KARMA

KARMA
Bukti


__ADS_3

"Selamat pagi Bu Mesya" Sapa Susi, salah satu karyawan Mesya.


"Pagi, Sus. Udah beres semuanya??" Mesya melihat ke sekeliling butiknya yang sudah tampak bersih dan rapi.


"Sudah Bu"


"Ya sudah, saya masuk dulu kalah begitu"


Sejak beberapa hari yang lalu Susi terus terheran-heran melihat perubahan Bosnya itu. Tutur kata serta sikapnya sungguh jauh berbeda.


"Tapi di dalam sudah ada yang menunggu Bu Mesya"


"Siapa??" Mesya menoleh ke arah pintu ruangannya yang masih tertutup.


"i-itu...." Mesya yang sudah tak sabar memilih meninggalkan Susi untuk menuju ruangannya. Melihat sendiri siapa yang sudah menyambanginya pagi-pagi seperti ini.


Cklek...


Pagi yang sudah di harapkan Mesya menjadi awal yang cerah hingga senja menjelang harus pupus karena sepasang mata yang selalu mengintimidasi Mesya sudah menyambutnya saat ini.


"Kak Bisma??" Meski Mesya terkejut ia masih bisa mengontrol dirinya agar bersikap biasa saja di depan pria itu.


"Pagi, Mesya" Ucap Bisma memberi jeda di dalam dua kata yang ia ucapkan itu. Pria yang minggu lalu tiba-tiba marah-marah di butiknya kini menunjukkan batang hidungnya lgi.


"Pagi Kak. Ngomong-ngomong ada apa ya?? Kok Kak Bisma pagi-pagi sudah ada di sini?? Apa ada sesuatu yang penting??" Mesya berjalan ke mejanya untuk meletakkan tas dan semua barang yang di bawanya.


"Hemm, tentu saja" Suara rendah itu selalu terngiang-ngiang di telinga Mesya.


Mesya yang berdiri membelakangi Bisma harus terperanjat karena sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Kak!! Apa yang kamu lakukan??" Sentak Mesya karena Bisma tiba-tiba mendekapnya dari belakang.

__ADS_1


"Tenang Mesya!! Aku tidak akan menggigit mu apalagi melakukan sesuatu yang kelewat batas seperti di dalam mimpi kita. Biarkan seperti ini sebentar saja. Aku sangat merindukanmu. Sudah beberapa hari ini aku ingin sekali memelukmu seperti ini. Aku lega saat pertama kali melihatmu, ternyata kamu masih hidup" Bisik Bisma di telinga Mesya.


Nyess....


Hati Mesya seperti tergores mendengar ungkapan kerinduan daei Bisma. Andai saja mimpi itu adalah kenyataan, pasti Mesya akan memeluk Bisma dengan erat saat ini. Dia tidak akan membiarkan pria itu menahan rindu seperti itu.


"Lepas Kak!! Ini tidak benar!! Lagi pula apa yang Kak Bisma maksud itu?? Dari kemarin kamu terus berbicara hal yang tidak aku mengerti!!" Mesya terus mencoba melepaskan tangan Bisma dari pinggangnya.


"Sebentar saja Sya, apa kamu tidak merindukanku sama sekali?? Satu minggu ini aku menahan perasaanku seorang diri. Rasanya sungguh tersiksa Sya" Bisma semakin mengeratkan pelukannya pada Mesya. Menghirup wangi Mesya yang begitu memabukkan baginya.


"Aku mohon lepaskan aku Kak!! Kamu jangan bicara sembarangan!! Jangan bertindak di luar batas seperti ini Kak!! Ingat ada Alya. Aku tidak mau di anggap sebagai wanita penggoda kalau sampai ada yang melihat kita dalam posisi seperti ini" Mesya sudah ingin menangis saat ini. Tingkah Bisma itu justru semakin membuatnya sakit.


"Aku tidak akan melepaskan mu sampai kamu jujur tentang mimpi itu!!" Bisma begitu keras kepala saat ini.


"Mimpi lagi mimpi lagi!! Sebenarnya mimpi apa yang kamu maksud itu Kak?? Aku sama sekali tidak tau. Kamu tadi bilang aku masih hidup, memangnya apa yang terjadi kepadaku??" Mesya masih terus mengelak di depan Bisma meski Bisma sendiri tau kalau itu hanyalah kebohongan.


Dengan sekali hentakan, Bisma memutar tubuh Mesya hingga menghadap ke arahnya. Dengan kedua tangannya yang menahan pundak Mesya. Bisma benar-benar menunjukkan rahangnya yang mengeras namun matanya menatap Mesya begitu dalam.


Mata Mesya sudah mengkilat karena air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Tapi dia masih mencoba menahannya di depan Bisma.


