
Sudah satu minggu Bisma mencari Mesya, namum tak sedikitpun dia mendapatkan petunjuk tentang keberadaan wanita itu. Rekaman cctv juga begitu susah Bisma dapatkan. Tak ada cara lain lagi kecuali menunggu kabar dari Ferry.
Kini Bisma sedang mengistirahatkan tubuhnya di sebuah kamar hotel yang ia sewa. Meski hati dan pikirannya tak ingin berhenti mencari Mesya, namun badannya sudah tak mampu lagi untuk di bawa mengelilingi kota Paris.
"Kamu di mana Sya??" Gumam Bisma menatap langit-langit kamarnya.
"Halo??" Jawab Bisma tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Kamu dimana Bisma??"
"Mama??" Bisma langsung terduduk begitu mendengar suara Mamanya yang sudah sangat menyeramkan itu.
"Kamu pikir siapa?? Kenapa kamu berhari-hari tidak pulang di saat pernikahan kamu tinggal beberapa hari lagi??"
"Bisma sedang ada di Paris Ma, Bisma kesini karena men..."
"Mama nggak peduli apa alasan kamu ada di sana sekarang!! Yang jelas Mama ingin kamu pulang sekarang juga!!"
"Tapi Ma..."
"Segera pulang sebelum Papa kamu tau kalau kamu pergi di saat seperti ini"
Bisma menghembuskan nafasnya pasrah. Dia sidah tidak bisa membantah Mamanya lagi.
"Baiklah Ma, Bisma ambil penerbangan tercepat setelah ini"
"Bagus, awas kalau kamu sampai bohong sama Mama!! Kita semua mengunggu kepulangan mu. Jangan buat Mama malu di hadapan keluarga Alya!!"
Brukk...
Bisma kembali menjatuhkan tubuhnya setelah panggilan dari Mamanya itu berakhir.
__ADS_1
Jelas mereka mencari keberadaan Bisma. Seminggu ini dia jelas-jelas mengabaikan semua urusannya di Indonesia termasuk Alya dan pernikahannya.
Bisma menyadari jika dia bukanlah pria yang tegas dalam mengambil keputusan saat ini. Dia terus menggantung hubungannya dengan Alya. Meski Alya menganggap pernikahan mereka adalah sebuah kepastian.
Tampaknya kini memang dia harus menyerah. Dia harus kembali ke Indonesia dulu untuk menyelesaikan semuanya. Sementara untuk urusan Mesya, Bisma akan menyuruh orang kepercayaannya untuk mencarinya sampai ketemu.
"Baiklah Mesya, mari kita buat kepergian kamu hanyalah sia-sia belaka" Ucap Bisma dengan keputusasaannya.
*
*
*
"Aku pulang Ma"
Bisma mencium tangan Mamanya yang tampak acuh dengan kepulangan putranya.
"Mama??"
"Kamu sudah pulang Bisma??" Kini justru suara Papanya yang terdengar dari belakangnya.
"Sudah Pa" Bisma melihat aura tidak menyenangkan dari kedua orang tuanya saat ini. Alhasil dia hanya bisa diam dan duduk di dekat Mamanya.
Dia tau kalau wajah masam yang kedua orang tuanya perlihatkan itu akibat perbuatannya.
"Apa yang akhirnya membuatmu kembali ke sini setelah satu minggu kelayapan tak jelas??" Jika wajah Papanya sudah mengeras seperti itu, tandanya sudah menyimpan kemarahan di dalam hatinya.
"Pa aku min..."
"Papa tau kalau kamu sudah dewasa Bisma. Dan harusnya kamu juga tau kalau tidak sepantasnya kamu melakukan hal yang kekanakan seperti ini!!" Wajah Papa Bisma berubah merah padam melihat kelakuan putranya.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa berbuat seenaknya seperti ini!! Kelayapan tidak jelas di saat calon istri kamu mempersiapkan pernikahan kalian seorang diri!!"
Sudah lama sekali Bisma tidak melihat Papanya semarak ini kepadanya. Tampaknya Bisma begitu mengecewakan pasangan paruh baya itu karena pemikirannya yang telah terkontaminasi oleh cinta Mesya.
"Aku ke sana bukan untuk kelayapan Pa. Bisma han..."
"Papa nggak mau tau alasan kamu!! Yang Papa mau kamu harus bertanggungjawab dengan keputusan yang kamu ambil sendiri. Jangan buat malu keluarga Dirgantara dengan tindakan konyol mu itu!!"
"Setelah ini Papa tidak mau mendengar kamu pergi jauh lagi. Pernikahan kamu sebentar lagi, jadi segera persiapkan dirimu!!" Setelah berhasil meluapkan kemarahannya, Papa Bisma berlalu meninggalkan istri dan putranya itu.
Kini hanya tinggal Bisma dan Mamanya di ruangan itu. Meskipun begitu Mamanya tepat tidak mau membuka suaranya sejak tadi. Wanita yang sudah berumur itu tetap melihat lurus ke arah televisi di depan mereka.
"Ma??" Ucap Bisma.
"Aku tau aku salah, tapi hatiku juga sakit menghadapi semua ini Ma" Bisma duduk di lantai tepat di sebelah kaki Mamanya.
"Kamu mencintai dua wanita sekaligus??" Pertanyaan pertama yang keluar dari Mama Bisma.
"Tidak Ma, hanya satu yang aku cintai, tapi sekarang dia pergi entah kemana. Aku tidak bisa menemukannya sama sekali"
Mama Bisma melihat wajah putranya yang begitu kacau itu. Rambut berantakan dengan lingkaran hitam di matanya, membuat wanita yang melahirkan Bisma itu menjadi iba.
"Tapi kenapa kamu sampai melangkah sejauh ini?? Kenapa kamu harus mengorbankan perasaan Alya??"
"Maafkan aku ma"
Mereka berdua terdiam sejenak dengan pikirannya masing-masing.
"Sekarang wanita itu sudah pergi kan?? Dia memilih pergi darimu dan tidak mempedulikan cintamu. Lebih baik kamu jangan sia-siakan wanita yang masih bertahan di sisimu. Lagi pula kamu juga yang sudah memilih jalan ini. Jadi tetap lakukan sebagaimana mestinya. Mama yakin kamu masih bisa berpikir kan Bisma??"
"Tapi Ma.."
__ADS_1
"Mama juga wanita Bisma. Jadi Mama tau bagaiman perasaan Alya ketika kamu meninggalkan dia di saat pernikahan kalian hanya tinggal menghitung hari. Mama harap kamu bisa mempertanggungjawabkan pilihan kamu. Jangan bikin malu Papa dan Mama dengan batalnya pernikahan kalian!!. Kalau sampai itu terjadi, jangan datang lagi ke rumah ini!!" Mama Bisma membuang rasa tidak teganya kepada putranya itu, lalu beranjak menyusul suaminya masuk ke dalam kamar meninggalkan Bisma yang masih terdiam di tempatnya.