KARMA

KARMA
Aku merindukannya


__ADS_3

"Tante masih nggak nyangka loh Sya, kalau kamu bakalan jadi menantu Tante. Pasalnya Tante dari dulu tau kalau Bisma tidak pernah melirik kamu sekalipun kamu sering mencoba menarik perhatiannya"


Mesya menghentikan tangannya yang sedang menyusun makanan di meja makan.


"Mesya juga tidak tau Tante. Awalnya Mesya juga ragu dengan Mas Bisma karena dia sudah menjalin hubungan yang begitu lama dengan Alya. Makanya waktu itu Mesya pergi menjauh agar Mas Bisma sadar dengan perasaannya. Tapi ternyata Mas Bisma bertahan sampai sekarang" Mesya memutuskan untuk menyembunyikan fakta tentang mimpi itu dari semua orang. Orang lain biarlah hanya Ferry saja yang tau. Karena itu terlalu mustahil untuk di dengar orang lain.


Sejak tadi Mama Bisma terus memperhatikan perubahan pada diri Mesya. Tutur katanya yang lembut juga penampilannya yang lebih dewasa tak seperti dulu yang energik dan berhiaskan barang-barang mahal. Mungkin menurutnya itu juga yang membuat Bisma bisa berpaling kepada Mesya.


"Waktu itu Tante juga terkejut karena tiba-tiba Alya datang kesini untuk membatalkan pernikahannya dengan Bisma. Dia bilang itu sudah menjadi keputusannya dengan Bisma. Tapi Tante bisa melihat ada kesedihan dan kekecewaan yang mendalam di sorot matanya. Tapi Tante tidak bisa memaksakan kehendak mereka karena mereka sendiri yang akan menjalani pernikahan itu" Mamanya Bisma mengingat bagaimana kelapangan hati Alya saat merelakan Bisma.mengejar cintanya.


"Mesya juga tau kalau Alya sangat mencintai Mas Bisma Tante. Maka dari itu, Mesya juga sangat merasa bersalah pada Alya. Mesya bahkan malu kalau sampai bertatap muka langsung dengan Alya saat ini"


Rencananya besok Mesya akan menemui Alya seorang diri. Biar bagaimana pun, dia bersalah kepada wanita itu.


"Sudahlah Mesya, semuanya sudah berlalu. Mau selama apapun hubungan mereka, tapi nyatanya mereka memang tidak berjodoh. Sekarang, jalani saja hidup kalian. Selama tiga tahun ini, Bisma sudah begitu menderita karena menunggumu kembali. Jadi kalian berbahagialah mulai sekarang"


"Iya Tante"


"Semuanya sudah siap. Tante panggil Om ke atas dulu untuk makan malam"


Mesya menatap kepergian Mamanya Bisma sendu. Memikirkan bagaimana reaksi calon mertuanya itu jika mengetahui masa lalu Mesya yang begitu buruk.


"Kenapa sedih??" Mesya terperanjat karena Bisma tiba-tiba ada di belakangnya.


"Mas, ngagetin aja!!" Mesya mengusap dadanya.


"Apa yangs sedang kamu pikirkan??" Bisma beralih ke sisi Mesya. Melihat wajah mendung itu lebih jelas.


"Aku hanya berpikir, bagaimana rekasi Mama kamu kalau tau perbuatan buruk ku dulu pada Alya. Aku rasa Mama kamu tidak akan me..."


"Ssstttt" Bisma menempelkan jari telunjuknya di bibir Mesya.


"Jangan ungkit lagi hal itu. Aku sudah bilang kalau itu hanyalah Mesya yang dulu. Mesya yang ada di hadapanku ini adalah Mesya yang penuh kasih sayang. Tidak usah berpikir yang aneh-aneh, mengerti??" Mesya terhipnotis dengan tatapan lembut yang di berikan Bisma hingga tanpa sadar ia mengangguk begitu saja.


"Pintar!!" Tangan Bisma berkah ke pipi lembut Mesya.


