
Sejak kepulangannya dari Rumah sakit tadi siang, Mesya hanya terus berdiam diri di kamarnya. Banyak sekali yang ada di pikirannya saat ini. Kehadiran Bisma di dekatnya justru membuat hati dan pikirannya berpikir keras.
Memang Mesya bahagia karena impiannya dari dulu akhirnya ada di depan mata. Hidup bersama Bisma, terus berada di dekatnya, menerima perlakuan lembut dari pria itu. Tapi Mesya juga merasa takut di waktu yang sama.
Berbagai pertanyaan muncul di benak Mesya. Bagaimana kalau seandainya Bisma hanya mempermainkannya?? Bagaimana kalau Bisma sebenarnya hanya meneruskan niat balas dendamnya dengan cara lain?? Atau bisa jadi Bisma datang hanya untuk mengambil anak mereka saja. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Mesya, hal itulah yang membuat Mesya ragu untuk menyetujui ajakan Bisma hidup bersama.
Mesya memang sudah pasrah tentang cintanya kepada Bisma. Namun janin berusia tujuh bulan itu yang menjadi sumber kekuatan Mesya, dia juga satu-satunya bagian dari Bisma yang ia punya. Jadi Mesya tidak akan sanggup jika kelak Bisma akan mengambil separuh dari jiwanya itu.
Tak terasa waktu berjam-jam itu hanya Mesya habiskan di dalam kamar, sampai lupa jika dirinya belum mengisi perutnya saat siang tadi.
"Sudah maghrib, lebih baik aku sholat dulu lalu cari makan. Beras di rumah juga susah habis" Dengan perutnya yang sudah terlihat besar itu Mesya beranjak dari ranjangnya yang keras. Mengambil air wudhu dan bersujud memohon ampun dari segala dosa-dosanya.
Hari belum terlalu malam, bahkan jalanan masih ramai untuk sekedar keluar untuk mecari makan malam. Mesya membawa dompet kecil miliknya untuk pergi membeli asupan nutrisi untuk anaknya.
"Mau kemana kamu??"
"Astaghfirullah" Mesya mengusap dadanya karena Bisma sudah berada di belakangnya ketika dia mengunci pintu.
"Mau cari makan sebentar"
"Masih belum kapok kamu?? Nggak ingat saat terakhir kali kamu keluar malam?? Mau jadi mangsa preman-preman kampung itu lagi??" Mesya kesal karena Bisma yang baru datang sudah menunjukkan amarahnya.
"Ngapain harus marah-marah kaya gini sih Kak?? Beras di rumah habis, dan aku lapar. Mau bagaimana lagi kalau tidak keluar??"
"Ponselmu sudah aku kembalikan Mesya. Aku sudah katakan kalau butuh apa-apa hubungi aku saja!!" Balas Bisma tak mau kalah. Wanita di depannya itu ternyata begitu keras kepala.
"Aku hanya ti...."
"Tidak ingin merepotkan ku?? Begitu??" Potong Bisma.
Mesya hanya diam menundukkan kepalanya. Dia cukup tau diri untuk tidak memanfaatkan Bisma saat ini.
"Ayo masuk, aku sudah bawakan makan malam untuk kita" Bisma menunjukkan tas yang di bawanya.
Mesya akhirnya mengalah kemudian membuka pintu rumahnya kembali.
__ADS_1
Mesya masih terus berdiri di sisi pintu. Melihat Bisma yang sedang mengeluarkan semua makanan yang ia bawa. Mesya juga tak luput memperhatikan Bisma karena masih menggunakan baju kantornya yang tadi pagi.
"Apa dia tidak pulang dulu??" Batin Mesya.
"Kenapa hanya berdiri di situ?? Ayo makan!! Kamu tenang saja, ini bukan makanan cepat saji yang aku beli di luar. Aku meminta asisten rumah tangga di rumah Mama untuk memasaknya untukmu. Jadi ini aman dan sehat" Jelas Bisma.
"Makanan siap saji pun sepertinya lebih sehat dari makanan yang biasa aku makan" Batin Mesya lagi.
Mesya mendekat pada Bisma. Melihat betapa banyaknya makanan yang tersaji di atas meja itu. Berbagai macam olahan masakan yang menggiurkan dengan bau harum menggugah selera telah Bisma siapkan untuk Mesya.
"A-aku ambil piring dulu" Masya ingin berjalan ke dapur.
