KARMA

KARMA
Wanita bodoh


__ADS_3

"Nanti kalau sudah sampai di rumah kabari aku lagi ya??" Bisma mengusap lembut kepala Alya.


"Kamu juga ya Mas. Hati-hati saat berkendara" Bisma hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran Alya itu.


"Titip Alya ya Fer!!"


"Siap Bos, gue bakalan antar dia sampai ke rumah tanpa lecet sedikitpun"


Entah apa yang akan di lakukan Bisma karena mendadak dia menyuruh Ferry mengantar Alya pulang dengan alasan ada pekerjaan lain yang harus dia lakukan. Sementara Ferry yang tidak merasa Bosnya itu mempunyai jadwal lain menaruh curiga saat ini.


"Gue tunggu penjelasan lo" Bisik Ferry pada Bisma agar tidak di dengar Alya yang sudah berjalan ke mobil Ferry.


"Besok gue jelasin semuanya"


Bisma menatap kepergian Alya yang sudah melesat dengan mobil Ferry. Sebenarnya ada rasa bersalah dalam hatinya karena dia membohongi wanitanya saat ini. Tapi di sisi hatinya yang lain, Bisma memilih pergi memastikan sesuatu.


Sementara di parkiran yang sudah sepi karena sebagian besar tamu di hotel itu sudah pergi, Mesya duduk di sisi mobilnya sambil memijat kakinya yang terkilir tadi.


"Aku harus meminta bantuan kepada siapa lagi??" Mesya hanya menatap kesal ponselnya yang kehabisan daya. Dia tidak bisa mengendarai mobil dengan kaki seperti itu. Meminta tolong juga sudah tidak ada orang di sana. Ingin berjalan keluar mencari taksi juga kakinya sudah tidak bisa lagi untuk berjalan.


"Sial!! Sial!! Sial banget malam ini!!" Mesya mengumpat namum pipinya kembali basah karena air mata.


Di yang harus kembali patah hati malam ini, di tambah lagi dengan kakinya yang sakit dan tak bisa pulang membuatnya sangat frustasi.


Mesya menutup wajahnya yang basah itu dengan kedua tangannya. Menutup isakkan kecil dari bibirnya agar tidak menggema di malam hari seperti itu.


"Kenapa tidak pulang dan malah menangis di sini?? Dasar bodoh!!"


Mesya mendongak menatap pria berubah tinggi yang tiba-tiba sudah berada di depannya.


Bisma langsung berjongkok dan menarik kaki Masya yang mulai membengkak itu.


"Kak" Mesya terkejut dengan tindakan Bisma itu. Dengan cepat Mesya menyingkirkan sisa air mata dari pipinya.


"Diam!!" Suara rendah itu terdengar sangat mengintimidasi. Mesya hanya mampu mengunci bibirnya tak berani bersuara lagi.


"Sebaiknya ke Rumah sakit dulu. Kakimu sudah bengkak seperti ini" Mesya masih terus memandangi wajah Bisma yang sedang menunduk memeriksa kakinya. Dari posisi seperti itu, Mesya bisa melihat hidung Bisma yang mancung dan bertulang lurus itu. Ingin sekali tangannya menyentuh wajah itu dengan lembut. Tapi hati Mesya dengan keras melarangnya.

__ADS_1


"Kau tidak dengar??" Mesya tersadar dengan pertanyaan Bisma.


"De-dengar. Kalau begitu, boleh aku pinjam ponsel kamu sebentar Kak. Ponselku mati jadi aku tidak bisa memesan taksi dari tadi" Mesya menunjukkan ponselnya.


Bisma tersenyum kecut kepada Mesya. Sungguh Mesya didepannya saat ini sungguh berbeda dari Mesya yang dulu. Dulu saja Mesya sering kali mencari alasan agar bisa nebeng di mobil Bisma. Tapi ketika kesempatan di depan mata seperti ini, Mesya justru tidak memanfaatkannya.


"Kak Bisma, apa yang kamu lakukan!"


Mesya memekik karena tanpa aba-aba, Bisma langsung mengangkat Mesya ke dalam gendongannya.


Bisma dengan wajah dinginnya itu tetap diam dan membawa Mesya masuk ke dalam mobil merah milik wanita itu.


