
"Lagi apa??"
Mesya sedikit tersentak karena Bisma mengagetkannya.
"Ngagetin aja!!" Gerutu Mesya mengerucutkan bibirnya.
"Habisnya kamu serius banget sampai nggak sadar aku udah masuk dari tadi"
Saat Bisma datang, Mesya memang sedang fokus dengan mesin jahitnya. Jadi dia tidak mendengar suara apapun. Termasuk suara mobil milik Bisma.
"Maaf aku nggak dengar"
Hubungan Mesya dan Bisma memang kini mulai membaik sejak satu minggu yang lalu Bisma mengungkapkan perasaannya.
"Kamu jahit apa??" Bisma menarik kursi untuk duduk di samping Mesya.
"Jahit baju buat dedek, lucu yaa?? Kecil banget" Mesya menunjukkan potongan kain yang belum sepenuhnya jadi itu kepada Bisma.
"Bagus, dari dulu buatan kamu memang bagus" Puji Bisma. Memang kemampuan menjahit Mesya tak di ragukan lagi. Buktinya dia juga terpilih menjadi desainer utama di perusahaannya meski Mesya juga mendirikan butiknya sendiri.
Tapi mendengar pujian Bisma itu Mesya justru menunduk sedih.
"Tapi itu kan dulu"
Bisma langsung teringat bagaimana nasib dari butik Mesya. Bagaimana Bisma mengutus orang untuk menjarah isi butik Mesya waktu itu.
Tangan Bisma bergerak membelai rambut Mesya dengan begitu lembut.
"Maaf" Kata maat itu sering kali terdengar dari bibir Bisma untuk Mesya. Bahkan sudah puluhan kali Mesya mendengarnya.
"Dulu aku selalu mengatai mu jahat, licik dan kata-kata umpatan lainnya. Tapi ternyata aku gak jauh berbeda dengan kamu"
Mesya menatap manik mata Bisma yang menatapnya begitu dalam. Jarak mereka berdua begitu dekat saat ini, bahkan hanya sejengkal orang dewasa. Hal itu membuat Mesya bisa merasakan harum dari tubuh Bisma yang begitu ia sukai.
Mesya memejamkan matanya menikmati wani yang begitu menenangkan baginya itu. Wangi yang begitu maskulin namun masih terasa lembut di hidung Mesya.
Tapi sedetik kemudian, Mesya terpaksa harus membuka matanya karena benda kenyal dan basah yang mendarat lembut di bibirnya.
__ADS_1
Mata Mesya semakin melebar karena pria yang tadi ada di hadapannya kini telah menghapus jarak di antara mereka.
Bisa Mesya lihat jika Bisma memejamkan matanya seakan pria itu begitu menikmati apa yang sedang ia lakukan itu. Mesya yang belum terbiasa dengan hal seperti itu hanya mematung karena badannya kembali terasa kaku.
Meski begitu, Mesya bisa merasakan tangan Bisma bergerak manahan tengkuknya. Lambat laun bibir yang nempel itu mulai di gerakkan oleh si empunya.
Bibir Mesya merasakan geli yang bisa menjalar ke seluruh tubuhnya ketika Bisman memainkannya dengan begitu lembut. Kepala Bisma yang terus bergerak berpindah ke kiri dan ke kanan semakin membuat Mesya merasakan perutnya tergelitik oleh sesuatu.
Mesya benar-benar bisa di buat gila hanya dengan gerakan lembut seperti itu. Tak hanya berhenti sampai di situ, Mesya semakin merasakan udara di sekitarnya panas ketika lidah Bisma mulai menerobos masuk kedalam mulutnya.
Krukk..kruk...kruk..
Bisma terkekeh di tengah ciumannya lalu menjauh dari wajah Mesya.
"Kamu lapar??" Mesya tak bisa menahan malu sampai menutup wajahnya dengan baju bayi yang sedang dijahitnya tadi.
"Ya sudah, kita makan dulu. Makan di rumah saja ya?? Aku sudah membeli bahan-bahannya" Bisma menunjuk satu plastik besar di dekat pintu.
"Tapi aku tidak bi..."
"Aku yang akan memasak" Bisma langsung berdiri dan menggulung lengan kemejanya hingga batas siku.
Mesya hanya memperhatikan Bisma yang sibuk memasak dari meja makan. Dia tidak tau apa yang sedang di masak Bisma tapi aroma masakan Bisma benar-benar semakin membuat perut Mesya keroncongan.