"Kamu mau tau kan apa yang ada di dalam mimpiku?? Lihatlah aku Sya, aku ini pria yang telah menghancurkan hidupmu di dalam mimpi. Aku yang merenggut kesucian mu dengan paksa hingga menghadirkan calon anak kita di dalam rahimmu. Aku aku juga yang membuatmu hidup terlunta-lunta di jalan tanpa sepeser uang pun untuk membalas dendam atas kematian Alya. Tapi aku justru terjebak di dalam lingkaran dendam itu. Hatiku mulai luluh melihat perjuanganmu untuk bertahan hidup demi calon anak kita. Aku jatuh cinta kepadamu Sya. Aku begitu mencintai mu di dalam mimpi yang sangat panjang itu"


Mesya masih terdiam mendengar semua yang Bisma ucapkan. Semua itu sama persis dengan apa yang ada di dalam mimpinya.


"Kamu tau kenapa aku sampai berbuat segila ini?? Menemui mu dan memaksamu untuk mengakui mimpi itu?? Aku tau ini terdengar konyol tapi rasa itu aku bawa sampai sekarang. Rasa itu tidak bisa hilang meski mimpi itu sudah lebih dari dua minggu yang lalu" Suara Bisma semakin melemah. Dia tidak bisa lagi menahan rasa perih di hatinya.


"Kak, meskipun kamu benar mengalami mimpi seperti itu tapi itu hanyalah mimpi. Kamu juga tidak bisa mendesak ku mengakui apa yang tidak aku alami. Kamu harus bagun dari mimpi berkepanjangan ini Kak" Mesya menahan suaranya yang hampir bergetar itu.


"Kamu tidak bisa seperti ini. Ingat ada Alya Kak. Bagaimana perasaan Alya jika kamu memeluk wanita lain seperi ini. Sudah cukup aku menjadi wanita jahat Kak. Aku tidak mau lagi menyakiti Alya. Aku sudah meminta maaf kepadanya atas perbuatan ku dulu. Jadi jangan buat Alya salah paham kepadaku Kak"


Mau bagaimana lagi. Bagi Mesya mengakui mimpi itu juga tak ada artinya. Bisma juga sudah melamar Alya dan akan tetap bersama wanita itu selamanya. Lagipula Mesya juga tidak mau lagi menjadi wanita jahat yang menjadi tokoh antagonis di dalam cerita mereka. Menurutnya, tetap diam dan tidak mengakui mimpi itu di hadapan Bisma adalah keputusan yang tepat. Mesya rela mengubur dalam.perasaannya demi kebaikan semua orang.

__ADS_1


"Jadi kamu tetap tidak mau mengakui semuanya?? Kamu tidak mau mengakui perasaan kamu kepadaku Sya??" Tanya Bisma dengan lembut.


"Kalau maslaah perasaanku tentu saja Kak Bisma sudah tau dari dulu. Jadi apa lagi yang harus aku akui?? Tapi melihat tulusnya cinta kalian, itu membuat ku sadar kalau kalian tidak akan pernah bisa terpisahkan. Aku sudah menyerah dengan perasaanku Kak. Aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kalian, karena aku yakin kalau aku juha akan mendapatkan kebahagiaanku sendiri di luar sana" Ingin sekali Mesya pergi dari hadapan Bisma lalu menangis meraung melepaskan sesak di dadanya. Tapi menggerakkan kakinya saja terasa susah saat ini.


"Kamu yakin dengan ucapan mu itu Sya??"


Mesya menarik nafasnya dengan dalam, menguatkan hatinya untuk kata yang akan keluar dari bibirnya.


"Ya, aku yakin Kak. Aku memang mencintaimu tapi kebahagiaanmu lebih penting bagi ku jadi hiduplah bagai bersama Al..."


Cup....


Lutut Mesya rasanya tak ada tulangnya lagi ketika Bisma memotong ucapannya dengan membungkam Bibir Mesya dengan bibirnya.


Bisma tidak tahan lagi melihat Mesya mengucapkan kalimat demi kalimat yang bertentangan dengan hati Mesya sendiri.


Setelah beberapa detik bibir mereka saling menempel, Bisma mulai menggerakkan bibirnya. Bisma mulai menikmati bibir manis yang begitu ia rindukan itu.


"Kak!!" Mesya yang sempat terbuai akhirnya mendorong dada bidang Bisma setelah mendapatkan kembali kesadarannya.


"Kamu benar-benar ingin melupakan aku Sya??" Bisma tak melepaskan tangannya dari tengkuk Mesya.


Mesya mengangguk meski sangat bertentangan dengan hatinya.


"Kamu rela melihatku bahagia dengan wanita lain??" Lagi-lagi Mesya hanya bisa mengangguk.


Bisma tersenyum kecut melihat kebohongan demi kebohongan yang di lalukan Mesya.


"Kalau begitu, sesuai dengan keinginanmu. Aku akan segera menikahi Alya. Dengan satu syarat" Bisma memberi jeda ucapannya sendiri.


"Aku mau kamu yang menjahit baju pengantin untukku, sebagai bukti jika kamu benar-benar merelakan aku bahagia dengan Alya"

__ADS_1


DUAAARRRR....


__ADS_2