
Uji di semester aku bangkit dan membuktikan kalau perempuan bukanlah makhluk yang lemah.
Waktu terus bergulir tanpa terasa sudah banyak melalui hal, uji kompetensi dan ujian tertulis.
Sudah mendapatkan berbagai persyaratan dan rekomendasi lainnya untuk mengikuti tahap UKMPPD ( uji kompetensi mahasiswa program profesi dokter).
Ujiannya benar-benar menantang adrenalin, ujian teori berbasis komputer tes, dengan soal pilihan ganda sebanyak 150 soal, dalam waktu 200 menit dan minimal kelulusan skor poin 66.
Waktu habis dan skor langsung terpampang nyata di layar monitor itu.
Aku berada di peringkat kedua, dengan skor 112 dan selilih satu dengan peringkat pertama dari kaum pria.
Kaum perempuan yang mendominasi kelulusan dan akhirnya kami tepuk tangan, karena bisa mendominasi kau terkuat itu.
Selanjutnya adalah praktek dan ada dua belas stasion dengan topik yang berbeda-beda untuk praktek skill dokter sesuai dengan standar kompetensi dokter umum.
Kali ini aku berada di peringkat pertama, dan di dominasi kaum perempuan juga dan akhirnya dinyatakan lulus.
"Aruna......"
Kak Maria yang sedang hamil besar, datang bersama suaminya yaitu bang Josua.
Dokter spesialis kulit di bidang estetika, atau biasa disebut dokter kecantikan.
dr. Josua Lim, Sp. Bp.(Speaslis bedah plastik) dan fokus di bedah estetika atau kecantikan.
Aku langsung memeluk kak Maria, walaupun terhalang perutnya yang buncit.
"kok nangis?......."
Kak Maria melepaskan pelukannya dan menatapku.
"baru ujian kompetensi selesai, dan masih ada program interensif.
Aruna sudah menghabiskan lima tahun tiga bulan, dan harus menunggu penempatan interensif dan itu kuata nya terbatas.
Aruna ngak tau harus menunggu berapa lama agar bisa menjalaninya kak."
"Aruna....
Yuk ngobrol sambil makan siang, nanti aja kita bahas itu semua."
Suami kak Maria langsung membawa kami, ke kafe yang tepat berada di depan gedung ujian ini.
Pesan makanan dan minuman dan langsung menyantapnya.
__ADS_1
"gimana nasibku ya kak? apakah Aruna harus menikah di dengan si Jogi itu?
Lebih baik aku jomblo seumur hidup dari pada harus menikah dengan pria itu."
"eits....
ngak boleh ngomong gitu, semua masalah pasti ada jalan keluarnya.
Kamu hebat loh Aruna, abang salut sama mu. hanya butuh waktu lima tahun lewat tiga bulan Aruna sudah menyelesaikan ujian kompetensi ini dengan nilai terbaik dan lulusan terbaik.
Dunia kedokteran memang seperti itu, sampai akhir hayat sekalipun kita di tuntut untuk belajar dan belajar."
Lalu bang Josua memberikan selembar kertas yang berlipat rapi, dan kemudian tersenyum melihat ku.
"kumpulkan semua persyaratan yang tercantum, dan paling lama abang terima Selasa depan ya.
Abang punya kenalan pemilik klinik umum, yang merupakan faskes (fasilitas kesehatan) tingkat satu untuk peserta BPJS kesehatan.
Nanti abang akan merekomendasikan Aruna ke sana, agar lebih cepat penempatan di tahap pertama.
Disana nantinya kamu mendapatkan shift, seminggu masuk pagi dan seminggu kemudian masuk sore.
Kalau Aruna berminat, bisa kerja di klinik kecantikan milik kakak mu.
Semua itu karena kamu lulusan terbaik, sehingga ngak ada salahnya abang merekrut Aruna sebagai dokter di klinik.
Begini ajalah, kamu pinjam uang kakak mu aja. nanti bayar nya cicil dengan cara potong gaji saat kerja di kerja di klinik."
