
Setelah berdebat cukup sengit dan akhirnya bapak menetapkan pendirian dan akan menerima berapa pun mahar yang di sanggupi oleh pihak mempelai laki-laki.
Lalu dibuat lah perundingan keluarga, dan disepakati mahar sebesar tiga puluh juta rupiah.
Segala bentuk biaya lainnya, mulai dari gedung, katering, biaya musik, video dan foto serta biaya-biaya lainnya ditanggung oleh keluarga mempelai laki-laki.
Disini mamak kami terlihat sangat rakus, karena nantinya hadiah-hadiah pernikahan berupa uang dan ulos serta hadiah lainnya akan diberikan kepada mamak.
Padahal semuanya biaya dari mempelai pria, memang sesuatu yang sangat menakjubkan dan itu tidak bisa ditawar-tawar.
Atas bujukan keluarga mempelai laki-laki kepada kak Maria dan akhirnya kesepakatan itu terjadi.
Keluarga calon mertuanya tidak mempersalahkan nya, yang penting pernikahan berjalan lancar dan tidak ada omongan buruk dikemudian hari yang bisa menggangu pernikahan kak Maria dengan bang Josua.
Sempat terpikirkan bagaimana nasib ku nantinya, kak Maria dan calon suaminya serta keluarganya adalah orang yang baik dan termasuk orang kaya raya.
Lantas bagaimana dengan pernikahan ku nantinya?
Nanti ajalah itu, yang penting jadi dokter hebat dulu, baru memikirkan pernikahan kalau sudah punya calon suami.**
Akhirnya kak Maria resmi menjadi istri bang Josua dan setelah selesai pesta adat pernikahan, pengantin itu langsung pergi bulan madu ke luar negeri.
Saat ini juga, mamak sudah membawa seluruh hadiah pernikahan ke rumah kami. mulai dari amplop, ulos, beras dan sebagainya sebagai hadiah pernikahan.
Di meja sofa dan masih bersanggul, mamak terus menghitung uang yang dikeluarkan dari amplop serta uang yang ada di sebuah wadah yang terbuat dari anyaman pandan yang disebut orang batak sebagai tandok.
Aku menemani mamak untuk membeli perlengkapan pesta ada pernikahan kak Maria, mulai dari penukaran uang sampai membeli ulos.
Dari mahar aja mamak, masih meraih keuntungan sepuluh juta rupiah dan bahkan lebih, karena masih tersisa uang tukaran.
haaaaaa....haha hahahaha haha hahahaha hahahaha hahahaha haha hahahaha hahahaha haha hahahaha.......
Mamak yang tertawa membuat kami menghampiri nya dan bang Sahala duduk disamping bersama bapak, dan kami bertiga sama-sama menatap mamak.
"dapat berapa Mak?"
Bang Sahala bertanya dan mamaknya itu langsung tersenyum sumiringah.
"Tuppak tor-tor nya berjumlah dua puluh lima juta rupiah dan tuppak amplop senilai empat puluh lima juta.
totalnya tujuh juta rupiah dan penjualan beras senilai delapan juta dan total semua terkumpul menjadi tujuh puluh delapan juta rupiah.
Ulos dan sarung belum mamak hitung nilai nya, ntar aja kalau sudah ada yang beli.
Tapi Maria curang."
"curang gimana maksud mamak?"
Mamak kembali menatap anak kesayangannya yaitu bang Sahala.
"sengaja Maria memintak hadiah pernikahan berupa emas, agar langsung diberikan kepadanya.
__ADS_1
kakak mu itu memang licik seperti ular, dasar pelit."
Mamak melirikku karena tiba-tiba aku menghela napas panjang.
"kau kenapa Arun? ngak senang?"
"atur mamak lah situ, mamak tanpa modal apapun sudah mendapatkan uang puluhan juta.
tapi masih tetap mengatai kak Maria licik seperti ular."
"diam kau."
Begitu lah mamak kami, mata duitan dan sangat menyukai uang.
"Mak......."
Mata mamak langsung beda kepadaKu, ketika aku mendekatinya dan langsung menyingkirkan uangnya.
"apa kau?"