"Sudah jadi, masakan khusus untuk Ibu hamil ku" Bisma membawa semua masakannya ke meja di hadapan Mesya.
"Waahhh, Kak Bisma ternyata jago masak ya??" Mesya benar-benar takjub dengan hasil masakan Bisma.
"Masak bukan hal yang sulit Sya, asal kita mau belajar. Udah ayo makan dulu. Aku juga sudah lapar"
"Bukan hal yang sulit bagaimana?? Jelas-jelas menjahit baju adalah hal yang paling mudah daripada memasak" Mesya menggerutu dengan pelan yang tanpa sadar mengundang tawa lebar dari Bisma.
Mesya semakin di buat melongo karena baru kali ini Bisma bisa tertawa selepas itu di hadapannya. Ingin rasanya Mesya menangis karena akhirnya tawa seperti itu bukan hanya untuk Alya seorang. Tapi Mesya langsung mengalihkan pikirannya agar air mata itu tidak merusak suasana bahagianya saat ini.
Mesya dan Bisma makan malam dengan ditemani obrolan kecil dari mereka. Sejak hubungan mereka membaik, sepulang dari kantor Bisma memang langsung pulang ke rumah Mesya lebih dulu sebelum kembali ke apartemennya. Sehari saja tidak melihat Mesya rasanya sungguh tersiksa.
Tapi yang membuat kesal Bisma adalah, Mesya sampai sekarang tidak pernah mengijinkan Bisma menginap di sana. Paling Bisma akan berbaring di sofa untuk melepas lelahnya kemudian pulang sebelum jam sepuluh malam.
__ADS_1
Kini mereka berdua telah selesai dengan makan malamnya. Mesya yang awalnya ingin membantu Bisma terpaksa harus kembali duduk karena Bisma melarangnya untuk menyentuh piring-piring kotor itu.
Alhasil Mesya kini hanya duduk di sofa empuknya sambil menunggu Bisma selesai mencuci piring.
"Kak Bisma nggak bawa baju ganti??" Mesya merasa kasihan melihat Bisma yang terlihat sudah tidak nyaman dengan setelah formal itu. Buktinya kemejanya sudah di gulung tak beraturan dengan kancing atasnya terbuka dua buah.
"Enggak, aku lupa" Biasanya memang Bisma selalu membawa baju di mobilnya.
Bisma duduk di sebelah Mesya. Lalu membaringkan tubuhnya hingga menjadikan paha Mesya sebagai bantalan kepalanya. Besarnya perut Mesya tak menjadi penghalang bagi Bisma untuk mencari kenyamanan di sana.
Meski sempat tertegun sejenak atas apa yang di lakukan Bisma itu, namun Mesya tersenyum setelahnya. Dia tidak pernah menyangka bisa berdua dengan Bisma dengan situasi seperti itu.
"Kamu capek??" Tangan Mesya membelai kepala Bisma yang ada di pangkuannya.
"Hemm, ada sedikit maslah di kantor" Bisma sampai memejamkan matanya karena merasa begitu nyaman dengan belaian lembut tangan Mesya.
"Kalau capek, kenapa harus kesini. Lebih baik Kak Bisma langsung istirahat di apartemen"
"Tentu saja karena aku mengkhawatirkan mu. Aku bisa uring-uringan kalau sehari saja tidak melihatmu"
Entah benar atau tidak tapi kata-kata Bisma itu membuat Mesya tersipu malu.
"Kamu semakin cantik kalau tersipu seperti ini" Bisma mencubit pipi Mesya dengan pelan.
Perasaan Mesya justru di buat semakin brutal karena pujian Bisma itu.
"Sya??"
"Ya??"
"Kita tinggal di apartemen aja yuk??" Ajak Bisma untum yang kesekian kalinya.
"Kenapa lagi Kak?? Kalau Kak Bisma lelah bolak-balik, nggak harus tiap hari nggak papa kok kesininya"
"Bukan karena lelah Sya. Aku hanya khawatir dengan keadaan kamu. Setiap malam tidurku tidak nyenyak karena pikiranku terus ke sini. Aku ingin melindungi kalian, aku takut terjadi apa-apa sama kalian" Bisma membelai lembut tempat persembunyian anaknya.
"Takut kenapa?? Kamu tidak pernah memberiku alasan yang jelas"
__ADS_1
"Maaf aku belum bisa memberitahu mu alasannya Sya"