KARMA

KARMA
Menjauh


__ADS_3

"Lo hutang penjelasan sama gue!!"


Pagi-pagi Ferry sudah menodong penjelasan saat Bisma baru saja memasuki ruangannya.


"Sabar!! Gue juga baru masuk" Bisma menatap tajam Ferry yang sudah duduk di sofa ruang kerjanya.


"Gue nggak ngerti kenapa lo aneh banget. Kemarin lo suruh gue cari tau tentang Mesya, terus tadi malam lo suruh gue buat antar Alya pulang dengan lo yang nggak tau pergi kemana. Dan parahnya lagi tadi malam gue jemput lo di dekat rumah Mesya. Sebenarnya apa yang ada dalam otak lo saat ini??" Ferry menjelaskan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Bisma hanya bisa menyandarkan kepala pada kursinya sambil memejamkan matanya.


"Kalau gue cerita, gue yakin lo nggak akan percaya Fer"


"Bodo amat. Gue nggak mau tau, lo harus cerita sekarang!!" Desak Ferry.


Bisma mengusap wajahnya dengan kasar. Dia memang tak bisa menyembunyikan apapun dari Ferry.


Dengan perasaan ragu jika Ferry akan percaya dengan mimpi yang di alami Bisma. Cerita itu mulai mengalir begitu saja dari bibir Bisma.


"Gue tau lo nggak percaya sama cerita gue Fer. Gue juga tau kalau lo cuma mau bilang kalau mimpi gue hanya bunga tidur aja. Tapi gue nggak pernah mimpi kaya gini Fer. Itu hanya mimpi tapi gue ingat semua detailnya, ingat semua rasanya" Bisma kembali merasakan nyeri di dadanya. Dia teringat bagaimana bagian terakhir dari mimpi itu. Dimana akhirnya Mesya meninggal karena menyelamatkan dirinya.


"Oke, anggap aja gue percaya sama cerita lo ini. Terus kalau itu mimpi, bukan berarti perasaan lo berubah sama Alya gara-gara Mesya kan. Lagi pula itu cuma mimpi lo aja Bos??"


Bisma sempat terdiam, dia sekarang tidak tau tentang perasaannya sendiri.


"Enggak Fer!!" Bantah Bisma.


"Gue yakin kalau Mesya juga mengalami mimpi yang sama" Yakin Bisma.

__ADS_1


"Maksud lo??"


"Lo tau sendiri gimana Mesya saat di dekat gue. Dia seperti perempuan j*lang yang rela melakukan apa saja demi mendapat perhatian gue. Tapi tadi malam, dia sengaja menghindar dari gue. Dia juga menolak bantuan gue sedangkan jika itu benar-benar Mesya yang dulu, pasti dia bakalan memanfaatkan kesempatan itu untuk dekat sama gue. Ditambah lagi tatapan dan cara bicaranya yang lembut sama persis kaya mimpi gue Fer!!" Bisma begitu menggebu-gebu menceritakan apa yang ia curigai dari Mesya.


"Wah kacau lo!! Bisa benar-benar g*la kalau sampai lo terlalu hanyut dalam mimpi itu. Dan kalau Alya sampai tau, lo jelas nyakitin dia Bos" Ferry sampai geleng-geleng dengan apa yang di alami Bisma saat ini.


"Gue tau Fer. Makanya gue bingung saat ini. Setiap gue ingat Mesya, pasti dada gue sakit Fer" Baru kali ini Bisma mau terbuka tentang perasaannya di depan Ferry.


Ferry tidak bisa berkomentar apa-apa setelah itu. Dia hanya diam sambil terus menata Bisma yang kembali memejamkan matanya.


Ferry lantas menghiraukan Bisma dan sibuk membaca pesan di ponselnya.


"Bos!!" Sentak Ferry dan langsung menghampiri Bisma.


"Sial lo!!" Umpat Bisma karena terkejut dengan suara Ferry.


"Buka email sekarang Bos!!" Perintah Ferry, namun karena Bisma terlalu lamban merespon dari Ferry. Sekretaris kurang ajar itu langsung menyerobot komputer Bisma.


Ferry masih fokus membuka email perusahaan yang baru saja masuk masuk.


"Kenapa dia tiba-tiba memutus kontraknya Bos??"


