KARMA

KARMA
Mahar Bukan Segalanya.


__ADS_3

Semester ganjil sudah berakhir dan libur semester telah tiba, hari yang yang menyenangkan setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah dan duduk bersantai di belakang rumah.


"Aruna...... Aruna......."


Suara rentenir itu membuat ku sakit kepala dan sepertinya dia tidak bisa melihat ku bersantai walaupun hanya sebentar saja.


"apa sih mak? pelan aja manggilnya?"


"kirain kau kelayapan di luar sana."


"mamak.....


putri mu ini adalah pembantu mu mak, ngak mungkin lah seorang pembantu kelayapan di luar sana."


"bagus kalau tau diri seperti itu, Aruna.......


kamu dah tau apa belum, kalau si Maria itu akan menikah sama si cina itu?"


Mamak ku yang rasis dan jika di katai si batak sang rentenir yang kejam, pasti dia marah.


"namanya Josua Mak, dan keluarga bang Josua itu bukan cina tapi keturunan Tionghoa.


Sama kyak kita, orang Indonesia keturunan suku batak."


"terserah kaulah, tapi apa benar mereka sudah konsultasi ke Romo?"


(Romo adalah pimpinan dalam gereja katolik, seperti pendeta pada gereja protestan)


"kanonik namanya mamak ku sayang, itu artinya mereka sudah tahap mau ke jenjang pernikahan."


(kanonik yang di maksud adalah tahap penyelidikan terhadap calon mempelai jemaat Katolik oleh pemuka agama).


"Maria pasti sudah hamil duluan kan?"


"ngak kok, bahkan Aruna menemani kak Maria untuk tes kesehatan rahim ke dokter spesialis kandungan dan penyakit Kandungan.


Kak Maria tidak hamil dan dinyatakan sehat dan siap berproduksi.


Sebab calon mempelai pria pun melakukan hal yang sama, yaitu pemeriksaan kesuburan dan tes kesehatan lainnya."


"heboh kali pake acara tes kesehatan segala."


"suka hati mereka lah mak, lagi pula itu penting mak.


Jika seandainya nanti mereka belum memiliki anak, dan tidak akan menyerang kak Maria dengan mengatai mandul.


Karena kak Maria dalam keadaan subur, sehat dan tidak kekurangan apapun."


"haaaa......"


Mamak seperti nya sangat emosi, karena terkesan aku membela kak Maria.


Tapi sebenarnya ngak sama sekali, karena itulah yang sebenarnya.


"jadi nanti kakak mu akan menikah tanpa kita ya? nantinya Maria pasti ngak bersinamot?"

__ADS_1


(Sinamot adalah mahar dan hal terpenting dalam pernikahan suku batak toba).


"berhubung mamak sudah membahas kak Maria, jadi Aruna ingin bicara sama mamak dan juga bapak."


Dengan lihai dan suara mamak yang cempreng langsung memanggil suaminya itu, lalu kami duduk di sofa ruang tamu.


"bapak dan mamak ku tersayang, Aruna bukan untuk mewakili kak Maria disini.


Tapi kak Maria hanya curhat sama Aruna, sebenarnya kak Maria menginginkan pernikahan secara adat batak.


Keluarga mempelai pria nya, sudah menyetujuinya dan hanya menunggu persetujuan keluarga kita.


Pria keturunan Tionghoa itu, ngak seburuk yang bapak dan mamak pikirkan. mereka juga sama seperti kita.


Kak Maria dan calon nya, sudah sepakat untuk hal itu dan jika tidak kabar dari bapak dan mamak, maka mereka akan menikah dengan tradisi Tionghoa."


"jika demikian permintaannya, apakah calon suaminya bersedia memberikan sinomot satu milyar."


Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan secara pelan-pelan, terlihat mamak seperti ngak ada beban saat mengucapkan kalimat satu milyar itu.


"mamak dan bapak, mau menikahkan anak atau menjual anak perempuan kalian?


Mikir dong kalau ngomong, uang satu milyar rupiah itu ngak main-main jumlahnya mak.


Lebih uang itu untuk modal usaha daripada membuang uang sebanyak itu hanya demi memuaskan hasrat mamak.


