
"Vanyaa !!! Sudah, Van, sudah," teriak Bunda dari kejauhan.
Aku duduk lemas dan mencomot gorengan buatan Bi Inah yang baru saja di angkat dari penggorengan.
"Lha, ini anak malah makan," seru Bunda.
"Capek, Bun. Abis perang-perangan sama Virus Congorna. Ups, Bu Rasti maksudnya," candaku sembari tetap memakan gorengan di sertai cabe rawit merah yang tingkat kepedasannya kini kalah oleh mulut Bu Rasti.
"Ajarin tuh, Bu Sita, anaknya. Mosok, ya kelakuannya kayak gak di sekolahin aja. Berani nampar saya di depan umum. Pake ngata-ngatain saya segala. Kayak situ hidupnya udah makmur aja. Padahal jauh banget di bawah saya," cerocos Bu Rasti begitu Bunda tiba.
"Iya, tak bilangin nanti," balas Bunda ketus.
Aku tahu Bunda juga sudah muak dengan perilaku Bu Rasti dan segala omongannya yang seenak jidat. Tapi, Bunda tidak pernah mau meladeni apalagi sampai berantem dengan Bu Rasti. Ia hanya membiarkan dan menganggapnya sebagai radio butut.
Beda denganku yang lebih berani. Mengapa demikian ? Karena aku sudah bosan dengan perilakunya yang merasa dirinya paling benar dan pongah dengan apa yang di milikinya.
Begitu pun dengan kedua anaknya. Ibarat pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Namun berbeda dengan suami dan anak keduanya yang selalu rendah hati dan tidak pernah menyombongkan hartanya.
__ADS_1
Pak Afif adalah kepala sekolah di salah satu SMK Negeri di kota ini. Ia memiliki sifat yang dermawan dan berbudi luhur. Begitu pun Kak Reina, sifatnya menurut dari Ayahnya. Sedangkan Kak Shanty dan Aira, sifatnya sangat kental sekali menurun dari Ibunya.
"Coba tanya aja sama Arsya, Bu Rasti. Biar akar masalahnya ketahuan. Biar gak ribut gak jelas kayak gini," saran Bu Sarah menengahi.
"Iya, bener tuh, Bu Rasti. Kok malah jadi ribut di warung saya. Jadinya, warung saya rame bukan pada mau belanja, tapi mau lihat sampean adu jotos sama Neng Vanya," ujar Bi Inah menimpali.
"Mana ada maling mau ngaku. Udah jelas, kok, buktinya kalau Arsya hamil duluan," kilah Bu Rasti.
"Nih, buktinya, nih," aku menyerahkan kresek putih yang berisi testpack yang ku minta dari Arsya.
Bu Rasti membuka kresek putih tersebut dan melihat isinya.
"Mau sekalian tes disini juga, Bu Rasti ?" Tanya Arsya.
Wajah Bu Rasti terlihat memerah demi melihat hasil tes kehamilan Arsya adalah negatif.
"Saya siap, kok jika harus melakukan tes kehamilan disini. Mumpung lagi banyak orang, biar mereka jadi saksi siapa disini yang suka ngibul, aku atau Bu Rasti ?"
__ADS_1
Terdengar menusuk perkataan Arsya. Ia begitu emosi atas tuduhan Bu Rasti padanya. Namun ia tahan. Ia tidak ingin berdebat dengan orangtua gak jelas seperti Bu Rasti.
Namun, Bu Rasti malah ngeloyor pergi tanpa permisi. Sorak-sorai kami bergemuruh mengiringi kepergian Bu Rasti.
"Huuu....!!! Wong gendheng !" Ujar Ibu-ibu yang sedari tadi menonton.
"Nuduh, kok ya segitunya. Kira-kira, dong. Kayak gak punya anak gadis aja," timpal yang lain.
"Kejadian sama anaknya, baru tahu rasa," yang lain tak mau kalah menimpali.
Bu Rasti ngeloyor pergi sembari mulutnya komat-kamit tidak jelas. Entah bicara apa. Yang jelas, Bu Rasti tipe orang yang keras kepala dan tidak mau kalah. Sekalipun ia salah, tetap saja ia ingin selalu benar sendiri.
Pak RT pun sudah mengizinkan warganya untuk melawan Bu Rasti jika tuduhannya tidak sesuai dengan fakta. Itupun atas saran dari suami Bu Rasti. Karena menurut suaminya, Bu Rasti memang tipe orang yang ngeyel dan merasa dirinya paling benar. Karena dirinya adalah orang paling kaya di kampung kami, sehingga tidak bisa menghormati orang-orang di sekitarnya, sekalipun itu aparat desa. Dan Pak RT baginya hanyalah remahan kue kaleng yang ada di rumahnya. Tak berarti apa-apa baginya.
Makanya dari itu Pak Afif meminta Pak RT untuk menasehati kami jika Bu Rasti membuat ulah lagi, jangan segan untuk dilawan. Karena jika tidak, ia akan memfitnah lebih kejam lagi dengan mulut busuknya itu.
Pernah waktu itu warga sekampung berdemo untuk mengusir Bu Rasti. Namun Pak RT tidak setuju, karena kebaikan Pak Afif yang begitu besar pada kampung kami yang tidak bisa kami sebutkan satu-persatu. Kami pun urung mengusirnya dan lebih memilih untuk mendiamkannya. Namun nyatanya, Bu Rasti semakin merajalela dengan fitnahnya yang di tebar bak ranjau paku di jalanan. Kami pun jengah dengan kelakuannya dan enggan berdekatan dengannya. Semoga, Allah segera memberinya hidayah. Amin !
__ADS_1