KARMA

KARMA
Satu syarat


__ADS_3

Siang ini Ferry di buat kaget oleh Bisma yang tiba-tiba memintanya untuk mengurus keperluan melamar Alya secara langsung ke rumah orang tuanya. Pasalnya Bisma belum pernah menyinggung tentang rencana itu sebelumya setelah malam reuni itu. Tentu saja itu membuat Ferry sempat bertanya-tanya dengan keputusan Bisma itu.


"Terus Om dam Tante gimana Bos. Apa lo udah kasih tau mereka??"


"Itu urusan gue nanti. Yang penting lo urus semua keperluan gue!!" Perintah Bisma tanpa bantah.


Ferry menatap Bosnya dengan curiga. Dia tau jika sahabatnya itu beberapa hari ini sering uring-uringan karena masalah mimpi itu. Dia sedang berdiri di antara dua wanita meski yang satunya adalah wanita yang dulunya tidak Bisma sukai sama sekali. Tapi sekarang tiba-tiba Bisma ingin melamar Alya secara resmi. Tentu saja itu membuat Ferry bertanya-tanya.


"Terus Alya gimana??"


"Nanti gue mau ketemu Alya, sekalian bahas masalah ini" Bisma mulai fokus pada pekerjaannya. Ia harap segera menyelesaikan pekerjaan yang menggunung itu lalu pergi menemui Alya.


"G*la lo Bos!! Jadi, lo ambil keputusan ini tanpa persetujuan dari Alya??" Ferry sampai mengusap wajahnya dengan kasar. Menurutnya Bisma begitu aneh dan sering bertindak di luar nalar setelah mengalami mimpi yang sampai sekarang belum membuat Ferry percaya itu.


"Kau tidak usah usah banyak tanya!! Cukup lakukan apa yang saya ingin kan dan segera keluar dari ruangan saya" Ferry sudah menciut karena Bisma sudah mengubah cara bicaranya.


"B-baik Bos. Saya permisi" Dengan sangat sopan, Ferry keluar dari ruangan Bisma.


Bisma memgepalkan tangannya di atas meja setelah Ferry keluar dari ruangannya. Dia menahan semua gejolak yang ada di dalam dirinya. Marah, kesal, kecewa, sakit, semuanya campur aduk menghujam dadanya kala mengingat permintaannya kepada Mesya tadi pagi.


FLASHBACK ON


"Kalau begitu, sesuai dengan keinginanmu. Aku akan segera menikahi Alya. Dengan satu syarat"


"Aku mau kamu yang menjahit baju pengantin untukku, sebagai bukti jika kamu benar-benar merelakan aku bahagia dengan Alya"


Meski Bisma melihat bola mata Mesya membesar karena mungkin terkejut dengan permintaannya itu. Tapi Mesya mengulas senyum tipis setelahnya.


"Kak Bisma ini gimana sih?? Kan Alya juga desainer, kenapa malah minta aku yang buatin baju untuk kamu?? Nanti gimana perasaan Alya coba??" Mesya melepaskan diri dari Bisma dan berbalik membelakangi pria itu.


"Itu biar menjadi urusanku. Yang penting buktikan dulu kata-katamu itu!!" Tantang Bisma.


"Baiklah, itu bukan hal yang sulit untukku" Jawab Mesya.


Bisma tersenyum miring karena keberanian Mesya itu. Bisma tidak menyangka jika Mesya akan menerima tantangan yang akan menjadi boomerang untuk hati Mesya sendiri.

__ADS_1


"Kalau begitu, buatkan aku baju yang tidak begitu mewah. Hanya desain yang sesuai dengan karakter ku, juga dengan ungkapan cinta yang besar di dalamnya. Karena aku ingin semua orang melihat betapa besarnya cintaku untuk calon istriku"


Tanpa menunggu Mesya mengeluarkan suaranya. Bisma telah pergi lebih dulu dadi ruangan itu.


FLASHBACK OFF


"Aku akan menuruti apa keinginanmu Sya. Aku tidak peduli kalau pernikahan ku akan menghancurkan perasaan mu. Semua ini karena salahmu sendiri karena tidak mau jujur kepadaku" Rasa marah dalam diri Bisma itu membuatnya mengambil keputusan yang sangat besar di dalam hidupnya. Yang tanpa dia sadari akan menyakiti kedua wanita itu.


*


*


*


Sore harinya Bisma datang ke butik Alya dengan membawa untaian mawar putih yang sudah di rangkai dengan indah. Bunga kesukaan Alya yang sering di bawa Bisma ke makam Alya di dalam mimpinya.


"Alya??" Panggil Bisma karena kekasihnya itu belum juga menyadari kedatangannya.