Ferry dan Bisma saling menatap setelah menerima email uang dikirim Mesya itu. Di dalam email itu, Mesya secara tiba-tiba memutus kontraknya ke perusahaan Bisma. Mesya juga telah bersedia membayar pinalti karena memutus kontrak itu secara sepihak.


"Aneh kan Fer??" Tanya Bisma yang setujui oleh Ferry.


"Lo tau sendiri kan?? Gimana gigihnya dia waktu itu?? Dia berhasil menyingkirkan beberapa kandidat desainer yang di lirik perusahaan kita dengan kemampuannya. Tapi kenapa dia sekarang memutusnya begitu saja??"

__ADS_1


Bisma semakin di buat yakin jika Mesya memang mengalami mimpi yang sama dengan dirinya. Dan sekarang ini Mesya sedang berusaha menghindarinya.


"Kalau ini memang mimpi, apa yang akan kamu lakukan saat bangun nanti??"


"Mungkin aku akan pergi jauh darimu, dan menjauh darimu. Aku tidak akan mengganggu hubungan kamu dan Alya lagi. Aku tidak akan menggunakan cara licik lagi untuk menarik perhatian kamu. Mau bagaimana pun caranya, kalau kamu memang bukan untuk ku, maka semua usahaku itu akan sia-sia. Lebih baik aku belajar melupakan kamu. Melihat kamu bahagia rasanya lebih berarti bagiku daripada membuatmu hancur seperti saat kamu kehilangan Alya"


Bisma teringat dengan ucapan Mesya di dalam mimpinya saat itu.


"Gue semakin yakin kalau Mesya sengaja melakukan ini untuk menghindari gue Fer" Bisma mengepalkan tangannya dengan kuat. Ada rasa marah pada dirinya karena Mesya tidak menyinggung tentang mimpi itu semalam.


"Tadi malam kamu juga sempat memanggilku "Mas" Sya. Aku yakin kalau itu tidak kebetulan atau salah bicara. Itu karena kamu sudah terbiasa memanggilku seperti itu di dalam mimpi" Yakin Bisma di dalam hati.


"Terus lo mau apa sekarang?? Gue percaya kalau lo merasakan sesuatu dari mimpi itu, tapi come on Bro!! Itu cuma mimpi!! Lo nggak mungkin kan samperin Mesya terus lo cerita sama dia tentang mimpi itu. Terus kalian hidup bersama seperti di dalam mimpi dan meninggalkan Alya yang tadi malam baru saja lo lamar"


"Lebih baik lo tenangkan diri lo sebentar Bos. Gue yakin berlahan perasaan itu akan hilang seperti mimpi-mimpi yang lainnya. Lo cuma terbawa perasaan dari mimpi yang baru kemarin itu Bos. Jadi gue harap lo jangan sampai hanyut di dalamnya. Pikirin Alya"


Ferry mencoba menenangkan Bisma yang terlihat kacau dengan perasaannya itu.


"Gue keluar dulu, jangan terlalu di pikirkan" Ferry menepuk pundak Bisma beberapa kali sebelum keluar.


Bisma tak mendengarkan ucapan Ferry. Dia bisa berkata seperti itu karena dia tidak mengalami mimpi itu sendiri. Sedangkan Bisma, sebenarnya dia juga tidak ingin mempunyai perasaan yang timbul hanya karena mimpi itu. Tapi rasa yang menyerang hari Bisma saat ini begitu mendalam dan sangat menyiksa.


"Mesya" Lirih Bisma.


"Kenapa sekarang kamu begitu menghantui pikiranku"


Bisma merogoh ponsel yang masih di simpan di dalam saku jasnya. Jemari panjang milik Bisma membuka aplikasi pesan di dalam ponselnya. Dia mengetikkan sebuah nama yang sangat jarang sekali ia hubungi sampai namanya tenggelam tertutup pesan-pesan dari orang lain.

__ADS_1


Bisma melihat foto yang tertera pada pemilik nomor itu sudah kosong dan berwarna putih. Bisma tersenyum kecut setelah itu.


"Kamu bahkan sampai memblokir nomorku Sya. Apa langkah mu untuk menjauh dariku di mulai dari sini??"


__ADS_2