Bisma sendiri juga merasa aneh dengan dirinya saat ini. Bisa-bisanya dia peduli pada perempuan lain setelah dia melamar kekasihnya.


Selama di dalam mobil tak ada percakapan satu pun yang mereka keluarkan . Keduanya hanya diam dengan pikirannya masing-masing.


Setibanya di rumah sakit, Bisma kembali menggendong Mesya. Padahal bisa saja Bisma memanggil petugas untuk membawakan brankar atau mengambil kusri roda. Tapi Bisma.lebih memilih membawa Mesya sendiri ke dalam.


Sudah hampir satu jam Mesya di tangani dokter untuk merawat kakinya. Mesya kira Bisma juga sudah pergi meninggalkannya karena memang pria itu tak pernah peduli kepadanya.


Tapi Mesya salah, ketika Dokter selesai memeriksa Mesya. Bisa kembali muncul di hadapan Mesya.


"Kenapa dia tidak pernah menghilangkan wajah datarnya itu??" Batin Mesya.


"Seminggu lagi baru boleh di buka gipsnya" Jawab Mesya singkat.


"Ya sudah, sekarang ayo pulang" Kali ini Bisma menarik kursi roda yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Dengan berlahan Masya menurunkan kakinya yang sudah di balut perban berwarna coklat itu.


"Awww..." Mesya meringis saat kakinya terasa ngilu karena tam sengaja menapak terlalu kuat.


Hap...


Bisma meraih pinggang Mesya agar wanita itu tidak terjatuh.


Untuk sepersekian detik mata mereka benar-benar bertemu. Saling mengunci dan saling membaca perasaan masing-masing.

__ADS_1


"Hem, terimakasih Kak" Lagi-lagi Mesya memutus tatapan mereka terlebih dahulu.


Dia mencoba mengusir rasa canggung yang kini tercipta di antara mereka. Bisma pun seolah-olah tak peduli. Dia lalu mendorong Masya yang telah duduk di kursinya.


*


*


*


"Maaf karena sudah merepotkan mu Kak, tapi terimakasih banyak karena sudah menolongku" Ucap Mesya ketika mereka berdua sudah sampai di depan Rumah Mesya. Sebelumnya Mesya juga tidak percaya kalau Bisma mau mengantarnya sampai rumah.


"Hemm" Jawab Bisma dengan acuh dan tak mau menatap Mesya.


Mesya hanya mampu tersenyum getir melihat Bisma tang tak pernah menunjukkan sifat hangat kepadanya.


"Mang Udin!! Tolong bantu saya" Panggil Mesya kepada satpam di rumahnya itu. Dia tidak ingin merepotkan Bisma lagi untuk membantunya turun dari mobilnya.


"Iya Non"


Bisma lebih dulu turun untum mengambil kursi roda dari bagasi mobil Mesya.


Mesya yang sedang di bantu oleh Mang Udin merasa merinding karena terus di tatap oleh Bisma saat ini. Meski pria itu hanya diam, namun dengan tatapannya saja sudah mampu menguliti Mesya.


"Kak Bisma mau masuk dulu??"


Bisma terpaku beberapa detik. Suara lembut Mesya persis seperti Mesya yang ada di dalam mimpinya.


"Tidak, kau masuklah. Aku pergi sekarang" Ucap Bisma langsung memutar tubuhnya untuk pergi dari Rumah Mesya. Pria itu berjalan menjauh dari rumah itu tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.


Sementara itu, Mesya masih terus memandangi punggung yang tegap itu menjauh. Ada sesuatu yang tersirat dari tatapan Mesya itu. Begitu dalam dan menyimpan banyak luka.


Ingin sekali Masya berteriak untuk meminta Bisma kembali. Namun sesuatu yang berat menahan dari dalam lubuh hatinya.


"Kita masuk sekarang Non??" Kata Mang Udin.


"Iya Mang. Tolong antar saya ke kamar ya" Pinta Mesya karena dia sudah tidak bisa melihat Bisma lagi dari jarak pandangnya.

__ADS_1


Mang udin sempat terperangah dengan Nona mudanya saat ini. Biasanya dia akan mendengar suara teriakan memerintah dari Mesya, namun kali ini dengan sangat lembut Mesya meminta tolong kepadanya.


__ADS_2