
Malam ini Bisma menjadi tak tenang. Rasa bahagia yang ia rasakan beberapa hari ini bersama Mesya harus terpengaruh oleh pesan dari seseorang. Kini Bisma semakin takut jika dirinya tidak akan bisa bersama Masya lagi setelah ini.
"Apa yang harus aku lakukan??" Bisma terus mondar-mandir di kamar apartemennya.
"Aku tidak peduli, bagaimanapun caranya. Aku haris tetap melindungi Mesya dan anak kami. Sekarang mereka yang paling berharga bagiku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Mesya lagi. Cukup aku saja yang membuatnya terluka semalam ini. Aku tidak ingin membuatnya sakit lagi"
"Sekarang hanya Mesya dan anakku yang akan menjadi masa depanku. Aku tidak mau menyesal kalau sampai kehilangan mereka"
Bisma mengambil lagi ponselnya, lalu mengetikkan pesan balasan untuk orang itu.
Untuk sementara ini Bisma akan mengikuti keinginan orang itu dulu agar dia tidak berbuat nekat dan mencelakai Mesya juga anak mereka.
Setelah semalaman tak bisa tidur, pagi harinya Bisma telah kembali ke rumah Mesya.
"Apa maksudnya semua ini Kak??"
Mesya yang tengah menjemur pakaiannya di kejutkan dengan kedatangan Bisma dengan banyak barang yang di bawanya.
"Tentu saja ini untuk mengisi rumah mu" Jawab Bisma dengan santai.
"Iya, tapi kenapa??" Mesya masih tak tau apa niat Bisma sebenarnya.
"Sya, kamu tidak mau pindah dari sini kan?? Makanya aku bawa semua ini ke sini. Kasur itu agar kamu lebih nyaman tidurnya. Aku juga ada sofa yang besar biar kamu nggak ada alasan untuk menolak ku tidur di sini, dan masih banyak lagi yang lain"
Dua orang yang di bawa Bisma juga Ferry telah masuk ke dalam rumah Mesya dan mengobrak-abrik di dalam sana. Mereka melakukan itu sesuai permintaan Bisma untum membuat rumah Mesya lebih terasa nyaman.
"I-ini apa Kak??" Sebenarnya Mesya sudah tau benda apa yang ada di depannya itu. Tapi Mesya tidak tau kenapa Bisma membawakan benda itu untuknya.
"Ini untuk kamu. Aku tau kalau kamu pasti bosan di rumah karena sudah tidak bekerja lagi. Jadi aku bawakan mesin ini. Kamu bisa menyalurkan bakat kamu lagi seperti dulu. Desainer hebat" Puji Bisma kepada Mesya. Bisma memang mengakui keterampilan Mesya dalam hal itu. Meski pembangunan butik Mesya tak luput dari campur tangan Papa Mesya, namun Mesya berhasil membuktikan hasil karyanya banyak di mintai. Berbeda dengan Alya yang membangun butiknya dari nol.
Mesya hampir menangis saat ini. Tiba-tiba dia teringat dengan butiknya yang sudah ia jual. Nama Brandnya juga pasti sudah tenggelam tak di ingat orang lagi.
__ADS_1
"Makasih Kak" Tubuh Bisma menegang karena Mesya tiba-tiba memeluknya.
Biasanya Bisma yang membuat Mesya menjadi gugup seperti itu, namun kini Mesya telah berhasil membalik keadaan.
"Kamu suka??"
"Suka Kak, makasih banyak" Mesya menghirup wangi Bisma dalam-dalam.
"Aku senang kalau kamu suka" Bisma melingkarkan tangannya ke pinggang dan punggung Mesya untuk membalas pelukannya. Entah mengapa, hanya dengan pelukan seperti itu Bisma merasa nyaman dan menemukan rumahnya kembali.
"Mbak Mesya!! Suaminya udah pulang ya??" Suara itu langsung membuat Mesya melepaskan pelukannya pada Bisma.
Mesya menoleh pada Bisma, dia tidak tau harus menjawab apa.
