
Malam ini Bisma pulang ke rumahnya setelah sekian lama dia tidak menginjakkan kakinya di rumah besar itu. Terakhir dia pulang ke sana hanyalah di dalam mimpinya saat menjemput Mamanya dari bandara.
"Malam Pa, Ma" Bisma menghampiri kedua orang tuanya hang ternyata sedang berada di meja makan. Memang Bisma datang tepat saat jam makan malam di rumah itu.
"Wah anak bujang pulang juga akhirnya" Ucap Mama Bisma sambil memeluk putra semata wayangnya dengan singkat.
"Pasti ada maunya" Cibir Papa Bisma yang hanya di berikan senyuman oleh Bisma.
"Ya sudah kita bicara nanti saja, sekarang makan dulu ya" Papa Bisma hanya menatap istri dan anaknya itu dengan kesal karena istrinya itu terlalu memanjakan Bisma.
"Kerjaan kamu gimana??" Tanya Papa Bisma.
"Lancar Pa, kemarin sedikit ada malasah tapi sudah teratasi. Papa tidak usah khawatir, cukup jaga kesehatan Papa saja dan bahagiakan istri Papa ini"
"Cih... Anak kecil tau apa kamu soal membahagiakan istri. Kamu saja belum menikah" Cibir Papa Bisma.
"Justru itu yang akan aku bicarakan. Sekarang kita habiskan dulu makanannya. Setelah itu Bisma akan kasih tau apa maksud Bisma pulang malam ini"
Papa Bisma semakin tersenyum kecut karena dugaannya itu benar jika putranya itu pulang hanya karena ada niat terselubung.
Sebenarnya pria paruh baya itu juga sangat merindukan putranya itu. Dia rindu saat Bisma masih kecil dulu. Mereka sering menghabiskan waktu di akhir pekan untuk bermain bersama namun kini sudah sangat berbeda karena pekerjaan Bisma yang padat dan kesibukannya mengurus bisnis keluarga mereka.
Setelah ketiga orang menyelesaikan makan malamnya, kini mereka telah berkumpul di ruang keluarga.
"Pa, Ma. Sebenarnya maksud Bisma datang kesini adalah untuk meminta Papa dan Mama untuk meminta Alya kepada kedua orang tuanya. Bisma ingin menikahi Alya secepatnya"
"Apa??" Kaget Mama Bisma.
"Kenapa mendadak sekali??" Lanjut Mama Bisma.
"Hubungan kamu sudah begitu lama Ma. Sudah waktunya Bisma melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Mama juga sudah mengenal Alya kan??"
Papa Bisma sejak tadi terus menatap Bisma yang berada di depannya itu.
"Kamu yakin dengan keputusan mu itu??" Bisma bisa melihat sorot mata tajam dari Papanya.
"Te-tentu saja Pa"
Dari jawaban gugup Bisma itu membuat Papa Bisma yakin kalau sebenarnya Bisma belum sepenuhnya siap dengan keputusan yang dia ambil.
"Pernikahan itu bukan main-main Bisma. Wanita yang kita nikahi akan bertahan di sisi kita seumur hidupnya. Menjadi pasangan kita, menjalani hidup bersama-sama sampai tua. Maka dari itu kita harus menemukan pasangan yang tepat dan juga yakin dengan langkah yang kita ambil. Kalau masih ada keraguan di dalam hati kita, lebih baik jangan. Karena apa?? Jika kita mengambil keputusan yang salah, lambat laun pasti akan menyakiti keduanya. Bukan cuma dia saja yang sakit tapi kamu juga" Papa Bisma tak ingin pernikahan anaknya hancur karena Bisma yang masih ragu dengan keputusannya sendiri tapi di memaksa untuk melangkah lebih jauh.
"Papa harap kamu mempertimbangkan keputusan mu itu. Papa tidak akan melarang kamu menikahi wanita pilihan kamu. Tapi Papa hanya tidak ingin kalian menyesal di kemudian hari"
__ADS_1
Bisma menunduk begitu dalam di hadapan Papanya. Dia tau kalau Papanya bisa membaca situasi hatinya saat ini.
"Bisma yakin dengan keputusan Bisma Pa!!" Ucap Bisma seraya menegakkan badannya kembali.
Papa Bisma hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja meski dia tidak percaya sama sekali dengan ucapan Bisma itu. Dia akan melihat samapi mana Bisma bertahan dengan keyakinannya itu.
"Baiklah kalau itu memang keputusan kamu. Kapan kamu akan membawa kita ke rumah Alya??"
Mama Bisma sebenarnya merasa ada yang mengganjal di hatinya. Tapi dia sendiri tidak tau perasan apa itu. Namun demi putranya, dia akan melakukan apapun asalkan Bisma bahagia.
"Lusa Pa"
"Baiklah" Jawan pria kaya raya itu.
*
*
*
Dua hari telah berlalu, malam ini adalah malam yang sangat di tunggu Alya. Dimana Bisma akan membawa serta kedua orang tuanya untuk melamarnya secara resmi di depan kedua orang tuanya.
Alya sudah siap dengan kebaya berwarna rose yang melekat sempurna di tubuhnya. Kebaya hasil buatan tangannya sendiri yang tampak indah di pandang mata.
