KARMA

KARMA
Keputusan Mesya


__ADS_3

"Bu Mesya, saya pulang dulu ya??" Susi akhirnya memutuskan masuk ke dalam ruangan Mesya setelah melihat lampu ruangan Bosnya itu tak kunjung padam.


"Iya Sus. Kamu pulang saja, tidak usah menunggu saya. Pekerjaan saya masih banyak" Susi mengangguk melihat Mesya masih terus sibuk dengan mesin jahitnya.


"Kalau gitu saya pergi sekarang Bu"


"Hemm, jangan lupa tutup pintunya" Mata Mesya sama sekali tak beralih dari pekerjaannya. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya kain yang ada di tangannya kini cepat selesai membentuk sebuah baju pengantin milik Bisma.


Setelah kepergian Bisma tadi sore, Mesya langsung mengerjakan apa yang telah ia janjikan kepada Bisma itu. Dengan melewatkan jam makan malamnya, Mesya terus berkutat dengan kain-kain itu.


Tangan cekatan Mesya terus mendorong kainnya hingga melewati jarum dengan benang yang mengikatnya. Dia tak merasakan waktunya telah berjalan dengan cepat hingga semuanya telah selesai menjelang subuh.


Mesya memasangkan tuxedo pada mannequin yang sepertinya memiliki ukuran tubuh yang sama persis dengan Bisma. Begitu pas dan terlihat gagah hanya di pasang di sebuah patung seperti itu. Apalagi jika Bisma yang memakainya.


"Sungguh indah. Apalagi kalau Mas Bisma yang memakainya" Mesya mengusap bagian pundak patung itu, seolah-olah yang ada di hadapannya saat ini adalah prianya.


"Alya pasti sangat bahagia karena sebentar lagi akan bersanding dengan pria seperti mu Mas" Mesya mengulas senyumnya membayangkan bagaimana Bisma yang akan tampak sangat tampan mengenakan tuxedonya itu.


"Aku juga akan segera menikah denganmu Mas, seandainya saya aku tidak terbangun dari mimpi kita itu" Mesya menyeka kasar air matanya.


"Tidak, pernikahan antara aku dan kamu tidak akan pernah terjadi Kak. Aku lupa kalau akhir dari mimpi kita adalah perpisahan. Itu tandanya kita memang tidak pernah ditakdirkan untuk bersama"

__ADS_1


Kini Mesya melingkarkan tangannya ke pinggang mannequin itu. Menempelkan kepalanya pada dada keras yang tak sehangat milik Bisma.


"Mungkin aku sudah gila karena menganggap patung jelek ini dirimu Mas. Tapi aku ingin sekali merasakan hangatnya pelukan kamu lagi dengan keadaan yang tidak serumit ini"


"Kenapa rasanya harus sesakit ini Mas?? Hikk...hiks..."


Mesya mendekap erat patung itu dengan air matanya yang tumpah ruah. Mesya juga masih ingat betul jantung Bisma yang berdetak sangat kencang saat memeluknya kemarin.


"Janjiku sudah aku tepati Mas. Baju ini yang akan mengantarkan kamu menuju kebahagiaanmu. Kini sudah waktunya aku pergi. Aku tidak mau keberadaan ku disini membuatmu terus mengungkit tentang mimpi kita" Mesya melepaskan pelukannya, lalu merapihkan kembali tuxedo hasil karyanya. Untung saja baju pengantin itu tidak basah oleh air matanya.


"Lagipula aku juga tidak mau hatiku terluka. Aku memang bahagia jika kamu bahagia Mas. Tapi tanpa sada aku juga telah melukai hatiku sendiri. Jadi ini adalah keputusan terbaikku"


"Selamat tinggal Mas, terimakasih kenangan indah yang pernah kita alami meski itu hanya sebuah mimpi"


Mesya mengambil tas dan juga kunci mobilnya. Hari ini adalah hari dimana dia harus menepati satu janjinya lagi. Janji yang pernah ia ucapkan di dalam mimpi, yaitu menjauh dari Bisma.


*


*


*

__ADS_1


Jika Mesya memang sengaja tidak tidur karena menyelesaikan pekerjaannya, maka maka berbeda dengan Bisma yang sama sekali tidak bisa tertidur.


Akhir-akhir ini bukan hanya pikiran dan hatinya saja yang terganggu, namun juga pola hidupnya yang berantakan.


Makan tidak teratur, tidur pun tak pernah bisa tenang. Sungguh Bisma tidak ingin terjebak dalam keadaan seperti ini sebenarnya.


Bisma menyibakkan selimutnya dengan kasar. Pria bertubuh tinggi itu memilih duduk di sofa yang menghadap ke jendela.


"Cih..." Bisma tersenyum kecut dengan pikirannya sendiri.


"Makhluk yang bernama wanita memang aneh" Cibir Bisma.


"Dulu saat aku tak peduli, dia melakukan apapun demi menarik perhatianku. Tapi sekarang, di saat aku mulai menaruh perhatian kepadanya, mulai mencintainya, dia dengan mudahnya mengatakan ingin melupakan ku" Bisma terus mengingat bagaimana penolakan-penolakan yang di lakukan Mesya.


"Mustahil kalau dia bilang akan bahagia melihat seseorang yang dia cintai menikah dengan wanita lain. Alasannya sungguh klasik sekali" Ingin sekali Bisma mencari cara untuk menahan Mesya di sisinya, namun dia sadar jika dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Alya terlebih dahulu.


"Baiklah Mesya, kalau itu memang mau mu. Akan aku tunjukkan kepadamu jika aku bisa benar-benar bahagia tanpa harus mengemis cinta seperti itu kepadamu. Lagipula Alya sudah lama mengisi hatiku, pasti tidak akan sulit untuk mengembalikan cinta itu.


Mungkin ini adalah keputusan akhir dari Bisma. Mengejar Mesya secara terus menerus juga tidak akan menjadi baik bagi mereka bertiga. Disini yang paling tersakiti adalah Alya nantinya, dan Bisma telah berpikir tentang hal itu.


Bisma lalu kembali ke ranjangnya. Meraih ponsel mahal yang masih tergeletak di sana. Bisma tampak kesal dengan dirinya sendiri karena dirinya sampai lupa tidak membalas pesan dari Alya. Tanpa sadar, sikap Bisma itu telah membuat Alya berpikir jika kekasihnya itu telah berubah.

__ADS_1


__ADS_2