KARMA

KARMA
Sama-sama tersakiti


__ADS_3

Bisma masih menatap Mesya yang duduk di sampingnya. Senyum bahagia tak pernah lepas dari bibirnya karena wanita yang dia rindukan saat ini telah kembali.


Setelah Bisma memberitahu statusnya kepada Mesya, kini mereka duduk berdampingan di kursi rotan yang usang itu.


"Jadi kamu tidak pernah kembali karena kamu mengira aku sudah menikah dengan Alya??"


Mesya menoleh ke samping di mana pria itu duduk menghadap ke arahnya.


"Memang seharusnya kalian sudah menikah kan??"


Bisma kembali menunjukkan senyumnya pada Mesya.


"Mana bisa aku menikahi wanita lain sedangkan wanita yang aku cintai entah berada di mana"


Mesya seakan tak percaya dengan kenyataan yang baru ia dengar saat ini. Sejauh ini dia sudah mencoba menghindar dari Bisma agar pria itu bahagia bersama kekasihnya. Tapi ternyata tanpa Mesya duga pernikahan mereka telah gagal.


"Bagaimana mungkin Kak?? Bagaimana perasaan Alya kalau pernikahan kalian gagal?? Aku bisa merasakan bagaimana hancurnya dia" Mesya sudah merasakan sendiri merelakan pria yang dicintainya untuk orang lain.


"Sya, kenapa kamu selalu memikirkan perasaan Alya. Pernahkah kamu memikirkan ada di posisiku?? Apa kamu mau melihatku menderita karena harus berpura-pura mencintai Alya selama sisa hidupku jika pernikahan itu tetap terjadi??" Mesya langsung terdiam karena pertanyaan Bisma itu.


"Awalnya aku juga sudah menyerah sama perasaan ini Sya. Aku sudah bertekad untuk tetap melanjutkan pernikahan itu tapi Alya sendiri yang membatalkannya??" Lanjut Bisma.


"Alya sendiri?? Bagaimana Bisa??"


"Jadi saat aku tau kepergian mu hari itu. Aku langsung menyusul mu ke Paris. Meninggalkan Alya sendirian di butik mu saat kita ingin mengambil baju ku" Mesya terkejut karena ternyata Bisma sempat menyusulnya ke Paris.


"Kamu menyusul ke Paris??" Bisma mengangguk.


"Satu minggu aku mencari mu di sana namun tidak menemukan petunjuk tentang keberadaan mu sama sekali. Hingga Mama meneleponku dan menyuruhku kembali. Samapi aku menceritakan tentang perasaanku kepada Mama. Namun Mereka tidak mau menanggung malu karena batalnya pernikahan itu. Dengan segala ancamannya, Papa dan Mama tetap menginginkan pernikahan itu terjadi" Bisma mengingat jauh ke tiga tahun yang lalu.


Waktu itu dia seperti berdiri seorang diri, tak ada yang peduli kepada perasaannya termasuk kedua orang tuanya. Hingga dia harus mengambil keputusan meski berat di berbagai sisi.


Mesya hanya terdiam mendengarkan cerita dari Bisma. Rasa bersalah tentu saja ada di dalam hatinya saat ini. Dia tidak tau jika keputusannya akan membuat Bisma tersakiti seperti itu.


"Dengan sangat berat dan terpaksa, aku mengambil keputusan itu. Aku datang menemui Alya dan meminta maaf karena telah meninggalkannya sendirian waktu itu dan aku yakin, kalau Alya sudah mulai curiga dengan perasaanku kepadamu"

__ADS_1


Mendadak jantung Mesya berdetak kencang, dia takut kekecewaan Alya akan menimbulkan kemarahan pada dirinya sehingga Alya membenci Mesya saat ini.


"Aku mengakui perasaan ku kepadamu di depan Alya. Aku meminta maaf dan memohon kepadanya untuk memberiku kesempatan ke dua. Aku ingin memperbaiki hubungan kita berdua. Tapi tanpa di sangka, Alya justru memilih melepaskan ku untuk mengejar mu"


FLASHBACK ON


Apa kamu yakin Mas??" Alya menatap mata Bisma begitu dalam. Mata berkaca-kaca itu sudah menunjukkan kepedihan yang mendalam.


"Aku akan berusaha Alya. Bantu aku untuk mengembalikan cinta itu kepadamu" Alya tersenyum tipis dengan jawaban yang di berikan Bisma. Pria itu tidak mengatakan iya atau tidak secara tegas.


"Aku tanya sekali lagi kepadamu Mas, apa kamu yakin?? Kamu tidak akan menyesal jika terjebak pernikahan dengan ku sementara hati kamu masih menunggu orang lain??"


Bisma termangu, dia tentu daja sudah tau tentang hal itu. Tapi demi orang tuanya, juga demi Alya yang tak ingin ia sakiti terlalu dalam, maka Bisma nekat mengambil keputusan itu.


