KARMA

KARMA
Peluk aku


__ADS_3

Mesya keluar dari mobilnya dengan tatapan kosong. Masih antara percaya dan tidak percaya tentang berbagai kejutan yang dia terima dua hari ini.


Pikirannya yang terus bergelut membuatnya tak menyadari keberadaan Bisma yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Sayang!!" Panggil Bisma.


"M-mas??" Kebiasaan gagap Mesya saat terkejut ternyata belum juga hilang.


"Kamu kenapa melamun seperti itu?? Sebenarnya kamu dari mana" Bisma merapikan rambut Mesya yang tertiup angin.


"Kita bicara di dalam saja ya Mas??" Jawab Mesya masih terlihat syok.


Dia lantas membuka butiknya yang sudah tutup lumayan lama itu. Dengan di bantu Bisma, Mesya telah memasuki butik yang masih bersih meski di tinggal selama tiga tahun. Barang-barang yang sengaja di tutup kain membuatnya tak berdebu.


Bisma menyibak kain yang menutupi sofa di ruangan Mesya untuk mereka duduk.


"Kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau Alya ternyata sudah menikah Mas??" Pertanyaan tiba-tiba dari Mesya membuat Bisma sedikit terperanjat.


"Jadi tadi kamu menemui Alya??"


"Iya, dan kenapa kamu nggak cerita sama aku??" Mesya sedikit kesal dengan Bisma.


"Kan kamu nggak nanya" Jawab Bisma dengan mudah.


Mesya menyandarkan kepalanya dengan kesal, rasanya dia ingin berteriak karena malu. Dia kira hidup Alya tidak bahagia setelah perpisahannya dengan Bisma. Namun melihat senyum Alya yang mengembang saat memperkenalkan suaminya tadi membuat dugaan Mesya salah besar.


"Kenapa kamu menemui Alya nggak bilang-bilang dulu sama aku??" Bisma menatap lekat pada Mesya.


"Kamu merasa bersalah sama dia lalu kamu mau minta maaf begitu??" Tebakan yangs seratus persen benar dari Bisma.


"Memang kenyataannya begitu" Jawab Mesya menghindari mata Bisma.


"Terus??" Tanya Bisma seperti tak serius menanggapi niat baik Mesya itu.


"Biar bagaimanapun perpisahan kalian itu karena aku Mas. Apalagi kita sekarang sudah benar-benar menjalin hubungan. Aku tidak mau terlihat bahagia di atas penderitaan orang lain. Tapi ternyata di..."

__ADS_1


"Ternyata dia sudah bahagia bersama suaminya kan??" Potong Bisma membuat Mesya semakin kesal.


"Kamu sih, nggak cerita. Aku kan malu Mas, apalagi tadi Alya mengenalkan suaminya langsung di hadapanku"


"Memangnya apa yang harus aku ceritakan Sya?? Dia sudah tidak ada hubungannya dengan ku sama sekali" Bisma mulai gemas dengan Mesya yang terus menekuk wajahnya.


"Tau ah, aku kesel sama kamu!!" Mesya membuang wajahnya enggan menatap Bisma, tapi Bisma justru terbahak melihat tingkah Mesya itu.


"Tapi ngomong-ngomong, gimana perasaan kamu waktu itu Mas?? Apa kamu sedih di tinggal Alya menikah??" Mesya kembali memalingkan wajahnya kepada Bisma.


"Iya aku sedih" Jawab Bisma dengan wajahnya yang berubah serius.


Mesya juga tampak mengubah mimik wajahnya. Dia memang yakin kalau saat itu Bisma pasti masih memiliki perasaan walaupun sedikit terhadap Alya. Makanya dia sedih saat Alya menikah lebih dulu setelah gagalnya pernikahan mereka.


"Jangan sedih gini dong mukanya" Bisma mencubit hidung Mesya dengan gemas.


