KARMA

KARMA
Datang terlalu cepat


__ADS_3

Keesokan harinya, Mesya sudah di perbolehkan pulang. Dan saat ini Mesya telah duduk di dalam mobil milik Bisma dengan si pemilik mobil itu duduk di sampingnya.


Suasana di salam mobil itu tampak dingin dan mencekam, bukan karena adanya makhluk astral dari dunia lain. Namun itu yang di rasakan Ferry yang telah mengemudi dengan dua penumpang di belakangnya.


Sejak Bisma dan Mesya masuk ke dalam mobil itu, Ferry tidak mendengar satu kata pun lolos dari bibir mereka berdua. Itulah yang membuat Ferry merasa tak nyaman berada di antara dua manusia yang tengah saling terdiam itu.


"Terimakasih Fer" Ucap Mesya ketika mobil Bisma sudah masuk ke pekarangan rumah kontrakannya.


"Sama-sama Sya"


Meski sejak tadi hanya diam, namun Bisma juga turun mengikuti Mesya masuk ke dalam rumahnya.


"Apa kamu yakin masih mau tinggal disini??" Satu kalimat akhirnya keluar juga stelah aksi diam mereka.


Memang sejak kejadian tadi malam dimana Bisma mencium Mesya, terjadi kecanggungan di antara mereka berdua.


"Iya Kak, aku sudah terlanjur nayaman di sini"


"Kamu tidak mau pindah ke apartemen ku??"


"Aku mau di sini saja. Lagipula aku tidak mau merepotkan kamu" Jawab Mesya dengan seulas senyumnya.


"Sya, sudah aku bilang kalau aku tidak merasa direpotkan. Aku sudah tegaskan tadi malam.kalau kita akan menjalani semua ini bersama-sama. Aku akui Sya, akal aku belum sepenuhnya melupakan Alya, tapi aku juga tidak mau jauh darimu"


Hati Mesya bergetar mendengar kejujuran dari Bisma.


"Yakinkan hati kamu dulu Kak, beri hati kamu waktu. Kita jalani saja dulu seperti ini, sambil kita mengikuti arusnya"


Bisma benar-benar di buat kacau menghadapi wanita yang dulu tidak pernah di gubrisnya itu.


"Oke, aku ikuti mau kamu. Tapi jangan pernah larang aku untuk melakukan apapun yang aku mau demi kamu dan calon anak kita!!"


Mesya merinding sendiri mendengar ucapan Bisma yang begitu di tekankan itu.

__ADS_1


"Iya, terserah Kak Bisma"


"Sekarang masuklah. Istirahat yang cukup, jangan kemana-mana dulu!! Sekarang aku harus kembali ke kantor"


"Iya Kak"


Bisma berbalik untuk kembali ke mobilnya dimana Ferry masih setia menunggunya di sana.


"Hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa hubungi aku" Ucap Bisma setelah berbalik kembali pada Mesya.


"Iya, Kak Bisma hati-hati" Entah mengapa Bisma merasakan hatinya menghangat hingga bibirnya mengulas senyum yang begitu tipis sampai Mesya saja tak menyadarinya.


"Jalan Fer!!"


"Siap Bos!!"


Mobil Bisma mulai meninggalkan pekarangan rumah Mesya meski mata Bisma tak mau lepas dari Mesya yang masih berdiri di tempat semula.


"Gimana Bos??"


"Hubunganmu dengan dia"


"Dia siapa??" Kini Bisma membalik ucapan Ferry waktu itu.


"Ya elah, siapa lagi kalau bukan Mesya" Kesal Ferry.


"Dia nolak ajakan gue buat hidup sama-sama"


"Maksudnya hidup sama-sama??" Ferry bingung dengan jawaban ambigu dari Bisma itu.


"Ya kita sama-sama besarin anak kita gitu" Ferry rasanya ingin menginjak remnya secara mendadak agar kepala Bisma terbentur dengan keras.


"Nikah maksudnya??" Tanya Ferry ingin kejelasan.

__ADS_1


"Iya, tapi dia nggak mau" Jawab Bisma dengan kecewa.