Yang di tunggu-tunggu pun tiba. Bisma membawa serta kedua orang tuanya, serta Ferry sahabat satu-satunya. Bisma yang tampak sangat gagah dengan kemeja matiknya, serta rambutnya yang di tata rapih semakin membuat pemuda itu terlihat tampan.
"Selamat datang Tuan Dirgantara" Sambut Kusworo dengan ramah.
"Terimakasih atas sambutannya Pak Kusworo. Saya dan keluarga sangat tersanjung" Balas Papa Bisma dengan hangat. Sedangkan tatapan tak suka malah di berikan Bisma karena dia mengingat bagaimana Kusworo di dalam mimpinya.
"Mari silahkan duduk" Kedua keluarga itu kini duduk saling berhadapan untuk menunggu Alya yang sedang di jemput untuk keluar dari kamarnya.
Tuk.. Tuk.. Tuk..
Suara hells yang berbenturan dengan lantai membuat semua orang menoleh ke belakang di mana suara itu berasal. Alya muncul dari sana dengan di gandeng oleh Ibunya.
Bisma sampai tak bisa mengedipkan matanya saat ini, sampai dia menggelengkan kepalanya dengan pelan karena bukan wajah Alya yang ia lihat saat ini, melainkan Mesya.
"Kamu kenapa?? Terpana ya sama kecantikan Alya??" Bisik Mama Bisma yang berada di samping anaknya itu.
"Bukan karena itu Ma. Tapi mungkin aku sudah g*la karena yang aku lihat saat ini adalah Mesya" Jawab Bisma di dalam hatinya.
"Jangan bilang yang ada di mata lo saat ini Mesya" Bisik Ferry yang membuat Bisma terperanjat karena pria itu bisa menebak pikiran Bisma.
__ADS_1
"Buang jauh-jauh pikiran lo itu Bos. Ini langkah yang sudah lo ambil. Jadi lo harus tanggungjawab dengan keputusan lo sendiri" Imbuh Ferry.
Saat ini Alya sudah duduk di apit kedua orang tuanya di depan Bisma dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.
Acara pun di mulai dengan sebagaimana mestinya. Papa Bisma juga sudah menyampaikan niatnya datang bertamu ke rumah Alya yang di terima baik oleh Ayah Alya. Mereka juga sudah menentukan pernikahan mereka yang akan di laksanakan tepat satu pulan setelah malam ini.
Semua yang ada di sana tampak begitu bahagia kecuali Bisma. Setelah dia berhasil melewati satu tahap sebelum pernikahan itu, dia justru semakin di landa rasa bimbang dan gelisah. Seakan-akan ada sesuatu dari hatinya yang tak menginginkan semua ini terjadi.
"Ayo calon pengantin foto dulu" Ucap seseorang yang sepertinya fotografer yang di sewa keluarga Alya.
"Fotoin gue sekarang" Bisma menyerahkan ponselnya kepada Ferry.
Bisma sengaja ingin mengambil fotonya bersama Alya yang menunjukkan betapa bahagianya dia malam ini.
Senyum yang sejak tadi di simpan Bisma kini merekah begitu saja saat dia berdiri di sisi Alya. Mereka sungguh terlihat seperti pasangan yang begitu bahagia malam ini.
"Makasih ya Mas?? Semoga semuanya lancar sampai hari pernikahan kita" Ucap Alya dengan matanya yang menunjukkan binar bahagia.
"Iya, semoga saja"
"Semoga saja aku segera mendapatkan keyakinan itu lagi Al. Aku sungguh tidak ingin menyakitimu walau hatiku sepertinya berkata lain"
-
-
Sementara itu di tempat lain, di dalam kamar yang sengaja di matikan lampunya oleh si pemilik. Seorang wanita sedang meratapi kisah cintanya yang tak bernah berlabuh sejak dulu.
Mungkin ini semua memang hukuman atas perbuatannya sejak dulu. Kini di umurnya yang hampir dua puluh tujuh tahun dia harus mencoba mengubur dalam-dalam perasaannya. Yang seharusnya di umurnya saat ini seharusnya sudah memikirkan sebuah pernikahan.
Meski begitu, melupakan seseorang yang sudah mengisi otaknya hingga tembus sampai ke syaraf-syarafnya pasti tidak akan mudah. Yang ia lakukan sekarang hanyalah pasrah, menerima keadaannya saat ini yang pastinya akan menggerogoti hatinya.
Ting..
Sebuah pesan membuyarkan semua lamunan Mesya.
Tak ada kata yang terucap dari Mesya setelah membaca isi pesan itu karena dia hanya seorang diri. Dia hanya mampu menunjukkan air matanya yang terjun bebas tanpa malu karena tidak ada siapapun di sisinya saat ini.
Sebuah pesan yang mampu meluluhlantahkan dunia Mesya saat ini. Pesan yang sengaja di tunjukkan pengirimnya untuk menyakiti hati Mesya.
Dialah Bisma, pria itu mengirimkan sebuah foto yang menunjukkan kebahagian bersama Alya yang telah melangsungkan acara lamaran malam hari ini. Serta sebuah tulisan yang mampu mencabik-cabik hati Mesya.
📩 Pernikahan ku satu bulan lagi. Segera buatkan baju untukku sesuai dengan janjimu!!
__ADS_1