KARMA

KARMA
Ilmu Menawar Yang Mempuni


__ADS_3

"Mak......


sini lima ratus ribu rupiah."


Seketika itu tatapan tajam mamak langsung mengarah kepada Ku dan meletakkan gelas kopi nya dengan cara membanting nya.


"dah melebihi mamak kau ini, maksud mu apa Aruna? cukup mamak yang jadi rentenir di rumah ini, kau itu jadi dokter aja."


"mamak ku sayang, Aruna sudah mengambil sampel darah mamak dan juga sampel darah bapak.


Setelah menelitinya dan menemukan solusi yang tepat, lalu membelikan susu tinggi kalsium dan rendah kalori untuk bapak dan itu harga nya mahal.


Mamak tau sendiri kalau Aruna minjam uang dari mamak."


"siapa suruh kau beli susu itu?"


"kalau ngak kek gitu, mamak dan bapak akan terus-menerus minum kopi dengan kadar gula yang tinggi."


"sudahlah mak, Aruna itu mencoba melakukan yang terbaik untuk mamak dan itu karena adek sayang sama mamak dan bapak."


Lagi-lagi anak kesayangannya membela Ku dan terlihat mamaknya itu tersenyum kepadanya dan sinis kepadaKu.


"apa sih bang Sahala, kok selalu ikut campur. apa bang Sahala sudah di pengaruhi gadis licik ini?"


"karena Aruna perduli dan sayang sama bapak dan mamak, hanya Aruna tuh yang sayang dan perduli sama mamak dan bapak.


Sahala aja ngak segitu perhatian nya sama mamak dan bapak, padahal mamak sudah memberikan semua perhatian mamak sama Sahala."


"iya bang iya ......


Nanti mamak tambahkan ke emas aja ya untuk adek mu."


"jangan gitu dong Mak, uang membeli susu itu seharusnya di gunakan Aruna untuk keperluan kuliahnya.


Tanpa emas juga Aruna bisa kuliah kok, janji mamak jangan di ingkari dong, berikan hak Aruna lah."


"iya bang iya....


Mau ke kampus ya? dah makan bang?"


"iya mak, ini langsung mau ke kampus. nanti aja makan nya di kampus, tadi dah di buat adek bontot makanan dan minuman untuk Ku."


Begitu manis senyuman mamak ke anak kesayangannya itu, dan sangat berbeda kepadaKu.

__ADS_1


"oh.....


Jadi Aruna mempengaruhi bang Sahala dengan cara memberikan bekal makanan kepadanya, agar memberontak ke mamak ya dan menguntungkan bagi mu."


"Terserah mamak mau ngomong apa ya, tapi yang jelas Aruna selalu memaksa bang Sahala, untuk selalu sarapan setiap paginya sebelum beraktivitas."


"abang mu kok mau?"


"Arun paksa, kalau ngak ku campakkan semua pakaiannya dan ngak bicara dengannya."


"kamu yakin kalau Sahala akan memakan bontot yang kamu bekali?"


"yakin dong, karena Aruna punya cara untuk mengetahuinya, mamak ngak usah banyak cerita, sini lima ratus ribu rupiah."


Memang emak-emak yang satu ini sangat susah untuk di nasehati, sudah sering kali aku melarangnya untuk menyimpan uang di dalam bra nya, tapi tetap aja dilakukan.


"bapak lapar, makanan sudah ada bisa di makan boru?"


"sudah pak, bapak sama mamak. makan aja duluan, Aruna mau menyelesaikan pekerjaan dulu."


"ngak ada kamus kek gitu, temani mamak dan bapak mu makan, sekarang....


kalau ngak, mamak akan batal membeli anting-anting untukmu."


Sanggah si rentenir ini, dan aku harus menemani mereka berdua untuk makan. tapi ngak apa-apa sih, toh juga cucian sudah selesai kok, hanya tinggal peras lalu jemur.