"Baru di tinggal bentar aja udah pegang-pegang kaya gitu Pa. Emang lebih baik segera nikahkan mereka saja. Daripada mereka kasih depe cucu duluan" Celetuk Mama Bisma yang tiba-tiba datang dan melihat kemesraan anak-anaknya itu.


"Astagfirullah Mama!!" Papa Bisma sampai mengelus dada dengan ucapan istrinya yang terlalu frontal itu.


"Apaan sih Mama, cuma pegang pipi doang kok. Nggak bakalan bikin hamil juga"


"Mas!!" Kini Mesya yang protes dengan ucapan Bisma.


"Sudah-sudah ayo makan saja daripada kalian semakin ngawur ngomongnya" Papa Bisma ingin mengentikan anak dan istrinya yang tampak kompak itu.

__ADS_1


Mesya masih merasa canggung jika di hadapan Papa Bisma. Makanya sejak tadi dia hanya diam menundukkan kepalanya saja. Makan malam itu juga terkesan hening karena tak ada suara percakapan apapun sejak tadi.


"Mesya, saat kamu di luar negeri, kamu tinggal di mana??" Mesya langsung mengangkat kepalanya karena dia mendapat pertanyaan itu dari Papanya Bisma.


Bisma juga ikut melihat ke arah Mesya yang duduk di sampingnya. Dia juga belum sempat menanyakan hal itu kepada Mesya. Bisma ingin tahu dimana Masya bersembunyi sampai tak bisa menemuinya.


"Mesya tinggal di rumah teman Mesya Om, namanya Helena. Kami bertemu di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Kami sempat tidak berkomunikasi sebelum Mesya memutuskan untuk datang ke sana"


"Laku kenapa Bisma tidak bisa menemukan mu sama sekali??" Tanya Papa Bisma lagi yang sangat mewakili Bisma.


"Mungkin karena Mesya hanya bertemu sekali dengan Helena dan kami jarang berkomunikasi. Masya juga membuang nomor ponsel Mesya sehingga Mas Bisma tidak bisa melacak keberadaan Mesya di sana. Juga rumah Helena yang terletak di pinggiran kota yang tidak terlalu padat penduduk, mungkin itu yang membuat Mas Bisma tidak bisa menemukan Mesya Om" Papa Bisma mengangguk mendengar penjelasan dari Mesya itu.


"Lalu, apa kamu yakin dengan pria yang mengobral cintanya kepada mu ini?? Dia sudah pernah mengecewakan hati wanita lain. Kamu tidak takut dia akan mengecewakan mu juga??" Pertanyaan Papa Bisma kali ini membuat Mesya seolah di ingatkan dengan kenyataan bahwa dirinya penyebab Bisma menjadi pria plin-plan seperti itu.


"Pa!!" Protes Bisma.


"Kita tidak akan tau tanpa kita mencobanya dulu Om. Kalau memang di akhir nanti Mas Bisma juga akan mengubah keputusannya, maka Mesya yakin kalau kita memang tidak berjodoh. Tapi sejauh ini, Mesya yakin dengan Mas Bisma"


Mendengar jawaban Mesya itu, hati Bisma begitu bahagia. Ia meraih tangan Masya yang berada di bawah Meja. Menggenggam erat tangan Mesya yang begitu dingin karena kegugupannya.


"Kali ini Bisma juga yakin Pa. Papa bisa pegang kata-kata Bisma. Kalau Bisma sampai mengulangi kesalahan yang sama, Papa bisa coret Bisma dari keluarga Dirgantara saat itu juga"


Papa Bisma hanya bisa mengulas senyum melihat keyakinan di mata Bisma. Berbeda pada saat Bisma meminta ijin untuk menikahi Alya.


*


*


*


"Yakin Mas. Aku bawa mobil sendiri, aku juga nggak mau kamu bolak balik hanya untuk mengantarku. Lagipula ini belum terlalu larut" Mesya begitu keras kepala. Dia tetap menolak Bisma untuk mengantarnya.


"Tapi langsung hubungi aku jika ada apa-apa di jalan"


"Iya Mas, nanti kalau sampai rumah aku juga akan langsung menghubungi mu. Aku pulang dulu ya??"