"Kalau kamu mencintainya, kenapa kamu tidak mengejarnya?? Kenapa harus menyerah sampai di sini saja?? Bicarakan semuanya dengan Om dan Tante secara baik-baik Kak, aku yakin kalau mereka pasti akan mengerti"


"Tapi bagaimana dengan mu Alya?? Aku ti..."


"Kamu tidak perlu khawatir tentang aku Mas, aku tidak papa. Aku justru berterimakasih karena kamu mau jujur saat ini, daripada aku harus mengetahui kenyataan ini setelah pernikahan kita terjadi. Aku sadar kalau perasaan seseorang bisa berubah sewaktu-waktu" Alya masih bisa menunjukkan senyumnya di depan Bisma meski Bisma sendiri tau kalau hati Alya begitu hancur saat ini.


"Aku sudah memaafkan kamu Mas. Aku tau kamu pria yang baik" Bisma tertawa sinis di dalam hatinya. Bagaimana bisa Alya masih memujinya seperti itu saat Bisma tega menyakitinya.


"Kalau masalah orang tua kita. Besok kita temui mereka bersama-sama. Kita jelaskan kepada mereka kalau kita berdua memang sudah tidak bisa sejalan lagi. Aku yakin mereka pasti mengerti"


Bisma lagi-lagi mengagumi sosok Alya. Wanita di depannya itu begitu dewasa menyikapi masalah sebesar itu. Pernikahan yang hanya tinggal.beberapa hari lagi harus batal karena perasaannya yang tak bisa di kendalikan.


"Terimakasih Alya, dan sekali lagi maafkan aku"


"Mulai sekarang, kejarlah cintamu Kak. Cari Mesya dan katakan kepadanya kalau dia tidak perlu pergi jauh untuk menghindari perasaanya hanya demi aku. Perjuangkan cinta kalian, hiduplah bahagia dengan cinta yang benar-benar kamu inginkan"


FLASHBACK OFF


"Hiks..hiks.."


Mesya lagi-lagi harus di pukul dengan kelapangan hati Alya. Bagaimana mungkin seseorang yang paling tersakiti di antara mereka bertiga justru memiliki hati seluas itu. Dengan mudahnya dia melepaskan pria yang sudah bersamanya bertahun-tahun demi wanita lain.

__ADS_1


"Betapa jahatnya aku Kak. Ternyata aku terus saja menyakiti Alya sampai saat ini"


Bisma menarik Mesya ke dalam dekapannya. Membiarkan wanita itu menangis di dalam pelukannya.


"Jangan salahkan dirimu lagi Sya. Ini mungkin takdir yang sudah digariskan kepada kita. Nyatanya cinta ku kepadamu tidak luntur sampai saat ini meski aku mendapatkannya hanya melalui mimpi itu. Perasaan ini justru semakin kuat setiap harinya meski aku tidak menemukan keberadaan mu sama sekali. Sekarang kita terima takdir cinta ini. Jangan menolak atau mencoba menghapusnya lagi karena itu akan percuma. Kamu mengerti??"


Mesya masih terus terisak di dalam pelukan Bisma tanpa mau menjawab pertanyaan dari pria yang masih mencintainya itu.


"Hey, jawab dulu pertanyaan ku" Bisma mengurai pelukannya untuk menatap mata Mesya dengan begitu dalam.


"Kamu mau menerima cintaku lagi kan Sya?? Kamu masih mencintaiku kan Sya??"


"Mas" Bisma terpaku beberapa detik karena panggilan itu keluar lagi dari bibir Mesya.


"Ya Sayang??" Mesya belum menjawab pertanyaan Bisma saja, bibir pria itu sudah mengulas senyum bahagianya.


"Kalau mimpi itu bisa merubah perasaan kamu dari yang awalnya tak tertarik sekalipun kepadaku menjadi cinta yang amat besar seperti ini, lalu bagaimana dengan ku yang dari awal memang sudah mencintaimu?? Apa masih perlu di pertanyakan lagi cintaku ini??"


Bisma meraih tangan Mesya lalu menciumnya berkali-kali.


Cup..


Cup..


Cup..


"Tidak, tidak sayang. Aku tau besarnya cinta mu kepadaku. Aku tidak meragukannya sama sekali. Terimakasih karena sudah mencintaiku sebesar ini. Aku mencintaimu Mesya"


Perasaan yang sempat mereka pendam karena terpisahkan oleh keadaan kini menciptakan kebahagiaan yang membuncah ketika cinta mereka berhasil kembali ke pemiliknya masing-masing.


"Aku juga mencintaimu Mas, dan selamat ulang tahun. Maaf aku belum punya hadiah ulang tahun buat kamu"


Bisma tak bisa menghentikan senyumnya terlebih lagi Mesya mengingat hari kelahirannya itu.


"Terimakasih karena selalu mengingat hari ini. Kamu juga tidak perlu memberiku hadiah apapun, karena kamu adalah hadiah terindah untukku"

__ADS_1


__ADS_2