"bapak, bang Sahala dan juga Aruna. memberikan hadiah emas perhiasan untuk kak Maria dan hanya mamak yang ngak memberikan hadiah untuk kak Maria.
Setidaknya beli lah kalung untuk kak Maria, sisa dari mahar nya itu aja Mak."
"iya loh mak, benar kata Aruna. nanti bilang aja kalau mamak lupa saat memberikannya karena sibuk mengurus pernikahan kak Maria.
Agar terlihat kalau kita menyayangi kak Maria di mata keluarganya Mak."
Bang Sahala mendukung ku, tapi mata mamak sangat tajam ke arahku dan seolah-olah aku sudah memprovokasi anak kesayangannya itu.
"Aruna ngak ngomong sama mak, karena ngak ada kado dari mamak untuk kak Maria."
"baiklah kalau gitu, besok temani mamak beli emas ya."
Sanggah mamak kepada bang Sahala dan langsung memerintahkan kepada ku untuk menemani membeli emas besok.
"okey mak.....
Mak.....
Aruna tukang pangkul mamak alias budak, yang mengangkut semua belanjaan mamak dan membantu mamak mengurusi semuanya.
Mamak ngak berinsiatif membeli anting-anting emas untuk Aruna?"
"ngak....
Dasar ular betina licik."
Jawaban yang teramat sadis, tapi aku sudah terbiasa mendengar hinaan nya.
"jangan gitu lah mak, kalau bukan karena Aruna, pasti mamak kerepotan.
__ADS_1
Belilah anting-anting emas untuk adek mak, anggap aja sebagai bonus.
Sahala ngak keberatan kok, kalau mamak memotong uang jajan Ku."
Issh.......
Kalau anak kesayangannya sudah bicara, maka mamaknya pasti memenuhinya tapi rentenir ini mengganggap kalau aku sudah mempengaruhi anak kesayangannya itu.
"buatkan dulu kopi mamak."
"jangan kopi ya mak, bandrek aja. kebetulan sudah siap disajikan ya, ntar mamak ngak bisa tidur lagi.
lagian mamak harus jaga kesehatan juga, biar ada kawan ku berantam tiap hari."
Akhirnya rentenir itu tersenyum juga dan memberikan ku uang tiga lembar uang pecahan lima puluh ribu.
Empat gelas bandrek yang sudah hangat, sudah tersaji di hadapan kami dan mamak meneguknya.
"kamu memang licik ya Aruna, bisa-bisa kamu membuatkan bandrek enak seperti ini agar mendapatkan uang mamak."
"selain untuk mendapatkan uang, Aruna juga ngak mau mamak mengkonsumsi gula berlebihan.
Aruna ingin bapak dan mamak dan juga bang Sahala, sehat selalu dan tidak makan sembarangan yang membuat daya tahan tubuh lemah."
"gaya mu lah, udah kayak dokter aja."
Sang rentenir itu tertawa, begitu juga dengan bapak serta bang Sahala.**
"Aruna........"
Sudah kebiasaan rentenir berteriak di pagi hari seperti ini, yang membuat ku kadang kesal melihatnya.
"apa sih mak? bisa ngak pelan memanggil nya?"
"harus kuat dong, kau kemana aja sih?"
"hadehhh.......
kalau ngak di dapur ya di belakang rumah dong mamak, kyak ngak tau aja."
"kenapa kopi mamak ngak manis dan ngak enak?"
"kopinya sudah Aruna kurangi, demikian juga gula nya.
Kurangilah Mak minum kopinya, kita ganti ke susu coklat tinggi kalsium ya."
"kok ngatur sih, berani ngak ngomong kyak gitu sama bapak mu?"
"kenapa ngak, nih bapak dah minum susu coklat tinggi kalsium yang sudah dibeli oleh Aruna.
Sejak mulai minum susu ini, badan bapak jauh lebih enak."
__ADS_1
"gitu ya pak, mulai besok minum susu aja deh."
Tentunya ngak mau rugi, susu coklat tinggi kalsium dan rendah kalori itu sangatlah mahal dan itu aku potong dengan uang jajan Ku dan saat nya menagih nya kembali.