
Tak pernah kusangka rumah nenek sejauh ini. Bilangnya cuma dikampung sebelah. Ternyata kampung sebelah lumayan juga jauhnya.
Aku sudah mulai ngos ngosan berjalan ketinggalan dibelakang nenek, tapi nenek tak sedikitpun menunjukan tanda tanda kelelahan.
“Sudah Non, pulang saja! Becek jalannya, belok! Nanti Non cape.” Sebentar sebentar nenek menyuruhku pulang
“Sudahlah Nek, tenang aja. Nanggung lagian.”
“Masih Jauh Non!”
“Kan ga tiap hari Nek.”
Hari ini Aku memang sudah niat bulat bulat untuk berkunjung ke rumah nenek. Kalau tidak dipaksa nenek tak bakalan mengijinkannya main kerumahnya. ‘Rumah nenek jelek non, Malu.’ Begitu selalu dalihnya.
Dia adalah nenek penjual sayur keliling komplek perumahan. Namanya Nenek Sainah. Tubuhnya tua namun gerakannya tetap gesit membawa keranjang sayuran yang dijajakannya dari rumah ke rumah. Biasanya aku mencocokan menu masakan dengan dagangan nenek yang dibawa saat itu.
Setiap kali datang nenek akan langsung duduk di lantai teras depan rumah sambil mengeluarkan sayur mayur, bumbu dapur dari keranjangnya sembari menunggu aku keluar. Nenek tak pernah mau diajak masuk, sekedar minum teh nyicip camilan atau sedikit sarapan.
“Aduh nenek seneng ditemanin Non. Non itu kaya cucu nenek. Baiik banget. Non itu nancep bener dihati nenek.”
“Siapa namanya Nek, cucu Nenek? Sekarang ada dimana?”.
“Sudah mati Non. Namanya Narti ”
“Ooh...”
__ADS_1
Setelah hampir dua jam kami berjalan, melewati sawah, melewati hutan bambu, melewati kali yang banjir airnya, melewati tanah lapang, kebun rambutan, melewati kuburan, rumput ilalang, sapi-sapi, kandangnya dan becek di jalan karena musim hujan, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang... Aku merasa tak asing dengan tempat ini. Dia pernah berada ditempat ini sebelumnya, tapi kapan?
Aku berhenti memandang sekelilingnya, ada sumur tua yang dindingnya berlumut, pohon belimbing, kerikil kerikil kecil diatas tanah yang lembab, rumput rumput yang mulai tumbuh. Aku pernah berada di tempat ini sebelumnya, tapi bukan disini. Jadi dimana?
“Ayo Non, Masuk” Seru Nenek dari seberang tanah lapang itu. Nenek berdiri di ujung sebuah gang yang ternyata jalan kecil menuju rumahnya. Dan tempat ini ternyata bisa dibilang halaman belakang rumah nenek.
Ah, Aku ingat sekarang. Dia pernah memimpikan tempat ini. Tempat ini pernah hadir dalam mimpiku! Sungguh mimpi yang aneh.
“Biar nenek jalan sendiri, nenek selalu kongkow sama Gusti Allah. Duh Gusti Allah yang tersayang kasihkan saya badan yang sehat. Rejeki yang mengalir barokah …” Cerita nenek sesampai dirumahnya. “Nenek tidak bisa Non diam saja dirumah, badan rasanya sakit semua kalau tidak kerja”. Lanjutnya.
Aku diam menyimak ceritanya. Setelah kuperhatikan lama-lama wajah nenek Sainah ini ternyata mirip sekali dengan nenekku. Sepertinya nenek yang sudah meninggal hadir dihadapanku. Mataku nanar! Benar, Nenek asliku hidup kembali!