"Biar aku saja, duduklah!!" Perintah Bisma meraih tangan Mesya dan menuntunnya ke tempat yang ia duduki tadi.
Mesya benar-benar gugup saat ini. Perlakukan Bisma saat ini saja sudah membuat Mesya begitu terbuai.
"Makan yang kamu suka saja, yang lain biar aku yang makan" Ucap Bisma sembari mengulurkan piring kepasa Mesya.
"Terimakasih Kak"
"Kak Bisma nggak papa, makan di tempat seperti ini??" Mesya sedikit takut menatap Bisma, takut jika ucapannya akan menyinggung pria itu.
"Tidak masalah sama sekali. Ayo cepat makan, katanya kamu lapar. Kasihan anak kita, dia juga pasti kelaparan"
Blusshh....
Pipi Mesya terasa panas karena ucapan Bisma itu. Lagi-lagi pria itu bisa membuatnya tersipu hanya dengan celetukan kecilnya saja.
Mesya langsung mengambil makanan yang berada di hadapannya itu. Hanya dengan mencium baunya saja membuat Mesya menelan ludahnya.
Satu suapan masuk ke dalam mulut Mesya. Daging sapi yang empuk kesukaannya yang di masak manis dengan kecap dan bumbu-bumbu lainnya begitu memanjakan lidahnya. Sudah lama Mesya tidak memakan masakan rumahnya yang begitu nikmat seperti itu. Tanpa sadar Mesya terus memasukkan makanan-makanan itu kedalam mulutnya dengan cepat.
"Uhuk.. Uhuk..."
"Minum dulu" Bisma mengulurkan segelas air putih yang juga sudah disiapkannya.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja kalau makan. Aku tidak akan menghabiskannya" Tangan Bisma terulur membersihkan sisa air di ujung bibir Mesya.
Sontak perlakuan Bisma itu membuatnya membeku. Mata Mesya terus terpaku pada wajah tampan Bisma. Kemudian tatapannya turun hingga ke bibir Bisma. Pikiran Mesya langsung teringat ketika bibir penuh itu menyentuh bibirnya tadi malam.
"Sya, ayo makan lagi" Suara Bisma itu menyadarkan Mesya dari khayalannya itu. Mesya menggelengkan kepalanya guna menyingkirkan pikiran-pikiran anehnya.
"Iya Kak"
Bisma tersenyum melihat Mesya makan seperti itu. Bisma bukan menganggap Mesya rakus, tapi Bisma tau jika Mesya tidak pernah makan makanan seenak itu setelah dia tidak punya apa-apa.
"Besok tidak usah kerja ya!!" Sudah berapa kali saja Bisma mengatakan itu kepada Mesya.
Bisma melihat Mesya masih berpikir dan tak kunjung menjawab permintaan Bisma.
Bisma bergerak maju hingga berjongkok di hadapan Mesya.
"Sya!!" Untuk ke dua kalinya Bisma kembali menggenggam tangan Mesya.
"Kamu tidak udah pikirkan lagi bagaimana mencari uang, bagaimana biaya persalinan kamu nantinya kalau kamu tidak kerja. Kamu cukup diam di rumah dan jaga kesehatan kamu. Aku yang akan menanggung semuanya mulai besok"
Mesya menunduk mantap wajah Bisma yang ada di bawahnya.
"Jangan lagi berpikir jika kamu merepotkan ku. Kalian adalah tanggungjawab ku, jadi katakan apapun yang kamu mau hanya kepadaku. Mengerti??" Mesya seolah terhipnotis denhan tatapan Bisma yang begitu dalam itu, hingga tanpa sadar Mesya menganggukkan kepalanya.
Bisma memberikan senyumnya pada Mesya yang dulu hanya ia berikan kepada Alya.
"Pasti sakit ya??" Kini Bisma berlatih pada tangan Mesya yang berada di genggamannya.
"Jelek ya??" Mesya justru kembali bertanya pada Bisma. Dia sebenarnya malu menunjukkan tangannya yang terluka karena alergi sabun saat menjadi buruh cuci waktu itu.
"Tidak, tapi tangan kamu ini justru membuatku semakin merasa bersalah sama kamu. Kalau bukan karen aku, pasti tangan kamu masih halus dengan kuku-kuku kamu yang cantik. Sekali lagi maafkan aku Mesya"
Cup..
Seluruh badan Mesya berdesir hebat saat Bisma mengecup telapak tangan Mesya yang memerah karena terkelupas itu.
__ADS_1