"Iya, saya suaminya Mesya!!" Jawab Bisma dengan tegas. Dia sedikit tidak suka dengan tetangga-tetangga Mesya itu. Mereka yang hampir saja mengusir Mesya dulunya.
Mesya masih terperangah menatap Bisma. Pria itu begitu mudahnya mengaku jika dia suami Mesya.
"Iya bu, tajir lagi"
"Kalau saya punya laki modelan kaya gini, saya nggak bakalan tinggal di rumah kumuh kaya gini"
"Benar Bu, jadi curiga. Sebenarnya yang bermasalah siapa. Jangan-jangan istrinya yang aneh-aneh makanya di buang suaminya" Mereka bertiga terkikik dengan pikiran konyol mereka itu.
Sementara Mesya telinganya sudah sangat panas saat ini.
"Maaf, sebenarnya ada perlu apa ya Bu?? Pagi-pagi sudah berkumpul di depan rumah saya??" Mesya mencoba meredam emosinya.
"Ya nggak ada apa-apa. Kita kan cuma penasaran, dari mana kamu dapat uang buat beli barang-barang sebanyak itu. Jangan-jangan hasil dari wanita simpanan. Ya maklum aja ya Mas, kan kita belum pernah lihat suaminya Mesya. Jadinya kita masih penasaran aja. Ya kan ibu-ibu??"
"Betuull" Jawab dua orang yang lainnya.
__ADS_1
Bisma bisa melihat Mesya yang sedang menahan amarahnya karena perkataan orang-orang yang suka bergosip itu.
"Mesya wanita satu-satunya dalam hidup saya. Dia juga bukan wanita simpanan seperti pikiran kalian. Dan masalah Mesya yang tinggal sendiri di sini, itu murni kesalahan saya yang telah mengecewakannya. Tapi sekarang kalian sudah lihat sendiri kalau saya sudah datang ke sini menemui istri saya. Jadi setelah ini saya harap kalian tidak lagi mengusik istri saya. Istri saya butuh ketenangan demi kesehatannya dan juga anak kami. Kalau sudah tidak ada lagi hal yang ingin kalian ketahui, silahkan pergi dari sini"
Mesya hanya terpaku mendengar semua kata-kata yang Bisma keluarkan untuk membela dirinya. Bisma seakan-akan bertindak sebagai suami sungguhan di hadapan tetangga Mesya itu.
"Gitu aja sewot. Ayo ibu-ibu, kita pergi saja dari sini!!"
Mereka bertiga benar-benar meninggalkan rumah Mesya setelah mendapatkan jawaban yang menurut mereka tidak mengenakkan dari Bisma.
"Sudah, tidak usah di pikirkan" Bisma mengusap kepala Mesya dengan lembut.
"Tidak Kak, lagi pula apa yang mereka katakan tidak sepenuhnya salah. Aku memang bukan wanita baik-baik. Jika saja mereka tau yang sebenarnya, mungkin mereka akan menertawakan ku saat ini" Tunduk Mesya dengan sedih.
"Tidak akan ku biarkan mereka melakukan itu sama kamu. Kecil bagiku untuk menghancurkan mereka" Bisma menunjukkan keseriusan dalam setiap katanya.
"Kak Bisma, aku percaya kalau itu mudah untuk kamu, seperti halnya kamu melakukannya padaku. Tapi aku tidak mau melihat orang melalui masa sulit seperti aku. Jadi biarkan saja mereka ya??"
Mesya di mata Bisma benar-benar berubah saat ini. Wanita di depannya itu bukanlah lagi wanita yang arogan, kasar dan ambisius seperti dulu.
Entah kenapa Bisma seakan terbius oleh Mesya yang sekarang. Rasanya Bisma tidak mampu menampik perasaan yang menyerangnya saat ini.
"Sya??"
Mesya menatap Bisma dengan keningnya yang berkerut.
"Menurut kamu, bagaimana perasaan Alya di atas sana kalau aku mencintai wanita lain"
Deg...
Hati Mesya seperti di hantam batu yang sangat besar. Rasanya sakit dan begitu nyeri di dalam sana.
__ADS_1