
Sesampainya di rumah, Ilham mendapati Bu Rossa, Mami Ilham sedang duduk di sofa tamu sembari membaca majalah. Beliau tak menyadari sedikitpun kedatangan putra semata wayangnya.
"Mi !" panggil Ilham.
Yang di panggil pun menoleh ke arah suara. Lantas tersenyum dan berdiri untuk menyambut.
"Gimana, nak ? Kapan kita akan berkunjung ke rumah calon besan ?" tanya Bu Rossa tak sabar.
"Terserah Mami sama Papi aja maunya kapan. Aku sih siap-siap aja," jawab Ilham mantap.
"Bagus deh kalau gitu. Tapi, nak, tadi Tante Rasti telpon Mami, lho."
"Aku udah mampir, kok ke rumahnya."
"Bukan itu, dia ngomongin soal calon mantu Mami," jelas Bu Rossa.
"Ngomongin apa, Mi ?" Ilham mulai penasaran.
"Ya, ngomongin yang jelek-jelek soal Vanya. Perasaan, kalau ketemu Mami, Vanya orangnya sopan, kok. Baik dan perhatian banget sama Mami. Mami rasa dia ikhlas, kok. Nggak seperti dibuat-buat sikapnya. Dan setahu Mami, Tantemu itu sifatnya suka ngomongin orang yang nggak-nggak. Lebih ke fitnah gitu, lah. Jadi, waktu dia ngomongin Vanya, Mami gak percaya. Cuma bilang iya-iya aja," jelas Bu Rossa dengan tawanya yang khas.
"Udahlah, Mi jangan di dengerin apa kata orang. Bikin rusuh aja. Tho, kita tahunya Vanya baik dan sopan. Sama aku juga gak pernah neko-neko. Gak pernah juga minta macem-macem. Kalau belanja juga ogah banget dibayarin. Nanti aja kalau udah nikah, katanya. Gitu, Mi."
"Wah, idaman suami banget itu sih, nak," seloroh Bu Rossa.
"Lusa, kita ke rumahnya, nak. Biar Mami sama Papi atur semuanya," lanjutnya lagi.
"Siap, komandan !" Ilham meletakkan tangan kanannya di dahi persis seperti orang yang hormat pada bendera.
Bu Rossa hanya senyum-senyum melihat tingkah anak satu-satunya itu.
__ADS_1
Lusa pun tiba, Ilham sekeluarga hendak berkunjung ke kediaman Vanya. Untuk melamar dan menentukan tanggal pernikahan keduanya. Selain Ilham dan kedua orangtuanya, tetangga dekat maupun tetangga jauh yang masih ada ikatan saudara pun turut serta mengantar Ilham untuk melamar pujaan hatinya. Begitu pun Pak RT sebagai aparat desa, ikut mengantar.
Sesampainya disana, mereka disambut dengan baik. Acara berlangsung khidmat dan lancar. Namun, begitu Ilham akan menyematkan cincin dijari manis Vanya sebagai tanda pengikat diantara keduanya, tiba-tiba terdengar kegaduhan dari luar.
Semua menoleh ke asal suara yang tak lain adalah Bu Rasti. Wajahnya merah membara seperti menyimpan dendam kesumat. Tangannya mengepal bak hendak tinju. Begitu sampai di ambang pintu, kakinya agak sedikit mengangkang disertai tangannya berkacak pinggang.
"Heh, Ilham ! Dikasih tahu malah ngeyel, ya. Dia tuh gak pantes masuk ke dalam keluarga kita yang masih keturunan darah biru," teriak Bu Rasti begitu lantang.
"Ngapain, tuh orang. Bikin rusuh acara orang aja," bisik-bisik di belakang terdengar.
"Mau pansos kali. Biar viral kayak di TV-TV gitu mungkin," bisik yang lain menimpali.
"Pengen jadi artis dadakan kayaknya," seru yang lain tak mau kalah.
"Nih, mumpung lagi banyak orang disini. Saya bongkar semua kejelekan keluarga Vanya," lanjut Bu Rasti.
"Si Vanya, bisa kuliah gitu karena siapa coba ? Karena dia bekerja jadi sugar baby. Kalian tahu gak, sugar baby ? Semacam piaraan Om-om gitu. Dia dikasih duit asal melayani Om-om. Makanya sekarang dia bisa nerusin kuliah S2," cerocos Bu Rasti.
