KARMA

KARMA
Kembali ke pemiliknya


__ADS_3

GREPPP...


Kini kepala Mesya benar-benar menempel di dada Bisma. Tak bisa menjauh lagi karena Bisma benar-benar menahannya dengan erat di sana. Bukan hanya itu, satu tangan Bisma juga melingkar hangat di pinggang Mesya.


"Tidak bisakah kamu mendengarkan detak jantungku yang tidak beraturan seperti ini saat dekat dengan mu Sya?? Bisakah kamu mejelaskan kepada ku apa artinya ini?? Aku sudah tidak sanggup menahan getaran ini seorang diri"


Bisma yang sejak tadi mengeluarkan aura menyeramkan kini terdengar sendu di telinga Mesya. Posisinya saat ini yang terjebak dalam pelukan Bisma membuatnya tak bisa melihat wajah pria yang sedang memeluknya itu.


"Kak, lepaskan aku" Mesya mencoba meloloskan diri dari Bisma.


"Aku tidak mau terjadi kesalahpahaman kalau sampai ada yang melihat kita seperti ini" Dengan sangat berat Bisma melonggarkan pelukannya pada Mesya hingga perempuan itu berhasil sedikit menjauh dari Bisma.


"Kenapa kamu terus menghindar dari ku Sya?? Bahkan kamu tak pernah mau mengangkat panggilan dariku" Bisma tersenyum getir dan memilih menjatuhkan tubuhnya di sofa mengistirahatkan hati dan seluruh badannya di sana. Kepalanya yang bersandar mulai memejam dengan berlahan.


"Bukannya aku tidak mau Kak, tapi aku benar-benar sibuk akhir-akhir ini" Mesya bisa melihat lingkaran hitam di mata Bisma, padahal sejak dulu kulit wajah Bisma selalu putih dan bersih namun kini terlihat sayu dengan lingkaran hitam itu.


Bisma hanya tertawa sinis di dalam hati. Dia memilih tak menyahuti pernyataan Mesya yang jelas-jelas berbohong itu.


"Duduklah di sini" Perintah Bisma menepuk sofa di sebelahnya. Meski matanya terpejam tapi dia tau kalau Mesya terus memperhatikannya dari tadi.


"Aku akan duduk di sa..."


"Sebentar saja, setelah itu aku akan pergi" Potong Bisma tak memberi kesempatan bagi Mesya untuk menolak.


Mesya akhirnya berjalan mendekat. Memilih duduk di sisi kanan Bisma dengan memberikan sedikit jarak.


Meraka berdua memang duduk berdekatan, hanya berdua di ruangan itu tapi bagaikan dua orang asing yang tak saling mengenal. Bisma yang masih bersandar memejamkan matanya dan juga Mesya yang duduk dengan kaku di samping Bisma.


Brukk....


Mesya terperanjat karena Bisma tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di pangkuan Mesya. Pria itu kini dengan tenang memejamkan matanya tanpa risih sedikitpun.


Mesya masih menegang karena Bisma yang ada di pangkuannya. Melihat wajah tampan pria yang dicintainya begitu dekat.

__ADS_1


"K-kak..."


"Biarkan seperti ini sebentar saja Sya. Aku lelah"


Deg...


Apa yang sedang mereka lakukan saat ini sama persis seperti yang ada di dalam mimpi. Namun bedanya, di dalam itu Bisma jelas-jelas mencintai Mesya. Berbeda dengan Bisma yang ada di pangkuannya sekarang.


"Apa kamu tidak ingat Sya??" Bisma menarik tangan Mesya lalu mengarahkannya ke kepalanya.


"Di dalam mimpi kita, kamu mengusap rambutku dengan lembut seperti ini" Bisma menggerakkan tangan Mesya seolah-olah jemari lentik itu tengah mengusap rambut Bisma dengan lembut.


"Aku bahkan masih mengingat rasanya sampai saat ini, sangat nyaman seperti yang aku rasakan sekarang. Semua rasa lelah yang aku rasakan seolah-olah menghilang begitu saja"


Mesya mendongakkan kepalanya karena air matanya yang mendesak ingin keluar. Tentu saja dia tidak mau air mata itu menetes membasahi wajah Bisma yang ada di bawahnya saat ini. Bisma yang terus saja mencoba mengingatkan kenangan yang ada di dalam mimpi itu membuat luka Mesya kembali menganga.