"Mas Bisma?? Aku merindukanmu" Alya memeluk tubuh tinggi Bisma itu. Pria yang sudah seminggu ini tidak ditemuinya membuatnya rasa rindu di dalam dadanya begitu menggebu.


"Terimakasih Mas, ini cantik sekali"


"Hemm, cantik seperti kamu" Bisma tak bohong, meski Mesya begitu cantik tapi Alya mempunyai daya tariknya tersendiri. Wajahnya yang mungil dengan lesung pipitnya, juga senyumnya yang manis dan sikap anggunnya, tak lupa kulit kuning langsat khas wanita Indonesia. Semua itu terlihat cantik di mata Bisma.


"Kenapa kamu datang kesini nggak bilang-bilang sih Mas??" Alya membawa duduk di sofa ruangannya.


"Memangnya nggak boleh??"


"Bukan gitu, kan kalau tau kamu mau datang ke sini. Aku cepat-cepat selesaikan pekerjaan ku dulu biar bisa jalan sama kamu" Alya melirik pekerjaannya yang masih begitu banyak. Baju-baju pesanan dari kliennya masih menumpuk di atas meja.


"Kamu sambil lanjutkan pekerjaan kamu juga kok Al. Hanya ada satu hal yang ingin aku bicarakan kepadamu" Alya tau kalau apa yang ingin di bicarakan Bisma itu adalah hal yang serius. Karena tak biasanya kekasihnya itu menunjukkan tatapan mata yang dalam dan menyiratkan sesuatu di dalamnya.


"Memang apa yang mau Mas Bisma bicarakan?? Apa ada masalah??" Alya begitu khawatir dengan Bisma.


"Tidak, semuanya baik-baik saja. Tapi.." Alya terus menatap Bisma karena pria itu tampak ragu melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Ya??" Tanya Alya.


"Aku ingin datang ke rumahmu untuk meminta kamu secara resmi Al" Lanjut Bisma membuat Alya membungkam mulutnya dengan penuh haru.


"Mas Bisma serius??" Tanya Alya bergetar.


"Iya, lusa aku akan datang bersama kedua orang tuaku ke rumahmu. Tolong sampaikan niatku ini kepada orang tuamu"


GREPP...


Alya menghambur ke pelukan Bisma. Wanita itu begitu bahagia karena akhirnya dia akan melepas status gadisnya. Dan itu ia berikan kepada pria yang sangat ia cintai.


"Aku senang sekali Mas. Setelah sekian lama akhirnya kita akan menjadi sepasang suami istri"


Nyesss....


Entah mengapa Bisma merasa bersalah kepada Alya karena dia tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti apa yang Alya katakan itu.


"A-aku juga Al" Dusta Bisma. Bisma juga tidak tau kenapa rasanya begitu hambar setelah mengatakan niatnya itu kepada Alya.


"Mas kamu tau tidak?? Aku bahkan sudah membuat sketsa untuk baju pernikahan kita" Alya mengambil buku di sampingnya. Memperlihatkan sendok sketsa sepasang baju pengantin yang belum sempurna itu.


"Tapi aku ingin Mesya yang membutakan ku baju untuk hari pernikahan kita Al" Ucapan itu tentu membuat Alya terkejut tak percaya. Alya sedikit kecewa karena itu hari pernikahan mereka tapi kenapa Bisma justru memilih orang lain untuk membuatkan baju pengantinnya.


"Tapi kenapa Mas??"


"Jangan salah paham dulu Al. Kamu tau sendiri kan bagaimana Mesya merundung mu hanya karena kamu adalah wanita yang aku sukai. Katamu dia sudah meminta maaf kepadamu dan sudah tidak ingin mengganggu mu lagi. Maka dari itu, aku meminta dia membuatkan baju untukku sebagai bukti kalau dia benar-benar akan melupakan ku dan tidak akan mengganggu hubungan kita lagi" Jelas Bisma.


"Tapi apa itu tidak akan menyakiti Mesya Mas?? Dia begitu mencintaimu, kalau aku jadi dia pun pasti akan merasakan sakit hati" Alya merasa niat Bisma itu akan menghancurkan hati Mesya. Alya tau bagaimana wanita itu tergila-gila dengan Bisma sejak dulu.


"Kalau dia setuju pasti dia sudah siap dengan semua itu" Ucap Bisma yang membuat Alya sudah tidak bisa membantah Bisma lagi.


"Baiklah tapi untuk bajuku, biar aku sendiri saja" Bisma hanya mengangguk menyetujui Alya.


"Maafkan aku Alya" Batin Bisma.

__ADS_1


__ADS_2