"Kenapa nggak mau?? Bukannya dari dulu dia cinta mati sama Bisma Dirgantara yang pesonanya tiada tara. Sampai-sampai dia tega berbuat begitu keji hanya demi cinta. Kenapa saat lo menawarkan diri malah dia nolak. Ada yang nggak beres kayaknya dengan otak Mesya"


"Dia bilang kalau kita hidup sama-sama hanya demi anak kita, tanpa adanya cinta dari gue, nanti hasilnya tidak akan baik" Bisma masih mengingat betul ucapan Mesya tadi malam.


Saat Bisma memutuskan untuk keluar dari kamar ruang inap Mesya pun Bisma hanya diam merenung sendirian.


Bisma benar-benar ingin membaca isi hatinya saat ini. Apa yang ia rasakan kepada Mesya. Apa yang ia lakukan itu hanya demi anak mereka atau hatinya benar-benar di ketuk oleh Mesya.


"Gue paham apa maksud Mesya Bos. Dia cuma ingin cinta dari lo. Bukan hanya krena kasihan atau lo yang cuma menginginkan anak lo" Bisma juga berpikiran yang sama dengan apa yang Ferry utarakan itu.


"Nah sekarang gue tanya sama lo, bener nggak di hati lo itu nggak ada perasaan sama sekali sama Mesya??"


Bisma memegang dadanya. Tangannya bisa merasakan denyutan jantungnya yang sangat kuat saat menyebut nama Mesya.


"Gue nggak tau, tapi yang jelas gue marah saat Mesya menolak keinginan gue"


"Gue tau Bos, kalau lo masih bimbang dengan perasaan lo sendiri. Kalau gue jadi lo juga sama, dimana wanita yang kita cintai bertahun-tahun pergi meninggalkan kita untuk selamanya, pasti berat gue paham itu meskipun gue nggak bisa ngerasain jadi lo. Tapi hidup terus berjalan Bos, ada darah daging lo di dalam perut Mesya. Dia bukannya menolak tapi dia takut kecewa karena lo ada di dekatnya tapi hati lo bukan buat dia"


Sepanjang perjalanan Bisma hanya mendengar ocehan Ferry saja.


"Jadi gue sebagai sahabat lo dari jaman SMA ini, gue nggak mau lo terjebak dalam belenggu kehilangan itu terus. Gue juga nggak maksa lo buat melupakan Alya secepat ini. Tapi gue berharap lo bisa sadar tentang perasaan lo saat ini. Meskipun lo mencoba menampik perasan lo, tapi sorot mata lo nggak bohong Bos. Mesya sepertinya sudah bisa menggeser Alaya secara berlahan dalam hati lo" Lagi-lagi kalimat panjang itu keluar itu dari sekretarisnya.


"Posisi Alya tidak akan pernah terganti oleh siapapun di hati gue Fer, ingat itu!!"


"Nah itu yang membuat Mesya ragu sama ko. Kalau lo masih belum bisa melupakan yang dulu, kenapa lo nekat meraih tangan yang lain??"


Bisma kembali terdiam. Tak bisa di pungkiri jika Ferry selalu saja bisa membuat Bisma terdiam.


"Tapi Mesya seperti punya ruang tersendiri di hati gue Fer. Semakin gue mencoba menampiknya, gue semakin tersiksa. Apalagi kalau gue ingat gimana gue menghancurkan seluruh hidupnya, gue sakit kalau ingat gimana dia nangis dan memohon pengampunan gue"


"Jangan salah artikan perasaan lo itu Bos. Gue takut kalau itu hanya rasa bersalah lo aja sama Mesya. Suatu saat kalau Mesya benar-benar menerima lo, tapi dengan perasaan lo yang nggak pasti itu, pasti akan menyakiti Mesya lebih dalam lagi Bos" Ferry merasa pusing dengan maslaah perasaan Bosnya itu. Di sisi lain dia juga merasa kasian dengan Mesya.

__ADS_1


"Maka dari itu, gue mau terus berada di dekat Mesya. Hanya dengan cara itu gue bisa tau, mana yang hati gue inginkan"


"Sebenarnya gue sadar kalau gue mulai mencintai Mesya Fer. Tapi gue takut mengakuinya karena perasaan ini datang terlalu cepat" Batin Bisma.


__ADS_2