"Kamu ingat saat kamu pergi dari rumah karena ulah Ayahnya Alya?? Aku merasa duniaku runtuh saat itu juga Sya. Aku mencari mu kemana-mana. Aku takut kalau sampai tidak bisa menemukan mu" Lagi-lagi Mesya hanya bisa terdiam mendengarkan Bisma yang terus berceloteh tiada henti.


Tes...


Air mata itu bukan berasal dari Mesya. Namun sudut mata Bisma yang telah membentuk sungai.


"Kenapa kamu harus berlari menyelamatkan aku Sya?? Kenapa kamu harus mempertaruhkan nyawa mu dan calon anak kita demi menyelamatkan pria sepertiku?? Apa karena begitu besarnya cintamu kepadaku sampai kamu rela berkorban sejauh itu??"


Sekuat apapun Mesya mencoba menahan tangisnya. Tapi air mata yang keluar itu adalah suara dari hatinya. Air mata itu ini lolos tak terkendali.


"Aku tidak tau kenapa rasanya masih membekas sampai sekarang Sya. Perasaanku sudah terpaut kepa...."


"Cukup Kak!!" Mesya membantu Bisma untuk duduk dengan paksa. Dia memilih menjauh dari pria membahayakan itu.


"Aku tidak mengerti dengan semua yang kamu ceritakan tadi. Mau sampai kapan kamu terus mendesak ku seperti ini Kak??" Ucap Mesya degan memunggungi Bisma.


"Dulu saat aku terang-terangan mengejar mu. Kamu tidak pernah sedikitpun melirikku. Bahkan sering sekali menatapku dengan tatapan tak suka. Tapi sekarang, saat aku belajar melupakan mu, kamu justru terus seperti ini. Padahal sudah ada Alya yang sebentar lagi akan menjadi istri kamu. Jadi aku bingung, apa niat kamu di balik semua ini"

__ADS_1


Mesya memang sengaja tidak mah menatap Bisma. Karena dengan berhadapan dengan pria itu, pasti kata-kata sepanjang itu tidak akan pernah keluar dari bibirnya.


"Kalau aku katakan jika aku menikahi Alya hanya karena ingin membuatmu merebut ku dari Alya apa kamu percaya??" Bisma bisa melihat jika tubuh Mesya sempat menegang sesaat.


"U-untuk apa Kak Bisma berbuat seperti itu??"


"Untuk mengajakmu melanjutkan mimpi kita. Kita buat perasaan kita menjadi nyata Sya"


"Perasaan yang mana maksud Kak Bisma??"


"Cinta kita berdua"


Seketika punggung Mesya yang telah layu itu mulai bergetar.


"Seandainya aku membatalkan pernikahanku dengan Alya, apa kamu mau mengubah keputusanmu untuk melupakan aku Sya??"


Mesya sudah tak peduli jika Bisma mendengar tangisannya saat ini.


"Tidak akan ada yang perlu di ubah Kak. Jadi lupakan omong kosong tentang mimpi kamu itu. Jika aku jadi Alya, aku pasti akan sakit hati melihat calon suaminya mengatakan cinta kepada wanita lain. Jadi jangan kecewakan dia dan hiduplah bersama dia. Ingat, Alya adalah wanita yang dari dulu kamu cintai" Ucap Mesya dengan suara bergetar hebat.


Bisma sebenarnya ingin sekali merengkuh Mesya saat ini. Tapi hatinya kembali terluka dengan penolakan Mesya.


"Baiklah kalau begitu" Bisma menahan sesak di dadanya dengan tarikan nafas yang panjang.


"Mulai sekarang aku akan melupakan mimpi yang menurut mu omong kosong itu. Aku juga akan kembali kepada Alya. Mungkin memang benar katamu, jika Alya memang pemilih hatiku dari dulu. Jadi sudah saatnya aku kembali kepadanya" Mesya sama sekali tak melihat jika mata Bisma sudah memerah dan berkaca-kaca.


"Selamat tinggal Mesya" Ucap Bisma sebelum meninggalkan ruangan Mesya.


Cklek...


Suara pintu tertutup itu seakan menjadi isyarat bagi Mesya untuk berhenti berpura-pura. Kini bukan lagi tubuhnya luruh ke bawah. Mesya benar-benar jatuh hingga wajahnya menyentuh lantai yang dingin. Sekujur tubuhnya lemas tak bisa menahan rasa sakit yang sudah mencapai puncaknya saat ini.


"Hiks..hiks..aku masih sangat mencintaimu Mas Bisma"

__ADS_1


__ADS_2