Sudah iya, bicara sama mamak ngak akan solusinya."


Mamak kemudian menarik tangan ku, karena hendak pergi meninggalkan mereka berdua.


"iya Tuhanku.....


kenapa lah mamak ku rakus, apa masih kurang uang nya."


"diam kau, sekarang hubungi kakak mu itu."


"ngak perlu mak, kami sudah ada disini."


Seketika aku hanya bisa tersenyum, melihat kak Maria yang datang bersama calon nya kemari.


Mereka berdua langsung dipersilahkan duduk dihadapan bapak dan mamak dan tentunya aku menyajikan teh dan pisang goreng yang baru saja ku masak.


"Gimana rencana kalian?"


Pertanyaan mamak yang langsung dan terlihat calon suaminya kak Maria tersenyum menanggapi pertanyaan itu.


"Josua sangat mencintai Maria, putri bapak dan ibu.


Kami ingin sekali menikah secara adat batak, dan keluarga juga sudah sepakat akan hal itu."


"terus bagaimana dengan keluarga mu?"


"sudah sepakat ibu, nanti di keluarga ku hanya jamuan biasa setelah pesta adat pernikahan di keluarga ini.


Pernikahan kami adalah kesepakatan dan Josua berharap kalau bapak dan ibu serta keluarga memberikan kami doa restu.

__ADS_1


Kami berdua juga sudah bertemu dengan bapa tuanya dek Maria, untuk bertanya apa yang harus kami lakukan.


Semua persyaratan sudah kami sepakati dan tinggal menunggu persetujuan bapak dan ibu, untuk mengundang mereka ke rumah ini untuk bicara lebih lanjut lagi."


"ngak usah muluk-muluk ya, mampu ngak memberikan mahar sebanyak satu milyar rupiah."


"Mak.......


bapak ngomong dong, jangan diam aja."


Seketika keluar emosi ku dan meminta bapak untuk bicara.


"Josua mampu kok bu, karena sudah...."


"Maria yang ngak setuju ko, memang Maria menginginkan pernikahan dengan adat batak, tapi ini pemerasan namanya.


Semuanya akan ditanggung oleh keluarga mu ko, dan mamak dan bapak hanya membawa keluarga kami dan biaya itu ngak semahal itu."


"tapi Maria, mahar itu suatu kehormatan bagi pihak keluarga perempuan."


"ngak ko....


mahar itu bukan patokan sebagai penghargaan kepada pihak keluarga mempelai perempuan.


Tapi keutuhan dan keharmonisan rumah tangga kita akan menjadi tolak ukurnya.


Kita akan menikah karena sudah sepakat, dan Maria ngai mau ada pemerasan di pernikahan kita."


"sudah cukup......."


Akhirnya bapak bicara dan menyanggah penjelasan kak Maria.


"mamak dulu sudah berjanji untuk tidak ikut campur akan urusan asmara anak-anak dengan perjanjian kalau anak-anak tidak memakai uang Mu.


(Boru\= sebutan putri di suku Batak).


Maria sudah melakukannya dan lihatlah boru kita ini, datang dengan baik-baik membawa calon hela kita."


(Hela\= menantu laki-laki, sebutan dalam suku Batak).


"tapi pak....."


"ngak ada tapi-tapian dan mamak harus menepati janji ya, jangan egois seperti itu.


Maria sudah melakukan apa yang mamak inginkan dan inilah yang di inginkan oleh Maria.


Harus ada timbal baliknya, dan hanya menuntut aja.


Maria dan calon nya, datang dengan cara baik-baik kehadapan kita, itu artinya kita masih dianggap orang tua baginya.


Masalah urusan keuangan dan lainnya mamak yang mengurus, dan untuk pernikahan putriku yang menepati janjinya adalah urusan ku."


"baiklah kalau begitu, asal kita jangan rugi aja."


Hadehhh.......

__ADS_1


Memang pikiran rentenir ini, hanya ada prinsip untung dan rugi saja. bahkan anak-anak nya hendak dijadikan nya sebagai ladang bisnisnya.


__ADS_2