Seketika aku berpikir, jika di terima dokter magang di klinik temannya bang Josua, tentunya aku punya gaji dan di tambah lagi gaji dari klinik kecantikan bang Josua.
Padahal waktu tenggang masih ada tiga tahun lagi, ya masih bisalah mengumpulkan uang untuk membayar hutang kepada mamak nantinya.
"begitu ya bang, maklum lah. Aruna, panik kali bang. jika memang seperti itu ya lanjut aja ya kan.
Aruna pegang janji abang ya, dan tolong jangan ingkar janji ya."
Suami istri tertawa dan kemudian kak Maria meraih rambut ku yang kusut, jujur sudah seminggu lebih tidak keramas.
"ya Tuhanku.....
ini rambut apa sapu ijuk ya? sangat tidak beraturan dan kusut."
hahahaha hahahaha hahahaha haha haha haha hahahaha hahahaha.....
Bang Josua tertawa, dan kami menjadi pusat perhatian yang lainnya. bahkan ada beberapa teman seperjuangan ku yang melihat kondisi rambutnya yang hampir sama denganku dan kebutuhan makan di kafe ini setelah selesai ujian.
__ADS_1
"Aku merasa terhina loh kak, tapi emang pantas sih di hina.
Karena hampir dua minggu, eh lebih lah. hampir dua minggu lebih aku ngak keramas kak."
Namanya Lila, keturunan suku Tionghoa. kak Maria mengejek rambutku tapi dia ikut merasa terhina. karena kebetulan duduk di depan kami.
"masih lumayan ngak keramas selama dua minggu, dulu aku itu ya. sebulan lebih karena sibuk mempersiapkan ujian dan berbagai dokumen."
Ucap bang Josua, dan kemudian tertawa melihat rambutku yang sudah di acak-acak kak Maria.
"maaf jika sudah membuat kalian tersinggung, itu karena rambut yang menjijikkan ini.
Berhubung semua perempuan yang ada disini baru lulus tahap awal, jadi aku berikan diskon paket perawatan rambut di salon ku.
Maria salon and beauty, yuk yang mau singgah...."
Sekitar delapan orang dan langsung berdiri, dan satu orang memakai hijab lalu mendekati kak Maria.
"Kalau yang kutuan bisa kak? karena aku sempat mengurus rambut ku."
Kak Maria tersenyum dan bang Josua tertawa lagi dan lagi.
"dulu ya, aku sampai botak licin karena keadaan rambut ku yang tidak terurus."
Setelah bang Josua puas menertawakan rambut kami yang ngak karuan, lalu kami berangkat ke salon kak Maria.
Begitu tiba di salon, kami langsung kagum melihat perkembangan usaha kak Maria dan suaminya yang waouuuuu.....
Saat ini kak Maria dan suaminya menguasai enam ruko yang sangat besar, satu ruko untuk produk kecantikan.
Dua ruko untuk salon kecantikan dan itu sangat lengkap dan mewah, dan tiga Riko lagi untuk klinik bang Josua.
Maria klinik beauty, itulah nama klinik kecantikan itu.
Ruko-ruko bergandengan ini, adalah pusat wanita untuk memanjakan dirinya.
Mulai dari produk kecantikan, salon kecantikan yang sangat-sangat lengkap dengan fasilitasnya dan begitu juga dengan klinik kecantikan itu.
Kak Maria duduk disebelah ku dan perempuan yang sempurna ini, hanya tersenyum melihat Ku.
"kakak bangga sama mu dek, dan benar kata anak rentenir itu.
kalau kamu akan bisa menjawab tantangan dari mamaknya."
"belum sepenuhnya kak, jika pun di terima di klinik temannya bang Josua. palingan gajinya hanya satu juta rupiah.
__ADS_1
Jika di tolak dan harus menunggu rekomendasi atau penempatan magang, dan jatuhnya jadi koas lagi sembari menunggu penempatan kak."
Lagi-lagi kak Maria tersenyum dan kemudian memberikan semangat yang luar biasa untukku.