"Hemm, hati-hati" Sebelum Mesya memasuki mobilnya, Bisma sempat mengusap kepala Mesya dengan lembut.


Mesya lekas melajukan kereta besinya itu. Membelah kota di keheningan malam. Dalam hati Mesya saat ini, dia masih tak menyangka karena bisa bersama dengan Bisma kembali. Padahal kepulangannya ke Indonesia karena mengira jika Bisma telah bahagia dengan rumah tangganya bersama Alya. Semua dalam hidup ini memang tak sesuai dengan prediksi kita, Mesya sadar akan hal itu.


Mesya juga merasa dirinya menjadi wanita gampangan saat ini. Buktinya, hanya dengan sekali bertemu dengan Bisma, Mesya sudah menerima ajakan pria itu untuk menikah. Padahal dulu Mesya sudah menolak dengan keras keinginan Bisma itu.


Terlalu berkutat dengan pikirannya itu membuat Mesya merasa begitu capat sampai di rumahnya. Kini mobilnya masih berada di depan pintu gerbang untuk menunggu Mang Ujang membukakan pintu untuknya.


Tok..tok..

__ADS_1


Ketukan di kaca mobilnya membuat Mesya sedikit terperanjat.


"Mas??" Mesya tak percaya dengan apa yang dia lihat. Orang yang mengetuk kaca mobilnya adalah Bisma.


"Keluarlah sebentar"


"Kamu kok ada di sini??"


"Mana tega aku membiarkan kamu pulang sendiri malam-malam begini" Tiba-tiba Bisma menarik tangan Mesya dan menggenggam jari-jari Mesya saja.


Mesya merasa meleleh dengan apa yang dilakukan Bisma. Ternyata Bisma mengantarnya pulang secara diam-diam. Tapi bodohnya Media tak menyadarinya sama sekali.


"Tapi nanti kamu kecapekan Mas"


"Tinggal minta pijitin kamu aja, gampang kan??" Goda Bisma membuat pipi Mesya bersemu.


"Kamu mau masuk dulu Mas??"


"Kapan-kapan saja. Nggak enak sama Papa kamu. Sekarang masuklah dan lekas istirahat" Perintah Bisma kepada kekasihnya itu.


"Aku akan masuk tapi aku tetap akan menunggumu sampai rumah baru aku istirahat"


"Baiklah, aku pulang" Bisma menunjukkan senyumnya untuk Mesya. Mereka benar-benar seperti pasangan anak muda yang sedang di mabuk cinta.


"Hati-hati Mas" Bisma melepaskan tangannya secara berlahan. Seolah-olah tak rela melepaskan tangan Mesya. Begitupun Mesya gang seperti menahan tangan itu untuk tetap menggenggamnya.


Berlahan tangan itu terlepas. Bisma masih mengulas senyumnya sambil berjalan mundur menuju mobilnya. Dia masih belum mau berbalik menyia-nyiakan wajah Mesya yang masih tersipu malu itu.


"Sya!!" Panggil Bisma dengan jarak yang lumayan jauh.


"Yaa??"


"Aku mencintai mu!!" Ucap Bisma sedikit lantang.


Mesya menutup wajahnya dengan malu sebelum membalas ungkapan Bisma itu.


"Aku juga mencintaimu Mas Bisma!!" Balas Mesya.


Tak tahan dengan tingkah Mesya yang begitu manis membuat Bisma berlari mendekati Mesya lagi.


"Kenapa Mas?? Ada yang ketinggalan??" Mesya bingung karena Bisma kembali mendekat kepadanya.


"Ada, aku belum memberikan ini untukmu!!"


Cup...

__ADS_1


Mata Mesya langsung melebar karena Bisma menyatukan bibir mereka. Apalagi saat ini Bisma mulai menggerakkan Bibirnya dengan lembut.


"Buka sedikit bibirmu sayang, aku merindukannya" Ucap Bisma tanpa menjauhkan bibirnya


__ADS_2