau nggak ya di rumahnya, ribet banget pakai nyuruh gue segala"


"Kalau gue tau di mana dia sekarang gue ngga bakalan nyuruh lo b*go!!" Bisma yang perasaannya sedang tidak baik-baik saja langsung tersulut amarah dengan tanggapan Ferry.


"Jadi Mesya ke mana Bos??"


"Nanya sekali lagi gue pecat lo!!" Ferry benar-benar menguras kesabarannya.

__ADS_1


"Ampun Bos. Maaf, maaf. makanya kasih instruksi yang jelas dong"


"Tadi gue ke butik Mesya, katanya Mesya sudah pergi dan tidak akan kembali dalam waktu dua sampai tiga tahun ke depan. Gue juga udah ke rumahnya, katanya Mesya pergi ke luar Negeri tapi nggak tau tepatnya ke mana. Segitu lo udah pahan kan apa yang harus lo lakukan??" Jelas Bisma meski sebenarnya malas.


"Tenang Bos gue pinter"


"Cari kemanapun sampai ketemu, tidak hanya fokus ke luar ngeri saja!!"


"Gue ngerti Bos"


"Bagus, dan gue mau secepatnya!!"


Tut...


"Kalau terlalu lama aku takut jadi g*la Sya" Lanjut Bisma setelah teleponnya di matikan.


Bisma mengarahkan mobilnya menuju Bandara. Dia tidak ingin membuang kemungkinan sedikitpun. Bisma tentu saja berharap ada keajaiban yang menghalangi Mesya pergi hingga dia bisa menemukan Mesya masih di sana saat ini.


Pria dua puluh delapan tahun itu melangkahkan kakinya dengan cepat. Berlari ke sana dan kemari menghampiri kerumunan orang yang berada di depan pintu keberangkatan. Bisma tak putus asa meski kemungkinan bisa menemukan Mesya itu sangat kecil.


Mata Bisma terus mencari sosok cantik dengan rambut hitam panjangnya. Namun dari sekian banyak orang yang ada di sana. Bisma tak menemukan Mesya sama sekali meski hanya bayangannya saja.


Setelah lebih dari satu jam Bisma berlarian dalam kebingungan. Akhirnya dia terduduk lemas di bangku yang menghadap langsung ke lapangan penerbangan.


Mata putus asa Bisma menatap puluhan pesawat yang berjejer menunggu waktu penerbangannya. Kini wanita yang jahat dan angkuh itu telah pergi jauh darinya. Wanita yang sangat ia benci di dalam mimpinya itu telah menepati janjinya. Namun rasa yang dia tinggalkan sungguh menyiksa batin Bisma.


"Kalau kamu memang mau pergi dariku, setidaknya bawa semua rasa ini Sya. Jangan kamu tinggalkan bersama ku. Rasanya aku tidak sanggup. Bahkan jika saat ini aku bisa menemukan mu, aku pasti akan mengurung mu. Aku tidak akan membiarkan mu pergi dengan mudah sedangkan aku tersiksa di sini" Bisma menundukkan wajahnya yang mulai berair.


"Dari dulu kamu memang tidak berubah Sya. Kamu wanita yang jahat. Jika dulu kamu sering menyakiti Alya, kini aku yang kamu sakiti" Punggung Bisma bergetar meski bibirnya tak mengeluarkan suara apapun.


Drett..Drett..Drett..


Getaran ponsel di kantung jasnya membuat Bisma menghentikan tangisannya.


"Gue udah tau tujuan Mesya Bos!!"


"Kemana dia??"


"Paris"

__ADS_1


"Pesankan aku tiket ke sana sekarang juga!!"


__ADS_2