"Aku sedih bukan karena masih ada rasa dengan Alya. Tapi saat itu aku sedih karena mereka sudah bahagia sedangkan aku masih menunggu cintaku kembali yang entah berada di mana waktu itu"


Bisma saat itu juga hadir di pernikahan Alya dan suaminya. Tanpa rasa sedih ataupun menyesal sekalipun, karena Bisma memang benar-benar sudah tidak ada rasa sedikitpun kepada Alya.


"Aku masih belum percaya Mas. Aku benar-benar nggak tau apa-apa selama ini"


"Ya karena kamu memang memutus semua akses komunikasi kita kan?? Niat banget kayaknya mau lupain aku" Cibir Bisma.


Mesya tersenyum karena melihat wajah kesal Bisma.


"Ya niat dong Mas. Namanya juga mau lupakan seseorang yang sudah melekat begitu erat di dalam hati"


"Halah omong kosong. Nyatanya kamu nggak bisa lupa sama yang sudah melekat erat ini kan??" Bisma semakin menggoda Mesya.


"Ya berarti niatnya belum terlalu kuat, makanya belum bisa lupa. Sebenarnya kalau benar-benar mau melu..."


"Apa?? Mau melupakan siapa??" Bisma mendekatkan wajahnya kepada Mesya. Memotong ucapan Mesya yang tidak ingin ia dengar itu.


"Jangan pernah berani untuk melupakan ku walau seujung kuku pun. Aku tidak akan pernah mengijinkannya!! Ingat itu!!" Mesya membeku mendengar ancaman Bisma dengan suara rendahnya itu.

__ADS_1


"I-iya Mas"


"Pintar" Bisma kembali menjauhkan wajahnya dari Mesya. Lalu bersandar pada sofa seperti yang Mesya lakukan.


"Kemarilah sayang" Ucap Bisma sambil merentangkan tangannya.


"Peluklah calon suamimu ini sayang. Apa aku harus dianggurkan seperti ini sejak tadi?? Aku masih begitu merindukan mu. Jadi berilah kehangatan mu melalui pelukanmu" Mesya benar-benar sampai terbengong karena Bisma yang begitu terus terang saat ini. Sungguh berbeda dengan Bisma yang dulu.


"Apa karena usianya yang sudah matang seperti saat ini, jadi dia tidak malu lagi untuk mengatakan keinginannya??" Batin Mesya.


"Melamun lagi??" Bisma membuyarkan pikiran Mesya.


"Tidak, aku hanya.."


"Mas!!" Mesya tersentak karena Bisma menariknya tiba-tiba hingga dia terjerembab ke pelukan Bisma.


"Apa sayang?? Biarkan seperti ini dulu. Sungguh aku masih sangat merindukan mu" Bisma melingkarkan tangannya di pinggang Mesya dengan posisi mereka yang masih bersandar pada sofa.


"Aku juga merindukan mu Mas, sangat sangat merindukan kamu" Akhirnya Mesya bisa mengungkapkan perasaannya tanpa beban sedikitpun.


"Rasanya nyaman sekali Sya. Seandainya saja kita sudah seperti ini sejak dulu. Pasti kita sudah menikah saat ini"


"Maafkan aku yang egois waktu itu Mas. Aku tidak memikirkan perasaanmu sama sekali" Sesal Mesya.


"Yang penting sekarang kamu sudah kembali ke sisiku sayang. Aku tidak sabar ingin menjadikan mu milikku seutuhnya" Bisma mengecup kening Mesya dengan penuh perasaan.


"Aku juga tidak sabar untuk menjadi istrimu Mas. Jadikan aku milikmu"


"Tentu saja, dan aku tidak akan menundanya terlalu lama, bahkan jika besok pun aku bisa" Jawaban Bisma membuat Mesya melepaskan pelukan Bisma.


"Mana bisa Mas, kamu aja belum ketemu sama Papa" Protes Mesya. Biar bagaimana pun dia masih punya orang tua. Tadi malam saja dia belum sempat membicarakan hal itu dengan Papanya.


"Kalau begitu nanti malam aku akan menemui Papamu untuk menikahi mu besok!!"


"Apa????"

__ADS_1


__ADS_2