🌾🌾🌾
Teringat saat saat terakhir bersama nenek, kami berdua saja dikamar saat itu. Sudah hampir seminggu nenek terbaring di kamar. Aku sedang membacakan surat yasin untuknya, ketika kurasakannya punggung nenek yang tadinya hangat perlahan-lahan menjadi dingin, hawa dingin merambat dari bagian bawah tubuhnya perlahan naik ke bagian atas, dadanya, leher sampai dingin sekujur tubuhnya, lalu nenek menutup mata.
Nenek meninggal dipangkuanku. Tak sepatah katapun nenek tinggalkan untukku, namun begitu banyak kenangan bersamanya karena aku adalah cucu kesayangannya.
Dulu, Nenek pun berjualan sayur keliling di komplek perumahan orang kaya didesaku. Berbeda dengan nenek Sainah, nenekku membawa sayur mayur dan belanjaan yang dijualnya dengan rinjing yang digendongnya dengan kain panjang yang diselempangkan di pundaknya lalu diikatkan dengan ujung kain satunya di atas pinggangnya, dan tampah yang disunggi di kepalanya.
Kalau sedang libur sekolah kadang aku ikut berjualan, berjalan disebelahnya dan sering kali tertingal dibelakanngya. Setiap pulang dari jualan nenek selalu membelikannya oleh oleh jajan pasar.
Rasanya kerinduanku kepada nenek dapat terobati dengan hadirnya nenek Saimah dalam kehidupanku. Ah rupanya itu yang membuat nenek Sainah terasa begitu istimewa buatku.
“Trus kalo tiap hari nenek jualan apa nggak cape nek?” Tanyaku kembali dari lamunanku.
__ADS_1
“Kalau lagi nggak jualan nenek pergi ngumpulin ranting kering buat masak. Minyak tanah mahal, Non. jadi masak pakai kayu.” Lanjutnya. “Tapi itupun nenek jarang masak, ada saja orang yang datang kasih makanan sama nenek”.
“Ooh… terus buat apa dong uang hasil jualannya? Berapa sih untungnya nenek jualan sehari kalau habis sayurannya?”
“Nenek kan ambil sayuran di warung, abis setor biasanya masih ada sisa sepuluh atau dua puluh ribu. Nenek pakai buat ngisi kencrengan di mesjid”. Begitu nenek menyebut kencrengan untuk kotak amal. “Setiap kali pengajian nenek tidak pernah lupa masuken itu uang hasil jualan nenek. Seribu, dua ribu atau lima ribu setiap hari. Kalau nenek sakit tidak ke mesjid biasanya nenek titip tetangga nenek untuk masukin itu uang ke kencrengan”.
Tertegun aku.
‘Kalau sakit sedang tidak ke mesjid biasanya nenek nitip tetangga..‘ Baru pernah dalam hidupku, menemukan hal yang seperti ini, nitip tetangga untuk memasukan uang ke kotak amal di masjid.
Rasanya malu hati. Malu pada diri sendiri, kadang malu memberi sedikit tapi memberi banyak pun masih banyak mikir. Nenek itu bekerja hanya karena hanya ingin bisa memberi dan memberi semua yang dia punya, tanpa berharap apa apa, hanya ingin disayang oleh Gusti Allah.
🌾🌾🌾
Di depan makam nenekku yang asli, mataku berkaca kaca.
Sejak dimakamkan dulu aku memang tak pernah berkunjung ke makamnya.
Kondisinya sangat tak tidak terawat, batu nisan tertutup lumut, rumput dan tanaman liar tumbuh di sana sini tinggi hampir menutupi seluruh makamnya. Lama sekali aku mengabaikannya. Aku memang tak pernah menyempatkan diri berziarah ke makamnya ketika pulang ke kampung halaman.
Mungkin nenek kangen padaku..
Atau aku yang diam diam merindukannya.
Kerinduan tak pernah terungkapkan karena terhalang waktu.
__ADS_1
Lalu hadirlah nenek Saimah yang mengingatkanku
Aku membersihkan rumput rumput liar itu, lalu berdiri didepan makam dan berkirim doa. Aku merasa nenek tengah memandangku cucunya dan tersenyum di alam sana.