Tanya mamak disela-sela acara sarapan kami di pagi hari ini.


"Arun ancam tidak mau ngomong sama bang Sahala dan juga tidak mau perduli sama dia."


Mamak hanya tersenyum menanggapinya, demikian juga dengan suaminya itu. kemudian aku memberikan bukti video di saat bang Sahala sedang makan dari bontot yang sudah aku siapkan untuknya.


"karena kamu sudah perduli sama abang mu si Sahala, nanti mamak beli pakaian untuk Mu ya."


"jangan pakaian ya, beli buku aja. karena pakaian Aruna sudah banyak dari kak Maria."


"dasar gadis licik."


"bukan licik loh mak, tapi memang pakaian dari kak Maria sangat bagus dan cocok untuk Aruna.


Buat apa beli pakaian lagi, sementara butuh nya buku."


"sudah cukup ya, ini dari bapak aja untuk beli buku mu itu. kira-kira butuh berapa Aruna?"

__ADS_1


Aku tersenyum ke arah bapak, karena menjadi penolong ku disaat perdebatan dengan istrinya yang super pelit.


"yah.....


bapak hanya bisa membagi tiga ratus ribu, maaf ya."


"ngak apa pak, nanti Aruna tambah dari uang pegangan."


"sisanya biar mamak aja, emangnya butuh berapa sih?"


Mamak akhirnya buka suara, setelah bapak memberikan uang tiga ratus ribu rupiah. memang sisa uang yang ada di dompet bapak hanya tinggal lima puluh ribu rupiah lagi.


"beli nya di pasar aja, karena sudah buku bekas dan teman-teman Arun bilang mereka membelikannya sampai enam ratus ribu rupiah.


buku-buku itu hanya sebagai pembanding akan buku-buku baru yang sudah Arun miliki."


"buku bekas kok mahal benar, ya udah biar mamak aja yang nawar."


Ucap mamak dan mengambil uang tiga ratus ribu rupiah dariKu dan kemudian diberikannya kepada bapak lagi.


Tapi bapak memberikan seratus ribu untuk ku melalu bawah meja.


Setelah siap makan dan kemudian beres-beres dan kami langsung ke pasar untuk membeli hadiah dan juga buku-buku bekas untukku.


Setelah dari toko emas, mamak menepati janjinya untuk membelikan hadiah emas kepada kak Maria dan juga anting-anting untuk Ku.


Lalu kami menuju toko buku bekas dan aku langsung mencari buku-buku yang aku butuhkan.


Semua sudah ketemu dan semua buku berjumlah tujuh buku dan semuanya tebal dan kini saatnya mamak yang beraksi.


Gokil dan gila benar, mamak hanya membayar tiga ratus ribu rupiah dari harta delapan ratus ribu rupiah.


Lebih dari setengahnya dan aku hanya bisa tersenyum bahagia melihat penjualnya yang kesal melihat mamak.


Ternyata bukan hanya mamak ku yang sadis saat menawar buku-buku bekas itu, ada seorang ibu-ibu yang datang bersama anak laki-lakinya yang terlihat membeli buku-buku yang hampir sama seperti yang aku punya.


Bahkan ibu-ibu itu lebih sadis, ada sembilan buku yang di pegang anaknya dan serupa tebalnya dengan buku yang ku punya.


Tapi mamaknya membayarnya seharga dua ratus lima ribu rupiah, jadi mamak ku jauh lebih berperasaan dari mamak si laki-laki itu.


Belanjaan ku saja sudah satu kardus mie instan, yang di bungkus dengan plastik kresek hitam dan saat untuk memikul bahan belanjaan rumah.


Mulai dari perkara bumbu, ikan dan daging, minyak goreng dan sebagainya.

__ADS_1


Lagi dan lagi aku sebagai tukang pikul mamak, dan itu sudah biasa bagiku.


Dapat buku gratis dan tambahkan jajan serta barang baru berupa tas ransel yang terbaru.


__ADS_2