KARMA

KARMA
Kesempatan ke dua


__ADS_3

Setelah satu minggu lamanya, akhirnya Alya bisa melihat pria tampan yang kini sedang menatapnya dengan senyum tipis di bibirnya. Tanpa sepengetahuan Alya, calon suaminya itu telah berdiri di belakangnya sejak tadi.


"Kamu sudah pulang Mas??" Meski hati Alya sakit dan kecewa karena pria itu, tapi Alya berusaha menutupi semuanya dengan sambutan senyuman hangat darinya.


"Iya, maaf karena tidak mengabari mu"


Bisma berjalan mendekati Alya. Mengamati setiap inci wajah mungil Alya yang dulu begitu digilainya. Mata Bisma bisa menatap guratan kesedihan di sana meski Alya tak menunjukkan kepadanya.


"Tidak papa, yang penting kamu tiba dengan selamat. Ayo kita duduk dulu, kamu pasti lelah kan??"


Kelembutan Alya seperti ini yang membuat Bisma tak tega untuk menyakitinya. Meski tanpa sadar, pisau yang ia tancapkan di hati Alya semakin dalam setiap harinya.


"Kamu tidak bertanya kenapa bisa ada di paris satu minggu ini??" Bisma yakin kalau Alya sudah tau namun wanita itu berusaha bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


Pertanyaan Bisma itu membuat tangan Alya yang sedang menuangkan teh untuk Bisma berhenti di udara.


"Hemmm" Alya berdehem untuk mengurangi rasa canggungnya.


Dia belum menjawab apapun tentang pertanyaan Bisma itu. Alya justru mendekat membawakan secangkir teh hangat untuk Bisma.


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu Alya"


"Baiklah, tapi sebelum itu. Jawablah pertanyaan ku dengan jujur. Apa kepergian kamu ke paris itu untuk mencari Mesya??"


Meski Alya sudah tau jawabannya, namun Alya hanya ingin mendengar langsung dari Bisma sendiri.

__ADS_1


"Benar" Jawab Bisma lirih.


Bukan menangis atau meraung, Alya justru menunjukkan senyum tipisnya namun terlihat begitu pedih.


"Aku tidak tau sebenarnya kalian ada hubungan apa karena sejauh ini kamu tidak pernah peduli dengannya. Tapi aku berharap, kepulangan kamu ini telah membawa keputusan yang paling baik untuk kita bertiga"


Hati Bisma mencelos mendengar penuturan Alya. Wanita di depannya itu sepertinya sudah sangat siap dengan apapun yang akan terjadi dengan hubungan mereka.


"Alya aku minta maaf, aku telah menyakitimu begitu dalam. Aku tidak jujur kepda mu, aku sudah membuat mu kecewa. Maafkan aku Alya"


Alya mendekat ke sisi Bisma. Mengusap lembut bahu pria itu.


"Mas, aku akui kalau aku kecewa dengan sikap kamu. Kita sudah sepakat jika kejujuran menjadi landasan hubungan ini. Kita bisa bersama selama ini juga karena kejujuran di antara kita kan?? Tapi kenapa sekarang kamu mulai menutupi semuanya dariku Mas??" Bisma tak mampu menjawab pertanyaan dari Alya. Semua kata-kata yang sudah ia siapkan hilang begitu saja dari otaknya.


"Kamu tau akan hal itu Al??" Bisma merasa tercekat karena Alya justru sudah tau tentang kenyataan itu.


"Aku mengenal kamu bukan hanya satu atau dua tahun Mas. Tapi lebih dari sepuluh tahun, jadi aku pasti tau perubahan sekecil apapun dalam diri kamu" Ucap Alya.


"Maaf Alya. Aku memang pria b****sek!! Aku tidak pantas di cintai wanita sebaik kamu" Bisma bersimpuh di hadapan Alya. Bisma bahkan tak mampu menatap mata Alya hingga kepalanya hanya bisa tertunduk di atas lutut Alya.


"Lalu apa keputusan yang kamu dapat Mas?? Setelah satu minggu kita berjauhan, tentunya kamu sudah mendapat kepastian tentang perasaan kamu kan Mas??"