"Halah, itu kan cuma formalitas aja biar gak ketahuan jeleknya dia," sungutnya.
"Lagian, Bapak sama Ibunya juga hidupnya gak bakalan berkah. Ibu-ibu sama Bapak-bapak harus tahu, kalau selama ini mereka pelihara tuyul. Makanya usahanya bisa sukses. Tuh, buktinya mereka udah bisa beli motor 3 unit sama mobil bak terbuka. Padahal, kalau dipikir-pikir, mana mungkin tukang nasi goreng sama tukang sembako bisa beli motor sama mobil. Pantes, uang saya sering banget hilang. Tahunya dicuri sama tuyul peliharaannya Bu Sita. Saya sering mergokin mereka tiap malam Jumat Kliwon pas mau Maghrib jalan berdua. Pakaiannya, sih kayak mau shalat berjamaah ke Mesjid gitu, eehh tahunya malah ke jembatan ujung kampung sono buat nyusuin tuyul. Dasar wong kere ya kere aja. Jangan menghalalkan segala cara hanya untuk kepentingan pribadi. Musyrik itu namanya."
Plak ! Plak ! Bu Rasti pun terjungkal ke belakang akibat tamparan di pipi kanan dan kirinya begitu keras.
"Cukup, Rasti ! Jangan fitnah kami sekeji itu !"
Ternyata, Bu Sita tidak lagi bisa menahan amarahnya. Ia emosi sekali mendengar mulut pedas Bu Rasti memfitnah keluarganya di depan orang banyak. Apalagi di depan calon besannya.
Bu Rasti bangkit dan berusaha membalas tamparan Bu Sita. Namun sayang, tangannya ditahan oleh seseorang.
__ADS_1
"Bapak ???" bola mata Bu Rasti seakan mau keluar begitu melihat siapa yang menahan tangannya.
"Pulang, Bu. Apa kamu tidak malu telah merusak acara orang ? Ini acara Kak Fandy juga, Abangmu ! Sudah, ayo pulang !" ujar Pak Afif seraya menarik tangan Bu Rasti.
"Tidak bisa, Pak. Akan aku beri perhitungan orang miskin tidak tahu diri ini. Kemarin anaknya berani menampar aku, sekarang Ibunya. Biar mereka tahu siapa kita ini," teriak Bu Rasti begitu emosi.
"Pulang, Bu !"
"Tidak ! Aku tidak akan pulang sebelum memberi mereka pelajaran," teriak Bu Rasti lagi.
Ia tak terima atas perlakuan Bu Sita padanya. Ia seperti dipermalukan di depan umum.
"Pulang, Rasti ! Jangan rusak acara kami !" seru Pak Fandy menengahi.
"Jadi, Mas lebih memilih mereka daripada aku, Adikmu ?" tanya Bu Rasti tak percaya.
"Sudah sana, pulang. Aku malu memiliki saudara sepertimu," ujar Pak Fandy lagi.
Bu Rasti mendengus kesal mendengar ucapan Pak Fandy yang mengusir dirinya. Lantas ia pun pergi dari rumah Bu Sita.
"Maafkan kelakuan istriku Pak Dio dan Bu Sita. Maafkan dia telah merusak acara kalian," kata Pak Afif dengan raut muka malu.
"Tak apa, Pak Afif," jawab Pak Dio.
"Maafkan aku juga, Mas Fandy. Belum bisa bimbing Rasti. Aku belum bisa jadi suami yang baik untuknya."
"Bukan kamu yang salah, Fif. Tapi Rasti yang gak bisa di bimbing. Sudahlah, biar nanti saya nasehati sesudah acara ini selesai. Nanti kami ke rumah kalian," ujar Pak Fandy.
"Baik, Mas. Saya pamit kalau begitu. Assalamualaikum !"
__ADS_1
"Walaikum salam," balas semuanya serempak.
Acara pun kembali dilanjutkan. Dan Alhamdulillah, akhirnya Vanya dan Ilham telah resmi bertunangan. Tinggal menunggu untuk di persatukan dalam naungan cinta sejati. Yaitu ikatan pernikahan. Yang rencananya akan dilangsungkan tiga bulan mendatang.