Alya memang sudah begitu lama mendambakan pernikahan impiannya dengan Bisma, pria yang begitu ia cintai, juga pria yang dulu begitu tulus mencintainya tanpa memandang status sosialnya. Tapi jika kini hanya Alya yang masih memiliki cinta itu, untuk apa lagi pernikahan itu terjadi. Biarlah pernikahan impiannya batal yang penting pernikahan itu tidak akan menjadi senjata yang akan menyakiti mereka berdua nantinya.


Alya rela melepaskan Bisma demi kebahagiaan pria itu. Ia sadar jika kebahagiaan Bisma bukanlah ada pada dirinya saat ini.

__ADS_1


Namun Alya tak menyangka jika cinta Bisma kini berlabuh kepada Mesya. Wanita yang dulu tidak pernah di pedulikan oleh Bisma. Wanita yang terus mencari perhatian Bisma meski menjatuhkan harga dirinya sendiri. Perjuangan Mesya itu sungguh tidak mengkhianati hasil. Buktinya dia berhasil mendapatkan hati Bisma.


"Aku tau kalau kesalahanku sangat besar Alya. Kamu juga boleh menganggap ku tak tau malu. Tapi aku ingin pernikahan kita tetap berlanjut" Menurut Bisma itu keputusan yang harus dia ambil saat ini..niat awalnya dia ingin membatalkan pernikahannya dengan Alya. Tapi mengingat kedua orang tuanya, juga Alya yang seperti ini akhirnya Bisma memilih mengubur perasaannya pada Mesya.


Deg....


Jantung Alya sekian berhenti beberapa detik dengan keputusan yang menurutnya g*la itu.


"A-apa Mas?? Bagaimana bisa kita melanjutkan pernikahan kita sementara sudah tidak ada cinta lagi di hati kamu untukku?? Lalu bagaimana dengan Mesya??" Alya ingin sekali membenturkan kepalanya sendiri ke tembok karena keputusan bisma itu.


"Alya, hubungan kita sudah begitu lama. Kau yakin kalau menumbuhkan cinta itu lagi tidak akan sulit bagiku. Aku mohon berikan aku kesempatan sekali lagi Alya. Kita wujudkan impian kita dulu. Kita menikah lalu mempunyai banyak anak yang lucu-lucu sesuai keinginan kamu. Kamu masih ingat kan??" Bisma mencoba mengingatkan Alya pada impian-impian kecil mereka dulu.


"Aku mohon Alya. Aku akan memperbaiki semuanya. Berikan aku kesempatan ke dua Alya" Bisma menggenggam tangan Alya dnegan erat, meski rasanya tak sehangat dulu lagi.


"Dan tentang Mesya, dia memilih pergi jauh seperti ini karena dia tidak ingin menjadi penyebab hancurnya hubungan kita. Dia sudah pergi jauh bahkan aku tidak bisa menemukannya Al. Jadi jangan buat kepergiannya sia-sia"


Alya tertegun karena baru tau alasan Mesya pergi waktu itu.


"Pantas saja waktu itu Mas Bisma begitu panik saat tau Mesya pergi"


"Apa kamu yakin Mas??" Alya menatap mata Bisma begitu dalam. Mata berkaca-kaca itu sudah menunjukkan kepedihan yang mendalam. Alya juga yakin kalau semua itu tidak akan mudah bagi Bisma. Jika masalah perasaan semuanya akan terasa begitu berat bagi siapapun tidak hanya untuk mereka berdua.


"Aku akan berusaha Alya. Bantu aku untuk mengembalikan cinta itu kepadamu" Alya tersenyum tipis dengan jawaban yang di berikan Bisma. Pria itu tidak mengatakan iya atau tidak secara tegas.


Tangan Alya terulur mengusap wajah Bisma yang tampak sedikit tirus itu. Tidak ada yang tidak mungkin di Dunia ini. Semua sudah di atur dan di rencanakan. Kini ia percaya jika jodoh itu rahasia Tuhan. Hubungan yang terjalin begitu lama belum tentu akan berkahir ke pelaminan. Begitu pula dengan mereka berdua. Meski cinta Bisma sempat berpindah ke lain hati, namun jika pemiliknya menginginkan cintanya kembali tentu saja akan kembali ke pemilik yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2